LOGINLexi melangkah mundur secara perlahan. Sorot matanya yang kelam meredup, dihantam telak oleh kenyataan pahit yang bertubi-tubi. Gengsi dan keangkuhan seorang Permana yang sebulan ini ia bangun melalui Axis Infrastructure runtuh tidak bersisa di koridor VIP Orchard Road malam itu.Bramantya benar. Di Jakarta dia tidak lagi memiliki takhta, dan di Singapura, dia hanyalah orang asing yang ditolak mentah-mentah oleh wanita yang paling ia cari.Dengan napas yang masih tersengal dan rusuk yang luar biasa nyeri, Lexi membalikkan tubuhnya. Ia berjalan gontai melewati barikade pria berjas hitam milik Bramantya yang membuka jalan dengan tatapan dingin. Rian, yang baru saja berhasil menyusul ke lantai teratas dengan napas memburu, langsung menahan tubuh tegap sahabatnya yang tampak limbung."Lex... kita balik ke apartemen Claymore sekarang. Lo luka parah," bisik Rian cemas, merangkul pundak Lexi."Nggak, Rian," desis Lexi, suaranya parau, serak, dan pecah. "Bawa gue ke bar. Mana aja. Gue butuh m
Angel memejamkan matanya rapat-rapat, meremas gaun katun putihnya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Bibirnya digigit kuat demi menahan desakan emosi yang kembali mencubit hatinya. Keangkuhan alaminya sebagai putri sulung keluarga pengusaha tak boleh runtuh di depan adiknya sendiri. Dia harus terlihat biasa saja, seolah kehadiran Lexi di luar pintu tadi benar-benar tidak memberikan dampak apa pun pada jiwanya."Kak, tapi tadi itu... Alexis benar-benar hajar Hendra sampai pingsan," Kevin berbisik lirih, masih memegangi ulu hatinya yang perih sembari menatap pintu apartemen yang tertutup rapat. "Kalau dia nggak datang tepat waktu, tim dari Jakarta pasti udah bawa Kakak ke bandara." Angel mendongak, menatap Kevin dengan sorot mata yang kembali sedingin es, tanpa riak emosi sedikit pun."Lalu aku harus sujud berterima kasih, begitu? Vin, dengar. Dia ke sini hanya karena ego dan rasa penasarannya yang terusik. Dia tidak tahu apa-apa, dan dia tidak berhak tahu apa-apa tentang anak ini."
Adrenalin yang membakar tubuh Lexi membuatnya seolah kebal dari rasa sakit. Mengabaikan rusuknya yang berdenyut nyeri akibat tendangan Hendra, ia kembali menerjang maju dengan kalap. Pukulan kombinasi bertubi-tubi ia layangkan demi melumpuhkan intel senior itu. Hendra terdesak mundur, terkejut oleh kekuatan brutal Lexi yang digerakkan oleh naluri seorang pelindung.Dengan satu hentakan terakhir, Lexi melayangkan uppercut keras tepat di rahang Hendra, membuat pria itu terhempas ke lantai koridor dan tak sadarkan diri.Napas Lexi memburu kasar. Senter taktis yang terjatuh di lantai memantulkan cahaya temaram ke dinding koridor yang berantakan. Tanpa memedulikan musuhnya yang sudah tumbang, Lexi langsung memutar tubuhnya secepat kilat.Di sudut lorong dekat pintu penthouse, Angel terduduk lemas di lantai marmer yang dingin.Wajah cantiknya pucat, dengan sisa-sisa air mata yang masih basah di pipinya. Kedua tangannya mencengkeram erat perut buncitnya yang berusia tujuh bulan.Melihat pem
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Lexi menghantam pintu besi tangga darurat dengan bahunya hingga terbuka kasar. Langkah kakinya yang dibungkus sepatu pantofel mahal berdentum brutal, menggema di sepanjang lorong tangga beton yang sunyi dan pengap.Napasnya memburu hebat. Jantungnya berdegup begitu kencang, bukan karena kelelahan mendaki belasan lantai, melainkan karena ketakutan setengah mati yang mendadak mencengkeram ulu hatinya. Bayangan perut buncit Angel di rumah sakit pagi tadi terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Naluri seorang ayah yang baru saja bangkit dari kegelapan amnesia mendorong tubuh tegapnya melampaui batas fisik."Lex! Tunggu, Lex! Jangan nekat sendirian!" teriak Rian yang suaranya sudah terdengar tersengal-sengal, tertinggal beberapa lantai di bawahnya.Lexi tidak memedulikan seruan sahabatnya. Fokusnya terkunci mutlak pada lantai penthouse. Setiap kali kakinya menghentak anak tangga, kemurkaannya pada Abraham dan Viona kian membakar darahnya. Mere
Hendra menyeringai tipis di balik kegelapan ruangan, sama sekali tidak memedulikan rintihan Kevin yang masih terkapar di lantai marmer. Isyarat tangannya bergerak tegas, memerintahkan dua pria berbadan tegap untuk segera membopong Angel yang terus memberontak dengan sisa-sisa tenaganya."Bawa dia sekarang. Jangan buang-buang waktu," desis Hendra dingin.Cengkeraman di kedua pergelangan tangan Angel mengencang. Rasa sakit yang menjalar dari perut bawahnya kian menyiksa, memicu kepanikan yang sangat bagi keselamatan bayi di rahimnya. Namun, di tengah keputusasaan yang mencekik itu, sepasang mata Angel secara refleks melirik ke sudut atas langit-langit dekat pilar mahoni—pada sebuah lensa kecil dengan pendar lampu inframerah yang masih menyala samar berkat daya baterai cadangan independen.CCTV pemantau sensor gerak. Kamera privat yang dipasang khusus oleh Bramantya, langsung terhubung secara real-time ke ponsel pribadi sang penguasa Surabaya."Lepasin gue! Bajingan kalian semua!" teria
Di belahan kota Singapura yang diguyur hujan deras, Alexis Permana tidak lagi memedulikan jalannya rapat pleno bersama Temasek yang seharusnya menjadi tonggak sejarah ekspansi Axis International. Pria itu duduk di ruang tengah apartemen privatnya di Claymore District dengan mata merah menyala, memandangi layar laptop yang terhubung langsung dengan sistem cadangan peretas independen sewaan Tasya [Freshness Guidelines]."Lex, kuncinya udah kebuka," suara Tasya bergetar hebat di samping adiknya. Jemarinya yang gemetar menunjuk ke arah baris rekam medis digital Mount Elizabeth Hospital yang baru saja ditembus paksa.Di sana tertera dengan sangat jelas: Nama Pasien: AngelUsia Kandungan: 28 Minggu (Trimester Ketiga).Deg!Hantaman fakta medis itu seketika meruntuhkan sisa-sisa amnesia di ulu hati Lexi. Logika bisnisnya kini berganti menjadi naluri seorang ayah yang mendadak bangkit secara brutal."Dia... dia bohong," bisik Lexi, suaranya parau, rendah, namun sarat akan kemurkaan tertinggi
Baron tertegun mendengar pertanyaan Lexi. Pria kekar itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru saja disadarkan dari lamunan panjang oleh pertanyaan polos dari supir pribadinya. Dia melirik dokumen di tangannya, lalu menatap Angel yang wajahnya kini makin merah padam menahan dongkol."Ya su
Malam harinya, kediaman megah Keluarga Van Holden tampak sunyi. Sinar lampu kristal berpendar temaram, menyinari koridor-koridor sepi rumah mewah berarsitektur kolonial modern tersebut.Lexi, yang baru saja selesai membersihkan diri di paviliun belakang khusus kacung macam dirinya, berjalan santai
Wajah Clara langsung merah padam. Kalimat Lexi tepat menghantam titik paling memalukan dalam sejarah hidupnya. Dia melirik cemas ke arah pria gempal yang menunggunya di dekat lobi, takut kalau pria kaya yang sedang menjadi target dompetnya itu mendengar ucapan Lexi."Jaga mulut kamu ya, Lexi! Itu m
Mobil Mercedes-Benz hitam itu akhirnya masuk ke area parkir sebuah butik mewah di kawasan elit pusat kota. Begitu mobil berhenti mulus, Angel tidak langsung turun. Dia melirik Lexi lewat spion tengah, merapikan rambutnya sebentar, lalu berdehem pelan."Lexi," panggil Angel. Nadanya sedikit canggung







