Home / Male Adult / (Bukan) Selingkuhan Biasa / Bab 85. Ingin Balas Dendam?

Share

Bab 85. Ingin Balas Dendam?

Author: Nona Muda
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-13 22:33:32
"Apa maksud pertanyaanmu itu?" tanya Angel, mencoba menyembunyikan getaran gugup di dalam suaranya.

Tasya tidak langsung menjawab. Dia justru menarik punggungnya ke sandaran kursi, lalu menopang dagunya dengan satu tangan sambil melempar senyuman tipis yang terlihat sangat menyebalkan di mata Angel.

"Maksudku? Ya, sederhana saja, Sis," ujar Tasya dengan nada santai, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti hantaman telak yang sangat tepat pada sasarannya.

"Sebagai seorang
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 173. Takdir yang Seharusnya

    Lima bulan berlalu di bawah langit Singapura yang bersih dan teratur.Di sebuah apartemen penthouse mewah kawasan Orchard Road, Angel sedang berdiri di tepi balkon lantai atas, menatap hamparan panorama kota yang modern. Usia kandungannya kini telah menginjak tujuh bulan. Perutnya yang dulu rata kini telah membuncit dengan sangat jelas di balik maternity dress berbahan sutra longgar berwarna pastel yang dikenakannya.Tangan kanannya bergerak lembut, mengusap permukaan perutnya dengan ritme yang tenang. Anehnya, Angel merasa biasa saja seolah rasa sakit dan cinta membara untuk Lexi itu tak pernah ada dalam hidupnya. Waktu, jarak, dan keangkuhan alaminya sebagai putri sulung telah berhasil membekukan hatinya dengan sempurna. Dia tidak lagi menangis di tengah malam. Dia tidak lagi meratapi nasib. Baginya, Lexi Permana hanyalah selembar halaman usang dari masa lalu yang sudah selesai dibakar. Fokus hidupnya kini murni hanya untuk bayi di rahimnya.Ting.Pintu lift privat apartemen terbu

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 172. Tanpamu ....

    Satu bulan berlalu dengan cepat, membawa perubahan drastis bagi kehidupan mereka yang kini telah terpisah oleh benteng jarak dan takdir yang kian mengeras. Di Jakarta, atmosfer di sebuah apartemen privat kawasan Jakarta Selatan terasa begitu sunyi namun sarat akan ketegangan yang pekat. Di dalam ruangan bernuansa minimalis itu, Lexi Permana berdiri di depan jendela besar, menatap tajam ke arah deretan gedung pencakar langit ibu kota yang mulai diguyur hujan gerimis. Penampilannya kini jauh berbeda. Tidak ada lagi setelan jas desainer mewah bermerek internasional yang biasa melekat di tubuh tegapnya. Pagi ini, ia hanya mengenakan kemeja kasual hitam polos dengan lengan yang digulung hingga siku. Setelah resmi dicabut dari hak waris dan didepak dari kursi Direktur Utama Permana Group oleh Abraham sebulan lalu, Lexi benar-benar memilih hidup mandiri secara total. Semua kartu kredit korporasinya telah mati, mobil-mobil mewahnya disita, dan posisinya digantikan sementara oleh kaki ta

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 171. Mengubur Dalam-Dalam Kenangan

    Sementara mobil yang membawa Lexi dan Tasya melaju menjauh membelah kabut Prigen, gerbang kayu vila Private Sanctuary kembali menutup rapat, mengunci segala bentuk kekacauan fisik yang baru saja terjadi di halaman depan.Bramantya membalikkan tubuhnya, melangkah masuk ke dalam rumah utama dengan napas yang mulai teratur. Ia mengabaikan noda tanah dan bercak darah di kemeja putih mewahnya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: kondisi wanita yang berada di lantai dua.Bram melangkah lebar menaiki anak tangga, lalu mengetuk pintu kamar Angel dengan ritme yang teratur dan lembut."Angel? Ini saya. Lexi sudah pergi."CEKLEK.Pintu terbuka lambat, menampilkan sosok Angel yang bersandar lemas pada kusen pintu. Wajah cantiknya tampak begitu pucat, bertolak belakang dengan keangkuhan yang biasa ia tunjukkan di depan musuh-musuhnya. Sepasang matanya yang sembap menyiratkan duka yang pekat."Kamu terluka, Bram?" bisik Angel parau, matanya menatap sudut bibir Bramantya yang robek akibat pukula

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 170. Pergi!

    Di balik kain gorden yang baru saja dirapatkan, Angel menyandarkan punggungnya pada dinding kamar. Tubuhnya perlahan merosot hingga ia terduduk di atas lantai yang dingin, memeluk kedua lututnya sendiri. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini pecah dalam kesunyian kamar yang pengap. Tangannya berpindah, mengusap perutnya dengan usapan yang gemetar. "Maafkan Mama, Sayang. Maafkan Mama karena harus membuat papamu terluka," batin Angel meratapi nasibnya yang begitu malang. Keangkuhan alaminya sebagai putri konglomerat runtuh total di kamar itu, menyisakan seorang wanita rapuh yang sedang hancur lebur dihantam kenyataan. Dia tahu, jika dia membiarkan Lexi mendekat sekarang, Keluarga Permana tidak akan segan-segan menguliti hidupnya dan merebut bayinya. Mengabaikan Lexi adalah satu-satunya tameng paling kejam yang harus ia pasang. Sementara itu, di halaman depan vila, atmosfer pertempuran masih terasa begitu mencekam. Lexi terbatuk, menyemburkan sisa darah dari sudut bibirnya ke

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 169. Takdir Itu ... Kejam, Lex!

    Semburat merah keunguan baru saja memecah langit subuh di lereng Prigen ketika sebuah mobil sewaan hitam berhenti dengan decitan kasar tepat di depan gerbang kayu kokoh vila pribadi Bramantya. Kabut tebal yang dingin bergulung-gulung, menyelimuti sosok Lexi yang melangkah turun dari mobil dengan napas memburu yang mengembun di udara.Penampilannya berantakan. Jaket hitamnya kusut, dan sepasang mata kelamnya memerah sempurna akibat amarah, frustrasi, dan denyut sakit kepala yang kian menggila di dalam tempurung kepalanya. Sisa waktu menuju jam sembilan pagi di Jakarta tinggal hitungan jam, dan jiwanya menolak untuk menyerah pada takdir yang sedang mempermainkannya."Buka gerbangnya!" teriak Lexi, suaranya parau memecah keheningan subuh pegunungan. Dia menghantamkan tubuhnya ke gerbang kayu itu dengan nekat. "Angel! Keluar kamu! Gue tahu lo di dalam!"Dua penjaga perimeter satu milik Bramantya langsung berlari menghadang, mencoba mengunci pergerakan Lexi. Namun, Lexi yang sudah kehila

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 168. Keraguan Seorang Ayah

    Pagi hari di Jakarta, atmosfer di dalam ruang kerja pribadi kediaman megah Keluarga Permana terasa begitu sunyi dan menekan. Jam dinding antik berdentang pelan menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit, menyisakan waktu tiga puluh menit lagi sebelum pengumuman pencabutan hak waris itu resmi ditandatangani di depan notaris keluarga.Di balik meja kerja mahoni yang kokoh, Abraham Permana duduk terdiam. Surat-surat legalitas yang dibawa oleh tim hukum dan Viona sejak subuh tadi tergeletak rapi di hadapannya. Pena emas miliknya sudah berada di dalam cengkeraman jemarinya yang mulai berkerut dimakan usia, namun anehnya, ujung pena itu tak kunjung menyentuh kertas.Viona yang berdiri di dekat jendela besar dengan blazer marunnya yang kaku, mulai menangkap kegelisahan sang ayah. Ia melangkah mendekati meja kerja, matanya menyipit tajam."Bapak, waktu kita tidak banyak. Notaris sudah menunggu di ruang depan," tegur Viona dengan nada suara yang ditekan, mencoba mempertahankan ketegasan

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 8. Salah Remas

    "Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 7. Tinggal Ngadon Lagi, Enak Kan?

    Baron tertegun mendengar pertanyaan Lexi. Pria kekar itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru saja disadarkan dari lamunan panjang oleh pertanyaan polos dari supir pribadinya. Dia melirik dokumen di tangannya, lalu menatap Angel yang wajahnya kini makin merah padam menahan dongkol."Ya su

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 6. Surat Perjanjian Menghamili

    Malam harinya, kediaman megah Keluarga Van Holden tampak sunyi. Sinar lampu kristal berpendar temaram, menyinari koridor-koridor sepi rumah mewah berarsitektur kolonial modern tersebut.Lexi, yang baru saja selesai membersihkan diri di paviliun belakang khusus kacung macam dirinya, berjalan santai

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 5. Sugar Mommy

    Wajah Clara langsung merah padam. Kalimat Lexi tepat menghantam titik paling memalukan dalam sejarah hidupnya. Dia melirik cemas ke arah pria gempal yang menunggunya di dekat lobi, takut kalau pria kaya yang sedang menjadi target dompetnya itu mendengar ucapan Lexi."Jaga mulut kamu ya, Lexi! Itu m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status