เข้าสู่ระบบHendra menyeringai tipis di balik kegelapan ruangan, sama sekali tidak memedulikan rintihan Kevin yang masih terkapar di lantai marmer. Isyarat tangannya bergerak tegas, memerintahkan dua pria berbadan tegap untuk segera membopong Angel yang terus memberontak dengan sisa-sisa tenaganya."Bawa dia sekarang. Jangan buang-buang waktu," desis Hendra dingin.Cengkeraman di kedua pergelangan tangan Angel mengencang. Rasa sakit yang menjalar dari perut bawahnya kian menyiksa, memicu kepanikan yang sangat bagi keselamatan bayi di rahimnya. Namun, di tengah keputusasaan yang mencekik itu, sepasang mata Angel secara refleks melirik ke sudut atas langit-langit dekat pilar mahoni—pada sebuah lensa kecil dengan pendar lampu inframerah yang masih menyala samar berkat daya baterai cadangan independen.CCTV pemantau sensor gerak. Kamera privat yang dipasang khusus oleh Bramantya, langsung terhubung secara real-time ke ponsel pribadi sang penguasa Surabaya."Lepasin gue! Bajingan kalian semua!" teria
Di belahan kota Singapura yang diguyur hujan deras, Alexis Permana tidak lagi memedulikan jalannya rapat pleno bersama Temasek yang seharusnya menjadi tonggak sejarah ekspansi Axis International. Pria itu duduk di ruang tengah apartemen privatnya di Claymore District dengan mata merah menyala, memandangi layar laptop yang terhubung langsung dengan sistem cadangan peretas independen sewaan Tasya [Freshness Guidelines]."Lex, kuncinya udah kebuka," suara Tasya bergetar hebat di samping adiknya. Jemarinya yang gemetar menunjuk ke arah baris rekam medis digital Mount Elizabeth Hospital yang baru saja ditembus paksa.Di sana tertera dengan sangat jelas: Nama Pasien: AngelUsia Kandungan: 28 Minggu (Trimester Ketiga).Deg!Hantaman fakta medis itu seketika meruntuhkan sisa-sisa amnesia di ulu hati Lexi. Logika bisnisnya kini berganti menjadi naluri seorang ayah yang mendadak bangkit secara brutal."Dia... dia bohong," bisik Lexi, suaranya parau, rendah, namun sarat akan kemurkaan tertinggi
Lexi mematung di tengah koridor rumah sakit, napasnya memburu pendek dan kasar. Kedua telapak tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gemuruh di dadanya yang serasa mau meledak. Hantaman kalimat Angel—dan visual perut buncitnya—bagaikan bom atom yang meruntuhkan seluruh dominasi dan ketenangan yang ia bangun selama enam bulan ini."Pak Lexi, Anda baik-baik saja?" perawat senior di sampingnya bertanya dengan raut cemas yang pekat, melihat perubahan drastis pada wajah sang CEO."Minggir," desis Lexi dingin, suaranya terdengar begitu rendah namun bergetar hebat oleh amarah.Tanpa memedulikan jadwal pemeriksaan kesehatannya yang batal total, Lexi memutar tubuhnya kasar. Langkah kakinya yang tegap kini menghentak lantai koridor dengan cepat, membelah lobi rumah sakit dan langsung menerobos keluar menuju area parkir VIP drop-off."Lex! Lo kenapa? Rapat sama Temasek satu jam lagi—" Rian yang sedang memeriksa draf di lobi bawah langsung bangkit berdiri panik,
Pertanyaan Lexi yang bergetar hebat itu menggantung di udara koridor rumah sakit yang dingin. Atmosfer sunyi di lantai VIP Mount Elizabeth Hospital mendadak terasa begitu pekat dan mencekik.Angel menatap Lexi lurus-lurus. Detik-detik awal keterkejutan di matanya dengan sangat cepat digantikan oleh dinding pertahanan yang luar biasa kokoh. Keangkuhan alaminya sebagai mantan majikan juga putri seorang pengusaha kaya, dipaksa bangkit sepenuhnya untuk menutupi gemuruh di dadanya. Wajah cantiknya kembali berubah menjadi sedingin es, tanpa riak emosi sedikit pun. Dengan gerakan yang anggun, ia menurunkan tangannya dari perut buncitnya, berdiri tegak di hadapan pria yang kini telah menjelma menjadi penguasa baru di Jakarta itu."Bukan urusan Anda, Pak Lexi Permana," jawab Angel, suaranya terdengar begitu datar, formal, dan kosong dari getaran luka masa lalu. "Saya rasa, status medis maupun kehidupan pribadi saya di Singapura sama sekali tidak ada hubungannya dengan ekspansi bisnis Axis I
Pagi itu, Mount Elizabeth Hospital tampak begitu tenang dengan arsitektur modernnya yang megah. Jam dinding di lobi utama menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit ketika mobil sedan mewah milik Axis International berhenti tepat di depan lobi VIP drop-off.Lexi Permana melangkah turun dengan setelan jas hitamnya yang rapi dan potongan rambut yang klimis, memancarkan aura wibawa seorang penguasa bisnis baru yang disegani. Tidak ada raut kelelahan di wajah tampannya, meski dia hanya tidur beberapa jam setelah memikirkan strategi ekspansi Axis semalam."Pak Lexi, perwakilan manajemen rumah sakit sudah menunggu di lantai atas untuk mengantar Anda ke ruang Executive Screening," ujar sekretaris lokalnya yang membukakan pintu mobil dengan sikap hormat."Baik. Rian, kamu tunggu di lobi bawah bersama tim legal. Jika ada pesan yang masuk dari tim, langsung kabari saya," perintah Lexi dingin, suaranya yang bariton terdengar begitu tegas tanpa bantahan.Lexi melangkah masuk menembus pintu
Viona Permana tidak membuang waktu. Kejengkelannya yang memuncak setelah ditegur keras oleh Abraham justru memicu kepanikan yang membuatnya bertindak nekat. Baginya, jika Lexi dibiarkan terus mendominasi pasar Jakarta dan memperluas cakar bisnisnya hingga ke Singapura, posisinya di Permana Group akan runtuh total dalam hitungan bulan."Hendra, kamu berangkat ke Singapura malam ini juga," perintah Viona dingin, suaranya merendah menjadi bisikan yang sarat akan racun."Gunakan paspor sekundermu. Jangan sampai ada satu pun mata-mata Tasya atau Rian di bandara yang mencium keberangkatanmu."Hendra menegakkan posisinya, menatap Viona dengan patuh. "Baik, Ibu Viona. Apa fokus utama saya di sana?""Wanita bernama Angel," desis Viona, matanya berkilat kejam. "Cari tahu di mana apartemennya, apa saja aktivitasnya, dan siapa saja yang dia temui selain Bramantya.""Mantan Nyonya Van Holden itu tidak mungkin mendadak pindah ke Singapura dan melepas proyek Surabaya begitu saja tanpa ada alasan yan
Mobil Mercedes-Benz hitam itu akhirnya masuk ke area parkir sebuah butik mewah di kawasan elit pusat kota. Begitu mobil berhenti mulus, Angel tidak langsung turun. Dia melirik Lexi lewat spion tengah, merapikan rambutnya sebentar, lalu berdehem pelan."Lexi," panggil Angel. Nadanya sedikit canggung
Sementara Mercedes-Benz hitam yang membawa Angel dan Lexi melaju pergi meninggalkan rumah, di belahan kota yang lain, suasana di dalam ruangan kerja Direktur Utama Van Holden Group justru terasa sangat sunyi seperti berada di area kuburan.Ruangan luas itu dilapisi dinding kaca besar yang langsung
Setelah keluar dari ruang kerja Baron, Lexi berjalan menuju area belakang yang sepi, di dekat garasi mobil mewah.Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah sedikit retak, lalu menekan sebuah nomor yang sengaja dia simpan untuk keadaan darurat tertentu terkait masa lalun
"Lexi, kalau kau bisa menghamili istriku, aku akan memberikan sejumlah uang yang cukup untuk biaya hidupmu seumur hidup!” Sesuara yang familier tiba-tiba saja berteriak ke arah Lexi, supir pribadi yang tampan milik Keluarga Van Holden.Lexi yang sedang mencuci mobil di halaman, langsung menoleh ke