LOGINDari balik pembatas kaca steril, Lexi membalikkan tubuhnya sesaat. Ia menurunkan topinya sedikit, menatap lurus ke arah Hendra yang sedang berdebat kusir dengan petugas dengan sorot mata yang penuh kemenangan dan determinasi mutlak."Bilang sama Mbak Vio dan Bapak, Hendra," desis Lexi dari kejauhan, meski suaranya tidak terdengar, namun gerakan bibirnya terbaca jelas oleh Hendra, "aku kembali ke Surabaya."Lexi memutar tubuhnya kembali, melangkah lebar berdampingan dengan Tasya menuju gate keberangkatan pesawat mereka. Langkah kakinya kini terasa jauh lebih mantap. Malam ini, dia akan kembali ke Jawa Timur, siap menembus dinding es milik Angel.....Sementara itu, di waktu yang bersamaan di Jakarta.Atmosfer di dalam salah satu restoran mewah di kawasan mentereng Menteng, Jakarta Pusat, terasa begitu pekat dan mencekam. Di dalam ruangan VIP yang kedap suara, Viona Permana duduk dengan keanggunan yang dingin. Di hadapannya, Clarissa Kensington tampak mengaduk-aduk makanan di piringnya
Lexi mendecak ketus, melempar pandangan gusar ke arah jendela Mini Cooper yang mulai berembun. Wajah tampannya tertekuk sempurna, menyiratkan kekesalan yang mendalam akibat ledakan tawa di sampingnya. "Mbak Tasya bisa nggak sih, sehariii aja nggak usah ngeledek aku?" gerutu Lexi dengan nada dongkol yang kentara. " Adiknya lagi pusing setengah mati, terombang-ambing kayak orang bego, malah dijadikan bahan ketawaan. Bagus banget ya punya kakak kayak Mbak." Tasya justru semakin melebarkan senyumannya, sama sekali tidak merasa bersalah setelah puas memojokkan adik lak-lakinya itu. Ia menopang dagu dengan satu tangan di atas setir, menatap Lexi dengan binar mata yang sarat akan kejahilan. "Ya habisnya muka kamu itu lucu banget kalau lagi frustrasi begini, Lex," balas Tasya santai, menepuk bahu tegap Lexi dengan gemas. "Dulu aja sok keren pas pasang badan di depan Bapak demi Angel. Sekarang giliran dikasih dinding es sama dia, langsung ciut dan bingung mau ngapain. Mana Alexis P
"Tapi Mbak." Lexi menyela, dahinya berkerut dalam seiring ingatan tentang wajah angkuh Angel di Surabaya kembali berputar di dalam benaknya."Kemarin waktu aku nekat samperin dia langsung di lokasi proyeknya di Surabaya Barat, dia bilang... kami sama sekali nggak saling kenal sebelumnya. Dia bahkan manggil aku 'Pak Alexis' dengan nada yang formal dan datar banget. Pandangan matanya sedingin es, bener-bener kayak orang asing yang lagi keganggu sama krisis identitas aku. Kalau dia emang perempuan yang aku perjuangkan dulu, kenapa dia harus bohong kayak gitu?"Mendengar penuturan adiknya, Tasya bukannya ikut bingung, melainkan justru tertawa renyah. Suara tawa khasnya bergema di dalam kabin Mini Cooper yang sempit itu, memecah ketegangan yang sejak tadi menyelimuti Lexi. Tasya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan seolah sudah menduga respons tersebut dari awal."Ya jelaslah dia bakal ngomong kayak gitu, Alexis Permana!" seru Tasya setelah tawanya mereda, menatap Lexi dengan tatapan gemas
Lexi menghentikan langkah lebarnya seketika.Jantungnya berdegup kencang, separuh terkejut dan separuh lagi merasakan kelegaan yang aneh di dalam dadanya.Tasya Permana, kakak perempuan keduanya yang selama ini memilih menarik diri dari perang takhta korporasi dan hidup lebih santai, tiba-tiba berdiri di hadapannya. Berbeda dengan Viona yang selalu mengenakan pakaian formal marun atau gelap yang kaku, Tasya pagi ini tampil dengan setelan kasual yang elegan namun santai. Seringai tipis di bibirnya memancarkan aura pemberontakan yang sangat familier bagi Lexi."Mbak Tasya? Kapan balik ke Jakarta?" bisik Lexi, suaranya masih berat sisa amarah dari dalam ruang rapat tadi.Tasya tidak langsung menjawab. Sepasang matanya melirik tajam ke arah pintu ruang rapat pleno yang masih tertutup rapat, namun ia bisa mendengar sayup-sayup suara Abraham yang mulai mengamuk di dalam sana.Dengan gerakan cepat, Tasya menyambar pergelangan tangan Lexi, menarik adiknya itu menjauh dari koridor utama lantai
Lexi mendorong pintu kaca ruang rapat pleno utama dengan satu sentakan kasar. Bunyi debuman pintu yang beradu dengan pembatasnya seketika membungkam bisik-bisik tegang belasan anggota dewan direksi senior yang sudah duduk melingkari meja oval mahoni. Aura dingin dan kemurkaan yang pekat memancar dari tubuh tegap Lexi, membuat para petinggi Permana Group itu serentak menahan napas. Mereka terbiasa melihat Lexi yang tenang dan penuh kalkulasi, atau Lexi yang pasif semenjak amnesia dua bulan lalu. Namun hari ini, pria yang melangkah ke ujung meja kebesaran itu adalah seorang predator yang siap mengoyak siapa saja. Lexi menghempaskan tubuhnya ke kursi direktur utama. Ia melirik Rian, memberi kode dengan satu ketukan jari yang tajam. "Buka proyektornya, Rian. Mulai rapatnya sekarang," perintah Lexi, suaranya begitu rendah namun bergaung mutlak di setiap sudut ruangan. Rian menelan ludah, dengan cepat menyambungkan tabletnya ke sistem layar utama. "B-baik. Selamat pagi semuanya. Agen
Kabut tipis menyambut kedatangan mobil mewah itu saat roda-rodanya mulai menggelinding santai di jalanan menanjak Prigen. Hawa sejuk khas pegunungan perlahan merayap masuk melalui sistem ventilasi mobil, membawa aroma tanah basah dan pinus yang seketika menenangkan rongga dada Angel. Segala kepenatan, mual, hingga bayangan hitam tentang Keluarga Permana seolah tertinggal jauh di dataran rendah Surabaya. Bramantya memutar kemudinya dengan anggun, memasuki sebuah gerbang kayu kokoh dengan tulisan 'Private Sanctuary.' Ini adalah vila peristirahatan pribadi milik keluarga Bramantya yang sengaja dikosongkan dari hiruk-pikuk umum. Begitu mobil berhenti di depan teras bergaya kolonial, beberapa pelayan berseragam rapi langsung membungkuk hormat, namun Bramantya memberi isyarat tangan agar mereka tidak perlu mendekat. Ia ingin menjaga privasi Angel sepenuhnya hari ini. Bram turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Angel. Sesaat setelah kaki Angel menyentuh lantai teras yang dingi
Mobil Mercedes-Benz hitam itu akhirnya masuk ke area parkir sebuah butik mewah di kawasan elit pusat kota. Begitu mobil berhenti mulus, Angel tidak langsung turun. Dia melirik Lexi lewat spion tengah, merapikan rambutnya sebentar, lalu berdehem pelan."Lexi," panggil Angel. Nadanya sedikit canggung
Sementara Mercedes-Benz hitam yang membawa Angel dan Lexi melaju pergi meninggalkan rumah, di belahan kota yang lain, suasana di dalam ruangan kerja Direktur Utama Van Holden Group justru terasa sangat sunyi seperti berada di area kuburan.Ruangan luas itu dilapisi dinding kaca besar yang langsung
Setelah keluar dari ruang kerja Baron, Lexi berjalan menuju area belakang yang sepi, di dekat garasi mobil mewah.Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah sedikit retak, lalu menekan sebuah nomor yang sengaja dia simpan untuk keadaan darurat tertentu terkait masa lalun
"Lexi, kalau kau bisa menghamili istriku, aku akan memberikan sejumlah uang yang cukup untuk biaya hidupmu seumur hidup!” Sesuara yang familier tiba-tiba saja berteriak ke arah Lexi, supir pribadi yang tampan milik Keluarga Van Holden.Lexi yang sedang mencuci mobil di halaman, langsung menoleh ke







