LOGINDi dalam ruang kerja utama kantor pusat Permana Group di Jakarta, suasana terasa begitu mencekam hingga para staf administrasi di luar ruangan tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.BRAK!Viona Permana membanting sebuah map dokumen tebal ke atas meja kerja mahoninya dengan sangat kasar, membuat cangkir teh porselen di sudut meja berdenting nyaring. Wajah cantiknya yang biasa terpoles rapi dengan ekspresi sedingin es kini tampak memerah, menyiratkan kejengkelan dan kemurkaan yang sudah berada di ambang batas."Bagaimana mungkin kita bisa kalah lagi dari Axis Infrastructure, Hendra?!" suara Viona mendesis tajam, matanya menyipit dengan kilatan amarah yang membakar. "Ini proyek tender perluasan sirkuit logistik nasional! Kita sudah memegang jalur ini selama lima tahun! Kenapa kementerian justru meloloskan proposal perusahaan bentukan kemarin sore itu?!"Hendra yang berdiri tegak di hadapan Viona hanya bisa menundukkan kepalanya sedalam-dalamnya. Pelipis kepala keamanan itu tampak
Bulan-bulan berikutnya menjadi saksi bisu bagaimana Axis Infrastructure bermutasi menjadi monster korporasi baru yang paling ditakuti di ibu kota. Lexi benar-benar menutup diri dari segala bentuk kehidupan sosial di Jakarta. Pria itu menenggelamkan dirinya dalam tumpukan berkas megaproyek, lembar saham, dan ruang rapat pleno dari fajar hingga larut malam.Kehilangan takhta Permana Group tidak membuatnya menjadi pria yang melunak. Sebaliknya, tanpa adanya kekangan dari aturan kaku ayahnya, Abraham Permana, Lexi justru bertarung di lapangan dengan cara yang jauh lebih agresif, cerdas, dan mematikan.Sore itu, hujan deras mengguyur kawasan SCBD. Di dalam ruang rapat utama Axis, suasana terasa begitu intens. Di atas meja kaca, tergeletak draf final pengambilalihan proyek pembangunan jalur logistik pelabuhan strategis yang selama ini menjadi urat nadi pendapatan utama Permana Group."Tanda tangan di sini, Lex," ujar Tasya, menyodorkan sebuah pena hitam dengan binar mata yang memancarkan ke
Lima bulan berlalu di bawah langit Singapura yang bersih dan teratur.Di sebuah apartemen penthouse mewah kawasan Orchard Road, Angel sedang berdiri di tepi balkon lantai atas, menatap hamparan panorama kota yang modern. Usia kandungannya kini telah menginjak tujuh bulan. Perutnya yang dulu rata kini telah membuncit dengan sangat jelas di balik maternity dress berbahan sutra longgar berwarna pastel yang dikenakannya.Tangan kanannya bergerak lembut, mengusap permukaan perutnya dengan ritme yang tenang. Anehnya, Angel merasa biasa saja seolah rasa sakit dan cinta membara untuk Lexi itu tak pernah ada dalam hidupnya. Waktu, jarak, dan keangkuhan alaminya sebagai putri sulung telah berhasil membekukan hatinya dengan sempurna. Dia tidak lagi menangis di tengah malam. Dia tidak lagi meratapi nasib. Baginya, Lexi Permana hanyalah selembar halaman usang dari masa lalu yang sudah selesai dibakar. Fokus hidupnya kini murni hanya untuk bayi di rahimnya.Ting.Pintu lift privat apartemen terbu
Satu bulan berlalu dengan cepat, membawa perubahan drastis bagi kehidupan mereka yang kini telah terpisah oleh benteng jarak dan takdir yang kian mengeras. Di Jakarta, atmosfer di sebuah apartemen privat kawasan Jakarta Selatan terasa begitu sunyi namun sarat akan ketegangan yang pekat. Di dalam ruangan bernuansa minimalis itu, Lexi Permana berdiri di depan jendela besar, menatap tajam ke arah deretan gedung pencakar langit ibu kota yang mulai diguyur hujan gerimis. Penampilannya kini jauh berbeda. Tidak ada lagi setelan jas desainer mewah bermerek internasional yang biasa melekat di tubuh tegapnya. Pagi ini, ia hanya mengenakan kemeja kasual hitam polos dengan lengan yang digulung hingga siku. Setelah resmi dicabut dari hak waris dan didepak dari kursi Direktur Utama Permana Group oleh Abraham sebulan lalu, Lexi benar-benar memilih hidup mandiri secara total. Semua kartu kredit korporasinya telah mati, mobil-mobil mewahnya disita, dan posisinya digantikan sementara oleh kaki ta
Sementara mobil yang membawa Lexi dan Tasya melaju menjauh membelah kabut Prigen, gerbang kayu vila Private Sanctuary kembali menutup rapat, mengunci segala bentuk kekacauan fisik yang baru saja terjadi di halaman depan.Bramantya membalikkan tubuhnya, melangkah masuk ke dalam rumah utama dengan napas yang mulai teratur. Ia mengabaikan noda tanah dan bercak darah di kemeja putih mewahnya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: kondisi wanita yang berada di lantai dua.Bram melangkah lebar menaiki anak tangga, lalu mengetuk pintu kamar Angel dengan ritme yang teratur dan lembut."Angel? Ini saya. Lexi sudah pergi."CEKLEK.Pintu terbuka lambat, menampilkan sosok Angel yang bersandar lemas pada kusen pintu. Wajah cantiknya tampak begitu pucat, bertolak belakang dengan keangkuhan yang biasa ia tunjukkan di depan musuh-musuhnya. Sepasang matanya yang sembap menyiratkan duka yang pekat."Kamu terluka, Bram?" bisik Angel parau, matanya menatap sudut bibir Bramantya yang robek akibat pukula
Di balik kain gorden yang baru saja dirapatkan, Angel menyandarkan punggungnya pada dinding kamar. Tubuhnya perlahan merosot hingga ia terduduk di atas lantai yang dingin, memeluk kedua lututnya sendiri. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini pecah dalam kesunyian kamar yang pengap. Tangannya berpindah, mengusap perutnya dengan usapan yang gemetar. "Maafkan Mama, Sayang. Maafkan Mama karena harus membuat papamu terluka," batin Angel meratapi nasibnya yang begitu malang. Keangkuhan alaminya sebagai putri konglomerat runtuh total di kamar itu, menyisakan seorang wanita rapuh yang sedang hancur lebur dihantam kenyataan. Dia tahu, jika dia membiarkan Lexi mendekat sekarang, Keluarga Permana tidak akan segan-segan menguliti hidupnya dan merebut bayinya. Mengabaikan Lexi adalah satu-satunya tameng paling kejam yang harus ia pasang. Sementara itu, di halaman depan vila, atmosfer pertempuran masih terasa begitu mencekam. Lexi terbatuk, menyemburkan sisa darah dari sudut bibirnya ke
"Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya
Baron tertegun mendengar pertanyaan Lexi. Pria kekar itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru saja disadarkan dari lamunan panjang oleh pertanyaan polos dari supir pribadinya. Dia melirik dokumen di tangannya, lalu menatap Angel yang wajahnya kini makin merah padam menahan dongkol."Ya su
Malam harinya, kediaman megah Keluarga Van Holden tampak sunyi. Sinar lampu kristal berpendar temaram, menyinari koridor-koridor sepi rumah mewah berarsitektur kolonial modern tersebut.Lexi, yang baru saja selesai membersihkan diri di paviliun belakang khusus kacung macam dirinya, berjalan santai
Wajah Clara langsung merah padam. Kalimat Lexi tepat menghantam titik paling memalukan dalam sejarah hidupnya. Dia melirik cemas ke arah pria gempal yang menunggunya di dekat lobi, takut kalau pria kaya yang sedang menjadi target dompetnya itu mendengar ucapan Lexi."Jaga mulut kamu ya, Lexi! Itu m







