LOGINSetelah berkeliling ke beberapa gang hingga seluruh dagangannya hampir habis, Tono akhirnya memutuskan untuk menuju rumah Teh Sinta. Walau perasaannya diselimuti keragu-raguan dan sedikit takut, ia tetap harus pergi ke sana.Uang belanjaan sebesar seratus tiga puluh lima ribu rupiah itu sangat berarti baginya. Tanpa uang itu, Tono tidak akan punya modal yang cukup untuk membeli barang dagangan baru di pasar besok pagi."Teh ... Teh Sinta ... Permisi ... Tono nih, Teh!" teriak Tono dari luar pagar rumah Sinta yang tampaknya memang sengaja tidak dikunci.Saat berdiri menunggu di depan gerbang, Tono melihat seorang lelaki berpakaian rapi berjalan keluar menuju arahnya. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di depan Tono dengan raut wajah dingin."Cari siapa, Mas?" tanya lelaki itu dengan nada datar."Cari Teh Sinta, Bang. Tadi pagi belanja sayur belum bayar," jawab Tono jujur."Oh, di dalam dia. Masuk saja," ucap lelaki itu singkat.Tanpa berpamitan atau mengucapkan salam lagi, pria ter
"Pa ... pare yang mana, Teh?" tanya Tono dengan suara canggung dan terbata-bata.Tono menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil membatin panik. Haduh, kalau Teh Sinta cerita ke ibu-ibu tentang kejadian kemarin gimana, ya? Bisa hancur namaku di kompleks ini.Sementara itu, Sinta terus memandangi pemuda itu sambil tersenyum licik. Tatapan matanya seolah menyimpan banyak rencana tersembunyi.Tiba-tiba, Bu Endang menyeletuk sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Tono."Mas Tono ini gimana to, jualan sayur kok gak tahu pare?" ejek Bu Endang tertawa pelan."I ... iya, Bu, tahu kok," sahut Tono cepat-cepat menunjuk dagangannya. "Itu parenya ...""Teh Sinta mau masak pare, ya?" tanya Bu Siska."Iya, Jeng Siska, dari kemarin aku mau makan pare tapi gak jadi," jawab Sinta cepat sebelum Tono sempat bernapas lega."Kok gak jadi kenapa, Jeng?" tanya Bu Siska penasaran."Dibawa kabur kucing parenya, Jeng," ucap Sinta santai.Sinta melirik Tono penuh arti usai mengucapkan kalimat tersebut. Tono
"Sayur! Sayuuur! Sayurnya, Bu-Ibu!" teriak Tono nyaring saat motor bebeknya perlahan memasuki gang perumahan Bumi Asri tempat ibu-ibu langganannya sudah berkumpul menunggu.Bagi Tono, rutinitas pagi ini adalah tumpuan hidupnya. Setiap hari ia sudah harus terbangun sejak pukul tiga pagi, menembus dinginnya udara malam menuju pasar induk untuk membeli bahan jualan. Sebelum matahari terbit sepenuhnya, motornya harus sudah terparkir rapi di kompleks, jika tidak mau diamuk oleh ibu-ibu yang ingin segera memasak."Ada sayur apa saja hari ini, Mas Ganteng?" sapa Bu Endang dengan senyum mengembang saat Tono menghentikan motornya."Bu Endang pagi-pagi udah genit aja sama Mas Tono," sahut Bu Lastri yang berdiri di sebelahnya sambil memilah cabai merah."Iya nih, emang gak bisa lihat berondong ganteng dikit langsung main samber aja," timpal Bu Siska.Ketiga ibu-ibu kompleks itu langsung tertawa bersama, menikmati godaan pagi mereka. Tono yang mendengar gurauan itu hanya bisa diam sambil pura-pur
Tono memacu motor bebek tua miliknya dengan kecepatan sedang, meninggalkan area perumahan tempatnya biasa berjualan sayur. Pikiran pemuda itu masih melayang sepenuhnya pada deretan kejadian gila yang baru saja ia alami di rumah Anggi."Ini betul-betul bukan mimpi, kan?" gumam Tono pelan sambil terus menggenggam stang motor menuju rumahnya.Rasa dingin dari angin sore yang menerpa wajahnya sama sekali tak mampu meluruhkan rasa hangat yang masih tertinggal di ingatan. Pengalaman tak terduga itu terus berputar secara berulang di dalam kepalanya."Aku benar-benar melakukannya dengan Mbak Anggi ...," bisik Tono lagi seakan belum percaya dengan apa yang baru terjadi.Mbak Anggi adalah sosok yang selama ini sangat ia kagumi di kampung, meski wanita itu terkenal sering bersikap ketus dan judes padanya. Namun, beberapa saat lalu, wanita itu menunjukkan sisi yang sangat berbeda di dalam kamar."Dan aku baru saja melakukannya dengannya ...."Aaaaaargghh! Tono berteriak kencang dalam hatinya untu
Anggi mengelap sisa tetesan cairan Tono yang masih menempel di sudut mulutnya dengan punggung tangan. Seolah masih haus akan kenikmatan, wanita itu merangkak naik ke atas tubuh Tono yang masih terlentang lemas di atas kasur."Tono ... Mbak enggak nyangka kamu sekuat ini," bisik Anggi pelan, tepat di atas wajah Tono."Kalau gitu, kita lanjutkan, ya, Ton?" lanjut Anggi dengan tatapan mata yang semakin sayu.Tono mengerjap pelan, kepalanya masih terasa agak pusing setelah pelepasan tadi. Ia menatap wajah wanita di atasnya dengan perasaan campur aduk dan sedikit bingung."Mbak Anggi ... lanjutkan apa, Mbak?" tanya Tono heran, berusaha mengumpulkan kesadarannya.Anggi tidak menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata. Ia menunduk sebentar untuk mengecup lembut bibir Tono, memberikan sentuhan hangat yang membuat pemuda itu kembali tertegun.Dengan bertumpu pada kedua lututnya dan posisi tubuh sedikit menungging, Anggi mengulurkan tangannya ke bawah. Ia meraih sosis berurat Tono yang kembali me
Nghh... Tono mengerang tertahan dengan sedikit tersentak ke belakang. Tangannya langsung mencengkeram erat seprai kasur ketika tangan lembut Anggi mulai menyentuh benda tumpul berurat miliknya. Sentuhan hangat itu langsung mengirimkan sengatan ke seluruh tubuhnya."Tenang, sayang... percaya sama Mbak," bisik Anggi sambil menatap tajam penuh keyakinan.Tono hanya bisa diam membeku sambil meringis kecil. Ia tidak tahu harus merespons bagaimana saat melihat pusat gairahnya kini mendapat perlakuan langsung dari tangan wanita yang dikaguminya itu."Mbak..." cicit Tono pelan.Saliva hangat diiringi dengan kocokan lembut kini mulai menyentuh permukaan benda tersebut. Gerakan itu menciptakan sensasi licin yang membuat Tono langsung mendesah karena kenikmatan.Anggi tampak memandang lekat pusat gairah Tono dengan mata berbinar. Wanita itu mulai melakukan gerakan mengocok ke atas dan ke bawah secara perlahan, lalu sesekali mempercepat temponya.Kedua kaki Tono langsung mengejang kaku di atas ka







