LOGINTono memacu motor bebek tua miliknya dengan kecepatan sedang, meninggalkan area perumahan tempatnya biasa berjualan sayur. Pikiran pemuda itu masih melayang sepenuhnya pada deretan kejadian gila yang baru saja ia alami di rumah Anggi."Ini betul-betul bukan mimpi, kan?" gumam Tono pelan sambil terus menggenggam stang motor menuju rumahnya.Rasa dingin dari angin sore yang menerpa wajahnya sama sekali tak mampu meluruhkan rasa hangat yang masih tertinggal di ingatan. Pengalaman tak terduga itu terus berputar secara berulang di dalam kepalanya."Aku benar-benar melakukannya dengan Mbak Anggi ...," bisik Tono lagi seakan belum percaya dengan apa yang baru terjadi.Mbak Anggi adalah sosok yang selama ini sangat ia kagumi di kampung, meski wanita itu terkenal sering bersikap ketus dan judes padanya. Namun, beberapa saat lalu, wanita itu menunjukkan sisi yang sangat berbeda di dalam kamar."Dan aku baru saja melakukannya dengannya ...."Aaaaaargghh! Tono berteriak kencang dalam hatinya untu
Anggi mengelap sisa tetesan cairan Tono yang masih menempel di sudut mulutnya dengan punggung tangan. Seolah masih haus akan kenikmatan, wanita itu merangkak naik ke atas tubuh Tono yang masih terlentang lemas di atas kasur."Tono ... Mbak enggak nyangka kamu sekuat ini," bisik Anggi pelan, tepat di atas wajah Tono."Kalau gitu, kita lanjutkan, ya, Ton?" lanjut Anggi dengan tatapan mata yang semakin sayu.Tono mengerjap pelan, kepalanya masih terasa agak pusing setelah pelepasan tadi. Ia menatap wajah wanita di atasnya dengan perasaan campur aduk dan sedikit bingung."Mbak Anggi ... lanjutkan apa, Mbak?" tanya Tono heran, berusaha mengumpulkan kesadarannya.Anggi tidak menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata. Ia menunduk sebentar untuk mengecup lembut bibir Tono, memberikan sentuhan hangat yang membuat pemuda itu kembali tertegun.Dengan bertumpu pada kedua lututnya dan posisi tubuh sedikit menungging, Anggi mengulurkan tangannya ke bawah. Ia meraih sosis berurat Tono yang kembali me
Nghh... Tono mengerang tertahan dengan sedikit tersentak ke belakang. Tangannya langsung mencengkeram erat seprai kasur ketika tangan lembut Anggi mulai menyentuh benda tumpul berurat miliknya. Sentuhan hangat itu langsung mengirimkan sengatan ke seluruh tubuhnya."Tenang, sayang... percaya sama Mbak," bisik Anggi sambil menatap tajam penuh keyakinan.Tono hanya bisa diam membeku sambil meringis kecil. Ia tidak tahu harus merespons bagaimana saat melihat pusat gairahnya kini mendapat perlakuan langsung dari tangan wanita yang dikaguminya itu."Mbak..." cicit Tono pelan.Saliva hangat diiringi dengan kocokan lembut kini mulai menyentuh permukaan benda tersebut. Gerakan itu menciptakan sensasi licin yang membuat Tono langsung mendesah karena kenikmatan.Anggi tampak memandang lekat pusat gairah Tono dengan mata berbinar. Wanita itu mulai melakukan gerakan mengocok ke atas dan ke bawah secara perlahan, lalu sesekali mempercepat temponya.Kedua kaki Tono langsung mengejang kaku di atas ka
Tono menundukkan kepalanya dan mulai melumat gundukan kenyal milik Anggi dengan lembut. Ia memainkan bibir dan lidahnya secara teratur di atas kulit mulus itu. Sentuhan basah yang tiba-tiba itu memberikan efek luar biasa hingga membuat Anggi seketika menggelinjang liar."Emm ... ah, Ton ... iya, di situ ...," desah Anggi dengan mata terpejam rapat.Tono tidak hanya mengisap area sensitif itu dengan ritme yang stabil. Ia juga memainkan ujung bukit kembar Anggi menggunakan ujung lidahnya. Sapuan pelan pada bagian puncak yang sudah membengkak itu membuat Anggi makin kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.Pemuda itu tidak membiarkan salah satu bagian tubuh Anggi diam tak terpakai. Sambil terus mengisap bagian kanan, Tono melakukan remasan lembut, tetapi cukup dalam ke payudara Anggi yang sebelah lagi. Sentuhan ganda itu mengirimkan gelombang sensasi yang membakar seluruh tubuh Anggi."Ah ... Tono ... Tono ...," jerit Anggi pelan dengan napas terengah-engah."Jangan berhenti, please ...
"Mbak Anggi ...," panggil Tono dengan suara lirih dan bergetar.Jari telunjuk Anggi langsung menempel lembut tepat di depan bibir Tono."Ssst ... kamu diam saja. Biar Mbak yang mulai," bisik Anggi tepat di depan wajahnya dengan nada menggoda.Anggi perlahan melepaskan diri dari pelukan Tono sedari tadi. Ia kemudian bergerak sedikit untuk mengubah posisinya.Tanpa ragu, Anggi beringsut naik dan langsung mendudukkan dirinya di atas pangkuan Tono. Posisi mereka kini saling berhadapan dengan jarak yang sangat intim.Karena posisi Anggi yang berada tepat di atas pahanya, wajah Tono kini sejajar dengan dada Anggi. Tono tampak semakin kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan dalam posisi menantang ini."Pegang pinggangku, Ton," ucap Anggi yang seolah menyadari kebingungan Tono.Melihat Tono yang masih mematung kaku, Anggi tersenyum kecil. Ia lalu meraih kedua tangan Tono dan menuntunnya secara perlahan-lahan.Tangan kasar Tono akhirnya dilingkarkan erat pada pinggang ramping Anggi. Tono
"Mbak ... jangan ...," Tono berusaha keras menarik tangannya.Tono menahan napas sekuat tenaga hingga dadanya terasa sesak. Ia memalingkan pandangan ke arah pintu, tak berani menatap pemandangan menggoda di bawahnya. Jantungnya berdegup makin kencang melihat kenekatan Anggi.Namun, Anggi tidak membiarkan Tono lolos begitu saja dari genggamannya. Ia menahan pergelangan tangan Tono dengan cengkeraman yang cukup kuat."Kenapa, Ton? Aku tidak cantik, ya?" goda Anggi dengan nada suara yang sengaja dibuat sedikit merajuk."Bukan begitu, Mbak ...," jawab Tono dengan suara bergetar dan napas memburu.Tono berusaha sekuat tenaga menahan persendian sikunya supaya tidak benar-benar menyentuh dada Anggi. Keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya."Mbak ... tadi katanya pijat saja," ucap Tono mengingatkan, masih tanpa berani menoleh sedikit pun ke arah Anggi."Iya, Tono ... ini juga Mbak, kan, minta pijat," kilah Anggi santai.Anggi malah semakin sengaja mendekatkan dirinya ke arah Tono. Aroma







