Startseite / Romansa / Bukan Untuk Dicintai / BAB 10 — Nama Itu

Teilen

BAB 10 — Nama Itu

last update Veröffentlichungsdatum: 05.06.2026 17:33:24

Serena terbangun dengan leher yang kaku dan cahaya pagi yang masuk dari celah tirai yang tidak rapat.

Satu detik ia tidak tahu di mana ia berada. Detik berikutnya, semuanya kembali — ruangan di Kemayoran, flash drive, rekaman audio, dan fakta bahwa ia rupanya tertidur di kursi kerja dengan kepala yang entah kapan jatuh ke arah bahu kanannya.

Ia mengangkat kepala. Menggerakkan lehernya pelan.

Di seberang meja, kursi Arga kosong. Laptopnya masih di meja, tapi orangnya tidak ada. Kopi baru, masih
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 12 — Yang Disembunyikan Clara

    Serena terbangun dengan kepala yang lebih berat dari semalam.Ia seperti terbangun dari tidur yang terlalu nyenyak setelah terlalu lama tidak tidur cukup. Ia mengangkat kepalanya dari posisi yang tidak ia ingat bagaimana bisa senyaman itu, dan butuh tiga detik untuk menyadari bahwa ada jaket di bahunya yang bukan miliknya.Jaket abu-abu. Kemeja abu-abu.Serena memandang ke seberang meja.Arga sudah di kursinya. Laptop terbuka, kopi di tangan, rambut yang sama tidak teraturnya. Ia mengangkat kepala ketika Serena bergerak, dan untuk sepersekian detik sebelum ekspresinya kembali ke yang biasa, ada sesuatu di matanya yang berbeda. Lebih hangat dari biasanya. Kemudian ia mengangguk pelan. "Pagi.""Pagi." Serena menegakkan punggungnya, merapikan rambutnya dengan tangan, dan memutuskan bahwa jaket di bahunya tidak perlu dikomentari. "Sudah dari kapan?""Subuh." Ia mendorong cangkir kopi ke arahnya. "Sudah saya buatkan."Serena mengambilnya. Meminumnya. Dan memperhatikan. Pagi ini Arga tidak

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 11 — Malam Yang Jujur

    Serena membacanya dua kali. Kemudian meletakkan ponsel Arga kembali ke tangannya tanpa berkata apa-apa.Di luar mobil, Jakarta sore berjalan seperti biasa. Serena memandang ke depan, ke gedung kantornya yang berdiri di sana seperti hari-hari biasa."Kita tidak bisa ke kantor sekarang," kata Serena akhirnya."Tidak." Arga sudah menyimpan ponselnya. "Dan apartemen Anda juga tidak aman."Serena menarik napas. Kemudian menyalakan mesin mobilnya kembali. "Kemayoran?"Arga memandangnya sebentar. "Kemayoran."Ruangan itu sama seperti yang mereka tinggalkan pagi tadi. Serena meletakkan tasnya dan langsung membuka laptopnya. Arga menutup tirai, memeriksa pintu, melakukan hal-hal yang ia lakukan tanpa perlu diminta.Dua jam berlalu dengan telepon dan pesan terenkripsi. Kontak Serena di KPK setuju menerima dokumen tapi butuh 48 jam untuk verifikasi jalur masuknya. 48 jam yang terasa sangat panjang.Pukul 10.00 malam, Serena menutup laptopnya.Kepalanya berat. Bukan karena mengantuk tapi karena t

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 10 — Nama Itu

    Serena terbangun dengan leher yang kaku dan cahaya pagi yang masuk dari celah tirai yang tidak rapat.Satu detik ia tidak tahu di mana ia berada. Detik berikutnya, semuanya kembali — ruangan di Kemayoran, flash drive, rekaman audio, dan fakta bahwa ia rupanya tertidur di kursi kerja dengan kepala yang entah kapan jatuh ke arah bahu kanannya.Ia mengangkat kepala. Menggerakkan lehernya pelan.Di seberang meja, kursi Arga kosong. Laptopnya masih di meja, tapi orangnya tidak ada. Kopi baru, masih mengepul, diletakkan tepat di sebelah laptopnya.Serena menatap cangkir itu sebentar. Kemudian menyesapnya tanpa bergerak dari kursinya, memandang langit-langit, dan mencoba tidak memikirkan fakta bahwa seseorang sudah repot-repot membuatkan kopi sebelum ia terbangun.Tidak berhasil.Arga masuk lima menit kemudian dengan kemeja yang sama dari semalam tapi lengan yang sudah digulung ulang, rambut yang sedikit lebih rapi dari biasanya, dan dua bungkus nasi kuning dari warung bawah gedung. Ia melet

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 9 : Malam Yang Tidak Direncanakan

    Pesan tiga baris itu masih terbuka di layar ponselnya ketika Serena menelepon Arga.Dua kali nada sambung. Diangkat. "Saya sudah tahu," katanya, sebelum Serena sempat bicara."Wisnu""Saya sedang cek sekarang." Suaranya tenang, tapi ada sesuatu di baliknya yang berbeda dari biasanya, lebih cepat, lebih terfokus. "Jangan pulang ke apartemen malam ini.""Arga""Ada yang pantau pergerakan Anda sejak artikel naik tadi pagi. Kalau mereka kirim pesan itu ke Anda, artinya mereka tahu Anda masih di kantor." Jeda singkat. "Ada tempat yang bisa saya koordinasikan. Aman, setidaknya untuk malam ini."Serena menatap mejanya, laptop yang masih menyala, catatan yang belum selesai, kopi ketiga yang sudah dingin. Di luar jendela, Jakarta sudah gelap."Kirim alamatnya."Tempat yang Arga koordinasikan adalah unit kosong di lantai tujuh gedung lama kawasan Kemayoran, bukan apartemen, lebih seperti ruang kerja yang pernah dipakai dan belum sepenuhnya dikosongkan. Satu meja panjang, dua kursi, lemari arsi

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 8 : SALAH LANGKAH

    Malam setelah pertemuan di basement itu, Serena duduk di depan laptopnya lebih lama dari yang perlu. Bukan karena ada yang perlu dikerjakan. Tapi ada sesuatu yang tidak mau diam di bagian belakang kepalanya, dan ia sudah cukup jujur dengan dirinya sendiri untuk mengakui bahwa itu bukan soal kasus. Iya. Satu kata, diucapkan dengan nada yang terdengar lebih seperti pengakuan daripada pembelaan diri. Serena menutup laptopnya dan pergi tidur. Berhasil tidak memikirkannya sampai pagi harinya, ketika ia menyeduh kopi dan tanpa alasan yang jelas mengingat bahwa Arga berdiri dua langkah lebih dekat dari biasanya di basement itu, dan tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak mundur. Ia menuangkan kopinya dan memutuskan ada hal yang lebih penting untuk diurus. Yang kemudian benar-benar ada. Revan menghubunginya Rabu sore dengan nomor baru. Gaya bicaranya tidak berubah — langsung, tanpa basa-basi. "Saya punya dokumen internal. Asli. Cukup untuk konfirmasi nama di amplop itu. Syaratnya sat

  • Bukan Untuk Dicintai   BAB 7 : HANTU

    Serena tidak mencari jawabannya malam itu.Ia letakkan mangkuk kosong di wastafel, matikan lampu dapur, dan memutuskan bahwa ada hal-hal yang lebih produktif untuk dipikirkan sebelum tidur daripada bagaimana Arga Mahendra tahu ia belum makan. Mungkin kebetulan. Mungkin tebakan. Mungkin ia terlalu banyak berpikir.Tapi pagi harinya, ketika alarm berbunyi pukul 05.50 dan hal pertama yang masuk ke kepalanya sebelum ia sempat sepenuhnya sadar adalah pertanyaan yang sama — jadi bagaimana dia tahu — Serena menyerah pada kenyataan bahwa pertanyaan itu tidak akan pergi sendiri.Ia mandi, menyeduh kopi, dan memutuskan untuk tidak memikirkannya. Yang tidak terlalu berhasil.Bahkan Reno saja tak pernah ingat jadwal Serena yang sudah seperti template itu. Reno Pratama memang tidak pernah bisa membaca ruangan dengan benar — apalagi orangnya. Dua tahun menikah, dan ia masih sering datang ke momen yang salah dengan ekspektasi yang salah, lalu bingung kenapa hasilnya tidak seperti yang ia bayangkan.

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status