공유

Bab 5

작가: Ani
Melihat adegan itu, wajah Rania seketika berubah pucat pasi.

"Apa yang kamu lakukan? Itu anakmu sendiri!"

Rania bergegas maju, hendak merebut bantal itu.

Akan tetapi, Ghea selangkah lebih cepat. Dia justru memberikan bantal tersebut ke tangan Rania.

"Jangan! Kak Rania, aku mohon jangan perlakukan anakku seperti ini. Huhu, aku yang salah. Kalau mau balas dendam, lakukan saja padaku, tapi tolong jangan sakiti anakku!"

Ghea berlutut di lantai sambil memeluk kaki Rania erat-erat, menangis tersedu-sedu hingga wajahnya basah oleh air mata.

"Jangan sentuh aku! Lepaskan!"

Rania mengernyit dan menendang Ghea hingga terlepas.

Tepat pada saat itu, pintu kamar rawat didorong terbuka. Melihat Ghea tersungkur di lantai akibat tendangan Rania, amarah Aris langsung meledak.

Dia berjalan cepat menghampiri Rania dan mencengkeram pergelangan tangannya dengan kasar.

"Hentikan! Rania, berani-beraninya kamu menendang Ghea. Dia baru saja melahirkan, fisiknya masih sangat lemah. Apa kamu sudah nggak punya hati nurani lagi?"

"Aris, akhirnya kamu datang!" Ghea bangkit berdiri, menunjukkan wajahnya yang merah dan bengkak sambil menangis hingga suaranya nyaris hilang. "Cepat, selamatkan anak kita! Rania …. Dia memanfaatkan kelengahanku dan mencoba membekap anak kita dengan bantal! Huhu."

"Apa kamu bilang?!"

Aris menoleh, menatap Rania dengan tatapan tidak percaya.

Begitu melihat bantal yang ada di tangan Rania, amarahnya memuncak. Dia melayangkan tamparan keras ke wajah Rania.

"Kamu sudah gila! Dia masih bayi! Sejak kapan kamu jadi sekejam dan sedingin ini?!"

Tamparan itu begitu kuat sampai Rania hampir pingsan.

Dia terhuyung mundur beberapa langkah sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak.

Saat dia mendongak, Aris sudah mengulurkan tangan dan mencekik lehernya dengan sangat kuat.

"Pura-pura murah hati, minta cerai, sampai menyuruh Bibi Aminah antar sup ayam ke rumah sakit untuk Ghea, itu semua cuma supaya aku lengah, 'kan? Biar kamu punya kesempatan untuk celakai bayi ini, ya, 'kan? Kamu juga seorang ibu, apa kamu nggak takut anakmu kena karmanya?"

Rentetan tuduhan itu benar-benar menghancurkan sisa-sisa cinta di hati Rania.

Cinta yang dia jaga selama lima tahun ini, akhirnya lenyap tanpa bekas di detik itu juga.

Rasa sakit di lehernya mulai terasa, tetapi Rania tidak memberikan penjelasan apa pun. Dia hanya menatap Aris dengan mata yang merah menahan tangis. "Kamu lebih percaya dia? Kamu benar-benar berpikir aku tega melakukan hal seperti itu?"

"Memangnya mungkin Ghea menyakiti anaknya sendiri? Kenapa sampai detik ini kamu masih nggak mau mengaku salah?"

"Aris, cepat ke sini! Anak kita .... Dia nggak bersuara lagi! Apa dia akan mati? Huhu, aku takut sekali!"

Ghea menangis histeris sambil memeluk bayinya. Dengan penuh amarah, Aris menghempaskan tubuh Rania lalu segera memanggil para pengawal.

"Awasi dia! Aku akan membawa bayi ini ke dokter sekarang. Kalau sampai terjadi sesuatu pada anak Ghea, anak kita juga nggak perlu lahir ke dunia ini!"

Pintu kamar rawat ditutup dengan suara dentuman keras, Rania pun terkunci di dalam.

Dua orang pengawal berjaga di depan pintu. Rania tahu dia tidak bisa melarikan diri. Setelah mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan singkat kepada kakaknya, dia hanya bisa duduk di atas lantai yang dingin sambil menunggu dalam diam.

Sebenarnya, dia juga tidak ingin bayi itu celaka. Meskipun Ghea telah menghancurkan pernikahannya, bayi yang baru lahir itu tidak berdosa.

Entah berapa lama waktu telah berlalu, pintu kamar akhirnya terbuka kembali.

Rania refleks berdiri dan bertanya, "Bagaimana keadaan bayinya?"

"Aku mau dia mati! Aku mau dia membayar nyawa anakku! Dasar pembunuh, aku nggak akan lepasin kamu!"

Belum sempat Aris buka suara, Ghea sudah seperti orang kalap dan menerjang Rania.

Dia mengulurkan tangan, menghujani wajah Rania dengan tamparan bertubi-tubi sambil menangis histeris. "Apa kamu puas sekarang? Anakku sudah mati! Rania, aku bakal bikin kamu dapat balasan untuk semua ini!"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 24

    Suara sirine polisi akhirnya berhenti tepat di depan restoran. Begitu melihat polisi menyerbu masuk dan meringkus Ghea, Reza akhirnya bisa bernapas lega sebelum akhirnya jatuh pingsan sepenuhnya."Reza!"Rania panik. Dia merangkak mendekati Reza, air matanya terus mengalir melihat kondisi pria itu yang sudah sekarat."Pak Polisi, tolong selamatkan dia!""Kenapa kalian menangkapku? Lepaskan! Aku nggak salah, lepaskan aku! Aku harus membunuhnya! Rania, aku akan membunuhmu!"Meski sudah ditangkap polisi, Ghea tetap mencengkeram tongkat bisbolnya dan menolak melepaskannya."Kami peringatkan, segera letakkan senjatamu atau kami akan melakukan tindakan tegas!"Polisi memberi peringatan keras, tetapi Ghea sama sekali tidak gentar."Aku akan membunuh Rania! Rania, aku akan membunuhmu!"Baru setelah polisi mengeluarkan pistol, Ghea akhirnya berhenti berteriak.Dia dibawa pergi oleh polisi, tetapi matanya tetap menatap tajam ke arah Rania."Lebih baik jangan biarkan aku keluar, kalau nggak Rania

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 23

    "Kamu sudah gila? Kamu mau membunuhku? Apa kamu nggak tahu kalau ini melanggar hukum?"Rania tahu kakaknya sudah tersambung di telepon. Sekarang dia hanya perlu mengulur waktu sampai kakaknya mengirim bantuan untuk menyelamatkan mereka."Melakukan hal yang melanggar hukum bukan pertama kalinya bagiku, 'kan?"Ghea menatap tajam ke arah Rania yang berada di bawah meja, sorot matanya penuh dengan kebencian."Sudah kubilang, aku nggak akan melepaskanmu! Lihat, sekarang waktunya sudah tiba, 'kan?"Ghea bertepuk tangan dan seketika lampu di seluruh ruangan menyala.Cahaya yang menyilaukan membuat Rania sempat tidak bisa membuka mata. Saat dia mulai terbiasa dan melihat sekitar, dia baru menyadari bahwa semua pengunjung yang tidak berkepentingan telah menghilang, entah sejak kapan mereka semua dibawa pergi.Rania mendongak, menatap wanita di depannya dengan tangan mengepal kuat.Saat ini, dia lebih membenci Aris.Jika bukan karena pria itu, Ghea tidak akan melakukan hal sejauh ini kepadanya.

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 22

    Entah karena suasana hati yang terlanjur rusak oleh kehadiran Ghea, makan malam mereka setelah itu terasa sama sekali tidak menyenangkan.Tepat saat mereka hendak bangkit berdiri untuk membayar tagihan.Lampu restoran tiba-tiba padam. Kerumunan orang mulai berteriak histeris dan seseorang berteriak, "Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba mati lampu?""Restoran semewah ini, bagaimana mungkin bisa melakukan kesalahan amatir seperti ini?""Harap semuanya tenang! Kami sudah mengirim petugas untuk melakukan perbaikan. Mohon tetap duduk di tempat masing-masing dan jangan bergerak!"Melihat restoran yang gelap gulita, Rania seketika merasakan firasat yang sangat buruk.Reza pun merasa khawatir, dia berbisik pelan, "Rania, kamu di situ?""Iya, aku di sini.""Berikan tanganmu padaku."Baru setelah mendengar suaranya dan menggenggam telapak tangannya, Reza merasa sedikit tenang.Dia mengeluarkan ponsel dan menyalakan lampu senter.Baru saja dia hendak memeriksa apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba pin

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 21

    "Kenapa kamu berubah jadi seperti ini?" Aris menatapnya dengan raut penuh kekecewaan. "Kamu masih belum menyesal juga?""Diam!" Ghea mengangkat tangannya dan melayangkan tamparan keras ke wajah Aris. "Beraninya kamu menceramahiku? Kalau bukan karenamu, mana mungkin aku sampai .... Aris, hari ini aku memberimu tiga pilihan. Pertama, bayar ganti rugi. Kedua, berlutut dan minta maaf padaku. Ketiga, masuk penjara."Aris menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Dia tidak punya uang, tetapi kalau harus berlutut, itu benar-benar mustahil baginya."Kalau begitu, aku terpaksa menjebloskanmu ke penjara. Tapi, ingat, kamu nggak akan pernah bisa melihat Rania lagi seumur hidupmu karena malam ini juga aku akan membunuhnya."Setelah berkata demikian, Ghea hendak melangkah pergi, tetapi tiba-tiba terdengar suara bruk! Aris berlutut di hadapannya."Aku yang salah, Ghea. Maafkan aku, aku telah mengecewakanmu. Asalkan kamu nggak menyentuh Rania sedikit pun, aku nggak keberatan bersujud minta maaf

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 20

    Ghea menghabiskan banyak tenaga dan pikiran demi membuat Iwan senang.Iwan benar-benar berbeda dari semua pria yang pernah dia temui sebelumnya. Dia sangat suka memainkan permainan kecil yang menyimpang.Jika bukan karena pengalaman Ghea sebelumnya, dia mungkin tidak akan sanggup bertahan melewati satu malam saja.Saat Ghea terbangun, Iwan sudah berpakaian rapi dan duduk di sofa sambil merokok.Dia sedang menatap tabletnya. Begitu melihat Ghea bangun, dia berkata dengan perlahan, "Mulai sekarang, ikutlah denganku."Ghea mengerti betul apa maksud dari perkataan pria itu.Ini berarti, mulai hari ini, dia telah resmi menjadi wanita milik Iwan."Oke, aku mengerti."Ghea turun dari tempat tidur dengan mengenakan gaun tidur sutranya."Aku mau mandi dulu."Melangkah masuk ke kamar mandi, Ghea menanggalkan pakaiannya. Saat menatap bayangan dirinya di cermin, yang dipenuhi memar dan luka di sekujur tubuh, air matanya jatuh membasahi pipinya.Dia tidak pernah menyangka suatu hari nanti dia harus

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 19

    Setelah tinggal di kediaman Keluarga Pratama selama hampir satu bulan, suasana hati Rania pun menjadi jauh lebih baik.Reza memikirkan berbagai cara untuk menghiburnya. Setiap hari dia membawa Rania pergi ke berbagai tempat untuk menenangkan pikiran, bahkan sampai jarang mengurusi masalah perusahaannya.Hari ini, pagi-pagi sekali dia sudah pulang dengan membawa seekor anak kucing di tangannya.Seekor kucing berwarna keemasan berkaki pendek yang sangat menggemaskan.Melihat anak kucing itu, Rania menutup mulutnya dengan heran. "Kok ada anak kucing? Apa kamu yang membelinya?""Iya. Beberapa hari lalu aku lihat kamu sering menonton berbagai video kucing, aku tebak kamu pasti suka, jadi aku pergi carikan satu untukmu. Kamu suka?"Reza meletakkan anak kucing itu di lantai dan tak disangka, si kucing langsung berlari menghampiri Rania.Melihat kucing itu begitu menyukainya, Rania tidak tahan untuk tidak membungkuk dan menggendongnya ke dalam pelukan."Lucu banget, bulunya lembut. Jadi, sekar

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 7

    Begitu telepon tersambung, Ghea langsung terisak. "Aris, Rania bilang aku nggak akan berani menyentuhnya. Dia bilang kalau aku macam-macam, dia akan membunuhku!""Aku tetap pada ucapanku, hukum dia sesukamu. Aku menelepon cuma ingin memberi tahu kalau nanti malam aku akan menjemputmu untuk makan mal

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 6

    "Mati?" Rania menatap wanita di depannya dengan tatapan kosong. "Apa urusannya denganku kalau dia mati? Bukannya kamu sendiri yang membekap anakmu sampai mati?""Apa kamu bilang? Kamu masih berani memfitnahku! Mana mungkin aku membunuh anakku sendiri! Huhu ... Aris, kamu harus tuntut keadilan buat a

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 4

    Setelah operasi aborsi, kondisi fisik Rania sangat lemah.Dia menelepon ke rumah, meminta asisten rumah tangganya untuk memasakkan sup ayam dan mengantarkannya ke rumah sakit untuk dia minum.Saat si asisten sudah selesai memasak dan membawa sup ayam tersebut ke rumah sakit, dia malah berpapasan den

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 3

    Semua orang yang ada di sana seketika menarik napas cepat karena terkejut mendengar ucapan itu.Hanya sudut bibir Ghea yang melengkung membentuk senyum kemenangan.Pandangan semua orang kini tertuju pada Rania, seolah-olah mereka sedang menunggu tontonan drama yang seru.Akan tetapi, Rania justru me

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status