Beranda / Male Adult / CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS / 3. PRIA DENGAN SENYUM LEMBUT

Share

3. PRIA DENGAN SENYUM LEMBUT

Penulis: Mystique
last update Tanggal publikasi: 2026-06-28 15:44:31

"Lo udah duduk."

Paris tertawa ringan meski jemarinya refleks meremas tali tasnya sendiri karena pemuda asing itu langsung mengambil posisi bahkan sebelum dia mengizinkan.

Pemuda di depannya ikut terkekeh. Suaranya renyah, mengalir santai tanpa beban. Kedua matanya mengunci pandangan Paris, lekat dan tak beralih barang sedetik pun, membuat Paris buru-buru membasahi bibirnya yang mendadak kering.

"Apa yang buat lo melamun sendirian?" Pemuda itu menopang dagunya dengan sebelah tangan di atas meja, mencondongkan tubuh hingga jarak di antara mereka menyusut.

Paris memalingkan wajah, menatap jalanan di luar kaca kafe. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ritme acak. Sedikit berpikir untuk mencari alasan yang paling aman.

"Nggak ada. Cuma bosan," jawabnya singkat.

Pemuda itu tersenyum kecil, seolah tahu bahwa jawaban Paris hanya sebuah kebohongan formalitas.

Paris mengedipkan kedua matanya satu kali, mencoba menguasai dirinya sendiri. Namun, ia tidak bisa berbohong. Pria di depannya ini benar-benar mempesona.

Garis rahangnya tegas, tatanan rambutnya yang sedikit acak-acakan namun keren, hingga cara pria itu menatapnya, semuanya terasa begitu pas. Tanpa sebab yang jelas, dada Paris mendadak berdebar sedikit kencang. Ada getaran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Mau melakukan sesuatu biar nggak bosan?" tanya pemuda itu lagi. Nadanya terdengar seperti sebuah tawaran yang sulit untuk ditolak.

Kening Paris mengerut, menatap pemuda itu dengan rasa ingin tahu yang mulai terpancing.

"Apa?"

"Ikut gue."

Tanpa menunggu persetujuan Paris untuk kedua kalinya, pemuda itu berdiri dan langsung melangkah keluar dari kafe. Paris sempat berpikir selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia meraih tasnya dan ikut berjalan di belakang pemuda asing tersebut.

Mereka berjalan beriringan menuju sebuah taman kota yang terletak tak jauh dari area kafe. Terik udara siang itu tidak terlalu kerasa karena rimbunnya pepohonan.

Sambil berjalan, pemuda itu merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan sebuah kamera digital dengan lensa yang cukup besar. Ia mengangkat benda itu, memutarnya dengan lihai di jemarinya yang lentik, lalu menunjukkannya pada Paris.

"Banyak hal indah di dunia ini yang buat lo nggak punya alasan untuk merasa bosan," ucapnya santai.

Langkah pemuda itu terhenti di dekat sebuah semak bunga. Tanpa membidik terlalu lama, ia mengarahkan lensa kameranya, menekan tombol rana sekali, lalu membalikkan layar digital kecil di belakang kamera itu ke arah Paris.

"Lihat ini. Indah, bukan?"

Paris mendekat, melihat hasil bidikan kamera pemuda ini. Kedua matanya sedikit melebar. Tak bisa ia pungkiri, pemuda di depannya ini memiliki bakat yang luar biasa. Hasil jepretan fotonya yang tadi diambil secara asal-asalan dan cepat, justru terlihat sangat hidup, dramatis, dan menangkap detail warna bunga dengan begitu sempurna.

Paris mengangguk pelan. "Iya, bagus."

Jawaban singkat Paris dijawab dengan sebuah senyuman manis oleh pemuda ini. Sorot matanya yang penuh percaya diri menunjukkan bahwa dia sudah sangat biasa menerima pujian seperti itu dari wanita.

Ia kemudian mengarahkan lensanya ke atas. Memotret hamparan langit siang yang dihiasi awan tipis, kemudian menunjukkan hasilnya lagi pada Paris seperti sebelumnya. Paris tetap menjawab dengan anggukan, namun kali ini ia mulai menikmati interaksi acak ini.

Dengan senyuman lembut yang tidak pernah lepas dari wajahnya, pemuda ini mengambil banyak gambar di sekitar taman. Langkahnya bergeser dengan anggun, gerakannya penuh perhitungan seperti seorang profesional yang sedang berburu objek mahal.

Lalu, tanpa ada aba-aba, pemuda itu memutar tubuhnya menghadap Paris. Sebelum Paris sempat bereaksi, suara jepretan kamera terdengar tepat di depan wajahnya. Klik.

Pemuda itu menurunkan kameranya, lalu menunjukkan layarnya seperti sebelum-sebelumnya. "Lihat, yang ini juga indah, kan?"

Paris menunduk untuk melihat hasil foto tersebut, dan detik itu juga napasnya tertahan. Di sana, terpampang gambar wajahnya sendiri yang sedang menatap bingung. Beberapa helai rambutnya tampak melayang ditiup angin, namun fokus lensa pria itu berhasil menangkap binar matanya yang polos dan rapuh.

Seketika, rasa hangat menjalar cepat dari leher hingga ke kedua pipi Paris.

Pemuda itu menurunkan kamera ke sisi samping tubuhnya, menyipitkan mata dengan senyuman yang semakin dalam. Ia maju satu langkah, mengunci pergerakan Paris hingga ujung sepatu mereka nyaris bersentuhan.

Tangan kirinya yang bebas terangkat perlahan. Jemarinya yang hangat menyentuh beberapa helai rambut Paris yang berantakan di dahi, lalu menyampirkan rambut Paris ke belakang daun telinganya dengan gerakan pelan, lembut, dan sengaja ditahan. Wajah mereka begitu dekat saat ini.

Paris mendadak kehilangan fungsi kata-kata. Dari jarak sedekat ini, bibir pemuda ini terlihat lebih jelas, kemerahan dan segar. Aroma manis dan maskulin dari tubuh pemuda itu menguar kuat. Memenuhi indra penciuman Paris, membuat pesona pria ini menjadi berkali-kali lipat semakin menarik di matanya.

Paris menelan ludah dengan kasar. Dadanya bergemuruh hebat. Merasa intensitas kedekatan ini mulai berbahaya untuk jantungnya. Ia refleks memundurkan tubuh saat tangan pemuda itu masih menyibak sisa rambut di pelipisnya.

Ada sensasi geli seperti sengatan listrik merayap di kulit kepala, membuat bulu kuduknya meremang. Meski sejujurnya, sentuhan itu terasa terlalu nyaman untuk ditolak.

Setelah tangan pemuda itu selesai merapikan rambut Paris, pria itu tidak langsung menjauhkan tubuhnya. Wajahnya berhenti tepat di samping telinga Paris. Bibirnya yang tipis berada sangat dekat, hampir bersentuhan langsung dengan kulit pipi gadis itu setiap kali ia mengembuskan napas.

Kedekatan itu semakin mengikat kesadaran Paris, mengunci gadis itu untuk tetap diam di posisinya di bawah bayang-bayang tubuh tegap sang pemuda.

"Seperti ini jadi semakin cantik," bisik pemuda itu dengan suara rendah yang serak. Tepat di samping telinga Paris, mengirimkan rasa merinding yang aneh ke sekujur tubuh gadis itu.

Pemuda itu sedikit memiringkan kepala, menatap Paris dari samping dengan binar mata yang tajam.

"Siapa nama lo?"

Paris mengerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kesadarannya yang sempat terbang entah ke mana.

"Nama gue Paris."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    6. BERTEMU LAGI

    Kertas-kertas bekas diremas menjadi bola-bola kecil. Lalu dilemparkan melintasi barisan meja hingga mendarat sukses di kepala salah satu mahasiswa yang tengah tertidur.Seketika, gelak tawa pecah di sudut kanan kelas. Ruangan berkapasitas tiga puluh orang itu berisik bukan main, mirip pasar tumpah di tengah hari.Ada yang asyik bergosip, ada yang sibuk memoles lipstik, dan ada pula yang memukul-mukul meja mengikuti ritme lagu rap dari pelantang suara portabel.Manda menggeser duduknya, menyenggol lengan Paris yang sejak tadi hanya terdiam memandangi layar ponselnya yang meredup."Paris, dengerin gue," Manda menopang dagu, matanya fokus menatap wajah Paris dari samping. "Anak baru yang pindahan dari kampus sebelah itu... dia nanyain lo terus ke anak-anak. Katanya, dia sengaja nanya jadwal kelas kita biar bisa pas ketemunya."Paris menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang tampak dipaksakan. "Palingan dia cuma mau pinjam catatan, Manda. Jangan mulai, deh.""Catatan apaan?" Manda mencibi

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    5. LOLIPOP

    Belum sempat bibir mereka bersentuhan, sebuah suara asing mendadak memecah kesunyian di antara keduanya. "Permennya kelihatan enak. Apa lo punya lagi?" Waktu yang semula terasa berhenti seketika buyar berantakan. Jarak yang mengunci itu mendadak menguap. Paris tersentak, buru-buru menarik napasnya yang sempat tertahan. Sementara pemuda di hadapannya perlahan menegakkan tubuh tanpa riak kepanikan sedikit pun di wajahnya. Keduanya menoleh, mendapati seorang wanita muda sudah berdiri di dekat mereka. Menatap lurus ke arah keduanya atau lebih tepatnya, menatap penuh minat pada sisa permen di bibir sang pemuda. Pemuda itu tidak terlihat terganggu. Ia justru menatap Paris sekilas dengan sudut bibir yang melengkung ringan, sebelum merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan lolipop terakhir berwarna merah yang tersisa. "Sisa satu," ucap pemuda itu, suaranya terdengar renyah dan bersahabat. Ia menimbang permen merah itu di jemarinya yang lentik. "Tapi, gue udah tawarin ke dia lebih

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    4. NAMA YANG BAGUS

    "Paris?" Pemuda itu mengulang nama tersebut. Membiarkan tiap sukunya mengalir pelan dari belah bibirnya sebelum akhirnya sebuah tawa ringan meluncur bebas. Ia sedikit menjauhkan wajah, memberikan ruang bagi Paris untuk kembali meraup pasokan oksigen yang sempat tersendat. "Nama lo lucu tapi bagus," pemuda itu menyandarkan satu bahunya pada sebatang pohon di dekat mereka. Melipat tangan di depan dada sambil terus melempar pandangan jenaka. "Kenapa nama lo Paris? Apa karena orang tua lo suka Eiffel?" Mendengar gurauan asal itu, Paris tak bisa menahan diri untuk tidak ikut menyunggingkan senyum. Rasa canggung yang tadi sempat membekukan lidahnya perlahan mengikis, digantikan oleh rasa hangat yang mengalir santai. "Gue lahir di sana," jawab Paris, diselingi tawa kecil yang terdengar tulus di telinga sang pemuda. "Dan kata mereka, karena di sana tempat surganya fashion, jadi mereka kasih gue nama itu. Berharap gue bisa seperti fashion yang indah itu." Paris menunduk sedikit,

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    3. PRIA DENGAN SENYUM LEMBUT

    "Lo udah duduk." Paris tertawa ringan meski jemarinya refleks meremas tali tasnya sendiri karena pemuda asing itu langsung mengambil posisi bahkan sebelum dia mengizinkan. Pemuda di depannya ikut terkekeh. Suaranya renyah, mengalir santai tanpa beban. Kedua matanya mengunci pandangan Paris, lekat dan tak beralih barang sedetik pun, membuat Paris buru-buru membasahi bibirnya yang mendadak kering. "Apa yang buat lo melamun sendirian?" Pemuda itu menopang dagunya dengan sebelah tangan di atas meja, mencondongkan tubuh hingga jarak di antara mereka menyusut. Paris memalingkan wajah, menatap jalanan di luar kaca kafe. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ritme acak. Sedikit berpikir untuk mencari alasan yang paling aman. "Nggak ada. Cuma bosan," jawabnya singkat. Pemuda itu tersenyum kecil, seolah tahu bahwa jawaban Paris hanya sebuah kebohongan formalitas. Paris mengedipkan kedua matanya satu kali, mencoba menguasai dirinya sendiri. Namun, ia tidak bisa berbohong.

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    2. KENYATAAN PAHIT

    Drtt... Drttt...Getaran ponsel di atas meja membangunkan Paris. Kepalanya berdenyut nyeri. Bayangan kejadian semalam di kafe langsung berputar di otaknya.Paris menghela napas berat, merasakan sekujur tubuh enggan untuk bangkit dan menghadapi hari. Ia mengulurkan tangan, meraih ponselnya yang masih menyala. Ada beberapa notifikasi di layar kunci. Paris membuka pesan teratas.Darius : Paris, Sayang, aku minta maaf untuk semalam. Kamu tahu sendiri kan kalau cowok lagi ngumpul kadang suka kelepasan pamer. Aku cuma bercanda, nggak ada maksud ngerendahin kamu sama sekali. Tolong jangan kekanak-kanakan ya, Sayang. Aku berangkat kerja dulu. Nanti kita ketemu dan bicara baik-baik. Love you.Darius adalah seorang dosen di universitas swasta ternama tapi bukan di kampus tempat Paris belajar. Hal itu yang membuat Paris berpikir bahwa kekasihnya itu adalah pria yang tepat untuk dirinya. Namun kini, semua yang ia pikirkan salah.Paris menatap layar dengan tatapan kosong. Ia tidak membalas. Jemari

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    1. HANCURNYA HARGA DIRI

    "Setelah pesta ini lo mau kemana, Dar?"Pertanyaan itu meluncur bersama kepulan asap rokok dari salah satu teman Darius. Malam itu, sudut sebuah kafe yang cukup riuh berubah menjadi ruang perayaan kecil.Beberapa gelas kopi yang mulai mendingin dan piring-piring kecil berisi sisa camilan berserakan di atas meja. Mengelilingi Darius yang malam itu menjadi pusat perhatian karena sedang merayakan ulang tahunnya. "Check-in pastinya. Sebagai kado," sahut teman Darius yang lain, menyenggol bahu sang pemilik acara dengan seringai mesum yang tak ditutupi. "Pacar dia kan cantiknya keterlaluan. Wajahnya dapet, bodynya... ah, sial. Kalau gue jadi Darius, gue udah pasti nggak bakal bisa berhenti main."Mendengar godaan itu, Darius hanya bersandar pada kursi. Perlahan menyesap minumannya sambil mengumbar senyum tipis. Kerutan di sudut matanya menunjukkan kedewasaan seorang pria yang tahu bagaimana cara memikat wanita. Namun, riak di matanya malam ini tampak dipenuhi keangkuhan yang tinggi."Dar,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status