تسجيل الدخولLayar ponsel Paris menyala untuk yang kesekian kalinya, menampilkan waktu yang baru menunjukkan pukul dua dini hari. Paris berguling ke sisi kanan kasur.
"Tidur, Parisss... lo mikirin apa?" Ucapnya pada diri sendiri.Ucapan River di tepi trotoar sebelum mereka berpisah kembali berdengung di telinganya. 'Sampai ketemu besok.' Begitu kasual, begitu santai, seolah keintiman yang sempat tercipta di antara sesapan es krim stroberi dan vanila tadi hanyalah angin lalu yang menguapLayar ponsel Paris menyala untuk yang kesekian kalinya, menampilkan waktu yang baru menunjukkan pukul dua dini hari. Paris berguling ke sisi kanan kasur."Tidur, Parisss... lo mikirin apa?" Ucapnya pada diri sendiri.Ucapan River di tepi trotoar sebelum mereka berpisah kembali berdengung di telinganya. 'Sampai ketemu besok.' Begitu kasual, begitu santai, seolah keintiman yang sempat tercipta di antara sesapan es krim stroberi dan vanila tadi hanyalah angin lalu yang menguap begitu saja.Pagi harinya, Paris terbangun dengan sepasang mata yang terasa berat dan kantung mata tipis yang tercetak jelas. Efek dari overthinking semalaman yang merutuki kebodohan hatinya sendiri karena mulai menaruh harap pada pria yang jelas-jelas mengibarkan bendera peringatan.Atmosfer riuh kantin fakultas saat jam makan siang sama sekali tidak mampu membuyarkan lamunan Paris. Ia hanya mengaduk-aduk es teh manis di hadapannya dengan sedotan. Membiarkan es batu beradu den
Keduanya berjalan di atas trotoar yang mulai basah oleh embun malam sampai menemukan toko es krim. Di dalam toko es krim yang sepi, Paris menunjuk dua sekop es krim rasa stroberi dalam mangkuk kertas. Sementara River memilih rasa vanila.Dan juga dua kantong plastik besar berisi belasan es krim batangan untuk teman-teman mereka di ruang karaoke."Jadi," River membuka suara saat mereka kembali menyusuri koridor luar pertokoan yang agak temaram. Langkahnya sengaja diperlambat, menyamakan ritme dengan langkah Paris. "Kenapa tadi bohong?"Paris menyendok es krimnya, berpura-pura sangat sibuk mengecap rasa manis dingin itu di lidahnya."Bohong soal apa?"River terkekeh rendah, suara yang selalu sukses membuat tengkuk Paris meremang. "Soal kita. Kenapa bilang nggak kenal gue?"Paris mengembuskan napas pelan, matanya menatap ujung sepatunya sendiri yang melangkah beriringan dengan sepatu milik River."Nggak ada alasan khusus. Cuma... gue nggak mau mereka tau terus jadiin itu bahan gosip sa
Paris terdiam selama beberapa detik. Uluran tangan River di depannya ia biarkan begitu saja.Otaknya mendadak macet karena tidak menyangka.Mahasiswa baru yang sejak kemarin diceritakan Manda. Pria yang diceritakan gila-gilaan oleh banyak perempuan di kampus, ternyata adalah sosok sama yang kemarin sempat membuatnya hampir terhanyut.Melihat Paris yang mematung dengan mata yang terus melihatnya. Sudut bibir River terangkat semakin tinggi. Diimbangi dengan sedikit tawa kecil, River terlihat menikmati keterkejutan gadis di hadapannya.River sengaja menggerakkan jemarinya yang masih menggantung di udara. Sebuah isyarat halus untuk menyadarkan Paris dari lamunannya. "Hai, gue River," ulangnya lagi.Suaranya merendah, bergetar renyah tepat di indra pendengaran Paris.Sentakan suara itu berhasil mengembalikan kesadaran Paris yang sempat menguap. Dengan gerakan yang sedikit kaku dan canggung, Paris akhirnya menyambut uluran tangan River
Kertas-kertas bekas diremas menjadi bola-bola kecil. Lalu dilemparkan melintasi barisan meja hingga mendarat sukses di kepala salah satu mahasiswa yang tengah tertidur.Seketika, gelak tawa pecah di sudut kanan kelas. Ruangan berkapasitas tiga puluh orang itu berisik bukan main, mirip pasar tumpah di tengah hari.Ada yang asyik bergosip, ada yang sibuk memoles lipstik, dan ada pula yang memukul-mukul meja mengikuti ritme lagu rap dari pelantang suara portabel.Manda menggeser duduknya, menyenggol lengan Paris yang sejak tadi hanya terdiam memandangi layar ponselnya yang meredup."Paris, dengerin gue," Manda menopang dagu, matanya fokus menatap wajah Paris dari samping. "Anak baru yang pindahan dari kampus sebelah itu... dia nanyain lo terus ke anak-anak. Katanya, dia sengaja nanya jadwal kelas kita biar bisa pas ketemunya."Paris menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang tampak dipaksakan. "Palingan dia cuma mau pinjam catatan, Manda. Jangan mulai, deh.""Catatan apaan?" Manda mencibi
Belum sempat bibir mereka bersentuhan, sebuah suara asing mendadak memecah kesunyian di antara keduanya. "Permennya kelihatan enak. Apa lo punya lagi?" Waktu yang semula terasa berhenti seketika buyar berantakan. Jarak yang mengunci itu mendadak menguap. Paris tersentak, buru-buru menarik napasnya yang sempat tertahan. Sementara pemuda di hadapannya perlahan menegakkan tubuh tanpa riak kepanikan sedikit pun di wajahnya. Keduanya menoleh, mendapati seorang wanita muda sudah berdiri di dekat mereka. Menatap lurus ke arah keduanya atau lebih tepatnya, menatap penuh minat pada sisa permen di bibir sang pemuda. Pemuda itu tidak terlihat terganggu. Ia justru menatap Paris sekilas dengan sudut bibir yang melengkung ringan, sebelum merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan lolipop terakhir berwarna merah yang tersisa. "Sisa satu," ucap pemuda itu, suaranya terdengar renyah dan bersahabat. Ia menimbang permen merah itu di jemarinya yang lentik. "Tapi, gue udah tawarin ke dia lebih
"Paris?" Pemuda itu mengulang nama tersebut. Membiarkan tiap sukunya mengalir pelan dari belah bibirnya sebelum akhirnya sebuah tawa ringan meluncur bebas. Ia sedikit menjauhkan wajah, memberikan ruang bagi Paris untuk kembali meraup pasokan oksigen yang sempat tersendat. "Nama lo lucu tapi bagus," pemuda itu menyandarkan satu bahunya pada sebatang pohon di dekat mereka. Melipat tangan di depan dada sambil terus melempar pandangan jenaka. "Kenapa nama lo Paris? Apa karena orang tua lo suka Eiffel?" Mendengar gurauan asal itu, Paris tak bisa menahan diri untuk tidak ikut menyunggingkan senyum. Rasa canggung yang tadi sempat membekukan lidahnya perlahan mengikis, digantikan oleh rasa hangat yang mengalir santai. "Gue lahir di sana," jawab Paris, diselingi tawa kecil yang terdengar tulus di telinga sang pemuda. "Dan kata mereka, karena di sana tempat surganya fashion, jadi mereka kasih gue nama itu. Berharap gue bisa seperti fashion yang indah itu." Paris menunduk sedikit,