Share

4. NAMA YANG BAGUS

Author: Mystique
last update publish date: 2026-06-28 15:55:57

"Paris?"

Pemuda itu mengulang nama tersebut. Membiarkan tiap sukunya mengalir pelan dari belah bibirnya sebelum akhirnya sebuah tawa ringan meluncur bebas.

Ia sedikit menjauhkan wajah, memberikan ruang bagi Paris untuk kembali meraup pasokan oksigen yang sempat tersendat.

"Nama lo lucu tapi bagus," pemuda itu menyandarkan satu bahunya pada sebatang pohon di dekat mereka. Melipat tangan di depan dada sambil terus melempar pandangan jenaka.

"Kenapa nama lo Paris? Apa karena orang tua lo suka Eiffel?"

Mendengar gurauan asal itu, Paris tak bisa menahan diri untuk tidak ikut menyunggingkan senyum. Rasa canggung yang tadi sempat membekukan lidahnya perlahan mengikis, digantikan oleh rasa hangat yang mengalir santai.

"Gue lahir di sana," jawab Paris, diselingi tawa kecil yang terdengar tulus di telinga sang pemuda. "Dan kata mereka, karena di sana tempat surganya fashion, jadi mereka kasih gue nama itu. Berharap gue bisa seperti fashion yang indah itu."

Paris menunduk sedikit, menatap ujung sepatunya sendiri karena menurutnya alasan yang sering diceritakan ibunya itu terdengar sedikit lucu dan berlebihan.

Namun, tidak ada tawa balasan dari pria di hadapannya. Kesunyian singkat itu membuat Paris kembali mendongak.

Pemuda itu hanya diam, menghentikan gerakan tubuhnya. Perlahan tapi pasti, ia kembali mencondongkan wajahnya lebih dekat, memperkecil jarak yang baru saja tercipta.

Kedua matanya bergerak lambat, menyusuri garis alis Paris, turun ke hidungnya, hingga berhenti di bibir gadis itu, seolah sedang memeta setiap jengkal wajah Paris dengan seksama.

Setelah beberapa detik yang menegangkan, sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman ringan yang menghanyutkan.

"Orang tua lo benar," bisik pemuda itu, suaranya memberat, bergetar rendah di antara desau angin taman. "Gue lagi lihat fashion indah itu sekarang."

Senyum di wajah pemuda itu perlahan memudar, melebur bersama tatapan matanya yang mendadak berubah menjadi sangat serius. Kilat lucu di matanya lenyap, berganti dengan binar tajam yang begitu menuntut.

Ia semakin mengikis jarak, memajukan wajahnya dengan gerakan yang halus namun terencana, mencoba meraih dan mencium bibir Paris.

Paris membeku sesaat. Tubuhnya kaku menahan napas saat bibir mereka hanya berjarak beberapa milimeter. Tepat ketika ia bisa merasakan embusan napas hangat pria itu menyentuh kulitnya, kesadaran Paris tersentak bangun.

Dengan refleks yang sedikit gugup, ia menarik kepalanya ke belakang, memundurkan wajahnya dari jangkauan sang pemuda.

"Apa yang lo lakuin?" ucap Paris.

Kalimat itu lolos begitu saja dari tenggorokan, diiringi seulas senyum malu yang menyemburatkan warna merah di kedua pipinya.

Jantung Paris berdentum hebat, protes atas kelancangan yang hampir saja terjadi.

Bukannya merasa bersalah atau canggung karena tujuannya baru saja digagalkan, pemuda itu justru kembali menarik tubuhnya hingga berdiri tegak. Tersenyum dan tertawa kecil dengan tenang, tampak sangat lihai mengendalikan situasi.

"Terpesona oleh fashion yang berhasil dibuat orang tua lo," jawabnya santai tanpa beban, seolah tindakan agresifnya barusan adalah hal paling legal di dunia.

Wajah Paris semakin merona hebat karena malu. Kata-kata manis yang meluncur begitu mudah dari bibir pria itu terasa seperti jaring tak kasat mata yang perlahan mengikatnya.

Pemuda itu hanya membalas reaksi Paris dengan senyuman manis yang meneduhkan, seolah menikmati bagaimana gadis di depannya ini mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Ketegangan mendadak kembali terasa pekat, pemuda itu merogoh tas selempangnya lagi. Saat tangannya keluar, ada dua buah permen lolipop dengan bungkus plastik berwarna merah dan kuning di antara jemarinya.

Ia mengulurkan kedua permen itu, menawarkan salah satunya pada Paris. "Mau?"

Paris menggeleng pelan. "Nggak, makasih. Gue nggak suka permen," tolak Paris halus.

"Sayang banget. Padahal ini bisa memperbaiki suasana hati lo."

Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya, lalu tanpa mendesak lebih jauh, ia memasukkan kembali lolipop berwarna merah ke dalam tasnya.

Jemarinya yang cekatan kemudian merobek bungkus plastik lolipop yang berwarna kuning, membuang bungkusnya, lalu memasukkan permen bulat itu ke dalam mulutnya.

Paris berdiri mematung, tapi kedua matanya tidak bisa berbohong. Pandangannya bergerak turun, memperhatikan dengan saksama saat bibir pemuda itu mulai bergerak lambat, asyik menyesap permen lolipop kuning di dalam mulutnya.

Kilau basah dari cairan manis permen itu tertinggal di permukaan bibir tipis sang pemuda, membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih mempesona dan sensual di bawah siraman cahaya matahari siang.

Tanpa sadar, Paris menelan ludahnya dengan kasar. Bagian dalam bibirnya mendadak terasa basah dan kering di saat yang sama. Ada rasa penasaran yang aneh yang tiba-tiba bergejolak di dalam dadanya.

Mencoba mengalihkan fokusnya dari bibir memikat tersebut, Paris akhirnya membuka suara untuk bertanya.

"Lo suka lolipop? Itu kelihatan segar. Rasa apa?"

Mendengar pertanyaan Paris, pemuda itu menghentikan gerakannya. Ia menurunkan lolipop dari mulutnya, membiarkan kilau manis di bibirnya terlihat jelas, lalu menatap Paris dengan sepasang mata yang menyipit penuh arti. Sebuah tatapan menggoda yang sangat kentara.

"Lo mau coba?" tanyanya dengan nada suara yang berbisik.

Sebelum Paris sempat mencerna arti dari pertanyaan tersebut, pemuda itu kembali memasukkan permen kuning itu ke dalam mulutnya selama beberapa detik, menyerap sisa cairan manis yang melekat di sana dengan pandangan yang sama sekali tidak lepas dari mata Paris.

Kemudian, ia menarik lolipop itu keluar dari mulutnya. Dengan gerakan yang lambat namun mengunci seluruh pergerakan Paris, pemuda itu kembali memajukan wajahnya.

Kali ini, tidak ada keraguan. Aroma manis lemon yang segar bercampur wangi maskulin tubuhnya menyeruak hebat, mengepung indra penciuman Paris saat wajah tegap pria itu berhenti tepat di depan bibirnya yang setengah terbuka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    45. KEPASTIAN YANG MENENANGKAN ( TAMAT )

    Tangan Adrian terulur lembut, menyapu helaian rambut Paris yang berantakan diterpa angin siang di taman kampus. Sentuhan jari-jarinya terasa begitu tenang, tanpa ada desakan atau maksud tersembunyi yang membuat dada Paris cemas. Di hadapan pria itu, Paris tidak perlu bersikap menjadi orang lain. Ia tidak perlu berpura-pura menjadi cewek yang 'santai' hanya agar tidak ditinggalkan. Paris menatap wajah Adrian yang tersenyum hangat. "Kamu nggak takut orang-orang di kampus ngeliatin kita, Yan?" Adrian terkekeh pelan, menarik tangannya kembali lalu menopang dagunya di atas meja kayu. Pandangan matanya terkunci rapat pada Paris, memancarkan kejujuran yang jelas. "Kenapa harus takut, Paris? Saya jalan sama wanita yang saya suka, bukan lagi nyembunyiin kejahatan." Kata-kata itu meluncur begitu saja, tetapi dampaknya seperti menyiramkan air sejuk ke atas luka lama di hati Paris. Kalimat sederhana yang selama ini ingin ia dengar dari mulut River, kini diucapkan oleh Adrian tanpa ragu sedik

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    44. SOROT MATA YANG PATAH

    Pintu kayu rumah Paris terkunci rapat dengan bunyi klik yang tegas, menyisakan keheningan malam yang menusuk. Di balik gembok pagar besi yang baru saja dibantingnya, Paris bersandar sejenak, menghela napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya yang maraton. Rasa hangat dari perhatian Adrian tadi malam sengaja ia simpan rapat-rapt di dadanya, dijadikan perisai kokoh agar bayangan kemarahan dan cengkeraman kasar River tak lagi sanggup melukainya.Malam itu, Paris tidur dengan tenang. Setelah sekian lama, ia tak lagi menunggu denting notifikasi ponsel yang hanya berisi pesan singkat penuh ketidakpastian.Pagi harinya di area kampus, atmosfer mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.River, pria paling populer di kampus, sosok kharismatik yang selalu mengumbar senyum menawan, hari itu tampil berbeda. Aura dominan yang biasanya terpancar penuh percaya diri kini meredup, tergantikan oleh sikap yang jauh lebih pendiam dan dingin.Pria itu berjalan

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    43. MILIKKU SUDAH PERGI

    Malam di kompleks perumahan itu mendadak terasa jauh lebih dingin. Rasa hangat dari sentuhan lembut Adrian di puncak kepalanya, serta kebahagiaan sederhana saat menerima kotak macaron rasa vanila tadi, seketika menguap tanpa sisa.Digantikan oleh gelombang tegang yang menusuk hingga ke tulang.Paris membeku. Langkah kakinya terkunci rapat di atas aspal dingin tepat di depan gerbang rumahnya yang sepi.Dari balik pohon mangga, sosok yang terduduk di samping motor sport hitam itu perlahan bangkit. River melangkah maju. Jaket kulit hitam yang dikenakannya tampak kusam, rambutnya berantakan diterpa angin malam, dan matanya, mata yang dulu selalu memancarkan keegoisan kini merah membara, dipenuhi gabungan antara cemburu, amarah, dan rasa tidak berdaya yang bergejolak."Bagus ya," suara River terdengar parau, penuh akan sarkasme yang tajam. Pria itu terus melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Baru sebentar gue nggak ada, lo udah bisa senyum serenyah itu sama cowok lain?"Par

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    42. MALAM HANGAT

    Paris terburu-buru meraih gelas kaca berisi minuman berwarna ungu gradasi di depannya, berusaha mengalihkan perhatian dari hangatnya rona merah yang kini menjalar hingga ke lehernya.Sentuhan singkat jemari Adrian saat menyeka busa minuman di sudut bibirnya tadi masih meninggalkan sensasi aneh yang membuat jantungnya berdegup tak karuan.Adrian, yang menyadari salah tingkahnya gadis di hadapannya, hanya tersenyum tipis. Dengan gestur yang sangat dewasa, ia tidak menggoda Paris lebih jauh. Pria itu justru menyandarkan punggungnya santai ke sandaran kursi katun cream, memberi Paris ruang untuk bernapas."Jadi, bagaimana menurut kritikus terbaik saya?" tanya Adrian, mengalihkan obrolan dengan nada suara rendah yang tenang. "Rasa lavender dan lemonnya terlalu kuat, atau justru pas?"Paris berdeham pelan, mencoba menetralkan degup dadanya sebelum kembali menatap gelas cantik itu. "Rasa asam lemonnya langsung kerasa di awal, tapi setelah ditelan, ada aroma lavender yang manis dan menenangka

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    41. PENYESALAN YANG TERLAMBAT

    "Aduh, Par, lo bisa santai dikit nggak sih? Eh salah, maksud gue, kok lo bisa santai banget sih?!" Febby bolak-balik merapikan kerah sweter Paris yang sebenarnya sudah sangat rapi.Gadis itu berkali-kali melirik jam tangan digitalnya, lalu menatap jalanan di depan gerbang kampus dengan binar mata yang lebih heboh daripada orang yang mau kencan.Paris hanya terkekeh pelan, bersandar santai pada tiang halte sembari memegang ponselnya. "Feb, dia cuma mau jemput buat minta pendapat menu minuman baru. Bukan mau ngajak gue ke pelaminan, tolong ya kondisikan mukanya.""Halah, kedok itu mah! Mana ada pengusaha muda bela-belain jemput anak kuliahan sore-sore cuma buat nanya rasa sirup," timpal Manda yang berdiri di sebelah mereka, melipat tangan dengan senyum penuh arti. "Tapi gue dukung penuh sih. Minimal, kalau lo sama Adrian, gizi lo perbaikan, Par.""Bener! Dan yang paling penting, bebas dari polusi udara bernama River," sahut Febby berapi-api, yang langsung dihadiahi cubitan gemas di leng

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    40. MENIKMATI MAKAN SIANG

    Aroma gurih nan mewah dari Creamy Mushroom Pasta berlumur saus truffle langsung menguasai seluruh penjuru ruang kelas begitu Febby membuka penutup wadah premiumnya. Tidak ketinggalan, kotak berisi Warm Apple Pie dengan wadah es krim vanila terpisah yang dikemas khusus agar tidak cepat mencair, ditata rapi di tengah meja yang kini disulap menjadi area piknik dadakan."Sumpah ya, ini wangi jamur sama keju premiumnya benar-benar merusak iman diet gue," cerocos Febby sembari menelan ludah, matanya berbinar menatap porsi makanan yang ternyata cukup banyak itu. "Tuan Adrian ini tahu aja kalau anak kuliahan jam segini lambungnya udah demo.""Bentar, bentar! Jangan disentuh dulu!" seru Manda cepat, menepis pelan tangan Kenzie yang sudah bersiap mencomot sendok. Manda menoleh ke arah Paris dengan cengiran usil. "Artis kita harus mendokumentasikan ini dulu sebagai bentuk laporan pertanggungjawaban kepada pihak sponsor."Paris tertawa kecil, pipinya merona mendengar ledekan Manda. Namun, ia teta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status