เข้าสู่ระบบ"Paris?"
Pemuda itu mengulang nama tersebut. Membiarkan tiap sukunya mengalir pelan dari belah bibirnya sebelum akhirnya sebuah tawa ringan meluncur bebas. Ia sedikit menjauhkan wajah, memberikan ruang bagi Paris untuk kembali meraup pasokan oksigen yang sempat tersendat. "Nama lo lucu tapi bagus," pemuda itu menyandarkan satu bahunya pada sebatang pohon di dekat mereka. Melipat tangan di depan dada sambil terus melempar pandangan jenaka. "Kenapa nama lo Paris? Apa karena orang tua lo suka Eiffel?" Mendengar gurauan asal itu, Paris tak bisa menahan diri untuk tidak ikut menyunggingkan senyum. Rasa canggung yang tadi sempat membekukan lidahnya perlahan mengikis, digantikan oleh rasa hangat yang mengalir santai. "Gue lahir di sana," jawab Paris, diselingi tawa kecil yang terdengar tulus di telinga sang pemuda. "Dan kata mereka, karena di sana tempat surganya fashion, jadi mereka kasih gue nama itu. Berharap gue bisa seperti fashion yang indah itu." Paris menunduk sedikit, menatap ujung sepatunya sendiri karena menurutnya alasan yang sering diceritakan ibunya itu terdengar sedikit lucu dan berlebihan. Namun, tidak ada tawa balasan dari pria di hadapannya. Kesunyian singkat itu membuat Paris kembali mendongak. Pemuda itu hanya diam, menghentikan gerakan tubuhnya. Perlahan tapi pasti, ia kembali mencondongkan wajahnya lebih dekat, memperkecil jarak yang baru saja tercipta. Kedua matanya bergerak lambat, menyusuri garis alis Paris, turun ke hidungnya, hingga berhenti di bibir gadis itu, seolah sedang memeta setiap jengkal wajah Paris dengan seksama. Setelah beberapa detik yang menegangkan, sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman ringan yang menghanyutkan. "Orang tua lo benar," bisik pemuda itu, suaranya memberat, bergetar rendah di antara desau angin taman. "Gue lagi lihat fashion indah itu sekarang." Senyum di wajah pemuda itu perlahan memudar, melebur bersama tatapan matanya yang mendadak berubah menjadi sangat serius. Kilat lucu di matanya lenyap, berganti dengan binar tajam yang begitu menuntut. Ia semakin mengikis jarak, memajukan wajahnya dengan gerakan yang halus namun terencana, mencoba meraih dan mencium bibir Paris. Paris membeku sesaat. Tubuhnya kaku menahan napas saat bibir mereka hanya berjarak beberapa milimeter. Tepat ketika ia bisa merasakan embusan napas hangat pria itu menyentuh kulitnya, kesadaran Paris tersentak bangun. Dengan refleks yang sedikit gugup, ia menarik kepalanya ke belakang, memundurkan wajahnya dari jangkauan sang pemuda. "Apa yang lo lakuin?" ucap Paris. Kalimat itu lolos begitu saja dari tenggorokan, diiringi seulas senyum malu yang menyemburatkan warna merah di kedua pipinya. Jantung Paris berdentum hebat, protes atas kelancangan yang hampir saja terjadi. Bukannya merasa bersalah atau canggung karena tujuannya baru saja digagalkan, pemuda itu justru kembali menarik tubuhnya hingga berdiri tegak. Tersenyum dan tertawa kecil dengan tenang, tampak sangat lihai mengendalikan situasi. "Terpesona oleh fashion yang berhasil dibuat orang tua lo," jawabnya santai tanpa beban, seolah tindakan agresifnya barusan adalah hal paling legal di dunia. Wajah Paris semakin merona hebat karena malu. Kata-kata manis yang meluncur begitu mudah dari bibir pria itu terasa seperti jaring tak kasat mata yang perlahan mengikatnya. Pemuda itu hanya membalas reaksi Paris dengan senyuman manis yang meneduhkan, seolah menikmati bagaimana gadis di depannya ini mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ketegangan mendadak kembali terasa pekat, pemuda itu merogoh tas selempangnya lagi. Saat tangannya keluar, ada dua buah permen lolipop dengan bungkus plastik berwarna merah dan kuning di antara jemarinya. Ia mengulurkan kedua permen itu, menawarkan salah satunya pada Paris. "Mau?" Paris menggeleng pelan. "Nggak, makasih. Gue nggak suka permen," tolak Paris halus. "Sayang banget. Padahal ini bisa memperbaiki suasana hati lo." Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya, lalu tanpa mendesak lebih jauh, ia memasukkan kembali lolipop berwarna merah ke dalam tasnya. Jemarinya yang cekatan kemudian merobek bungkus plastik lolipop yang berwarna kuning, membuang bungkusnya, lalu memasukkan permen bulat itu ke dalam mulutnya. Paris berdiri mematung, tapi kedua matanya tidak bisa berbohong. Pandangannya bergerak turun, memperhatikan dengan saksama saat bibir pemuda itu mulai bergerak lambat, asyik menyesap permen lolipop kuning di dalam mulutnya. Kilau basah dari cairan manis permen itu tertinggal di permukaan bibir tipis sang pemuda, membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih mempesona dan sensual di bawah siraman cahaya matahari siang. Tanpa sadar, Paris menelan ludahnya dengan kasar. Bagian dalam bibirnya mendadak terasa basah dan kering di saat yang sama. Ada rasa penasaran yang aneh yang tiba-tiba bergejolak di dalam dadanya. Mencoba mengalihkan fokusnya dari bibir memikat tersebut, Paris akhirnya membuka suara untuk bertanya. "Lo suka lolipop? Itu kelihatan segar. Rasa apa?" Mendengar pertanyaan Paris, pemuda itu menghentikan gerakannya. Ia menurunkan lolipop dari mulutnya, membiarkan kilau manis di bibirnya terlihat jelas, lalu menatap Paris dengan sepasang mata yang menyipit penuh arti. Sebuah tatapan menggoda yang sangat kentara. "Lo mau coba?" tanyanya dengan nada suara yang berbisik. Sebelum Paris sempat mencerna arti dari pertanyaan tersebut, pemuda itu kembali memasukkan permen kuning itu ke dalam mulutnya selama beberapa detik, menyerap sisa cairan manis yang melekat di sana dengan pandangan yang sama sekali tidak lepas dari mata Paris. Kemudian, ia menarik lolipop itu keluar dari mulutnya. Dengan gerakan yang lambat namun mengunci seluruh pergerakan Paris, pemuda itu kembali memajukan wajahnya. Kali ini, tidak ada keraguan. Aroma manis lemon yang segar bercampur wangi maskulin tubuhnya menyeruak hebat, mengepung indra penciuman Paris saat wajah tegap pria itu berhenti tepat di depan bibirnya yang setengah terbuka.Kertas-kertas bekas diremas menjadi bola-bola kecil. Lalu dilemparkan melintasi barisan meja hingga mendarat sukses di kepala salah satu mahasiswa yang tengah tertidur.Seketika, gelak tawa pecah di sudut kanan kelas. Ruangan berkapasitas tiga puluh orang itu berisik bukan main, mirip pasar tumpah di tengah hari.Ada yang asyik bergosip, ada yang sibuk memoles lipstik, dan ada pula yang memukul-mukul meja mengikuti ritme lagu rap dari pelantang suara portabel.Manda menggeser duduknya, menyenggol lengan Paris yang sejak tadi hanya terdiam memandangi layar ponselnya yang meredup."Paris, dengerin gue," Manda menopang dagu, matanya fokus menatap wajah Paris dari samping. "Anak baru yang pindahan dari kampus sebelah itu... dia nanyain lo terus ke anak-anak. Katanya, dia sengaja nanya jadwal kelas kita biar bisa pas ketemunya."Paris menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang tampak dipaksakan. "Palingan dia cuma mau pinjam catatan, Manda. Jangan mulai, deh.""Catatan apaan?" Manda mencibi
Belum sempat bibir mereka bersentuhan, sebuah suara asing mendadak memecah kesunyian di antara keduanya. "Permennya kelihatan enak. Apa lo punya lagi?" Waktu yang semula terasa berhenti seketika buyar berantakan. Jarak yang mengunci itu mendadak menguap. Paris tersentak, buru-buru menarik napasnya yang sempat tertahan. Sementara pemuda di hadapannya perlahan menegakkan tubuh tanpa riak kepanikan sedikit pun di wajahnya. Keduanya menoleh, mendapati seorang wanita muda sudah berdiri di dekat mereka. Menatap lurus ke arah keduanya atau lebih tepatnya, menatap penuh minat pada sisa permen di bibir sang pemuda. Pemuda itu tidak terlihat terganggu. Ia justru menatap Paris sekilas dengan sudut bibir yang melengkung ringan, sebelum merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan lolipop terakhir berwarna merah yang tersisa. "Sisa satu," ucap pemuda itu, suaranya terdengar renyah dan bersahabat. Ia menimbang permen merah itu di jemarinya yang lentik. "Tapi, gue udah tawarin ke dia lebih
"Paris?" Pemuda itu mengulang nama tersebut. Membiarkan tiap sukunya mengalir pelan dari belah bibirnya sebelum akhirnya sebuah tawa ringan meluncur bebas. Ia sedikit menjauhkan wajah, memberikan ruang bagi Paris untuk kembali meraup pasokan oksigen yang sempat tersendat. "Nama lo lucu tapi bagus," pemuda itu menyandarkan satu bahunya pada sebatang pohon di dekat mereka. Melipat tangan di depan dada sambil terus melempar pandangan jenaka. "Kenapa nama lo Paris? Apa karena orang tua lo suka Eiffel?" Mendengar gurauan asal itu, Paris tak bisa menahan diri untuk tidak ikut menyunggingkan senyum. Rasa canggung yang tadi sempat membekukan lidahnya perlahan mengikis, digantikan oleh rasa hangat yang mengalir santai. "Gue lahir di sana," jawab Paris, diselingi tawa kecil yang terdengar tulus di telinga sang pemuda. "Dan kata mereka, karena di sana tempat surganya fashion, jadi mereka kasih gue nama itu. Berharap gue bisa seperti fashion yang indah itu." Paris menunduk sedikit,
"Lo udah duduk." Paris tertawa ringan meski jemarinya refleks meremas tali tasnya sendiri karena pemuda asing itu langsung mengambil posisi bahkan sebelum dia mengizinkan. Pemuda di depannya ikut terkekeh. Suaranya renyah, mengalir santai tanpa beban. Kedua matanya mengunci pandangan Paris, lekat dan tak beralih barang sedetik pun, membuat Paris buru-buru membasahi bibirnya yang mendadak kering. "Apa yang buat lo melamun sendirian?" Pemuda itu menopang dagunya dengan sebelah tangan di atas meja, mencondongkan tubuh hingga jarak di antara mereka menyusut. Paris memalingkan wajah, menatap jalanan di luar kaca kafe. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ritme acak. Sedikit berpikir untuk mencari alasan yang paling aman. "Nggak ada. Cuma bosan," jawabnya singkat. Pemuda itu tersenyum kecil, seolah tahu bahwa jawaban Paris hanya sebuah kebohongan formalitas. Paris mengedipkan kedua matanya satu kali, mencoba menguasai dirinya sendiri. Namun, ia tidak bisa berbohong.
Drtt... Drttt...Getaran ponsel di atas meja membangunkan Paris. Kepalanya berdenyut nyeri. Bayangan kejadian semalam di kafe langsung berputar di otaknya.Paris menghela napas berat, merasakan sekujur tubuh enggan untuk bangkit dan menghadapi hari. Ia mengulurkan tangan, meraih ponselnya yang masih menyala. Ada beberapa notifikasi di layar kunci. Paris membuka pesan teratas.Darius : Paris, Sayang, aku minta maaf untuk semalam. Kamu tahu sendiri kan kalau cowok lagi ngumpul kadang suka kelepasan pamer. Aku cuma bercanda, nggak ada maksud ngerendahin kamu sama sekali. Tolong jangan kekanak-kanakan ya, Sayang. Aku berangkat kerja dulu. Nanti kita ketemu dan bicara baik-baik. Love you.Darius adalah seorang dosen di universitas swasta ternama tapi bukan di kampus tempat Paris belajar. Hal itu yang membuat Paris berpikir bahwa kekasihnya itu adalah pria yang tepat untuk dirinya. Namun kini, semua yang ia pikirkan salah.Paris menatap layar dengan tatapan kosong. Ia tidak membalas. Jemari
"Setelah pesta ini lo mau kemana, Dar?"Pertanyaan itu meluncur bersama kepulan asap rokok dari salah satu teman Darius. Malam itu, sudut sebuah kafe yang cukup riuh berubah menjadi ruang perayaan kecil.Beberapa gelas kopi yang mulai mendingin dan piring-piring kecil berisi sisa camilan berserakan di atas meja. Mengelilingi Darius yang malam itu menjadi pusat perhatian karena sedang merayakan ulang tahunnya. "Check-in pastinya. Sebagai kado," sahut teman Darius yang lain, menyenggol bahu sang pemilik acara dengan seringai mesum yang tak ditutupi. "Pacar dia kan cantiknya keterlaluan. Wajahnya dapet, bodynya... ah, sial. Kalau gue jadi Darius, gue udah pasti nggak bakal bisa berhenti main."Mendengar godaan itu, Darius hanya bersandar pada kursi. Perlahan menyesap minumannya sambil mengumbar senyum tipis. Kerutan di sudut matanya menunjukkan kedewasaan seorang pria yang tahu bagaimana cara memikat wanita. Namun, riak di matanya malam ini tampak dipenuhi keangkuhan yang tinggi."Dar,







