LOGINBelum sempat bibir mereka bersentuhan, sebuah suara asing mendadak memecah kesunyian di antara keduanya.
"Permennya kelihatan enak. Apa lo punya lagi?" Waktu yang semula terasa berhenti seketika buyar berantakan. Jarak yang mengunci itu mendadak menguap. Paris tersentak, buru-buru menarik napasnya yang sempat tertahan. Sementara pemuda di hadapannya perlahan menegakkan tubuh tanpa riak kepanikan sedikit pun di wajahnya. Keduanya menoleh, mendapati seorang wanita muda sudah berdiri di dekat mereka. Menatap lurus ke arah keduanya atau lebih tepatnya, menatap penuh minat pada sisa permen di bibir sang pemuda. Pemuda itu tidak terlihat terganggu. Ia justru menatap Paris sekilas dengan sudut bibir yang melengkung ringan, sebelum merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan lolipop terakhir berwarna merah yang tersisa. "Sisa satu," ucap pemuda itu, suaranya terdengar renyah dan bersahabat. Ia menimbang permen merah itu di jemarinya yang lentik. "Tapi, gue udah tawarin ke dia lebih dulu." Pandangan wanita muda itu seketika meredup kecewa. Alih-alih pergi, matanya justru bergantian menatap Paris dengan gurat harap yang kentara, seolah berdoa dalam hati agar Paris menolak permen itu. Ketika wanita itu kembali melayangkan pandangannya pada si pemuda, binar matanya sama sekali tidak bisa berbohong. Wajahnya tanpa ragu menunjukkan bahwa dia telah sepenuhnya terpesona. Bukan pada permennya namun pada pemilik permen itu. Si pemuda menangkap sinyal itu dengan sangat baik. Ia melempar senyuman lembut khasnya kepada wanita tersebut. Senyum ramah yang menjerat, lalu kembali mengarahkan sepasang matanya pada Paris. Sebelah alisnya terangkat, seolah melempar pertanyaan tanpa suara. Bagaimana? Kamu mau, atau kuberikan pada gadis ini? Dada Paris berdenyut aneh. Ada rasa tidak suka yang mendadak menyengat ulu hatinya saat melihat bagaimana wanita asing itu mengagumi pria yang sedang bersamanya. Paris, yang beberapa menit lalu dengan tegas mengatakan tidak menyukai permen, tiba-tiba mengulurkan tangannya. "Gue mau," ujar Paris cepat, merebut lolipop merah itu dari jemari sang pemuda. Gerakan posesif Paris membuat wanita muda di dekat mereka mendesah kecewa. Sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi dengan wajah murung. Melihat kompetisi kecil yang baru saja dimenangkan oleh Paris, pemuda di depannya tersenyum puas. Tatapan matanya berkilat, seakan tahu bahwa dia baru saja berhasil memancing Paris masuk lebih dalam ke dalam permainannya. Dengan gerakan yang halus, ia mengambil kembali permen merah itu dari genggaman Paris. "Gue bantu buka bungkusnya," bisiknya rendah. Ia merobek plastik transparan itu dengan sekali sentakan kecil. Aroma manis stroberi langsung menyeruak, berbaur dengan wangi lemon dan sisa parfum tubuhnya yang hangat. Setelah permen terbuka, ia melangkah maju, mencondongkan tubuhnya kembali, memegang dagu Paris hingga bibir gadis itu sedikit terbuka. Lalu menyuapi Paris dengan permen itu. "Aaaa...," perintahnya, nyaris seperti sebuah bisikan yang membelai indra pendengaran. Paris seperti kehilangan fungsi otak. Tatapan pemuda ini seperti sihir yang mengunci pergerakannya, ia perlahan membuka bibir dan menerima suapan permen dari pemuda ini. Pemuda itu tidak langsung menjauhkan tangannya. Ibu jarinya masih bertahan di ujung dagu Paris, mengusap kulit halusnya dengan gerakan memutar yang sengaja diperlambat. Pandangannya turun menatap bagaimana bibir Paris menikmati permen bulat tersebut. "Kelihatan manis," bisik pemuda itu lagi, suaranya berat. Aura intim merayap di antara mereka. Wajah mereka kembali mendekat, menghasilkan embusan napas yang saling bertukar. "Bikin gue pengen coba." Dinding pertahanan Paris runtuh berantakan. Jantungnya bertalu begitu hebat hingga rasanya mau melompat keluar. Seluruh tubuhnya gemetar, menyadari jarak kedekatan ini sudah berada di ambang batas yang berbahaya bagi kewarasannya. Sebelum pria itu benar-benar mengklaim bibirnya di bawah pengaruh rasa stroberi dan lemon. Paris buru-buru memundurkan tubuhnya, memutuskan kontak fisik di antara mereka dengan paksa. "Gue... gue butuh ke kamar mandi," ucap Paris terbata-bata. Menggunakan alasan itu sebagai satu-satunya jalan untuk melarikan diri dari perasaan gugup yang mencekik tenggorokannya. Tanpa menunggu jawaban, Paris berbalik dan setengah berlari meninggalkan taman menuju toilet umum terdekat. Begitu pintu toilet tertutup rapat, Paris menyandarkan punggungnya di sana. Terengah-engah seolah baru saja berlari bermil-mil jauhnya. Ia melangkah mendekati wastafel, menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin dengan napas yang masih naik-turun tak beraturan. Kedua pipinya merona merah padam, rasa manis stroberi di dalam mulutnya justru membuat dadanya semakin bergemuruh. Di dalam kepalanya, bayangan pemuda itu menolak untuk pergi. Wajah tegapnya, caranya tersenyum kecil seolah tahu segalanya, tatapan matanya yang tajam namun meneduhkan, hingga bagaimana aroma maskulin pria itu mengikat kesadarannya. Semuanya menari-nari di setiap sudut pikiran Paris. Paris mencengkeram pinggiran wastafel, menatap lurus pada matanya sendiri yang tampak begitu rapuh di cermin. "Sadar, Paris. Lo baru aja putus dari pria brengsek. Jangan bodoh," bisiknya pada diri sendiri, suaranya bergetar di dalam ruangan yang sunyi. "Lo bahkan nggak tau siapa namanya. Gimana bisa lo serela ini dengan pria asing?" Ia menyalakan keran, membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali. Mencoba mematikan sensasi hangat yang masih tertinggal di kulit wajahnya akibat sentuhan pemuda tadi. Paris tahu betul, ada alarm bahaya yang menyala keras di dalam kepalanya. Pemuda yang bersamanya di taman saat ini memiliki daya pikat yang terlampau sempurna. Pesona yang terlalu indah untuk menjadi nyata. Dia terlihat manis namun juga berbahaya. Namun, bagian paling menyedihkan dari dirinya adalah... ia tahu itu tapi tidak bisa menolak. Tubuhnya, hatinya yang haus akan kepastian, dan jiwanya yang sempat mati rasa setelah dikhianati, justru merespons sentuhan pria asing itu dengan sangat lapar. Paris membenci fakta bahwa ada sebersit harapan bodoh yang mulai tumbuh di hatinya. Bagaimana jika kali ini berbeda? Bagaimana jika pria ini benar-benar tertarik padanya? Setelah merasa cukup tenang dan berhasil menyembunyikan kegugupannya di balik topeng wajah yang datar, Paris mengeringkan wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, meyakinkan dirinya bahwa ia tidak akan semudah itu terjerat oleh bualan pria. Paris melangkah keluar dari toilet. Berjalan pelan menyusuri jalan setapak taman untuk kembali ke tempat pemuda itu menunggunya. Matanya menyapu deretan pepohonan, mencari figur berjaket denim yang beberapa menit lalu membuatnya melayang. Namun, langkah Paris mendadak terkunci di atas rerumputan. Beberapa meter di depannya, di dekat bangku taman tempat kamera digital diletakkan. Pemuda itu tidak sedang sendirian. Dia sedang berdiri berhadapan dengan seorang gadis lain. Gadis yang berbeda dari gadis yang meminta permen. Paris mematung, matanya melebar menatap pemandangan di depannya. Pemuda itu sedang mencondongkan tubuhnya. Menopang sebelah tangan di sandaran bangku, persis seperti cara dia mendekati Paris di kafe tadi. Senyuman lembut yang khas itu terukir di wajahnya. Tatapan matanya yang lekat, dalam, dan seolah mengunci dunia luar, kini sedang ia berikan seutuhnya pada gadis asing di hadapannya. Tangan kirinya terangkat perlahan. Dengan gerakan yang teramat pelan dan lembut, jemarinya menyentuh ujung rambut gadis itu. Menyampirkannya ke belakang telinga dengan ritme yang sama persis seperti yang dia lakukan pada Paris beberapa menit lalu. Paris berdiri di kejauhan, merasakan dadanya seperti dihantam batu besar hingga sesak. Semua hal yang ia takutkan di dalam kamar mandi tadi, semua analisis batinnya tentang bahaya pria itu. Sekarang terbukti nyata tepat di depan matanya sendiri. Tidak ada yang spesial dari sentuhan itu. Tidak ada yang istimewa dari bisikan seraknya. Segala sentuhan intim yang membuatnya meremang hebat ternyata hanyalah sebuah rutinitas berjalan yang biasa pria itu lakukan pada wanita mana saja yang menarik perhatiannya hari itu. Paris hanyalah salah satu daftar mainan, sebuah objek foto yang kebetulan lewat di depan lensanya. Sebuah senyum miris terbit di bibir Paris yang masih menyisakan rasa manis stroberi. Rasa manis itu mendadak berubah menjadi racun yang hambar dan memuakkan. Harapan kecil yang sempat membubung tinggi kini jatuh berdentum. Menyisakan kekecewaan yang seharusnya tidak ada. Tanpa suara, tanpa mengucapkan salam perpisahan atau menuntut penjelasan yang memang bukan haknya. Paris memutar tubuhnya. Ia meremas tali tasnya kuat-kuat, melangkah lebar meninggalkan area taman itu begitu saja. Membiarkan rasa kecewanya melebur bersama angin siang yang sedikit terasa dingin. 'Semua cowok sama aja. Berharap apa gue. Jangan bodoh, Paris.'Kertas-kertas bekas diremas menjadi bola-bola kecil. Lalu dilemparkan melintasi barisan meja hingga mendarat sukses di kepala salah satu mahasiswa yang tengah tertidur.Seketika, gelak tawa pecah di sudut kanan kelas. Ruangan berkapasitas tiga puluh orang itu berisik bukan main, mirip pasar tumpah di tengah hari.Ada yang asyik bergosip, ada yang sibuk memoles lipstik, dan ada pula yang memukul-mukul meja mengikuti ritme lagu rap dari pelantang suara portabel.Manda menggeser duduknya, menyenggol lengan Paris yang sejak tadi hanya terdiam memandangi layar ponselnya yang meredup."Paris, dengerin gue," Manda menopang dagu, matanya fokus menatap wajah Paris dari samping. "Anak baru yang pindahan dari kampus sebelah itu... dia nanyain lo terus ke anak-anak. Katanya, dia sengaja nanya jadwal kelas kita biar bisa pas ketemunya."Paris menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang tampak dipaksakan. "Palingan dia cuma mau pinjam catatan, Manda. Jangan mulai, deh.""Catatan apaan?" Manda mencibi
Belum sempat bibir mereka bersentuhan, sebuah suara asing mendadak memecah kesunyian di antara keduanya. "Permennya kelihatan enak. Apa lo punya lagi?" Waktu yang semula terasa berhenti seketika buyar berantakan. Jarak yang mengunci itu mendadak menguap. Paris tersentak, buru-buru menarik napasnya yang sempat tertahan. Sementara pemuda di hadapannya perlahan menegakkan tubuh tanpa riak kepanikan sedikit pun di wajahnya. Keduanya menoleh, mendapati seorang wanita muda sudah berdiri di dekat mereka. Menatap lurus ke arah keduanya atau lebih tepatnya, menatap penuh minat pada sisa permen di bibir sang pemuda. Pemuda itu tidak terlihat terganggu. Ia justru menatap Paris sekilas dengan sudut bibir yang melengkung ringan, sebelum merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan lolipop terakhir berwarna merah yang tersisa. "Sisa satu," ucap pemuda itu, suaranya terdengar renyah dan bersahabat. Ia menimbang permen merah itu di jemarinya yang lentik. "Tapi, gue udah tawarin ke dia lebih
"Paris?" Pemuda itu mengulang nama tersebut. Membiarkan tiap sukunya mengalir pelan dari belah bibirnya sebelum akhirnya sebuah tawa ringan meluncur bebas. Ia sedikit menjauhkan wajah, memberikan ruang bagi Paris untuk kembali meraup pasokan oksigen yang sempat tersendat. "Nama lo lucu tapi bagus," pemuda itu menyandarkan satu bahunya pada sebatang pohon di dekat mereka. Melipat tangan di depan dada sambil terus melempar pandangan jenaka. "Kenapa nama lo Paris? Apa karena orang tua lo suka Eiffel?" Mendengar gurauan asal itu, Paris tak bisa menahan diri untuk tidak ikut menyunggingkan senyum. Rasa canggung yang tadi sempat membekukan lidahnya perlahan mengikis, digantikan oleh rasa hangat yang mengalir santai. "Gue lahir di sana," jawab Paris, diselingi tawa kecil yang terdengar tulus di telinga sang pemuda. "Dan kata mereka, karena di sana tempat surganya fashion, jadi mereka kasih gue nama itu. Berharap gue bisa seperti fashion yang indah itu." Paris menunduk sedikit,
"Lo udah duduk." Paris tertawa ringan meski jemarinya refleks meremas tali tasnya sendiri karena pemuda asing itu langsung mengambil posisi bahkan sebelum dia mengizinkan. Pemuda di depannya ikut terkekeh. Suaranya renyah, mengalir santai tanpa beban. Kedua matanya mengunci pandangan Paris, lekat dan tak beralih barang sedetik pun, membuat Paris buru-buru membasahi bibirnya yang mendadak kering. "Apa yang buat lo melamun sendirian?" Pemuda itu menopang dagunya dengan sebelah tangan di atas meja, mencondongkan tubuh hingga jarak di antara mereka menyusut. Paris memalingkan wajah, menatap jalanan di luar kaca kafe. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ritme acak. Sedikit berpikir untuk mencari alasan yang paling aman. "Nggak ada. Cuma bosan," jawabnya singkat. Pemuda itu tersenyum kecil, seolah tahu bahwa jawaban Paris hanya sebuah kebohongan formalitas. Paris mengedipkan kedua matanya satu kali, mencoba menguasai dirinya sendiri. Namun, ia tidak bisa berbohong.
Drtt... Drttt...Getaran ponsel di atas meja membangunkan Paris. Kepalanya berdenyut nyeri. Bayangan kejadian semalam di kafe langsung berputar di otaknya.Paris menghela napas berat, merasakan sekujur tubuh enggan untuk bangkit dan menghadapi hari. Ia mengulurkan tangan, meraih ponselnya yang masih menyala. Ada beberapa notifikasi di layar kunci. Paris membuka pesan teratas.Darius : Paris, Sayang, aku minta maaf untuk semalam. Kamu tahu sendiri kan kalau cowok lagi ngumpul kadang suka kelepasan pamer. Aku cuma bercanda, nggak ada maksud ngerendahin kamu sama sekali. Tolong jangan kekanak-kanakan ya, Sayang. Aku berangkat kerja dulu. Nanti kita ketemu dan bicara baik-baik. Love you.Darius adalah seorang dosen di universitas swasta ternama tapi bukan di kampus tempat Paris belajar. Hal itu yang membuat Paris berpikir bahwa kekasihnya itu adalah pria yang tepat untuk dirinya. Namun kini, semua yang ia pikirkan salah.Paris menatap layar dengan tatapan kosong. Ia tidak membalas. Jemari
"Setelah pesta ini lo mau kemana, Dar?"Pertanyaan itu meluncur bersama kepulan asap rokok dari salah satu teman Darius. Malam itu, sudut sebuah kafe yang cukup riuh berubah menjadi ruang perayaan kecil.Beberapa gelas kopi yang mulai mendingin dan piring-piring kecil berisi sisa camilan berserakan di atas meja. Mengelilingi Darius yang malam itu menjadi pusat perhatian karena sedang merayakan ulang tahunnya. "Check-in pastinya. Sebagai kado," sahut teman Darius yang lain, menyenggol bahu sang pemilik acara dengan seringai mesum yang tak ditutupi. "Pacar dia kan cantiknya keterlaluan. Wajahnya dapet, bodynya... ah, sial. Kalau gue jadi Darius, gue udah pasti nggak bakal bisa berhenti main."Mendengar godaan itu, Darius hanya bersandar pada kursi. Perlahan menyesap minumannya sambil mengumbar senyum tipis. Kerutan di sudut matanya menunjukkan kedewasaan seorang pria yang tahu bagaimana cara memikat wanita. Namun, riak di matanya malam ini tampak dipenuhi keangkuhan yang tinggi."Dar,







