Masuk
“Nomor urut 072, Ghea Clarissa. Silakan masuk, Pak CEO sudah menunggu,” ucap sekretaris administrasi pada Ghea.
Wanita cantik berusia 28 tahun itu kemudian merapikan rok span hitamnya yang terasa sedikit lebih ketat dari terakhir kali ia memakainya, mungkin karena stres yang menumpuk. Dengan napas yang ditarik dalam-dalam, Ghea mendorong pintu kayu mahoni ganda itu.
Di balik meja kaca besar, seorang pria sedang berdiri membelakanginya, menatap pemandangan kota Jakarta dari lantai 55.
“Selamat siang, Pak. Saya Ghea Clarissa, kandidat asisten pribadi ….”
Suara Ghea menggantung di udara. Pria itu perlahan berputar. Kursi kulit di depannya berdecit pelan, dan menciptakan suasana tegang yang mencekam. Saat wajah itu sepenuhnya terlihat, jantung Ghea rasanya berhenti berdetak.
Satya Adhitama.
Rahangnya jauh lebih tegas sekarang. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan matanya ... mata yang dulu selalu menatap Ghea dengan penuh gairah dan kehangatan, kini berubah menjadi dua bilah pisau es yang siap menyayat siapa saja.
“Duduk,” ucap Satya singkat.
Ghea melangkah dengan kaki gemetar kemudian duduk di kursi depan meja Satya, berusaha menjaga punggungnya tetap tegak meski tangannya dingin sedingin es.
“Lama nggak kelihatan, Ghea. Kamu terlihat lebih kurus sekarang. Apa hidupmu sehancur itu setelah pergi dariku?” tanyanya dengan sarkas.
Ghea menelan ludah, sambil tetap berusaha profesional. “Saya ke sini untuk melamar pekerjaan, Pak Satya. Bukan untuk membahas masa lalu.”
Satya terkekeh sinis. Kemudian mengambil berkas lamaran Ghea, dan melemparkannya begitu saja ke atas meja seolah benda itu adalah sampah. “Melamar pekerjaan? Di perusahaanku? Kamu punya nyali juga ya.”
Satya bangkit dari kursinya. Dia tidak langsung bicara, melainkan berjalan perlahan memutari meja kerja besarnya. Langkah sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur kehancuran Ghea. Ia berhenti tepat di belakang kursi Ghea.
Ghea bisa merasakan hawa panas dari tubuh Satya yang berada sangat dekat di belakangnya. Bulu kuduknya meremang.
“Tahu tidak kenapa posisi asisten pribadi ini kosong terus?” tanyanya sambil membungkukkan tubuhnya menatap lekat wajah Ghea.
“Karena tidak ada yang tahan dengan standarku. Dan sekarang, orang yang paling tidak punya standar moral di dunia malah duduk di sini, meminta pekerjaan padaku.”
“Satya, tolong ... aku butuh pekerjaan ini,” bisik Ghea lirih.
Dia harus membuang egonya kali ini, demi melunasi tagihan rumah sakit ibunya yang menumpuk, sementara saldo di ATM-nya yang hanya tersisa lima puluh ribu rupiah.
Alih-alih menjawab, dia justru mendekatkan wajahnya ke leher Ghea. Lalu menghirup dalam-dalam aroma parfum vanilla yang masih sama seperti lima tahun lalu.
Ghea memejamkan mata, memori tentang malam-malam liar mereka dulu tiba-tiba berkelebat, saat jemari Satya tidak sedingin ini, saat sentuhannya tidak bertujuan untuk menyakiti.
“Baumu masih sama,” bisik Satya di ceruk leher Ghea dengan nada rendah hingga membuat Ghea merinding. “Tapi aromanya sekarang tercium seperti keputusasaan.”
Satya kemudian berjalan ke depan Ghea lagi, bersandar di pinggiran meja tepat di hadapan wanita itu. Matanya menatap tajam ke arah mata Ghea yang mulai berkaca-kaca.
“Kamu pikir setelah mengkhianatiku, setelah kamu tidur dengan laki-laki lain saat aku masih mencintaimu, kamu bisa datang ke sini dan dengan mudahnya meminta uang dariku?”
“Aku tidak pernah selingkuh, Satya! Kamu salah paham waktu itu!” ucap Ghea sedikit tinggi nadanya karena Satya terus menerus menuduhnya selingkuh.
Kekehan kecil keluar dari bibir pria berusia 30 tahun itu. “Salah paham? Aku melihat sendiri kamu pelukan sama laki-laki itu di kafe. Kamu bahkan terlihat sangat bahagia, Ghea. Sesuatu yang nggak pernah kamu tunjukkan di depanku di akhir hubungan kita.”
“Itu sepupuku, Satya! Bagas baru pulang dari luar negeri dan—"
“Cukup!” bentak Satya hingga Ghea tersentak. “Aku nggak butuh dongeng. Aku butuh asisten yang bisa disiksa kerjanya 24 jam. Yang bisa menuruti semua kemauanku tanpa tapi. Yang siap aku panggil di jam berapa pun, untuk urusan apa pun.”
Satya mengambil pulpen mahal di atas meja, lalu memutarnya di antara jari-jarinya yang panjang. “Kalau aku terima kamu, itu bukan karena aku kasihan. Itu karena aku ingin melihatmu memohon setiap hari di depanku. Aku ingin kamu merasakan apa itu rasanya diinjak-injak.”
Ghea mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia ingin sekali berdiri, lalu menampar wajah sombong itu, dan keluar dari sana. Tapi wajah ibunya yang pucat di bangsal rumah sakit muncul di pikirannya.
“Berapa gajinya?” tanya Ghea dengan suara serak.
Satya menyeringai, lalu menyebutkan angka yang membuat mata Ghea membelalak. Itu lebih dari cukup untuk melunasi semua utangnya dalam tiga bulan.
“Tentunya cukup untuk membayar utang tagihan rumah sakit ibumu itu,” Satya maju satu langkah lagi, dan jarak mereka kini hanya tinggal beberapa sentimeter.
Kemudian menarik dagu Ghea agar menatapnya langsung. “Selama kamu bekerja di bawahku, kamu adalah milikku. Jiwamu, waktumu dan kalau aku mau, tubuhmu. Kamu sanggup?”
Ghea merasa harga dirinya baru saja diludahi. Namun, melihat tatapan Satya yang penuh kebencian padanya akibat kesalahpahaman di masa lalu, dia tahu ini adalah awal dari neraka yang dia pilih sendiri.
“Saya sanggup, Pak Satya,” jawab Ghea dengan tegas.
“Bagus. Mulai sekarang, siapkan mentalmu. Karena aku akan membuatmu menyesal pernah menginjakkan kaki lagi di hidupku.”
Pukul empat sore, Ghea melangkah masuk ke ruang kerja Satya dengan napas yang masih sedikit tersenggal.Di tangannya, jas midnight blue itu sudah terbungkus rapi dalam cover plastik transparan setelah diperbaiki kilat oleh penjahit langganan Satya.Ruangan itu sunyi, hanya terdengar dengung halus dari mesin pendingin ruangan yang bekerja maksimal. Satya tidak ada di kursinya.Ghea berjalan menuju sofa kulit di sudut ruangan. Ia meletakkan jas itu dengan hati-hati, memastikan tidak ada lipatan yang rusak.Saat hendak beranjak, matanya menangkap sesuatu yang janggal. Laci kecil pada meja nakas di samping sofa itu sedikit terbuka, seolah-olah seseorang baru saja menutupnya dengan terburu-buru hingga tidak rapat sempurna.Di celah laci itu, sebuah botol plastik kecil berwarna putih tulang mengintip. Ghea ragu sejenak, namun rasa ingin tahunya menang. Ia menarik laci itu sedikit lebih lebar dan mengambil botol tersebut.“Alprazolam...,” bisik Ghea membaca label apotek yang tertempel di san
“Coba cek kotak di sofa itu. Jas dari penjahit pribadiku baru sampai. Aku mau pakai buat acara gala dinner malam ini, dan kamu harus pastikan semuanya pas.”Ghea menghentikan kegiatannya merapikan dokumen dan menoleh ke arah sofa kulit di sudut ruangan. Sebuah kotak hitam elegan dengan pita satin perak terletak di sana.Dia membukanya perlahan, menyingkap kertas tisu pelapis, dan menemukan sebuah tuxedo berbahan wool premium berwarna midnight blue.“Ini bukan gaya kamu, Satya,” ucap Ghea tanpa sadar sambil mengangkat jas tersebut.“Kamu biasanya lebih suka hitam pekat dengan kerah peak lapel yang lebih lebar. Dan bahan ini... kamu nggak suka wool yang terlalu berat karena kulit kamu gampang gerah, kan?”Suasana ruangan mendadak sunyi. Ghea membeku, menyadari bahwa ia baru saja membongkar fakta bahwa ia masih menyimpan detail-detail kecil tentang pria itu di kepalanya. Detail yang seharusnya sudah ia hapus lima tahun lalu.Satya yang sedang melepas jam tangan mahalnya terhenti. Ia mena
“Ghea, pesankan lunch set dari restoran Jepang favoritku. Untuk dua orang. Dan pastikan kamu sendiri yang menyajikannya di ruanganku nanti.”Ghea yang baru saja meletakkan tasnya di meja kerja tersentak seraya menatap Satya yang berdiri di ambang pintu ruangan CEO dengan wajah tanpa dosa, seolah kejadian di lift semalam tidak pernah terjadi.Tidak ada lagi sisa-sisa pria rapuh yang gemetar ketakutan dalam pelukannya. Yang ada hanyalah Satya yang angkuh dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah.“Dua orang? Kamu ada tamu penting, Pak?” tanya Ghea ingin tahu, sebabdi agenda yang dia buat semalam, tidak ada pertemuan dengan siapa pun hari ini.Satya menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan. “Tamu yang sangat spesial. Jadi, pastikan pelayanannya sempurna!”Ghea mengerutkan keningnya, dia baru saja hendak bertanya, Satya sudah melesat masuk ke dalam ruangannya. Dan Ghea hanya bisa menunggu waktu itu tiba dan melihat siapa tamu penting yang dimaksud itu.Tepat jam dua belas sia
Jam tujuh lewat lima belas menit malam.“Kamu nggak pulang? Ini sudah lewat jam tujuh malam.”Ghea tersentak, bahkan hampir menjatuhkan tumpukan map yang sedang ia rapikan. Ia lalu menoleh dan mendapati Satya sudah berdiri di ambang pintu ruangannya dengan jas yang tersampir di lengan kiri. Kancing kemeja teratasnya sudah terbuka, memberikan kesan berantakan yang justru terlihat sangat jantan.“Sedikit lagi, Pak. Aku cuma mau memastikan jadwal besok sudah rapi,” jawab Ghea tanpa berani menatap mata pria itu terlalu lama.“Nggak usah sok rajin. Aku mau pulang, dan aku nggak mau ninggalin kunci kantor di tangan orang yang ceroboh kayak kamu. Ayo, bareng.”Ghea ingin membantah, tapi nada bicara Satya tidak menerima penolakan. Dengan terpaksa, Ghea menyambar tasnya dan mengikuti langkah lebar Satya menuju lift eksekutif di ujung koridor. Suasana kantor sudah sepi, hanya menyisakan lampu remang-remang di area kubikel.Di dalam lift, keheningan terasa begitu mencekik. Ghea berdiri di sudut
Di siang itu, Ghea sudah mulai bekerja dan tugas pertamanya adalah membuatkan kopi untuk bos galaknya itu.“Permisi. Kopi barunya sudah siap,” ucap Ghea kemudian meletakan kopi tersebut di atas meja.Satya kemudian berhenti mengetik. Ia meraih cangkir itu, menyesapnya sedikit, lalu detik berikutnya ia meletakkan cangkir itu dengan dentuman keras yang membuat Ghea tersentak.“Dingin. Buang,” ucap Satya dengan datar.Ghea mengerutkan kening. “Maksud kamu apa? Aku baru saja menuangnya dari mesin. Aku bahkan pakai termometer manual untuk memastikan suhunya pas 65 derajat seperti permintaan kamu barusan.”Satya menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, lalu melipat tangan di depan dada. “Kamu membantah aku? Kalau aku bilang dingin, ya artinya dingin. Lidahku nggak pernah bohong, Ghea. Mungkin termometer murahanmu itu yang rusak. Sama kayak ingatanmu.”Ghea menghela napas panjang, sembari berusaha menahan emosi yang mulai naik ke ubun-ubun. “Aku sudah buat lima kali, Pak Satya yang terhormat
“Nomor urut 072, Ghea Clarissa. Silakan masuk, Pak CEO sudah menunggu,” ucap sekretaris administrasi pada Ghea.Wanita cantik berusia 28 tahun itu kemudian merapikan rok span hitamnya yang terasa sedikit lebih ketat dari terakhir kali ia memakainya, mungkin karena stres yang menumpuk. Dengan napas yang ditarik dalam-dalam, Ghea mendorong pintu kayu mahoni ganda itu.Di balik meja kaca besar, seorang pria sedang berdiri membelakanginya, menatap pemandangan kota Jakarta dari lantai 55.“Selamat siang, Pak. Saya Ghea Clarissa, kandidat asisten pribadi ….”Suara Ghea menggantung di udara. Pria itu perlahan berputar. Kursi kulit di depannya berdecit pelan, dan menciptakan suasana tegang yang mencekam. Saat wajah itu sepenuhnya terlihat, jantung Ghea rasanya berhenti berdetak.Satya Adhitama.Rahangnya jauh lebih tegas sekarang. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan matanya ... mata yang dulu selalu menatap Ghea dengan penuh gairah dan kehangatan, kini berubah menjadi dua bilah pisau es y







