LOGINDi siang itu, Ghea sudah mulai bekerja dan tugas pertamanya adalah membuatkan kopi untuk bos galaknya itu.
“Permisi. Kopi barunya sudah siap,” ucap Ghea kemudian meletakan kopi tersebut di atas meja.
Satya kemudian berhenti mengetik. Ia meraih cangkir itu, menyesapnya sedikit, lalu detik berikutnya ia meletakkan cangkir itu dengan dentuman keras yang membuat Ghea tersentak.
“Dingin. Buang,” ucap Satya dengan datar.
Ghea mengerutkan kening. “Maksud kamu apa? Aku baru saja menuangnya dari mesin. Aku bahkan pakai termometer manual untuk memastikan suhunya pas 65 derajat seperti permintaan kamu barusan.”
Satya menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, lalu melipat tangan di depan dada. “Kamu membantah aku? Kalau aku bilang dingin, ya artinya dingin. Lidahku nggak pernah bohong, Ghea. Mungkin termometer murahanmu itu yang rusak. Sama kayak ingatanmu.”
Ghea menghela napas panjang, sembari berusaha menahan emosi yang mulai naik ke ubun-ubun. “Aku sudah buat lima kali, Pak Satya yang terhormat. Staf di luar sampai melihat aku aneh karena bolak-balik ke pantry. Apa ini memang tentang kopi, atau kamu cuma mau ngerjain aku?”
Suasana ruangan itu mendadak sunyi. Satya kemudian berdiri dari kursinya dengan gerakan yang lambat namun mengintimidasi, seperti predator yang baru saja dipancing keluar dari sarangnya.
Dia berjalan mendekati Ghea, dan membuat Ghea refleks mundur selangkah hingga punggungnya membentur pinggiran meja rapat yang berat.
“Ngerjain kamu?” kekehnya dengan pelan. “Kamu pikir waktuku semurah itu buat cuma sekadar ngerjain kamu?” desisnya kemudian.
Satya meraih cangkir kopi yang tadi dia klaim 'dingin'. Uap tipis sebenarnya masih mengepul dari sana. Dengan gerakan cepat yang tak terduga, Satya mencengkeram pergelangan tangan Ghea.
“Satya, lepas! Sakit!” ringis Ghea.
Alih-alih melepaskannya, Satya justru menarik tangan Ghea dan menempelkan jemari lentik wanita itu langsung ke dinding cangkir porselen yang masih sangat panas.
“Aaah!” pekiknya sambil mencoba menarik tangannya, tapi kekuatan Satya jauh lebih besar. Panas dari cairan di dalam cangkir itu merambat melalui porselen, membakar ujung jari Ghea.
“Rasakan sendiri, Ghea,” bisik Satya seraya menatap lekat wajah Ghea dengan lekat. “Dingin, kan? Tanganmu saja tidak melepuh pas masuk ke cangkir kopi ini.”
“Astaga, Satya. Ini panas banget. Kamu bilang dingin hanya karena tanganku tidak melepuh?” Mata Ghea membola sambil meniup ujung jarinya yang dimasukkan Satya ke dalam gelas kopi barusan.
“Kamu selalu payah dalam mengingat detail,” Satya bukannya menjauh, malah semakin mendekatkan tubuhnya dan mengunci Ghea di antara meja dan dadanya yang bidang.
“Kamu nggak pernah teliti. Kamu selalu ceroboh dengan hal-hal kecil. Sama seperti kamu lupa cara menjaga kesetiaan. Kamu anggap remeh komitmen kita dulu, segampang kamu menganggap remeh suhu kopi ini.”
Ghea mendongak dan menantang tatapan Satya. Di sela rasa sakitnya, kemarahan yang tersimpan selama lima tahun itu tumpah.
“Kesetiaan? Kamu yang pergi, Satya! Kamu yang blokir semua akses! Kamu nggak pernah kasih aku kesempatan buat jelasin kalau Bagas itu sepupuku! Kamu cuma pengecut yang lari karena kamu nggak sanggup percaya sama perempuan yang katanya kamu cintai!”
Cengkeraman Satya di tangan Ghea mengendur, namun ia tidak menjauh. Matanya yang tajam kini menyusuri setiap inci wajah Ghea, menatap bibirnya yang bergetar, pipinya yang merona karena marah, dan matanya yang berkilat menantang.
Satya menatap bibir Ghea. Dia merindukan rasa itu. Namun, dia juga membenci betapa tubuhnya masih bereaksi sekuat ini hanya karena mencium aroma Ghea.
Tangannya yang tadi mencengkeram kasar, kini perlahan naik, ibu jarinya mengusap lembut kulit pergelangan tangan Ghea yang memerah.
“Jangan pernah sebut nama laki-laki itu di depan aku,” desis Satya dengan suara seraknya.
“Kenapa? Kamu cemburu sama saudaraku sendiri? Itu konyol, Satya!” ucap Ghea masih tercengang.
“Aku nggak cemburu. Aku cuma benci milikku disentuh orang lain,” balas Satya posesif.
Ghea tertawa pahit, meski napasnya mulai tidak beraturan karena kedekatan mereka. “Milik kamu? Aku bukan milik siapa-siapa sejak lima tahun lalu. Apalagi milik pria galak yang kerjanya cuma bisa menyiksa asistennya.”
Satya menatap mata Ghea dengan dalam, seolah ingin menembus masuk ke dalam jiwanya. Jari-jarinya kini berpindah ke leher Ghea, dan merasakan denyut nadi wanita itu yang berpacu cepat.
Ghea tidak bergerak. Dia justru terpaku dan lidahnya terasa kelu. Sebagian dari dirinya ingin mendorong Satya menjauh, tapi sebagian lagi, bagian yang paling jujur, merasa haus akan sentuhan ini.
“Kamu pikir kamu bisa lepas?” bisik Satya dengan wajahnya kini hanya berjarak satu inci dari wajah Ghea. “Kamu yang datang ke sini, Ghea. Kamu yang masuk ke kandangku. Jangan harap aku bakal lepasin kamu sebelum aku puas membalas setiap detik sakit hati yang aku rasakan.”
Ghea bisa merasakan bibir Satya hampir menyentuh miliknya saat pria itu bicara. Ketegangan itu begitu nyata, begitu panas, hingga rasanya oksigen di ruangan itu menguap habis. Ghea memejamkan mata, menunggu ledakan yang ia tahu akan segera datang.
Namun, tepat sebelum bibir mereka bertemu, Satya menarik diri secara mendadak. Ia melepaskan Ghea dan berbalik membelakanginya, seolah-olah baru saja tersengat listrik.
“Bawa kopinya keluar. Buat lagi yang baru,” ucap Satya dengan suara yang kembali dingin dan kaku, tanpa menoleh sedikit pun.
Ghea berdiri mematung selama beberapa detik, berusaha mengatur napasnya yang berantakan. Ia menatap punggung Satya yang tegang, lalu menatap jarinya yang memerah.
“Satu hal yang harus kamu tahu,” ucap Ghea dengan suara bergetar namun tegas. “Suhu kopi ini sudah pas. Yang nggak pas itu cuma hatimu yang sudah terlalu beku buat ngerasain apa pun yang tulus.”
Pukul empat sore, Ghea melangkah masuk ke ruang kerja Satya dengan napas yang masih sedikit tersenggal.Di tangannya, jas midnight blue itu sudah terbungkus rapi dalam cover plastik transparan setelah diperbaiki kilat oleh penjahit langganan Satya.Ruangan itu sunyi, hanya terdengar dengung halus dari mesin pendingin ruangan yang bekerja maksimal. Satya tidak ada di kursinya.Ghea berjalan menuju sofa kulit di sudut ruangan. Ia meletakkan jas itu dengan hati-hati, memastikan tidak ada lipatan yang rusak.Saat hendak beranjak, matanya menangkap sesuatu yang janggal. Laci kecil pada meja nakas di samping sofa itu sedikit terbuka, seolah-olah seseorang baru saja menutupnya dengan terburu-buru hingga tidak rapat sempurna.Di celah laci itu, sebuah botol plastik kecil berwarna putih tulang mengintip. Ghea ragu sejenak, namun rasa ingin tahunya menang. Ia menarik laci itu sedikit lebih lebar dan mengambil botol tersebut.“Alprazolam...,” bisik Ghea membaca label apotek yang tertempel di san
“Coba cek kotak di sofa itu. Jas dari penjahit pribadiku baru sampai. Aku mau pakai buat acara gala dinner malam ini, dan kamu harus pastikan semuanya pas.”Ghea menghentikan kegiatannya merapikan dokumen dan menoleh ke arah sofa kulit di sudut ruangan. Sebuah kotak hitam elegan dengan pita satin perak terletak di sana.Dia membukanya perlahan, menyingkap kertas tisu pelapis, dan menemukan sebuah tuxedo berbahan wool premium berwarna midnight blue.“Ini bukan gaya kamu, Satya,” ucap Ghea tanpa sadar sambil mengangkat jas tersebut.“Kamu biasanya lebih suka hitam pekat dengan kerah peak lapel yang lebih lebar. Dan bahan ini... kamu nggak suka wool yang terlalu berat karena kulit kamu gampang gerah, kan?”Suasana ruangan mendadak sunyi. Ghea membeku, menyadari bahwa ia baru saja membongkar fakta bahwa ia masih menyimpan detail-detail kecil tentang pria itu di kepalanya. Detail yang seharusnya sudah ia hapus lima tahun lalu.Satya yang sedang melepas jam tangan mahalnya terhenti. Ia mena
“Ghea, pesankan lunch set dari restoran Jepang favoritku. Untuk dua orang. Dan pastikan kamu sendiri yang menyajikannya di ruanganku nanti.”Ghea yang baru saja meletakkan tasnya di meja kerja tersentak seraya menatap Satya yang berdiri di ambang pintu ruangan CEO dengan wajah tanpa dosa, seolah kejadian di lift semalam tidak pernah terjadi.Tidak ada lagi sisa-sisa pria rapuh yang gemetar ketakutan dalam pelukannya. Yang ada hanyalah Satya yang angkuh dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah.“Dua orang? Kamu ada tamu penting, Pak?” tanya Ghea ingin tahu, sebabdi agenda yang dia buat semalam, tidak ada pertemuan dengan siapa pun hari ini.Satya menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan. “Tamu yang sangat spesial. Jadi, pastikan pelayanannya sempurna!”Ghea mengerutkan keningnya, dia baru saja hendak bertanya, Satya sudah melesat masuk ke dalam ruangannya. Dan Ghea hanya bisa menunggu waktu itu tiba dan melihat siapa tamu penting yang dimaksud itu.Tepat jam dua belas sia
Jam tujuh lewat lima belas menit malam.“Kamu nggak pulang? Ini sudah lewat jam tujuh malam.”Ghea tersentak, bahkan hampir menjatuhkan tumpukan map yang sedang ia rapikan. Ia lalu menoleh dan mendapati Satya sudah berdiri di ambang pintu ruangannya dengan jas yang tersampir di lengan kiri. Kancing kemeja teratasnya sudah terbuka, memberikan kesan berantakan yang justru terlihat sangat jantan.“Sedikit lagi, Pak. Aku cuma mau memastikan jadwal besok sudah rapi,” jawab Ghea tanpa berani menatap mata pria itu terlalu lama.“Nggak usah sok rajin. Aku mau pulang, dan aku nggak mau ninggalin kunci kantor di tangan orang yang ceroboh kayak kamu. Ayo, bareng.”Ghea ingin membantah, tapi nada bicara Satya tidak menerima penolakan. Dengan terpaksa, Ghea menyambar tasnya dan mengikuti langkah lebar Satya menuju lift eksekutif di ujung koridor. Suasana kantor sudah sepi, hanya menyisakan lampu remang-remang di area kubikel.Di dalam lift, keheningan terasa begitu mencekik. Ghea berdiri di sudut
Di siang itu, Ghea sudah mulai bekerja dan tugas pertamanya adalah membuatkan kopi untuk bos galaknya itu.“Permisi. Kopi barunya sudah siap,” ucap Ghea kemudian meletakan kopi tersebut di atas meja.Satya kemudian berhenti mengetik. Ia meraih cangkir itu, menyesapnya sedikit, lalu detik berikutnya ia meletakkan cangkir itu dengan dentuman keras yang membuat Ghea tersentak.“Dingin. Buang,” ucap Satya dengan datar.Ghea mengerutkan kening. “Maksud kamu apa? Aku baru saja menuangnya dari mesin. Aku bahkan pakai termometer manual untuk memastikan suhunya pas 65 derajat seperti permintaan kamu barusan.”Satya menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, lalu melipat tangan di depan dada. “Kamu membantah aku? Kalau aku bilang dingin, ya artinya dingin. Lidahku nggak pernah bohong, Ghea. Mungkin termometer murahanmu itu yang rusak. Sama kayak ingatanmu.”Ghea menghela napas panjang, sembari berusaha menahan emosi yang mulai naik ke ubun-ubun. “Aku sudah buat lima kali, Pak Satya yang terhormat
“Nomor urut 072, Ghea Clarissa. Silakan masuk, Pak CEO sudah menunggu,” ucap sekretaris administrasi pada Ghea.Wanita cantik berusia 28 tahun itu kemudian merapikan rok span hitamnya yang terasa sedikit lebih ketat dari terakhir kali ia memakainya, mungkin karena stres yang menumpuk. Dengan napas yang ditarik dalam-dalam, Ghea mendorong pintu kayu mahoni ganda itu.Di balik meja kaca besar, seorang pria sedang berdiri membelakanginya, menatap pemandangan kota Jakarta dari lantai 55.“Selamat siang, Pak. Saya Ghea Clarissa, kandidat asisten pribadi ….”Suara Ghea menggantung di udara. Pria itu perlahan berputar. Kursi kulit di depannya berdecit pelan, dan menciptakan suasana tegang yang mencekam. Saat wajah itu sepenuhnya terlihat, jantung Ghea rasanya berhenti berdetak.Satya Adhitama.Rahangnya jauh lebih tegas sekarang. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan matanya ... mata yang dulu selalu menatap Ghea dengan penuh gairah dan kehangatan, kini berubah menjadi dua bilah pisau es y







