MasukJam tujuh lewat lima belas menit malam.
“Kamu nggak pulang? Ini sudah lewat jam tujuh malam.”
Ghea tersentak, bahkan hampir menjatuhkan tumpukan map yang sedang ia rapikan. Ia lalu menoleh dan mendapati Satya sudah berdiri di ambang pintu ruangannya dengan jas yang tersampir di lengan kiri. Kancing kemeja teratasnya sudah terbuka, memberikan kesan berantakan yang justru terlihat sangat jantan.
“Sedikit lagi, Pak. Aku cuma mau memastikan jadwal besok sudah rapi,” jawab Ghea tanpa berani menatap mata pria itu terlalu lama.
“Nggak usah sok rajin. Aku mau pulang, dan aku nggak mau ninggalin kunci kantor di tangan orang yang ceroboh kayak kamu. Ayo, bareng.”
Ghea ingin membantah, tapi nada bicara Satya tidak menerima penolakan. Dengan terpaksa, Ghea menyambar tasnya dan mengikuti langkah lebar Satya menuju lift eksekutif di ujung koridor. Suasana kantor sudah sepi, hanya menyisakan lampu remang-remang di area kubikel.
Di dalam lift, keheningan terasa begitu mencekik. Ghea berdiri di sudut kanan, sementara Satya berada di sisi kiri. Pantulan mereka di dinding lift yang mengkilap seolah sedang mengejek jarak canggung yang sengaja diciptakan.
Tiba-tiba, lampu di dalam lift berkedip hebat. Zapp!
Suara dengungan listrik terdengar kasar, disusul dengan guncangan kuat yang membuat Ghea hampir terjatuh. Lift itu berhenti mendadak dengan suara dentuman logam yang mengerikan. Detik berikutnya, kegelapan total menyelimuti mereka.
“Pak? Pak Satya? Kok liftnya berhenti?” tanya Ghea terkejut sambil meraba dinding lift, berusaha mencari pegangan.
Tidak ada jawaban. Namun, Ghea bisa mendengar suara napas yang memburu dan tidak beraturan dari arah Satya berdiri. Suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang tercekik.
“Satya? Kamu kenapa?” Ghea mengeluarkan ponselnya, lalu menyalakan lampu flash.
Cahaya putih dari ponselnya menyorot wajah Satya, dan Ghea seketika merasa ngeri. Satya bersandar di dinding lift dengan wajah pucat pasi. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi dahinya. Matanya terbelalak menatap kegelapan, tangannya mencengkeram besi pegangan lift hingga buku jarinya memutih.
“Satya!” Ghea segera mendekat dan baru ingat, bahwa Satya punya trauma berat terhadap ruang gelap yang sempit sejak kejadian terkunci di gudang saat kecil. “Satya, hei, lihat aku. Tarik napas. Tenang ....”
“Ghe ... gelap ... ini terlalu sempit, aku nggak bisa napas,” ucap Satya dengan parau lalu tubuhnya mulai merosot ke lantai.
Ghea tidak peduli lagi dengan rasa sakit hatinya. Dia lalu berlutut di depan Satya, dan memegang kedua pipi pria itu agar fokus padanya. “Lihat aku, Satya! Tatap mata aku. Kamu nggak sendirian. Ada aku di sini. Oke? Tarik napas pelan-pelan.”
Satya tiba-tiba menyambar pinggang Ghea, dan menarik wanita itu masuk ke dalam pelukannya dengan tenaga yang sangat kuat, seolah Ghea adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang luas. Ghea terkesiap saat dadanya menempel pada dada Satya yang naik-turun dengan kencang.
“Jangan pergi, Ghea, tolong ... jangan tinggalin aku di kegelapan ini lagi,” bisik Satya lirih, bahkan kini pria itu kehilangan image seorang CEO galak yang sudah jadi panggilannya di sana.
Ghea merasakan jantung Satya berdegup menggila, seirama dengan detak jantungnya sendiri. Rasa kasihan mengalahkan segalanya. Dia akhirnya melingkarkan lengannya di leher Satya, dan mengusap tengkuk pria itu dengan lembut untuk menenangkan sarafnya.
“Aku di sini, Satya. Aku nggak akan ke mana-mana. Tenang ya, semuanya bakal baik-baik saja.”
Lama mereka terdiam dalam posisi itu. Di dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya ponsel yang tergeletak di lantai, batas antara benci dan cinta seolah menguap.
Satya mulai tenang, napasnya perlahan mulai stabil, namun ia tidak melepaskan pelukannya. Malah, ia semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ghea, menghirup aroma tubuh wanita itu yang selalu menjadi candunya.
“Ghea,” gumam Satya dengan pelan.
“Ya?”
Satya merenggangkan sedikit pelukannya, lalu menatap wajah Ghea yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya. Dalam keremangan, mata mereka bertemu. Kilatan amarah yang tadi pagi terlihat, kini berganti menjadi tatapan penuh kerinduan yang amat sangat dalam.
“Kenapa kamu harus pergi dulu?” tanya Satya dengan suara sangat rendah. “Kenapa kamu harus bikin aku hancur sampai aku nggak bisa percaya lagi sama siapa pun?”
Wanita itu menelan salivanya sebelum menjawab, “Aku nggak pernah bermaksud hancurin kamu, Satya. Kamu yang nggak pernah mau dengar,” balas Ghea pelan, lalu jemarinya tanpa sadar mengusap rahang tegas Satya.
Wajah Satya perlahan mendekat. Ghea bisa merasakan hembusan napas Satya yang panas di bibirnya. Dunianya seolah berhenti berputar.
Rasa sakit, gengsi, dan kesalahpahaman seakan luruh, digantikan oleh gravitasi kuat yang menarik mereka untuk kembali menyatu. Ghea memejamkan mata, membiarkan nalurinya mengambil alih. Ia merindukan pria ini. Sangat merindukannya.
Bibir Satya hampir menyentuh bibir Ghea. Hanya tersisa satu milimeter lagi sebelum kerinduan lima tahun itu terbayar tuntas.
TING!
Lampu lift tiba-tiba menyala terang benderang. Lift bergerak kembali dan pintu terbuka di lantai dasar dengan suara yang sangat nyaring.
Ghea dan Satya tersentak, seolah baru saja disiram air es. Mereka refleks saling melepaskan diri dan berdiri dengan canggung.
“Pak Satya? Bu Ghea? Waduh, maaf Pak, tadi ada kendala di panel listrik utama,” ucap satpam yang berjaga di lobi dengan wajah cemas.
Satya berdeham, lalu merapikan jasnya dengan gerakan kaku. Wajah rapuhnya menghilang seketika, digantikan kembali oleh topeng dingin yang angkuh. Ia tidak menatap Ghea sama sekali.
“Pastikan hal konyol ini tidak terjadi lagi besok. Aku tidak mau efisiensi kerja keganggu cuma gara-gara lift tua ini,” ucap Satya pada satpam itu dengan suara bariton yang tegas, seolah tidak terjadi apa-apa di dalam sana tadi.
Satya melangkah keluar lift tanpa menoleh ke belakang. “Ghea, kirim laporan jadwal besok ke email-ku malam ini. Aku tunggu.”
Ghea berdiri mematung di dalam lift seraya menatap punggung Satya yang berjalan menjauh menuju mobil mewahnya. Ia menyentuh bibirnya yang tadi hampir saja merasakan kembali ciuman Satya.
Dadanya masih sesak, bukan karena takut kegelapan, tapi karena sadar bahwa Satya baru saja kembali membangun dinding tinggi di antara mereka tepat setelah ia menunjukkan kerentanannya.
“Kamu memang benar-benar iblis, Satya,” bisik Ghea pada dirinya sendiri. “Bisa-bisanya kamu bersikap sedingin itu setelah apa yang terjadi barusan.”
Pukul empat sore, Ghea melangkah masuk ke ruang kerja Satya dengan napas yang masih sedikit tersenggal.Di tangannya, jas midnight blue itu sudah terbungkus rapi dalam cover plastik transparan setelah diperbaiki kilat oleh penjahit langganan Satya.Ruangan itu sunyi, hanya terdengar dengung halus dari mesin pendingin ruangan yang bekerja maksimal. Satya tidak ada di kursinya.Ghea berjalan menuju sofa kulit di sudut ruangan. Ia meletakkan jas itu dengan hati-hati, memastikan tidak ada lipatan yang rusak.Saat hendak beranjak, matanya menangkap sesuatu yang janggal. Laci kecil pada meja nakas di samping sofa itu sedikit terbuka, seolah-olah seseorang baru saja menutupnya dengan terburu-buru hingga tidak rapat sempurna.Di celah laci itu, sebuah botol plastik kecil berwarna putih tulang mengintip. Ghea ragu sejenak, namun rasa ingin tahunya menang. Ia menarik laci itu sedikit lebih lebar dan mengambil botol tersebut.“Alprazolam...,” bisik Ghea membaca label apotek yang tertempel di san
“Coba cek kotak di sofa itu. Jas dari penjahit pribadiku baru sampai. Aku mau pakai buat acara gala dinner malam ini, dan kamu harus pastikan semuanya pas.”Ghea menghentikan kegiatannya merapikan dokumen dan menoleh ke arah sofa kulit di sudut ruangan. Sebuah kotak hitam elegan dengan pita satin perak terletak di sana.Dia membukanya perlahan, menyingkap kertas tisu pelapis, dan menemukan sebuah tuxedo berbahan wool premium berwarna midnight blue.“Ini bukan gaya kamu, Satya,” ucap Ghea tanpa sadar sambil mengangkat jas tersebut.“Kamu biasanya lebih suka hitam pekat dengan kerah peak lapel yang lebih lebar. Dan bahan ini... kamu nggak suka wool yang terlalu berat karena kulit kamu gampang gerah, kan?”Suasana ruangan mendadak sunyi. Ghea membeku, menyadari bahwa ia baru saja membongkar fakta bahwa ia masih menyimpan detail-detail kecil tentang pria itu di kepalanya. Detail yang seharusnya sudah ia hapus lima tahun lalu.Satya yang sedang melepas jam tangan mahalnya terhenti. Ia mena
“Ghea, pesankan lunch set dari restoran Jepang favoritku. Untuk dua orang. Dan pastikan kamu sendiri yang menyajikannya di ruanganku nanti.”Ghea yang baru saja meletakkan tasnya di meja kerja tersentak seraya menatap Satya yang berdiri di ambang pintu ruangan CEO dengan wajah tanpa dosa, seolah kejadian di lift semalam tidak pernah terjadi.Tidak ada lagi sisa-sisa pria rapuh yang gemetar ketakutan dalam pelukannya. Yang ada hanyalah Satya yang angkuh dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah.“Dua orang? Kamu ada tamu penting, Pak?” tanya Ghea ingin tahu, sebabdi agenda yang dia buat semalam, tidak ada pertemuan dengan siapa pun hari ini.Satya menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan. “Tamu yang sangat spesial. Jadi, pastikan pelayanannya sempurna!”Ghea mengerutkan keningnya, dia baru saja hendak bertanya, Satya sudah melesat masuk ke dalam ruangannya. Dan Ghea hanya bisa menunggu waktu itu tiba dan melihat siapa tamu penting yang dimaksud itu.Tepat jam dua belas sia
Jam tujuh lewat lima belas menit malam.“Kamu nggak pulang? Ini sudah lewat jam tujuh malam.”Ghea tersentak, bahkan hampir menjatuhkan tumpukan map yang sedang ia rapikan. Ia lalu menoleh dan mendapati Satya sudah berdiri di ambang pintu ruangannya dengan jas yang tersampir di lengan kiri. Kancing kemeja teratasnya sudah terbuka, memberikan kesan berantakan yang justru terlihat sangat jantan.“Sedikit lagi, Pak. Aku cuma mau memastikan jadwal besok sudah rapi,” jawab Ghea tanpa berani menatap mata pria itu terlalu lama.“Nggak usah sok rajin. Aku mau pulang, dan aku nggak mau ninggalin kunci kantor di tangan orang yang ceroboh kayak kamu. Ayo, bareng.”Ghea ingin membantah, tapi nada bicara Satya tidak menerima penolakan. Dengan terpaksa, Ghea menyambar tasnya dan mengikuti langkah lebar Satya menuju lift eksekutif di ujung koridor. Suasana kantor sudah sepi, hanya menyisakan lampu remang-remang di area kubikel.Di dalam lift, keheningan terasa begitu mencekik. Ghea berdiri di sudut
Di siang itu, Ghea sudah mulai bekerja dan tugas pertamanya adalah membuatkan kopi untuk bos galaknya itu.“Permisi. Kopi barunya sudah siap,” ucap Ghea kemudian meletakan kopi tersebut di atas meja.Satya kemudian berhenti mengetik. Ia meraih cangkir itu, menyesapnya sedikit, lalu detik berikutnya ia meletakkan cangkir itu dengan dentuman keras yang membuat Ghea tersentak.“Dingin. Buang,” ucap Satya dengan datar.Ghea mengerutkan kening. “Maksud kamu apa? Aku baru saja menuangnya dari mesin. Aku bahkan pakai termometer manual untuk memastikan suhunya pas 65 derajat seperti permintaan kamu barusan.”Satya menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, lalu melipat tangan di depan dada. “Kamu membantah aku? Kalau aku bilang dingin, ya artinya dingin. Lidahku nggak pernah bohong, Ghea. Mungkin termometer murahanmu itu yang rusak. Sama kayak ingatanmu.”Ghea menghela napas panjang, sembari berusaha menahan emosi yang mulai naik ke ubun-ubun. “Aku sudah buat lima kali, Pak Satya yang terhormat
“Nomor urut 072, Ghea Clarissa. Silakan masuk, Pak CEO sudah menunggu,” ucap sekretaris administrasi pada Ghea.Wanita cantik berusia 28 tahun itu kemudian merapikan rok span hitamnya yang terasa sedikit lebih ketat dari terakhir kali ia memakainya, mungkin karena stres yang menumpuk. Dengan napas yang ditarik dalam-dalam, Ghea mendorong pintu kayu mahoni ganda itu.Di balik meja kaca besar, seorang pria sedang berdiri membelakanginya, menatap pemandangan kota Jakarta dari lantai 55.“Selamat siang, Pak. Saya Ghea Clarissa, kandidat asisten pribadi ….”Suara Ghea menggantung di udara. Pria itu perlahan berputar. Kursi kulit di depannya berdecit pelan, dan menciptakan suasana tegang yang mencekam. Saat wajah itu sepenuhnya terlihat, jantung Ghea rasanya berhenti berdetak.Satya Adhitama.Rahangnya jauh lebih tegas sekarang. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan matanya ... mata yang dulu selalu menatap Ghea dengan penuh gairah dan kehangatan, kini berubah menjadi dua bilah pisau es y







