Masuk“Ghea, pesankan lunch set dari restoran Jepang favoritku. Untuk dua orang. Dan pastikan kamu sendiri yang menyajikannya di ruanganku nanti.”
Ghea yang baru saja meletakkan tasnya di meja kerja tersentak seraya menatap Satya yang berdiri di ambang pintu ruangan CEO dengan wajah tanpa dosa, seolah kejadian di lift semalam tidak pernah terjadi.
Tidak ada lagi sisa-sisa pria rapuh yang gemetar ketakutan dalam pelukannya. Yang ada hanyalah Satya yang angkuh dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah.
“Dua orang? Kamu ada tamu penting, Pak?” tanya Ghea ingin tahu, sebabdi agenda yang dia buat semalam, tidak ada pertemuan dengan siapa pun hari ini.
Satya menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan. “Tamu yang sangat spesial. Jadi, pastikan pelayanannya sempurna!”
Ghea mengerutkan keningnya, dia baru saja hendak bertanya, Satya sudah melesat masuk ke dalam ruangannya. Dan Ghea hanya bisa menunggu waktu itu tiba dan melihat siapa tamu penting yang dimaksud itu.
Tepat jam dua belas siang, pintu lobi lantai 55 terbuka. Seorang wanita dengan tinggi semampai, rambut pirang ash-grey yang ditata sempurna, dan gaun merah yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat berani, melangkah masuk.
“Hai, Sayang. Maaf ya aku agak telat,” ucap wanita itu dengan nada manja bahkan hampir terdengar sampai ke meja Ghea.
Ghea sontak terpaku. Ia melihat Satya keluar dari ruangannya, dan menyambut wanita itu dengan senyum lebar yang tidak pernah ia berikan pada staf kantor, apalagi pada Ghea. Satya bahkan melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu dengan posesif.
“Enggak apa-apa, Cindy. Ayo masuk, makanannya sudah disiapkan asistenku,” jawab Satya hangat.
Dada Ghea terasa seperti dihantam benda tumpul. Ia dipaksa berdiri dan mengikuti mereka masuk ke dalam ruangan untuk menyajikan makanan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Ghea menata kotak bento mewah di atas meja tamu.
“Ghea, tuangkan tehnya untuk Cindy,” perintah Satya dingin, bahkan tanpa menoleh pada Ghea karena matanya terus tertuju pada wanita bernama Cindy itu.
Ghea menuangkan teh dengan gerakan kaku. Saat itulah ia melihatnya. Cindy duduk sangat dekat dengan Satya, dan jemari lentiknya yang berkuteks merah menyala perlahan mendarat di paha Satya, lalu mengusapnya pelan sambil tertawa menanggapi lelucon Satya.
Satya tidak menolak, justru membiarkannya bahkan sesekali membalas dengan usapan di tangan wanita itu.
“Asisten kamu yang baru, ya? Kok kaku banget kerjanya?” sindir Cindy sambil melirik Ghea dari ujung kaki ke ujung kepala.
“Iya, masih masa percobaan. Maklum, kurang pengalaman,” jawab Satya dengan santai.
Mendengarnya, Ghea merasa darahnya mendidih. Panas menjalar dari leher hingga ke wajahnya. Ia ingin sekali menyiramkan teh panas itu ke wajah mereka berdua, tapi ia hanya bisa mengepalkan tangan di balik badannya.
Ia sadar, bahwa pria itu sudah jauh melangkah, bahwa posisinya di hati Satya sudah digantikan oleh wanita yang lebih cantik, lebih berani, dan lebih 'berkelas'.
“Sudah selesai, Pak. Saya permisi,” ucap Ghea ketus, lalu hampir berlari keluar dari ruangan itu.
Selama satu jam berikutnya, Ghea hanya bisa menatap pintu ruangan CEO yang tertutup rapat. Pikirannya liar membayangkan apa yang mereka lakukan di dalam sana. Apakah Satya menciumnya? Apakah Satya menyentuhnya seperti Satya menyentuhnya semalam?
Saat pintu akhirnya terbuka, Cindy keluar dengan senyum penuh kemenangan. Ia sempat menepuk bahu Ghea pelan sebelum menuju lift. “Kerja yang rajin ya, Manis.”
Setelah Cindy hilang di balik lift, Ghea menyambar map laporan yang baru saja ia cetak dan berjalan masuk ke ruangan Satya tanpa mengetuk.
BRAK!
Ghea membanting dokumen itu ke atas meja Satya dengan tenaga yang sangat besar.
“Ini laporan yang kamu minta!” ucap Ghea ketus.
Satya yang sedang bersandar santai sambil memainkan ponselnya perlahan mendongak. Bukannya marah karena pintunya tidak diketuk, ia malah tertawa kecil, tawa yang mengejek.
“Kenapa, Ghea? Galak banget. Kamu nggak suka sama tamu spesialku tadi?” godanya kemudian.
“Nggak usah pura-pura, Satya! Kamu sengaja kan, manggil wanita itu ke sini cuma buat pamer ke aku kalau kamu sudah punya pengganti? Kamu mau pamer kalau kamu sudah bisa tidur dengan siapa saja?”
Satya sontak bangkit dari kursinya, dan berjalan perlahan mendekati Ghea. Ghea mencoba mundur, tapi Satya lebih cepat. Dalam satu gerakan, Satya mencengkeram kedua bahu Ghea dan menyudutkannya ke dinding kayu di sudut ruangan.
“Kenapa kamu marah? Bukannya kamu yang bilang kita sudah nggak ada apa-apa? Bukannya kamu yang dulu pergi tanpa pamit karena ada laki-laki lain?” bisik Satya begitu dekat dengan wajah Ghea.
“Aku nggak pernah ada laki-laki lain! Dan kamu ... kamu rendah banget pakai cara kayak begini!” Ghea mencoba mendorong dada Satya, tapi Satya tidak bergeming.
“Rendah?” Satya tertawa lagi, kali ini suaranya serak. Kemudian menekan tubuhnya lebih rapat ke tubuh Ghea, hingga Ghea bisa merasakan detak jantung Satya yang cepat. “Kenapa, Ghea? Kamu cemburu lihat tangannya di pahaku tadi? Kamu kangen berada di posisinya?”
“Nggak! Jangan mimpi!” sergahnya dengan cepat.
Satya memajukan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. “Bohong. Mata kamu nggak bisa bohong. Kamu benci lihat dia menyentuhku karena kamu ingin kamu yang ada di sana. Kamu ingin tanganmu yang ada di tubuhku, seperti dulu.”
Ghea memalingkan wajahnya sambil meronta dengan pelan. “Lepasin aku, Satya!”
“Jawab aku, Ghea,” desis Satya, dan tangannya kini berpindah mengunci pinggang Ghea. “Kamu ingin berada di posisi Cindy, kan? Kamu ingin aku menciummu seperti aku mencium dia tadi?”
Ghea tersentak. “Kamu mencium dia?” tanyanya dengan mata membola spontan. Bahkan dia sendiri tidak sadar akan hal itu.
Satya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menatap bibir Ghea dengan lapar. Ketegangan yang tercipta jauh lebih menyesakkan daripada di lift semalam. Rasa cemburu Ghea bercampur dengan gairah yang sudah lama ia tekan, menciptakan ledakan emosi yang membuat pertahanannya runtuh.
“Kamu jahat, Satya. Kamu benar-benar iblis,” bisik Ghea parau.
“Memang. Dan kamu yang bikin aku jadi iblis kayak begini,” balas Satya.
Satya semakin mendekat, bibirnya hampir menyentuh telinga Ghea. “Jangan pernah bandingkan dirimu dengan dia, Ghea.”
“Kenapa?” tanya Ghea ketus.
Satya menaikan alisnya menatap Ghea. “Karena dia jauh lebih baik dari kamu yang sudah menduakanku!”
Pukul empat sore, Ghea melangkah masuk ke ruang kerja Satya dengan napas yang masih sedikit tersenggal.Di tangannya, jas midnight blue itu sudah terbungkus rapi dalam cover plastik transparan setelah diperbaiki kilat oleh penjahit langganan Satya.Ruangan itu sunyi, hanya terdengar dengung halus dari mesin pendingin ruangan yang bekerja maksimal. Satya tidak ada di kursinya.Ghea berjalan menuju sofa kulit di sudut ruangan. Ia meletakkan jas itu dengan hati-hati, memastikan tidak ada lipatan yang rusak.Saat hendak beranjak, matanya menangkap sesuatu yang janggal. Laci kecil pada meja nakas di samping sofa itu sedikit terbuka, seolah-olah seseorang baru saja menutupnya dengan terburu-buru hingga tidak rapat sempurna.Di celah laci itu, sebuah botol plastik kecil berwarna putih tulang mengintip. Ghea ragu sejenak, namun rasa ingin tahunya menang. Ia menarik laci itu sedikit lebih lebar dan mengambil botol tersebut.“Alprazolam...,” bisik Ghea membaca label apotek yang tertempel di san
“Coba cek kotak di sofa itu. Jas dari penjahit pribadiku baru sampai. Aku mau pakai buat acara gala dinner malam ini, dan kamu harus pastikan semuanya pas.”Ghea menghentikan kegiatannya merapikan dokumen dan menoleh ke arah sofa kulit di sudut ruangan. Sebuah kotak hitam elegan dengan pita satin perak terletak di sana.Dia membukanya perlahan, menyingkap kertas tisu pelapis, dan menemukan sebuah tuxedo berbahan wool premium berwarna midnight blue.“Ini bukan gaya kamu, Satya,” ucap Ghea tanpa sadar sambil mengangkat jas tersebut.“Kamu biasanya lebih suka hitam pekat dengan kerah peak lapel yang lebih lebar. Dan bahan ini... kamu nggak suka wool yang terlalu berat karena kulit kamu gampang gerah, kan?”Suasana ruangan mendadak sunyi. Ghea membeku, menyadari bahwa ia baru saja membongkar fakta bahwa ia masih menyimpan detail-detail kecil tentang pria itu di kepalanya. Detail yang seharusnya sudah ia hapus lima tahun lalu.Satya yang sedang melepas jam tangan mahalnya terhenti. Ia mena
“Ghea, pesankan lunch set dari restoran Jepang favoritku. Untuk dua orang. Dan pastikan kamu sendiri yang menyajikannya di ruanganku nanti.”Ghea yang baru saja meletakkan tasnya di meja kerja tersentak seraya menatap Satya yang berdiri di ambang pintu ruangan CEO dengan wajah tanpa dosa, seolah kejadian di lift semalam tidak pernah terjadi.Tidak ada lagi sisa-sisa pria rapuh yang gemetar ketakutan dalam pelukannya. Yang ada hanyalah Satya yang angkuh dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah.“Dua orang? Kamu ada tamu penting, Pak?” tanya Ghea ingin tahu, sebabdi agenda yang dia buat semalam, tidak ada pertemuan dengan siapa pun hari ini.Satya menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan. “Tamu yang sangat spesial. Jadi, pastikan pelayanannya sempurna!”Ghea mengerutkan keningnya, dia baru saja hendak bertanya, Satya sudah melesat masuk ke dalam ruangannya. Dan Ghea hanya bisa menunggu waktu itu tiba dan melihat siapa tamu penting yang dimaksud itu.Tepat jam dua belas sia
Jam tujuh lewat lima belas menit malam.“Kamu nggak pulang? Ini sudah lewat jam tujuh malam.”Ghea tersentak, bahkan hampir menjatuhkan tumpukan map yang sedang ia rapikan. Ia lalu menoleh dan mendapati Satya sudah berdiri di ambang pintu ruangannya dengan jas yang tersampir di lengan kiri. Kancing kemeja teratasnya sudah terbuka, memberikan kesan berantakan yang justru terlihat sangat jantan.“Sedikit lagi, Pak. Aku cuma mau memastikan jadwal besok sudah rapi,” jawab Ghea tanpa berani menatap mata pria itu terlalu lama.“Nggak usah sok rajin. Aku mau pulang, dan aku nggak mau ninggalin kunci kantor di tangan orang yang ceroboh kayak kamu. Ayo, bareng.”Ghea ingin membantah, tapi nada bicara Satya tidak menerima penolakan. Dengan terpaksa, Ghea menyambar tasnya dan mengikuti langkah lebar Satya menuju lift eksekutif di ujung koridor. Suasana kantor sudah sepi, hanya menyisakan lampu remang-remang di area kubikel.Di dalam lift, keheningan terasa begitu mencekik. Ghea berdiri di sudut
Di siang itu, Ghea sudah mulai bekerja dan tugas pertamanya adalah membuatkan kopi untuk bos galaknya itu.“Permisi. Kopi barunya sudah siap,” ucap Ghea kemudian meletakan kopi tersebut di atas meja.Satya kemudian berhenti mengetik. Ia meraih cangkir itu, menyesapnya sedikit, lalu detik berikutnya ia meletakkan cangkir itu dengan dentuman keras yang membuat Ghea tersentak.“Dingin. Buang,” ucap Satya dengan datar.Ghea mengerutkan kening. “Maksud kamu apa? Aku baru saja menuangnya dari mesin. Aku bahkan pakai termometer manual untuk memastikan suhunya pas 65 derajat seperti permintaan kamu barusan.”Satya menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, lalu melipat tangan di depan dada. “Kamu membantah aku? Kalau aku bilang dingin, ya artinya dingin. Lidahku nggak pernah bohong, Ghea. Mungkin termometer murahanmu itu yang rusak. Sama kayak ingatanmu.”Ghea menghela napas panjang, sembari berusaha menahan emosi yang mulai naik ke ubun-ubun. “Aku sudah buat lima kali, Pak Satya yang terhormat
“Nomor urut 072, Ghea Clarissa. Silakan masuk, Pak CEO sudah menunggu,” ucap sekretaris administrasi pada Ghea.Wanita cantik berusia 28 tahun itu kemudian merapikan rok span hitamnya yang terasa sedikit lebih ketat dari terakhir kali ia memakainya, mungkin karena stres yang menumpuk. Dengan napas yang ditarik dalam-dalam, Ghea mendorong pintu kayu mahoni ganda itu.Di balik meja kaca besar, seorang pria sedang berdiri membelakanginya, menatap pemandangan kota Jakarta dari lantai 55.“Selamat siang, Pak. Saya Ghea Clarissa, kandidat asisten pribadi ….”Suara Ghea menggantung di udara. Pria itu perlahan berputar. Kursi kulit di depannya berdecit pelan, dan menciptakan suasana tegang yang mencekam. Saat wajah itu sepenuhnya terlihat, jantung Ghea rasanya berhenti berdetak.Satya Adhitama.Rahangnya jauh lebih tegas sekarang. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan matanya ... mata yang dulu selalu menatap Ghea dengan penuh gairah dan kehangatan, kini berubah menjadi dua bilah pisau es y







