Home / Romansa / CEO Galak itu Mantan Kekasihku / Luka yang Baru Ghea Ketahui

Share

Luka yang Baru Ghea Ketahui

Author: Kim Sierra
last update publish date: 2026-03-09 23:55:03

Pukul empat sore, Ghea melangkah masuk ke ruang kerja Satya dengan napas yang masih sedikit tersenggal.

Di tangannya, jas midnight blue itu sudah terbungkus rapi dalam cover plastik transparan setelah diperbaiki kilat oleh penjahit langganan Satya.

Ruangan itu sunyi, hanya terdengar dengung halus dari mesin pendingin ruangan yang bekerja maksimal. Satya tidak ada di kursinya.

Ghea berjalan menuju sofa kulit di sudut ruangan. Ia meletakkan jas itu dengan hati-hati, memastikan tidak ada lipatan yang rusak.

Saat hendak beranjak, matanya menangkap sesuatu yang janggal. Laci kecil pada meja nakas di samping sofa itu sedikit terbuka, seolah-olah seseorang baru saja menutupnya dengan terburu-buru hingga tidak rapat sempurna.

Di celah laci itu, sebuah botol plastik kecil berwarna putih tulang mengintip. Ghea ragu sejenak, namun rasa ingin tahunya menang. Ia menarik laci itu sedikit lebih lebar dan mengambil botol tersebut.

“Alprazolam...,” bisik Ghea membaca label apotek yang tertempel di sana.

Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu jenis obat apa ini. Obat penenang dosis tinggi. Ghea membolak-balik botol itu dan menemukan tanggal resep yang sangat baru.

Ternyata, di balik setelan jas mahal, tatapan angkuh, dan kekuasaan yang ia pamerkan, Satya harus bergantung pada botol kecil ini untuk tetap tegak.

Ghea merasa dadanya sesak. Sosok “Iblis” yang ia benci seharian ini ternyata memiliki lubang besar yang sedang ia tutupi dengan susah payah.

BRAK!

Pintu ruangan terbuka dengan kasar. Ghea tersentak hebat, botol di tangannya hampir saja terlepas.

Satya berdiri di sana, tengah menatap Ghea dengan sorot mata yang seketika berubah menjadi sangat gelap begitu melihat apa yang ada di tangan asistennya.

“Lagi ngapain kamu?” suara Satya rendah, namun mengandung ancaman yang nyata.

Ghea mencoba menyembunyikan botol itu di balik punggungnya, tapi terlambat. Satya melangkah lebar, menutup jarak di antara mereka hanya dalam tiga detik. Ia menyambar pergelangan tangan Ghea dan merebut botol itu dengan kasar.

“Siapa yang kasih kamu izin buat sentuh barang-barang di meja ini?” Satya bertanya dengan nada dingin yang menusuk.

“Satya, aku... aku tadi cuma mau taruh jas kamu. Lacinya terbuka, jadi aku nggak sengaja...”

“Nggak sengaja? Kamu itu asisten pribadi, Ghea, bukan detektif! Tugas kamu urus jadwal, bukan bongkar-bongkar laci pribadiku!” Satya membentak, hingga membuat Ghea mundur hingga punggungnya menghantam meja kerja.

Satya tidak berhenti. Ia justru semakin menghimpit Ghea, mencengkeram kedua pergelangan tangan wanita itu dan menekannya ke atas meja. Napasnya memburu, wajahnya merah padam karena amarah yang meluap.

“Kenapa? Kamu kaget?” tantang Satya, suaranya naik satu oktav. “Kamu mau tertawakan aku karena sekarang aku butuh obat-obatan ini? Kamu mau bilang ke semua orang kalau CEO Adhitama Group itu aslinya lemah?”

“Bukan begitu, Sat! Aku cuma khawatir,” balas Ghea, matanya mulai berkaca-kaca. “Dosis ini tinggi banget. Kamu nggak bisa terus-terusan begini.”

“Kamu nggak punya hak buat khawatir!” Satya berteriak tepat di depan wajah Ghea. “Kamu yang bikin aku begini! Kamu yang hancurin ketenanganku lima tahun lalu!”

Namun, perlahan-lahan, cengkeraman Satya yang kuat mulai mengendur. Amarah yang tadi berkobar di matanya mendadak redup, digantikan oleh gumpalan kesedihan yang sangat dalam.

Tangannya masih memegang pergelangan tangan Ghea, tapi kini lebih menyerupai pegangan seseorang yang hampir tenggelam.

Satya menundukkan kepalanya, menyandarkan dahinya di bahu Ghea. Napasnya yang tadi kasar perlahan berubah menjadi helaian napas yang berat dan penuh kepedihan.

“Kenapa kamu harus kembali, Ghe?” bisik Satya, suaranya parau dan bergetar.

“Aku sudah coba segalanya. Aku kerja sampai pagi, aku minum obat itu sampai kepalaku mati rasa, aku gonta-ganti perempuan cuma supaya aku nggak ingat gimana baumu...”

Ghea terpaku. Ia bisa merasakan tubuh Satya sedikit gemetar di pelukannya.

“Lima tahun aku bangun dinding ini, Ghea. Lima tahun aku belajar jadi orang asing buat kamu,” lanjut Satya dengan suara yang hampir pecah.

“Tapi begitu kamu masuk ke ruangan ini di hari pertama... semuanya hancur. Obat-obat itu nggak ada gunanya lagi kalau kamu ada di depanku.”

Satya mendongak, menatap mata Ghea dengan tatapan yang sangat rapuh. Tidak ada lagi CEO galak, yang ada hanya Satya yang hancur.

“Kenapa kamu harus kembali dan merusak ketenanganku lagi, Ghea? Kenapa kamu nggak biarkan aku benci kamu sampai aku mati saja?”

Air mata Ghea jatuh membasahi pipinya. Ia memberanikan diri melepaskan tangannya dari meja dan mengusap rambut Satya dengan lembut, seperti yang dulu sering ia lakukan.

“Maaf, Satya. Aku nggak pernah tahu kalau luka kamu sedalam ini,” bisik Ghea lirih.

“Jangan minta maaf,” desis Satya, matanya kembali menajam namun penuh dengan kerinduan yang menyakitkan.

“Karena permintaan maaf kamu nggak akan bisa balikin lima tahun tidurku yang hilang.”

Satya menatap bibir Ghea. Jarak mereka sangat dekat. Ghea bisa merasakan detak jantung Satya yang menggila menabrak dadanya. Satya perlahan mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan.

Ia seolah sedang berperang dengan dirinya sendiri, antara ingin melumat bibir wanita yang ia benci itu atau mendorongnya keluar dari ruangan sekarang juga.

“Keluar, Ghea,” ucap Satya akhirnya, meskipun tangannya masih enggan melepas pinggang Ghea.

“Satya—"

“Aku bilang keluar sebelum aku melakukan sesuatu yang bakal membuat kita berdua menyesal,” Satya melepaskan Ghea dengan gerakan mendadak, seolah Ghea adalah api yang membakar kulitnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Luka yang Baru Ghea Ketahui

    Pukul empat sore, Ghea melangkah masuk ke ruang kerja Satya dengan napas yang masih sedikit tersenggal.Di tangannya, jas midnight blue itu sudah terbungkus rapi dalam cover plastik transparan setelah diperbaiki kilat oleh penjahit langganan Satya.Ruangan itu sunyi, hanya terdengar dengung halus dari mesin pendingin ruangan yang bekerja maksimal. Satya tidak ada di kursinya.Ghea berjalan menuju sofa kulit di sudut ruangan. Ia meletakkan jas itu dengan hati-hati, memastikan tidak ada lipatan yang rusak.Saat hendak beranjak, matanya menangkap sesuatu yang janggal. Laci kecil pada meja nakas di samping sofa itu sedikit terbuka, seolah-olah seseorang baru saja menutupnya dengan terburu-buru hingga tidak rapat sempurna.Di celah laci itu, sebuah botol plastik kecil berwarna putih tulang mengintip. Ghea ragu sejenak, namun rasa ingin tahunya menang. Ia menarik laci itu sedikit lebih lebar dan mengambil botol tersebut.“Alprazolam...,” bisik Ghea membaca label apotek yang tertempel di san

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Jemari yang Mengkhianati

    “Coba cek kotak di sofa itu. Jas dari penjahit pribadiku baru sampai. Aku mau pakai buat acara gala dinner malam ini, dan kamu harus pastikan semuanya pas.”Ghea menghentikan kegiatannya merapikan dokumen dan menoleh ke arah sofa kulit di sudut ruangan. Sebuah kotak hitam elegan dengan pita satin perak terletak di sana.Dia membukanya perlahan, menyingkap kertas tisu pelapis, dan menemukan sebuah tuxedo berbahan wool premium berwarna midnight blue.“Ini bukan gaya kamu, Satya,” ucap Ghea tanpa sadar sambil mengangkat jas tersebut.“Kamu biasanya lebih suka hitam pekat dengan kerah peak lapel yang lebih lebar. Dan bahan ini... kamu nggak suka wool yang terlalu berat karena kulit kamu gampang gerah, kan?”Suasana ruangan mendadak sunyi. Ghea membeku, menyadari bahwa ia baru saja membongkar fakta bahwa ia masih menyimpan detail-detail kecil tentang pria itu di kepalanya. Detail yang seharusnya sudah ia hapus lima tahun lalu.Satya yang sedang melepas jam tangan mahalnya terhenti. Ia mena

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Ternyata Dia sudah Move On

    “Ghea, pesankan lunch set dari restoran Jepang favoritku. Untuk dua orang. Dan pastikan kamu sendiri yang menyajikannya di ruanganku nanti.”Ghea yang baru saja meletakkan tasnya di meja kerja tersentak seraya menatap Satya yang berdiri di ambang pintu ruangan CEO dengan wajah tanpa dosa, seolah kejadian di lift semalam tidak pernah terjadi.Tidak ada lagi sisa-sisa pria rapuh yang gemetar ketakutan dalam pelukannya. Yang ada hanyalah Satya yang angkuh dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah.“Dua orang? Kamu ada tamu penting, Pak?” tanya Ghea ingin tahu, sebabdi agenda yang dia buat semalam, tidak ada pertemuan dengan siapa pun hari ini.Satya menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan. “Tamu yang sangat spesial. Jadi, pastikan pelayanannya sempurna!”Ghea mengerutkan keningnya, dia baru saja hendak bertanya, Satya sudah melesat masuk ke dalam ruangannya. Dan Ghea hanya bisa menunggu waktu itu tiba dan melihat siapa tamu penting yang dimaksud itu.Tepat jam dua belas sia

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Sisi Rapuh yang Muncul Sepersekian Detik

    Jam tujuh lewat lima belas menit malam.“Kamu nggak pulang? Ini sudah lewat jam tujuh malam.”Ghea tersentak, bahkan hampir menjatuhkan tumpukan map yang sedang ia rapikan. Ia lalu menoleh dan mendapati Satya sudah berdiri di ambang pintu ruangannya dengan jas yang tersampir di lengan kiri. Kancing kemeja teratasnya sudah terbuka, memberikan kesan berantakan yang justru terlihat sangat jantan.“Sedikit lagi, Pak. Aku cuma mau memastikan jadwal besok sudah rapi,” jawab Ghea tanpa berani menatap mata pria itu terlalu lama.“Nggak usah sok rajin. Aku mau pulang, dan aku nggak mau ninggalin kunci kantor di tangan orang yang ceroboh kayak kamu. Ayo, bareng.”Ghea ingin membantah, tapi nada bicara Satya tidak menerima penolakan. Dengan terpaksa, Ghea menyambar tasnya dan mengikuti langkah lebar Satya menuju lift eksekutif di ujung koridor. Suasana kantor sudah sepi, hanya menyisakan lampu remang-remang di area kubikel.Di dalam lift, keheningan terasa begitu mencekik. Ghea berdiri di sudut

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Kemarahan tak Berdasar

    Di siang itu, Ghea sudah mulai bekerja dan tugas pertamanya adalah membuatkan kopi untuk bos galaknya itu.“Permisi. Kopi barunya sudah siap,” ucap Ghea kemudian meletakan kopi tersebut di atas meja.Satya kemudian berhenti mengetik. Ia meraih cangkir itu, menyesapnya sedikit, lalu detik berikutnya ia meletakkan cangkir itu dengan dentuman keras yang membuat Ghea tersentak.“Dingin. Buang,” ucap Satya dengan datar.Ghea mengerutkan kening. “Maksud kamu apa? Aku baru saja menuangnya dari mesin. Aku bahkan pakai termometer manual untuk memastikan suhunya pas 65 derajat seperti permintaan kamu barusan.”Satya menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, lalu melipat tangan di depan dada. “Kamu membantah aku? Kalau aku bilang dingin, ya artinya dingin. Lidahku nggak pernah bohong, Ghea. Mungkin termometer murahanmu itu yang rusak. Sama kayak ingatanmu.”Ghea menghela napas panjang, sembari berusaha menahan emosi yang mulai naik ke ubun-ubun. “Aku sudah buat lima kali, Pak Satya yang terhormat

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Dendam itu Masih Ada

    “Nomor urut 072, Ghea Clarissa. Silakan masuk, Pak CEO sudah menunggu,” ucap sekretaris administrasi pada Ghea.Wanita cantik berusia 28 tahun itu kemudian merapikan rok span hitamnya yang terasa sedikit lebih ketat dari terakhir kali ia memakainya, mungkin karena stres yang menumpuk. Dengan napas yang ditarik dalam-dalam, Ghea mendorong pintu kayu mahoni ganda itu.Di balik meja kaca besar, seorang pria sedang berdiri membelakanginya, menatap pemandangan kota Jakarta dari lantai 55.“Selamat siang, Pak. Saya Ghea Clarissa, kandidat asisten pribadi ….”Suara Ghea menggantung di udara. Pria itu perlahan berputar. Kursi kulit di depannya berdecit pelan, dan menciptakan suasana tegang yang mencekam. Saat wajah itu sepenuhnya terlihat, jantung Ghea rasanya berhenti berdetak.Satya Adhitama.Rahangnya jauh lebih tegas sekarang. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan matanya ... mata yang dulu selalu menatap Ghea dengan penuh gairah dan kehangatan, kini berubah menjadi dua bilah pisau es y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status