Home / Romansa / CEO Galak itu Mantan Kekasihku / Jemari yang Mengkhianati

Share

Jemari yang Mengkhianati

Author: Kim Sierra
last update publish date: 2026-03-09 23:47:59

“Coba cek kotak di sofa itu. Jas dari penjahit pribadiku baru sampai. Aku mau pakai buat acara gala dinner malam ini, dan kamu harus pastikan semuanya pas.”

Ghea menghentikan kegiatannya merapikan dokumen dan menoleh ke arah sofa kulit di sudut ruangan. Sebuah kotak hitam elegan dengan pita satin perak terletak di sana.

Dia membukanya perlahan, menyingkap kertas tisu pelapis, dan menemukan sebuah tuxedo berbahan wool premium berwarna midnight blue.

“Ini bukan gaya kamu, Satya,” ucap Ghea tanpa sadar sambil mengangkat jas tersebut.

“Kamu biasanya lebih suka hitam pekat dengan kerah peak lapel yang lebih lebar. Dan bahan ini... kamu nggak suka wool yang terlalu berat karena kulit kamu gampang gerah, kan?”

Suasana ruangan mendadak sunyi. Ghea membeku, menyadari bahwa ia baru saja membongkar fakta bahwa ia masih menyimpan detail-detail kecil tentang pria itu di kepalanya. Detail yang seharusnya sudah ia hapus lima tahun lalu.

Satya yang sedang melepas jam tangan mahalnya terhenti. Ia menatap Ghea dengan sorot mata yang sulit dibaca.

“Ternyata ingatanmu masih tajam ya, Ghea? Aku kira kamu cuma pintar ingat cara selingkuh, ternyata kamu juga masih hafal luar kepala apa yang nempel di badan aslimu ini.”

Ghea merasakan pipinya memanas. “Aku cuma... aku cuma menebak berdasarkan seleramu yang dulu. Bukan berarti aku sengaja ingat.”

“Oh ya?” Satya berjalan mendekat, kini ia mulai membuka kancing kemejanya satu per satu di depan Ghea. “Kalau gitu, coba kamu bantu aku pasang jas ini. Kita lihat, apa instingmu masih sehebat dulu.”

Satya membiarkan kemejanya terbuka, menampakkan dada bidangnya yang jauh lebih atletis dibanding lima tahun lalu.

Ghea menelan ludah, sambil berusaha mengalihkan pandangannya saat ia membantu Satya mengenakan jas baru itu. Jemari Ghea gemetar saat merapikan bahu jas dan menarik kerahnya agar simetris.

“Celananya juga perlu dicek. Rasanya agak kepanjangan di bagian bawah,” ucap Satya sambil melirik ke arah cermin besar di dinding.

Dia kemudian berbalik, dan menatap Ghea dengan seringai nakal yang provokatif. “Ngomong-ngomong soal ukuran, aku jadi penasaran. Apa semua hal tentang kamu masih sama?”

Ghea mengerutkan kening. “Maksud kamu?”

“Ukuran celana dalam kamu,” bisik Satya dengan nada tanpa dosa, namun sangat merendahkan. “Masih ukuran S yang sering aku beliin dulu? Atau sudah berubah sejak kamu gonta-ganti laki-laki?”

PLAK!

Refleks, tangan Ghea melayang dan mendarat tepat di mulut Satya. Pukulan itu cukup keras hingga menyisakan rona merah di sudut bibir Satya. Ghea terengah-engah, matanya berkilat penuh amarah dan luka.

“Jaga mulut kamu, Satya! Kamu boleh hina aku sebagai asisten yang payah, tapi jangan pernah rendahkan aku soal hal itu!” teriak Ghea dengan suara bergetar.

Wajah Satya berubah jadi gelap. Aura di ruangan itu seketika menjadi mencekam. Satya menyentuh sudut bibirnya yang berdenyut, menatap jarinya yang sedikit memerah, lalu menatap Ghea dengan tatapan yang bisa membunuh.

“Kamu berani pukul aku?” desis Satya. “Kamu lupa siapa yang bayar gaji kamu sekarang?”

“Aku nggak peduli! Kamu keterlaluan!”

“Diam dan kerjakan tugas kamu!” bentak Satya. “Rapikan bagian bawah celanaku. Sekarang!”

Ghea ingin pergi, tapi ia tahu ia tak bisa. Dengan tangan gemetar dan air mata yang ditahan di pelupuk mata, ia berlutut di lantai di hadapan Satya. Ia mulai melipat sedikit ujung celana kain Satya ke dalam untuk menandai bagian yang harus dipotong.

Posisi itu sangat intim dan sangat menyiksa. Kepala Ghea berada tepat di depan pinggang Satya. Ia bisa merasakan panas tubuh Satya dan aroma parfumnya yang memabukkan.

Setiap tarikan napas Ghea terasa berat. Ia berusaha fokus pada kain celana, namun bayangan-bayangan masa lalu saat mereka bercanda di posisi yang sama kembali menyerang pikirannya.

Dulu, posisi ini akan berakhir dengan tawa dan ciuman, bukan dengan kebencian seperti ini.

Satya menunduk seraya menatap puncak kepala Ghea. Ia bisa melihat leher jenjang Ghea yang tampak rapuh.

Amarahnya karena dipukul tadi perlahan bersinggungan dengan gairah yang meledak-ledak. Melihat Ghea berlutut di depannya memicu sisi posesif dalam dirinya yang paling dalam.

Tiba-tiba, Satya mencengkeram kedua bahu Ghea dengan kuat dan menarik wanita itu untuk berdiri dengan paksa.

“A-apa lagi, Satya?” tanya Ghea kaget.

Satya tidak menjawab. Ia mendorong Ghea hingga punggung wanita itu menabrak lemari kaca.

Satya mengunci Ghea dengan kedua tangannya, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Napas Satya memburu, matanya menatap liar ke seluruh wajah Ghea, dari mata yang basah hingga bibir yang bergetar.

“Kenapa kamu harus balik lagi ke hidupku, Ghe? Kenapa?” tanya Satya dengan suara serak, hampir seperti rintihan.

“Kamu yang terima aku kerja di sini, Satya...”

“Karena aku mau benci kamu! Aku mau balas dendam!” Satya mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.

“Tapi setiap kali kamu ada di dekatku, setiap kali kamu sentuh aku kayak tadi... aku rasanya mau gila. Aku mau hancurin kamu, tapi aku juga mau milikin kamu sekarang juga.”

Tangan Satya merambat dari bahu ke tengkuk Ghea, menariknya agar lebih dekat. Ghea bisa merasakan detak jantung Satya yang menggila menabrak dadanya.

Ketegangan di antara mereka sudah mencapai puncaknya, bahkan hampir meledak. Ghea merasa lemas, jemarinya mencengkeram jas Satya untuk mencari pegangan.

Satya menatap bibir Ghea dengan lapar. Ia sudah hampir kehilangan kendali, hampir saja ia melumat bibir itu untuk menuntaskan dahaga lima tahunnya.

Namun, saat bibir mereka hampir bersentuhan, Satya melihat setetes air mata jatuh dari mata Ghea.

Setetes air mata itu seperti tamparan yang lebih keras dari pukulan Ghea tadi. Satya tersentak. Ia melihat ketakutan dan luka di mata Ghea, dan itu membuatnya sadar bahwa ia hampir menjadi monster.

Dengan gerakan kasar, Satya mendorong Ghea menjauh hingga mereka terpisah jarak yang cukup jauh. Ia membelakangi Ghea, berusaha mengatur napas dan emosinya yang berantakan.

“Keluar,” ucap Satya dingin, suaranya bergetar karena menahan gairah yang masih tersisa.

“Satya—"

“AKU BILANG KELUAR!” bentak Satya tanpa menoleh. “Bawa jas itu ke penjahit. Jangan balik lagi ke ruangan ini sampai aku panggil. Pergi!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Luka yang Baru Ghea Ketahui

    Pukul empat sore, Ghea melangkah masuk ke ruang kerja Satya dengan napas yang masih sedikit tersenggal.Di tangannya, jas midnight blue itu sudah terbungkus rapi dalam cover plastik transparan setelah diperbaiki kilat oleh penjahit langganan Satya.Ruangan itu sunyi, hanya terdengar dengung halus dari mesin pendingin ruangan yang bekerja maksimal. Satya tidak ada di kursinya.Ghea berjalan menuju sofa kulit di sudut ruangan. Ia meletakkan jas itu dengan hati-hati, memastikan tidak ada lipatan yang rusak.Saat hendak beranjak, matanya menangkap sesuatu yang janggal. Laci kecil pada meja nakas di samping sofa itu sedikit terbuka, seolah-olah seseorang baru saja menutupnya dengan terburu-buru hingga tidak rapat sempurna.Di celah laci itu, sebuah botol plastik kecil berwarna putih tulang mengintip. Ghea ragu sejenak, namun rasa ingin tahunya menang. Ia menarik laci itu sedikit lebih lebar dan mengambil botol tersebut.“Alprazolam...,” bisik Ghea membaca label apotek yang tertempel di san

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Jemari yang Mengkhianati

    “Coba cek kotak di sofa itu. Jas dari penjahit pribadiku baru sampai. Aku mau pakai buat acara gala dinner malam ini, dan kamu harus pastikan semuanya pas.”Ghea menghentikan kegiatannya merapikan dokumen dan menoleh ke arah sofa kulit di sudut ruangan. Sebuah kotak hitam elegan dengan pita satin perak terletak di sana.Dia membukanya perlahan, menyingkap kertas tisu pelapis, dan menemukan sebuah tuxedo berbahan wool premium berwarna midnight blue.“Ini bukan gaya kamu, Satya,” ucap Ghea tanpa sadar sambil mengangkat jas tersebut.“Kamu biasanya lebih suka hitam pekat dengan kerah peak lapel yang lebih lebar. Dan bahan ini... kamu nggak suka wool yang terlalu berat karena kulit kamu gampang gerah, kan?”Suasana ruangan mendadak sunyi. Ghea membeku, menyadari bahwa ia baru saja membongkar fakta bahwa ia masih menyimpan detail-detail kecil tentang pria itu di kepalanya. Detail yang seharusnya sudah ia hapus lima tahun lalu.Satya yang sedang melepas jam tangan mahalnya terhenti. Ia mena

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Ternyata Dia sudah Move On

    “Ghea, pesankan lunch set dari restoran Jepang favoritku. Untuk dua orang. Dan pastikan kamu sendiri yang menyajikannya di ruanganku nanti.”Ghea yang baru saja meletakkan tasnya di meja kerja tersentak seraya menatap Satya yang berdiri di ambang pintu ruangan CEO dengan wajah tanpa dosa, seolah kejadian di lift semalam tidak pernah terjadi.Tidak ada lagi sisa-sisa pria rapuh yang gemetar ketakutan dalam pelukannya. Yang ada hanyalah Satya yang angkuh dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah.“Dua orang? Kamu ada tamu penting, Pak?” tanya Ghea ingin tahu, sebabdi agenda yang dia buat semalam, tidak ada pertemuan dengan siapa pun hari ini.Satya menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan. “Tamu yang sangat spesial. Jadi, pastikan pelayanannya sempurna!”Ghea mengerutkan keningnya, dia baru saja hendak bertanya, Satya sudah melesat masuk ke dalam ruangannya. Dan Ghea hanya bisa menunggu waktu itu tiba dan melihat siapa tamu penting yang dimaksud itu.Tepat jam dua belas sia

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Sisi Rapuh yang Muncul Sepersekian Detik

    Jam tujuh lewat lima belas menit malam.“Kamu nggak pulang? Ini sudah lewat jam tujuh malam.”Ghea tersentak, bahkan hampir menjatuhkan tumpukan map yang sedang ia rapikan. Ia lalu menoleh dan mendapati Satya sudah berdiri di ambang pintu ruangannya dengan jas yang tersampir di lengan kiri. Kancing kemeja teratasnya sudah terbuka, memberikan kesan berantakan yang justru terlihat sangat jantan.“Sedikit lagi, Pak. Aku cuma mau memastikan jadwal besok sudah rapi,” jawab Ghea tanpa berani menatap mata pria itu terlalu lama.“Nggak usah sok rajin. Aku mau pulang, dan aku nggak mau ninggalin kunci kantor di tangan orang yang ceroboh kayak kamu. Ayo, bareng.”Ghea ingin membantah, tapi nada bicara Satya tidak menerima penolakan. Dengan terpaksa, Ghea menyambar tasnya dan mengikuti langkah lebar Satya menuju lift eksekutif di ujung koridor. Suasana kantor sudah sepi, hanya menyisakan lampu remang-remang di area kubikel.Di dalam lift, keheningan terasa begitu mencekik. Ghea berdiri di sudut

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Kemarahan tak Berdasar

    Di siang itu, Ghea sudah mulai bekerja dan tugas pertamanya adalah membuatkan kopi untuk bos galaknya itu.“Permisi. Kopi barunya sudah siap,” ucap Ghea kemudian meletakan kopi tersebut di atas meja.Satya kemudian berhenti mengetik. Ia meraih cangkir itu, menyesapnya sedikit, lalu detik berikutnya ia meletakkan cangkir itu dengan dentuman keras yang membuat Ghea tersentak.“Dingin. Buang,” ucap Satya dengan datar.Ghea mengerutkan kening. “Maksud kamu apa? Aku baru saja menuangnya dari mesin. Aku bahkan pakai termometer manual untuk memastikan suhunya pas 65 derajat seperti permintaan kamu barusan.”Satya menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, lalu melipat tangan di depan dada. “Kamu membantah aku? Kalau aku bilang dingin, ya artinya dingin. Lidahku nggak pernah bohong, Ghea. Mungkin termometer murahanmu itu yang rusak. Sama kayak ingatanmu.”Ghea menghela napas panjang, sembari berusaha menahan emosi yang mulai naik ke ubun-ubun. “Aku sudah buat lima kali, Pak Satya yang terhormat

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Dendam itu Masih Ada

    “Nomor urut 072, Ghea Clarissa. Silakan masuk, Pak CEO sudah menunggu,” ucap sekretaris administrasi pada Ghea.Wanita cantik berusia 28 tahun itu kemudian merapikan rok span hitamnya yang terasa sedikit lebih ketat dari terakhir kali ia memakainya, mungkin karena stres yang menumpuk. Dengan napas yang ditarik dalam-dalam, Ghea mendorong pintu kayu mahoni ganda itu.Di balik meja kaca besar, seorang pria sedang berdiri membelakanginya, menatap pemandangan kota Jakarta dari lantai 55.“Selamat siang, Pak. Saya Ghea Clarissa, kandidat asisten pribadi ….”Suara Ghea menggantung di udara. Pria itu perlahan berputar. Kursi kulit di depannya berdecit pelan, dan menciptakan suasana tegang yang mencekam. Saat wajah itu sepenuhnya terlihat, jantung Ghea rasanya berhenti berdetak.Satya Adhitama.Rahangnya jauh lebih tegas sekarang. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan matanya ... mata yang dulu selalu menatap Ghea dengan penuh gairah dan kehangatan, kini berubah menjadi dua bilah pisau es y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status