LOGINSena yang terpaksa keluar dari perusahaannya mencoba peruntungan di sebuah perusahaan baru di kota Seoul, beruntung mendapatkan posisi sebagai sekretaris. Mendengar desas-desus dari pihak personalia, seorang direktur yang akan menjabat nanti adalah orang Korea keturunan Amerika. Setelah menjadi sekretaris resmi selama seminggu, Sena sudah tidak tahan dengan berbagai tugas yang ada. Bukan hanya menjadi sekretaris saja, Sena bahkan merangkap tugasnya menjadi asisten rumah Mason, direktur muda di Growpon Inc yang ternyata seusianya. Mason, lelaki yang dingin dan tidak berperasaan di kantor berubah 180 derajat saat di rumah. Meskipun Mason berlaku layaknya seorang lelaki biasa saat di rumah, hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa Mason selalu memerintah Sena dengan berbagai hal. Jika saja bukan karena kontrak yang terpaksa Sena tandatangani, dia sudi melakukan perintah Mason dan bahkan ingin keluar saja dari perusahaan itu. Hingga pada suatu hari, Sena yang terikat kontrak dengan Mason tidak tahu harus berbuat apa ketika Mason menyuruhnya untuk menikahi dirinya.
View More『ねぇ~、拓也さぁん、そんなのほっといて、こっちにきて……』
電話の向こうから聞こえてきた衝撃的な言葉。 手から力が抜け、エコー写真が滑り落ちた。 『黙り込んでどうした? 用があるならさっさと言ってくれよ』 しかも、追い打ちをかけるように夫の苛立った声。 ショックのあまり、その場で倒れそうになる。 「大丈夫ですか」 そんな美月を支えたのは、静かについてきてくれていた蒼真だった。 美月の目から、涙がこぼれる。 もう限界だった。 「大丈夫じゃありません。私――離婚します」 「わかりました」 美月の宣言にうなずくと、蒼真は彼女の手から電話を取り上げた。 「もしもし。美月さんはもう帰りません。離婚すると言っています」 そして一方的にそう告げると、そのまま電話を切ってしまう。 「電話は終わりました。少し休める場所を借りましょう、顔色が良くないですよ」 蒼真は美月を病院のラウンジへ案内した。人目の少ない窓際の席へ腰を下ろすと、スタッフへ一言声をかける。
「温かい飲み物を二つお願いします」
それだけ告げると、美月の向かいへ静かに腰を下ろした。
「今は何も話さなくて構いません。落ち着いてからで大丈夫です」
責めるでも、慰めるでもない穏やかな口調。
その言葉に張り詰めていた糸が切れたように、美月の頬を涙が伝った。
どうして、こんなことになってしまったのだろう。
今日の朝までは、幸せだったはずなのに。
美月は街角の小さなカフェで働いている。
昼どきの忙しい時間帯、急に目の前が真っ白になり、その場へ倒れかけた。
異変に気付いて駆け寄ってくれたのが、常連客の蒼真だった。
『顔色が悪すぎます。病院へ行きましょう』
最初は遠慮した。
忙しい時間帯に常連客へ迷惑をかけるなんて申し訳ないと思ったし、ただの貧血だろうと考えていたからだ。
けれど蒼真は首を横へ振った。
『無理をして悪化させる方が問題です。店長には私から説明します』
その落ち着いた態度に押され、美月は病院へ来ることになった。
驚いたことに、受付のスタッフは蒼真の姿を見るなりすぐに診察を手配してくれた。
顔が広い人なんだな、と、その時はそれくらいにしか思わなかった。
そして診察室で告げられたのは、思いもしなかった言葉だった。
『おめでとうございます。妊娠していますよ』
胸がいっぱいになった。
拓也もきっと喜んでくれる。
そう信じて、診察室の外で、エコー写真を握りしめながらスマートフォンを取り出した。
――その結果が、あれだった。
「……どうして」
かすれた声が漏れる。
「子どもができたって伝えたかっただけなのに……」
その時、湯気の立つ紅茶が運ばれてきた。
蒼真はカップを美月の前へ静かに置く。
「少し飲んでください。何も口にしていないでしょう」
美月は小さくうなずき、両手でカップを包んだ。
温もりが冷え切った指先へじんわりと伝わってくる。
「ありがとうございます……」
「礼を言われることではありません」
蒼真はまっすぐ美月を見つめた。
「ですが、一つだけ確認させてください」
穏やかな声色は変わらない。
それでも仕事のできる人間らしい真剣さがにじんでいた。
「本当に、離婚するつもりですか?」
「……はい」
美月は迷わずうなずいた。
リストラされて無職の夫を、アルバイトを掛け持ちしながら支えてきた。 そして妊娠を告げようとした矢先に発覚した浮気。限界だった。「離婚します。お腹の子のためにも……、私のためにも」
蒼真は静かにうなずいた。
「承知しました」
「それでは、私がお手伝いします」
Mobil sport hitam keluaran terbaru itu berhenti tepat di depan kantor polisi. Sena melepaskan sabuk pengamannya. “Terima kasih atas tumpangannya, Min-Woo. Aku harap aku tidak merepotmu tadi,” kata Sena yang sudah bersiap untuk ke luar. “Tidak masalah. T-tunggu sebentar, Sena.” Sena mengurungkan niatnya. Dia menatap Min-Woo yang tampak sedikit gelisah. Dia mengeluarkan ponsel berwarna senada dengan mobilnya dan menyerahkannya kepada Sena. “Bolehkah aku meminta nomormu?”tanya Min-Woo dengan ragu-ragu. Sena tersenyum tipis melihat Min-Woo yang mungkin sedang salah tingkah. Dia mengambil ponsel itu dan mengetik beberapa angka lalu memberikannya kembali kepada Min-Woo. Sena sedikit mengintip saat Min-Woo mengetik nama lalu menyimpan kontaknya. Dia tidak bisa melihat nomornya disimpan dengan menggunakan nama apa. “Hmm, kau menyimpan nomorku dengan nama apa?” tanya Sena. “Teman baruku, Sena.” Sena tertawa mendengarnya. Dia tidak menyangka nomornya akan disimpan dengan seperti itu. Menuru
Sena memandang ke arah jendela. Mengabaikan tatapan lelaki yang memesan minuman atas nama Man-Seok. Sena merasa sangat gegabah karena meminta tumpangan kepada laki-laki yang tidak dikenalinya. Dirinya merasa gusar saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya sudah memasuki pukul 11.45 malam. “Anda tidak menanyakan kemana tujuan saya?” Sena bertanya sambil melirik laki-laki itu sekilas. “Aku menunggumu untuk mengatakannya.” Sena yang mendengar jawaban dari laki-laki itu menghela napasnya pelan. “Baiklah, tolong antarkan saya ke kantor polisi di daerah Seocho.” “Kau tinggal di Seocho? Untuk apa kau ke kantor polisi di sana?” tanya laki-laki itu penasaran. Daerah Seocho sangat popular dijadikan tempat tinggal bagi kalangan menengah atau kelas atas di Seoul. Untuk Sena yang berpenghasilan pas-pasan, sangat mustahil baginya untuk memiliki tempat tinggal di sana. “Tidak, kebetulan kakak saya tinggal di sana. Dia menelepon saya untuk menjemputnya di kantor polisi,” jawa
Sena dengan pakaian kasualnya sudah berada di depan sebuah kafe yang sedang populer di tengah kota. Dengan mata yang masih sedikit mengantuk dia memencet tombol otomatis yang berada di samping pintu. Pintu kaca itu langsung terbuka secara horizontal. Seorang pekerja yang sudah memakai apron menyapa Sena dan memberinya sedikit instruksi untuk hal yang akan Sena lakukan pertama kali di pagi hari ini. Saat ini dia sedang disibukkan dengan membersihkan ruangan kafe. Masih ada waktu sejam lagi sebelum kafe ini buka. Sena sedikit kewalahan karena harus membersihkan meja dan lantai sekaligus. Karena pada pagi ini hanya akan ada beberapa pekerja saja, Sena dapat memastikan bahwa dirinya akan super sibuk dari siang hingga malam nanti. Dia menginkat rambutnya dengan rapi menggunakan ikat rambut berwarna biru. Kini, Sena sudah bersiap-siap di depan meja kasir. Selain menjaga kasir, dia juga akan menerima pesanan pelanggan dan melayaninya. Jam buka kafe ini pun sudah tiba. Posisi kasir yang te
Drrt drrt Ponsel Sena yang sengaja dia letak di dalam kantung blazernya bergetar. Sahabatnya, Da-Som, mengirimnya pesan singkat melalui sebuah aplikasi. Sebuah permintatolongan yang biasa Da-Som minta ketika dirinya sangat sibuk dengan kuliah strata duanya. Sena yang sedang berjalan sambil menenteng kantung belanjaan dari sebuah swalayan, hanya membalas pesan Da-Som dengan stiker andalannya. Dia tersenyum, setidaknya dengan membantu sahabatnya menggantikan pekerjaan sampingan, Sena bisa mengisi waktu kosong selama beberapa hari. Sena berjalan cepat, dia sangat kelaparan karena belum mengisi perutnya di siang hari. Dengan tidak makan di luar, Sena bisa menyimpan uangnya untuk keperluan yang lain. Apalagi makanan di pusat kota tidak semurah makanan di tempat asalnya. Sudah menjadi kebiasaan Sena membawa bekal sendiri saat bekerja dulu. Dia tidak mau selalu menghabiskan uang untuk makan di luar. Sesampainya di apartemen, Sena mengeluarkan ponselnya dan berniat memesan ayam goreng yang
Gedung-gedung tinggi mencakar langit sudah menjadi pemandangan biasa di tengah kota Seoul. Tidak sepadat di pagi hari, kondisi jalanan ramai lancar di siang hari. Seorang perempuan yang mengenakan setelan blazer hitam keluar dari Gedung yang baru saja siap direnovasi. Letak Gedung itu sangat strateg
Perempuan berumur dua puluh delapan tahun itu merekatkan mantel cokelatnya. Sena melangkah ke luar dari mobil. Perjalanan yang cukup jauh dia tempuh dari Seoul menuju Daegu membuatnya lelah. Kini dia telah sampai di depan kediaman orang tuanya yang berada di pinggiran desa. Suasana di pedesaan sepe












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.