Inicio / Romansa / CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2 / BAB 9 : KEDATANGAN MANTAN

Compartir

BAB 9 : KEDATANGAN MANTAN

Autor: Yoongina
last update Fecha de publicación: 2026-11-05 13:00:45

Angga dan Liana masih terdiam mendengar pertanyaan Ibran. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat menjawab. Liana kembali fokus pada halaman novel To Kill a Mockingbird di pangkuannya, seolah pertanyaan Jibran Adiraja dan segala kehebohannya barusan hanyalah selembar daun kering yang ditiup angin.

​Gadis itu dengan tenang membalik halaman, matanya menelusuri deretan kalimat ikonik dari karakter Atticus Finch yang sedang ia baca. "You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb into his skin and walk around in it."

​Sebuah filosofi tentang memahami sudut pandang orang lain sebelum menghakimi. Dan dari sudut pandang Liana yang kelewat rasional, Ibran saat ini hanyalah remaja laki-laki dengan hormon hyperactive yang sedang memancing reaksi. Tidak ada alasan untuk tersipu, marah, apalagi mengklarifikasi status hubungannya dengan Angga, yang memang tidak ada apa-apa. Mengabaikan pemuda itu adalah langkah yang paling efisien untuk menghemat energi.

​Ibran mengerjap-ngerjapkan matanya. Jari telunjuknya yang masih menunjuk dengan gaya detektif itu perlahan turun. Ia menatap kakaknya, lalu menatap Liana yang anteng membaca, bergantian.

​"Gue dikacangin, nih?" gumam Ibran tak percaya, merasa harga dirinya sebagai cowok paling terkenal se-Pelita Bangsa baru saja terluka. "Halo? Cek sound? Kak Angga? Mbak Kacamata? Ini nggak ada yang mau ngejawab tuduhan valid gue barusan?"

​Melihat wajah frustrasi adiknya, Angga mendengus geli. Di dalam kepalanya, pemuda dingin itu merasa luar biasa takjub. Liana baru saja melakukan apa yang bahkan Zea dan Ziva sering kesulitan lakukan di rumah. Yaitu membungkam Jibran dengan silent treatment yang elegan dan tanpa effort.

​"Pertanyaan lo nggak punya landasan hukum sama sekali, Bran. Terlalu banyak asumsi dan tidak ada bukti. Nggak ada urgensinya buat dijawab," sahut Angga dengan suara baritonnya yang tenang.

​Pemuda jangkung itu perlahan bangkit berdiri dari bangku taman. Ia menepuk bahu adiknya dengan gaya meremehkan. "Mending lo balik ke rumah sekarang. Atau lo mau nunggu anjing pudel itu balik lagi dan ngajak lo lari maraton part dua?"

​Mendengar kata 'anjing pudel', Ibran langsung bergidik ngeri. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling taman dengan waspada. "Sialan lo, Kak. Awas aja, rahasia lo ini bakal gue bongkar di meja makan nanti!" ancamnya, meski sedetik kemudian pemuda itu langsung mengambil langkah seribu melarikan diri menuju arah rumah.

​Setelah Ibran menjauh dan menghilang di balik pepohonan, Angga menoleh kembali ke arah Liana. Gadis itu masih mempertahankan ketenangannya dengan membaca buku.

​"Adik gue memang kayak gitu. Genetiknya agak menyimpang dari keluarga," ucap Angga singkat, memberikan penjelasan yang sangat jarang ia lakukan kepada siapa pun.

​Liana menghentikan bacaannya. Ia mendongak menatap Angga, lalu sudut bibirnya tertarik sedikit, membentuk senyum tipis yang entah kenapa membuat jantung Angga kembali berdesir halus.

​"Karakternya sangat... dinamis. Cukup menghibur untuk dijadikan bahan observasi psikologi remaja," balas Liana santai.

​Angga terkekeh pelan. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana training-nya. "Gue duluan, Liana. Enjoy your Atticus Finch."

​Liana mengangguk kecil, membalas tatapan pemuda itu dengan tenang. "Bye, Anggara."

​Angga memutar tubuhnya dan mulai melangkah pergi menyusuri jogging track. Sambil berlari kecil menuju rumahnya di Blok A, seulas senyum tipis terukir di wajah tampan Anggara Adiraja. Kehidupannya yang kaku, sepertinya akan menjadi jauh lebih menarik mulai hari ini.

***

​"Sialan lo, Kak!" gerutu Ibran kesal saat menatap layar ponselnya.

​Di sana, terpampang jelas foto aib dirinya yang sedang lari kocar-kacir dikejar anjing pudel milik Bu RT di taman kompleks pagi tadi. Tanpa ampun, Ziva telah menyebarkan foto memalukan itu ke grup obrolan keluarga mereka, Adiraja Squad.

​Di seberang sofa, Ziva tertawa terbahak-bahak sampai harus memegangi perutnya. Ia merasa sangat puas melihat ekspresi kesal di wajah adiknya itu. Si bungsu yang selama ini selalu menjadi sumber kejahilan dan tidak pernah takut pada apa pun, ternyata bisa kehilangan seluruh harga dirinya hanya karena seekor anjing kecil yang lucu.

Melihat kakaknya tertawa di atas penderitaannya, mata Ibran langsung menyipit tajam. Harga dirinya sebagai cowok paling keren di SMA Pelita Bangsa tidak boleh hancur hanya karena foto dirinya berlari karena dikejar seekor anjing pudel.

​"Lo pikir ini lucu, Kak?!" seru Ibran dengan nada mengancam.

​Pemuda jangkung itu melempar ponselnya sembarangan ke atas karpet, lalu dengan gerakan secepat kilat menerjang Ziva yang sedang asyik tertawa di atas sofa. Tanpa ampun, jari-jari panjang Ibran langsung menyerang kedua sisi pinggang Ziva—titik kelemahan paling mematikan bagi gadis itu.

​"WAAAAA! IBRAN! Geli! Hahahaha! Udah! Ampuuun!" Ziva menjerit histeris. Tubuhnya menggeliat ke sana kemari, menendang-nendang udara berusaha menghindari serangan mematikan adiknya.

​Namun Ibran sama sekali tidak peduli. Ia malah semakin gencar menggelitik perut dan pinggang kakaknya.

​"Biarin aja seisi grup keluarga ngetawain gue! Mama, Papa, sama Kak Angga biarin aja udah lihat! Tapi awas aja ya, sampai lo berani forward foto aib itu ke Ghea, gue botakin rambut lo pas tidur!" ancam Ibran, jari-jarinya terus bergerak lincah tanpa memberi celah bagi Ziva untuk bernapas.

​"Hahaha! Ide bagus! Kayaknya Ghea harus tahu wujud asli cowok sok keren yang ngejar-ngejar dia—Aduh! IBRAN! Hahaha! Tolooong!Papaaaaa," teriak Ziva di sela tawa yang membuat napasnya putus-putus. Air mata bahkan sampai keluar dari sudut matanya saking gelinya.

​"Oh, malah nantangin?! Lo pikir Papa bakal dengar dan nyelametin lo? Rasakan ini, jurus kelitikan maut!" Ibran memindahkan sasarannya ke leher dan telapak kaki Ziva, membuat jeritan kakaknya semakin melengking memenuhi ruang keluarga Griya Zadewa.

​"Iya, iya! Nggak gue kirim! Hahaha! Ibran, stop! Gue nggak bisa napas, gila!" Ziva akhirnya mengibarkan bendera putih, menepuk-nepuk lengan adiknya dengan sisa tenaga.

​Ibran menghentikan serangannya, menatap kakaknya dengan napas ikut terengah-engah dan senyum penuh kemenangan. "Mana hape lo? Siniin! Gue mau pastiin sendiri foto itu nggak nyasar ke room chat Ghea!" tuntut Ibran sambil menengadahkan tangannya, sementara Ziva masih terkapar lemas di sofa sambil memegangi perutnya yang kaku akibat terlalu banyak tertawa.

Baru saja Ziva hendak menyerahkan ponselnya dengan napas tersengal, sebuah suara bariton yang berat dan dingin tiba-tiba memotong keributan mereka.

​Angga yang baru saja tiba dari taman komplek sudah berdiri di ambang batas ruang keluarga. Postur tegapnya membuat sisa tawa di ruangan itu menguap seketika. Pemuda itu memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana, menatap lurus ke arah adik perempuannya yang masih terkapar berantakan di atas sofa akibat ulah Ibran.

​"Ziva," panggil Angga dengan nada datar dan raut wajah tak terbaca, sepenuhnya mengabaikan Jibran. "Keluar sekarang. Farhan, sudah menunggu di depan."

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (3)
goodnovel comment avatar
Nopphy_lolipop
hahaha.maraton ini
goodnovel comment avatar
Yoongina
Wahh udh di bab 9 aja wkwkwk semangat kak nopphy hahaha
goodnovel comment avatar
Nopphy_lolipop
bahagia akuu hari kak gin. maraton bacanya. apakabar kak yociiii......🩷🩷🩷
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 10 : KEKASIH YANG POSESIF

    Mendengar nama itu disebut, tawa yang sejak tadi meledak di bibir Ziva menghilang tanpa sisa. Wajah gadis itu mendadak kaku, senyumnya luntur seketika. Bahkan Ibran yang biasanya tidak peka terhadap situasi, refleks melepaskan cengkeramannya dari pinggang sang kakak dan ikut menoleh ke arah Angga dengan kening berkerut. ​"Ngapain tuh cowok toxic ke sini?" decak Ibran sinis, bangkit berdiri sambil merapikan kausnya yang kusut. "Belum puas dia neror hape Kak Ziva dari semalam sampai baterainya drop?" ​Angga tidak menjawab Ibran. Mata elangnya masih menatap lurus pada Ziva yang kini perlahan bangkit dari sofa, merapihkan rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar. ​"Kalau lo nggak mau ketemu dia, gue bakal suruh satpam depan buat ngusir dia sekarang juga," tawar Angga dingin. Bagi Angga, tidak ada satupun hal yang boleh mengganggu ketenangan keluarganya. Ziva menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan debar jantungnya. Ia men

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 9 : KEDATANGAN MANTAN

    Angga dan Liana masih terdiam mendengar pertanyaan Ibran. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat menjawab. Liana kembali fokus pada halaman novel To Kill a Mockingbird di pangkuannya, seolah pertanyaan Jibran Adiraja dan segala kehebohannya barusan hanyalah selembar daun kering yang ditiup angin. ​Gadis itu dengan tenang membalik halaman, matanya menelusuri deretan kalimat ikonik dari karakter Atticus Finch yang sedang ia baca. "You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb into his skin and walk around in it." ​Sebuah filosofi tentang memahami sudut pandang orang lain sebelum menghakimi. Dan dari sudut pandang Liana yang kelewat rasional, Ibran saat ini hanyalah remaja laki-laki dengan hormon hyperactive yang sedang memancing reaksi. Tidak ada alasan untuk tersipu, marah, apalagi mengklarifikasi status hubungannya dengan Angga, yang memang tidak ada apa-apa. Mengabaikan pemuda itu adalah langkah yang paling efisien un

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 8 : KETENANGAN LIANA

    Angin pagi berembus lembut melintasi permukaan danau buatan, membawa hawa sejuk yang menyapa kulit. Di bawah bayangan pohon trembesi yang rindang, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Angga. ​Otak pemuda itu biasanya bekerja cepat seperti ayahnya, dan tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Namun pagi ini, semua isi di kepalanya seakan terhenti hanya karena melihat seorang gadis. ​Angga melangkah perlahan mendekati bangku taman itu. Sepatu olah raganya tidak menimbulkan suara saat menginjak aspal paving. Dari jarak sedekat ini, Angga bisa mengamati sosok gadis itu dengan lebih detail. ​Ia sedang membaca novel tebal bersampul klasik, To Kill a Mockingbird. Jari-jarinya yang lentik membalik halaman dengan tenang. Tidak ada riasan di wajahnya, hanya kulit wajah yang bersih, cerah, dan rona merah alami akibat udara pagi. Wangi parfum Jo Malone Wood Sage & Sea Salt tercium dari arah tubuhnya, membaur sempurna dengan aroma kopi Americano di sebelahnya. Santa

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 7 : SIAPA DIA?

    "Assalamualaikum." ​Suara bariton yang berat dan tenang memecah hiruk-pikuk di ruang makan Griya Zadewa. Anggara baru saja membuka pintu utama dan melangkah masuk. Pemuda jangkung itu berjalan menghampiri meja makan di mana seluruh keluarganya telah berkumpul, memancarkan rasa lelah yang justru membuat wajah tampannya terlihat semakin menawan. ​"Kenapa baru pulang jam segini, Angga?" tegur Dewa layaknya seorang ayah yang menuntut laporan karena putranya pulang melebihi jam tujuh malam. ​Angga menarik kursi di sebelah Ibran, menghela napas panjang untuk melepaskan penatnya, lalu membalas singkat, "Nemenin Sena kumpul sama teman-temannya dulu di kafe tadi, Pa." Tanpa dosa, tangan Angga terulur mencomot tahu goreng terakhir yang ada di atas piring adiknya. ​"Ck! Kenapa ambil punya gue sih, Kak?!" protes Ibran tak terima. Ia buru-buru menoleh ke piring saji di tengah meja untuk mengamankan satu-satunya tahu goreng yang tersisa. Namun, tangannya kalah cepat oleh garpu Ziva yang men

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 6 : GEN ADIRAJA

    "JIBRANNN!" ​Teriakan melengking Zea membahana dari lantai dasar, memantul di dinding-dinding marmer Griya Zadewa hingga nyaris membuat lampu gantung kristal di ruang tamu bergetar hebat. Para asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruang keluarga seketika menunduk, mendadak sibuk mengelap vas bunga yang sebenarnya sudah mengkilap, tak berani mencari gara-gara dengan sang Nyonya Rumah. ​Zea baru saja tiba dari Mahkamah Agung. Wanita cantik itu bahkan belum sempat mengganti kemeja sutra dan blazer kerjanya, apalagi melepas sepatu hak tingginya. Tas kerjanya ia letakkan sembarangan di atas sofa ruang tamu, sementara dadanya naik turun menahan emosi. ​"Kenapa teriak-teriak sih, Sayang? Suaramu itu aset negara, jangan dihabiskan untuk marah-marah." ​Sebuah suara bariton yang dalam dan berat terdengar bersamaan dengan sepasang lengan kekar yang tiba-tiba melingkar erat di pinggang Zea dari arah belakang. Dewa, yang rupanya baru saja masuk menyusul istrinya dari garasi, tanpa

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 5 : DITOLAK LAGI

    Suasana kelas XI-IPA 1 mendadak hening begitu Pak Yoyo, guru Matematika paling disiplin seantero SMA Internasional Pelita Bangsa, mulai menggoreskan spidol hitamnya di papan tulis. Deretan rumus logaritma yang terlihat seperti bahasa alien mulai memenuhi papan putih itu. ​Bagas, yang duduk di barisan belakang, mencuri pandang ke sebelah kirinya. Matanya membulat tak percaya melihat Jibran masih duduk tegak di dalam kelas. Pasalnya, Jibran itu sudah diangkat jadi ketua Osis tahun ini, dan diluar sana adik-adik kelas yang cantik dan ganteng sudah menunggu pidatonya untuk membuka acara Orientasi siswa baru. Tangan Ibran justru masih memegang pena, matanya menatap lurus ke depan dengan raut wajah sok serius dan penuh konsentrasi. ​Namun, jika diperhatikan lebih teliti, tatapan Ibran sama sekali tidak tertuju pada rumus logaritma di papan tulis. Fokus sepasang mata elang pemuda itu terkunci rapat pada punggung kecil berbalut cardigan pink yang duduk tepat di barisan depannya. Ghea Cal

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status