Home / Romansa / CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2 / BAB 6 : GEN ADIRAJA

Share

BAB 6 : GEN ADIRAJA

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-10-08 20:04:13

"JIBRANNN!"

​Teriakan melengking Zea membahana dari lantai dasar, memantul di dinding-dinding marmer Griya Zadewa hingga nyaris membuat lampu gantung kristal di ruang tamu bergetar hebat. Para asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruang keluarga seketika menunduk, mendadak sibuk mengelap vas bunga yang sebenarnya sudah mengkilap, tak berani mencari gara-gara dengan sang Nyonya Rumah.

​Zea baru saja tiba dari Mahkamah Agung. Wanita cantik itu bahkan belum sempat mengganti kemeja sutra dan blazer kerjanya, apalagi melepas sepatu hak tingginya. Tas kerjanya ia letakkan sembarangan di atas sofa ruang tamu, sementara dadanya naik turun menahan emosi.

​"Kenapa teriak-teriak sih, Sayang? Suaramu itu aset negara, jangan dihabiskan untuk marah-marah."

​Sebuah suara bariton yang dalam dan berat terdengar bersamaan dengan sepasang lengan kekar yang tiba-tiba melingkar erat di pinggang Zea dari arah belakang. Dewa, yang rupanya baru saja masuk menyusul istrinya dari garasi, tanpa aba-aba langsung mendaratkan kecupan panjang di pipi Zea, menghirup aroma parfum istrinya dalam-dalam.

​"Kamu sibuk banget seharian di pengadilan, jadwal sidangmu padat. Aku kangen," bisik Dewa dengan nada serak, menumpukan dagunya di bahu sang istri, bergelayut manja layaknya seekor koala raksasa yang menolak dilepaskan dari pohon eukaliptusnya.

Di usia yang telah mencapai pertengahan empat puluhan, Sadewa Adiraja menjelma menjadi seorang suami yang bucinnya pada sang istri telah mencapai titik tertinggi.

​"Shhh... Kak! Lepas ih, aku lagi kesal ini!" Zea mendengus, mendorong dada suaminya menjauh dengan kedua tangan.

​Dewa mengerucutkan bibirnya sedikit, ekspresi yang hanya berani ia tunjukkan pada Zea seorang. "Siapa yang berani bikin Yang Mulia Hakim kesal? Jaksa Penuntut Umum? Atau Jibran? Iya?" tebak Dewa dengan sangat akurat. Karena biasanya, alasan istrinya marah-marah cuma tiga. JPU, Pengacara ngeyel, dan terakhir si bungsu Jibran.

​"Iya! Anak bungsumu itu lagi-lagi menjahili anak gadisnya Bu Juliana, tetangga kita di Blok F!" omel Zea, melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya ditekuk sempurna.

​Dewa mengerutkan keningnya sejenak, mencoba mengingat-ingat silsilah penghuni kompleks perumahan elit mereka. "Anak Bu Juliana... Ghea?"

​"Hmm!" sahut Zea tajam. "Tadi sore, waktu aku masih meeting internal majelis, Ghea mengirimkan pesan panjang lebar padaku. Dia mengadukan kelakuan Jibran sambil nangis-nangis pakai voice note!"

​Bukannya panik atau bersiap menghukum putranya, raut wajah Dewa mendadak berubah cerah. Sudut bibir pria itu malah tertarik ke atas, membentuk sebuah tawa renyah yang luar biasa tampan di usianya yang semakin bertambah, namun sangat salah tempat.

​Melihat reaksi suaminya, Zea merengut kesal. Tanpa ampun, jari lentik Zea mendarat di perut rata suaminya dan memberikan cubitan maut yang bisa dipastikan akan meninggalkan bekas kebiruan esok pagi.

​"Aw! Aw! Sayang, ampun!" Dewa meringis kesakitan, refleks mundur selangkah sambil mengusap-usap perutnya yang terasa panas akibat capit kepiting istrinya. "KDRT ini namanya, Ze!"

​"Malah ketawa! Anakmu bikin anak orang nangis, Kak!" sembur Zea galak.

​"Ya lagian kamu, aku pikir Jibran bikin masalah apa sampai diancam DO dari sekolah. Ternyata masalah Ghea?" Dewa kembali tertawa pelan, meski tangannya masih mengusap perut. "Jibran itu suka sama Ghea, Sayang. Itu namanya flirting gaya anak SMA. Cara cari perhatian. Selagi milai akademisnya tetap jadi juara umum, aku tidak akan melarang dia untuk menyukai teman gadisnya."

​"Lho, Kak Dewa kok malah membiarkan Jibran cinta-cintaan?!" Zea membelalakkan matanya, tidak percaya dengan pembelaan suaminya. "Dia itu belum tujuh belas tahun, Kak! Masih kelas sebelas! Tugas dia itu belajar, bukan jadi playboy kompleks! Lagipula, masa cari perhatian kok bikin anak orang menangis?!"

​"Sayang, coba kamu ingat-ingat lagi," Dewa melangkah maju, kembali menipiskan jarak di antara mereka dengan senyum menggoda. "Waktu aku baru jadi dosenmu dulu dan aku menunjukmu jadi asisten penelitian, aku juga sering bikin kamu menangis karena selalu aku suruh koreksi bahan resumemu kan? Cara pendekatan gen Adiraja itu memang sedikit... unik. Tapi pada akhirnya kan targetnya selalu bertekuk lutut."

​"Itu karena kamu dari dulu memang menyebalkan—"

​"Ma... Pa..."

​Sebuah suara santai dari atas tangga memotong perdebatan kedua orang tuanya.

​Zea dan Dewa serempak mendongak. Di ujung atas tangga marmer itu, Jibran berdiri dengan santai. Remaja jangkung itu mengenakan kaus hitam oversized dan celana pendek selutut. Tangan kirinya memegang sebungkus keripik kentang, sementara tangan kanannya menggenggam stick PlayStation 5. Sangat jauh dari definisi 'anak rajin yang sedang sibuk'.

​"Jadi manggil Ibran nggak sih?" tanya Ibran dengan wajah tanpa dosa, mencomot sepotong keripik dan memasukkannya ke dalam mulut. "Ibran lagi ngerjain PR nih di kamar. Dari tadi Mama teriak-teriak terus, kedengaran sampai headset Ibran."

​Zea yang melihat kemunculan anak bungsunya, dipadukan dengan kebohongan tentang 'ngerjain PR' padahal jelas-jelas memegang stick PS5, merasakan tekanan darahnya melesat naik hingga ke ubun-ubun.

​"Oh, ngerjain PR ya? Pakai stick PS? Bagus sekali kurikulum Pelita Bangsa sekarang!" sindir Zea tajam. Ia melangkah cepat menuju anak tangga pertama. "Turun kamu, Jibran Adiraja!"

​Melihat wajah Mamanya yang sudah semerah kepiting rebus dan aura membunuh, insting bertahan hidup Ibran langsung menyala. Remaja pemberani yang tidak pernah takut pada guru killer atau preman terminal itu, mendadak menelan ludah dengan susah payah. Kakinya secara otomatis mundur satu langkah. Mamanya adalah satu-satunya orang yang ia takuti kalau sedang marah seperti ini.

​"Eh... PR Ibran yang ini harus mode multiplayer, Ma. Ibran balik ke kamar dulu ya, udah ditungguin temen—"

​"Jangan lari kamu!" teriak Zea saat melihat putranya mencoba melarikan diri.

​Tanpa mempedulikan blazer atau sepatu hak tingginya, Zea mengangkat sedikit ujung roknya dan mulai berlari menaiki tangga.

​"Mama! Ampun, Ma! Ibran nggak ngapa-ngapain!" jerit Ibran panik. Ia melempar keripik kentangnya ke sembarang arah dan langsung mengambil langkah seribu, lari terbirit-birit menyusuri lorong lantai dua menuju kamarnya.

​"Sayang! Ya Tuhan, Zea! Jangan lari pakai heels, nanti kamu jatuh!" Dewa yang tadinya hanya menonton kini ikut panik luar biasa. Pria berwibawa itu langsung berlari menyusul istrinya menaiki tangga. "Biar aku yang tangkap Ibran! Kamu tunggu di bawah saja, Ya!"

​Namun Zea tidak peduli. Ia terus mengejar Ibran hingga remaja itu berhasil melesat masuk ke dalam kamarnya.

​Brak! Klik!

​Bunyi pintu kayu mahoni yang ditutup dan dikunci dari dalam terdengar nyaring sesaat sebelum Zea tiba di depan pintu. Wanita itu menggedor pintu kamar putranya dengan kepalan tangan.

​"Buka pintunya, Jibran! Jangan jadi pengecut! Buka, atau Mama suruh Papa bongkar pintu kamu sekarang juga!" ancam Zea dengan nada tinggi, napasnya terengah-engah.

​Dewa akhirnya tiba di belakang Zea, langsung memegang bahu istrinya dengan lembut untuk menenangkannya. "Sabar, Sayang, sabar. Tarik napas dulu. Jangan sampai emosi."

​Dewa kemudian menempelkan telinganya ke daun pintu, lalu mengetuknya dengan gaya elegan. "Ibran, ini Papa. Buka pintunya, Jagoan. Menyerahlah. Daripada semua kartu kredit, kunci motor, beserta PS5 kamu diblokir ibu negara."

​Dari dalam kamar, terdengar suara rengekan Ibran. "Ibran nggak salah, Pa! Ghea aja yang lebay!"

​"Buka dulu pintunya!" seru Zea lagi.

​Perlahan, terdengar bunyi kunci diputar. Pintu terbuka sedikit, hanya seukuran celah kecil yang cukup untuk Ibran mengintip dengan sebelah mata. Raut wajah pemuda jahil itu terlihat sangat waswas, persis seperti maling yang tertangkap basah.

​"Ibran cuma ngirim Makanan buat Ghea, Ma. Sumpah, niat Ibran baik," cicit Ibran dari balik pintu, mencoba membela diri sebelum dieksekusi.

​Zea menolak celah pintu itu dan mendorongnya hingga terbuka lebar, membuat Ibran terdorong mundur. Zea masuk ke dalam kamar putranya dengan berkacak pinggang, sementara Dewa mengikuti dari belakang.

​"Niat baik dari mana?!" omel Zea, matanya melotot tajam. "Kamu tahu kan Ghea sedang diet mati-matian karena mau ada acara balet minggu depan? Bu Juliana bilang, Ghea sampai rela makan apel doang tiap malam. Terus kamu dengan seenaknya mengirimkan lima porsi beef burger ke rumahnya jam empat sore tadi?!"

​Dewa yang baru mendengar detail kejahilan putranya itu, mendadak menggigit bagian dalam bibirnya kuat-kuat. Ia menunduk, berusaha keras menahan tawa yang nyaris menyembur keluar. Mengirim lima beef burger ke rumah perempuan yang sedang diet ketat? Itu benar-benar serangan psikologis tingkat tinggi.

​"Kan Ibran khawatir dia kurang gizi, Ma, Ghea udah kurus banget, walaupun tetap cantik sih," jawab Ibran polos, matanya mengerjap-ngerjap tanpa dosa. "Lagian, Ibran udah request ke driver-nya supaya dikasih notes khusus di bonnya."

​"Oh ya?!" Zea berkacak pinggang semakin galak. "Kamu tahu apa yang tertulis di notes itu? 'Makan yang banyak, Tuan Putri. Pipi lo kalau tirus nggak enak dicubit'. Begitu kan?! Ghea langsung nangis histeris ngeliat burger favoritnya itu di meja makannya, Jibran! Tante Juliana sampai harus menyembunyikan burgernya di dapur supaya Ghea nggak tantrum!"

​Pertahanan Dewa akhirnya runtuh. Suara dengusan tawa keluar dari bibirnya. Pria berjas itu buru-buru memutar tubuh, berpura-pura terbatuk sambil menutup mulutnya, sementara bahunya bergetar menahan geli. Ibran yang melihat reaksi ayahnya langsung tersenyum bangga, merasa mendapat dukungan moral.

​"Kak Dewa!" tegur Zea dengan suara melengking. "Ini tidak lucu! Kenapa kamu malah ikut-ikutan menertawakan penderitaan anak orang?!"

​Dewa langsung memutar tubuhnya lagi, wajah tawanya dalam sekejap berubah menjadi sangat tegas dan berwibawa seperti saat ia berada di ruang sidang. Ia menatap Ibran dengan tatapan menghakimi.

​"Ibran! Kamu ini..." Dewa menunjuk putranya, lalu menghela napas panjang dengan nada penuh wibawa. "...Kenapa cuma lima porsi? Kan Tante Juliana dan Om Rio juga pasti mau. Setidaknya kamu kirim sepuluh porsi supaya sekeluarga bisa pesta burger."

​"Kak Dewa!!" Zea memukul lengan suaminya dengan keras, membuat Dewa kembali meringis kesakitan. "Kamu bukannya menasihati anakmu, malah mengajarinya yang tidak benar! Kalian berdua ini benar-benar ya!"

​Dewa buru-buru merangkul istrinya, mengusap bahu Zea untuk meredakan amarahnya. "Iya, iya, maaf, Sayang. Becanda." Dewa lalu menatap Ibran dengan raut wajah yang seratus persen serius. "Dengar, Ibran. Menarik perhatian perempuan itu ada seninya. Kalau kamu memang suka sama Ghea, dekati dia dengan cara yang elegan. Seperti cara Papa mendekati Mama dulu."

​Ibran mendengus pelan, bersedekap dada. "Cara Papa kan creepy. Kata Eyang putri, Papa dulu sering ngasih tugas kuliah."

​Zea melotot pada suaminya. "Tuh, denger anakmu! Ajaran macam apa yang kamu wariskan ke dia?!"

​"Itu namanya strategi, Jibran! Bukan creepy!" bantah Dewa tak terima harga dirinya dijatuhkan di depan sang istri. "Intinya, perbuatanmu hari ini masuk kategori perbuatan tidak menyenangkan. Sebagai hukumannya, vonis dari Mama dan Papa sudah jelas."

​Dewa menatap Zea, memberikan isyarat agar istrinya yang membacakan 'hukuman' itu. Zea menarik napas panjang, merapikan kemejanya yang sedikit kusut akibat kejar-kejaran tadi, lalu menatap anak bungsunya dengan tegas.

​"Malam ini juga, habis Mama mandi, kamu ikut Mama ke rumah Bu Juliana. Kamu harus minta maaf langsung sama Ghea, dan kamu harus bawakan dia satu box salad buah premium sebagai ganti rugi serangan mental burgermu itu, dan jangan ganggu Ghea lagi," vonis Zea, tidak menerima bantahan. "Berani membantah, dan kunci motormu Mama sita sebulan."

​Ibran menghela napas pasrah, menundukkan kepalanya dengan lesu. "Iya, Ma. Ibran minta maaf. Nanti Ibran bawain salad buah segede gaban ke rumahnya."

​Melihat putranya yang jahil itu akhirnya tertunduk patuh, hati Zea seketika melembut. Ia mengusap rambut ikal Ibran dengan sayang. "Makanya, kalau suka sama anak orang, dijaga, disayang, bukan malah dibikin nangis terus. Paham?"

​"Paham, Ma," gumam Ibran, diam-diam melirik ke arah ayahnya.

​Dewa yang berdiri di belakang Zea, membalas tatapan putranya itu. Pria dewasa itu mengedipkan sebelah matanya dengan jahil, lalu tanpa sepengetahuan Zea, Dewa mengacungkan jempolnya ke arah Ibran. Sebuah isyarat rahasia antar laki-laki yang artinya : Usaha yang bagus, Jagoan. Nanti Papa ajari taktik mengambil hati tingkat lanjut.

​Zea yang menyadari interaksi hening ayah dan anak itu, dalam satu gerakan kilat, tangan kirinya sukses menarik daun telinga Ibran, sementara tangan kanannya mendaratkan cubitan maut tepat di otot lengan Dewa.

​"AARRRRHHH....! ZEA, AMPUN SAYANG, BERCANDAA...! OTOTKU BISA KENDUR INI...!" lolong Dewa, seketika melupakan harga dirinya sebagai pengacara paling ditakuti se-Indonesia.

​"MAA.... AMPUN MAAA...! JANGAN DIJEWER! IBRAN KAN MASIH MASA PERTUMBUHAN, NANTI KUPING IBRAN PANJANG SEBELAH MAAA...!" jerit Ibran tak kalah histeris, membuat keributan di dalam kamar itu semakin sempurna.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 11 : KEKHAWATIRAN DEWA

    Decit ban yang beradu dengan aspal terdengar nyaring memecah keheningan saat Farhan menginjak pedal rem secara mendadak. Honda Civic hitam itu berhenti mendadak tepat di depan taman kompleks yang sudah mulai sepi. Sentakan keras membuat tubuh Ziva terdorong ke depan, tertahan oleh seatbelt yang mengunci tubuhnya. ​Napas memburu Farhan yang sejak tadi dikuasai amarah perlahan mereda. Perlahan, raut wajah tampan yang sebelumnya mengeras itu kini tertunduk lesu. Pemuda itu menarik napas panjang yang terdengar sedikit gemetar, lalu menyandarkan keningnya dengan putus asa pada kemudi setir. ​Ziva, yang wajahnya sudah bersimbah air mata karena panik dan ditarik paksa masuk kedalam mobil, kini membeku. Ia menatap bingung sekaligus waspada ke arah bahu tegap Farhan yang mulai berguncang pelan. ​"Maafkan aku..." lirih Farhan, suaranya pecah oleh isak tertahan yang menyayat hati. "Aku... aku terpaksa ngelakuin semua ini karena aku benar-benar mencintaimu, Ziva." ​Ziva terdiam kaku. Jant

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 10 : KEKASIH YANG POSESIF

    Mendengar nama itu disebut, tawa yang sejak tadi meledak di bibir Ziva menghilang tanpa sisa. Wajah gadis itu mendadak kaku, senyumnya luntur seketika. Bahkan Ibran yang biasanya tidak peka terhadap situasi, refleks melepaskan cengkeramannya dari pinggang sang kakak dan ikut menoleh ke arah Angga dengan kening berkerut. ​"Ngapain tuh cowok toxic ke sini?" decak Ibran sinis, bangkit berdiri sambil merapikan kausnya yang kusut. "Belum puas dia neror hape Kak Ziva dari semalam sampai baterainya drop?" ​Angga tidak menjawab Ibran. Mata elangnya masih menatap lurus pada Ziva yang kini perlahan bangkit dari sofa, merapihkan rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar. ​"Kalau lo nggak mau ketemu dia, gue bakal suruh satpam depan buat ngusir dia sekarang juga," tawar Angga dingin. Bagi Angga, tidak ada satupun hal yang boleh mengganggu ketenangan keluarganya. Ziva menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan debar jantungnya. Ia men

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 9 : KEDATANGAN MANTAN

    Angga dan Liana masih terdiam mendengar pertanyaan Ibran. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat menjawab. Liana kembali fokus pada halaman novel To Kill a Mockingbird di pangkuannya, seolah pertanyaan Jibran Adiraja dan segala kehebohannya barusan hanyalah selembar daun kering yang ditiup angin. ​Gadis itu dengan tenang membalik halaman, matanya menelusuri deretan kalimat ikonik dari karakter Atticus Finch yang sedang ia baca. "You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb into his skin and walk around in it." ​Sebuah filosofi tentang memahami sudut pandang orang lain sebelum menghakimi. Dan dari sudut pandang Liana yang kelewat rasional, Ibran saat ini hanyalah remaja laki-laki dengan hormon hyperactive yang sedang memancing reaksi. Tidak ada alasan untuk tersipu, marah, apalagi mengklarifikasi status hubungannya dengan Angga, yang memang tidak ada apa-apa. Mengabaikan pemuda itu adalah langkah yang paling efisien un

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 8 : KETENANGAN LIANA

    Angin pagi berembus lembut melintasi permukaan danau buatan, membawa hawa sejuk yang menyapa kulit. Di bawah bayangan pohon trembesi yang rindang, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Angga. ​Otak pemuda itu biasanya bekerja cepat seperti ayahnya, dan tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Namun pagi ini, semua isi di kepalanya seakan terhenti hanya karena melihat seorang gadis. ​Angga melangkah perlahan mendekati bangku taman itu. Sepatu olah raganya tidak menimbulkan suara saat menginjak aspal paving. Dari jarak sedekat ini, Angga bisa mengamati sosok gadis itu dengan lebih detail. ​Ia sedang membaca novel tebal bersampul klasik, To Kill a Mockingbird. Jari-jarinya yang lentik membalik halaman dengan tenang. Tidak ada riasan di wajahnya, hanya kulit wajah yang bersih, cerah, dan rona merah alami akibat udara pagi. Wangi parfum Jo Malone Wood Sage & Sea Salt tercium dari arah tubuhnya, membaur sempurna dengan aroma kopi Americano di sebelahnya. Santa

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 7 : SIAPA DIA?

    "Assalamualaikum." ​Suara bariton yang berat dan tenang memecah hiruk-pikuk di ruang makan Griya Zadewa. Anggara baru saja membuka pintu utama dan melangkah masuk. Pemuda jangkung itu berjalan menghampiri meja makan di mana seluruh keluarganya telah berkumpul, memancarkan rasa lelah yang justru membuat wajah tampannya terlihat semakin menawan. ​"Kenapa baru pulang jam segini, Angga?" tegur Dewa layaknya seorang ayah yang menuntut laporan karena putranya pulang melebihi jam tujuh malam. ​Angga menarik kursi di sebelah Ibran, menghela napas panjang untuk melepaskan penatnya, lalu membalas singkat, "Nemenin Sena kumpul sama teman-temannya dulu di kafe tadi, Pa." Tanpa dosa, tangan Angga terulur mencomot tahu goreng terakhir yang ada di atas piring adiknya. ​"Ck! Kenapa ambil punya gue sih, Kak?!" protes Ibran tak terima. Ia buru-buru menoleh ke piring saji di tengah meja untuk mengamankan satu-satunya tahu goreng yang tersisa. Namun, tangannya kalah cepat oleh garpu Ziva yang men

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 6 : GEN ADIRAJA

    "JIBRANNN!" ​Teriakan melengking Zea membahana dari lantai dasar, memantul di dinding-dinding marmer Griya Zadewa hingga nyaris membuat lampu gantung kristal di ruang tamu bergetar hebat. Para asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruang keluarga seketika menunduk, mendadak sibuk mengelap vas bunga yang sebenarnya sudah mengkilap, tak berani mencari gara-gara dengan sang Nyonya Rumah. ​Zea baru saja tiba dari Mahkamah Agung. Wanita cantik itu bahkan belum sempat mengganti kemeja sutra dan blazer kerjanya, apalagi melepas sepatu hak tingginya. Tas kerjanya ia letakkan sembarangan di atas sofa ruang tamu, sementara dadanya naik turun menahan emosi. ​"Kenapa teriak-teriak sih, Sayang? Suaramu itu aset negara, jangan dihabiskan untuk marah-marah." ​Sebuah suara bariton yang dalam dan berat terdengar bersamaan dengan sepasang lengan kekar yang tiba-tiba melingkar erat di pinggang Zea dari arah belakang. Dewa, yang rupanya baru saja masuk menyusul istrinya dari garasi, tanpa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status