LOGINSuasana kelas XI-IPA 1 mendadak hening begitu Pak Yoyo, guru Matematika paling disiplin seantero SMA Internasional Pelita Bangsa, mulai menggoreskan spidol hitamnya di papan tulis. Deretan rumus logaritma yang terlihat seperti bahasa alien mulai memenuhi papan putih itu.
Bagas, yang duduk di barisan belakang, mencuri pandang ke sebelah kirinya. Matanya membulat tak percaya melihat Jibran masih duduk tegak di dalam kelas. Pasalnya, Jibran itu sudah diangkat jadi ketua Osis tahun ini, dan diluar sana adik-adik kelas yang cantik dan ganteng sudah menunggu pidatonya untuk membuka acara Orientasi siswa baru. Tangan Ibran justru masih memegang pena, matanya menatap lurus ke depan dengan raut wajah sok serius dan penuh konsentrasi. Namun, jika diperhatikan lebih teliti, tatapan Ibran sama sekali tidak tertuju pada rumus logaritma di papan tulis. Fokus sepasang mata elang pemuda itu terkunci rapat pada punggung kecil berbalut cardigan pink yang duduk tepat di barisan depannya. Ghea Callista. "Bran," bisik Bagas pelan, menyenggol siku sahabatnya itu. "Lo kesambet setan dari mana? Ngapain coba lo malah melototin punggung Ghea?!" Ibran tidak menoleh. Ujung bibirnya hanya tertarik membentuk senyum miring yang tipis. "Gue lagi pencitraan, Gas. Ghea kan bilang dia suka cowok kalem, tenang, dan nggak cari masalah. Mulai hari ini, gue akan berubah menjadi siswa teladan pecinta aljabar. Biar dia sadar kalau gue nggak kalah berkelas dari Kak Angga." Bagas mendengus kasar, nyaris tertawa. "Pencitraan mata lo! Lo aja lupa hari ini ada agenda apaan coba?! Lo tuh Ketua OSIS, Jibran! Di bawah sana, anak-anak kelas sepuluh lagi pada kepanasan nungguin lo buka acara MOS! Bisa-bisanya lo malah duduk manis di kelas?!" "Ssst! Berisik lo," desis Ibran santai, memutar-mutar penanya dengan lincah. "Biarin aja anak-anak baru itu dijemur bentar. Vitamin D bagus buat pertumbuhan tulang mereka. Lagian, ngapain gue panas-panasan di lapangan kalau pemandangan di kelas jauh lebih indah?" Bagas baru saja akan membalas kalimat sinting Ibran ketika suara ketukan panik terdengar dari arah pintu. Tok! Tok! Tok! Pak Yoyo menghentikan gerak spidolnya. Beliau berbalik dan mendapati seorang siswa berseragam OSIS lengkap dengan name tag panitia sedang berdiri di ambang pintu, napasnya ngos-ngosan dengan keringat membanjiri dahi. Itu Dito, Sekretaris OSIS yang malang. "Permisi, Pak Yoyo. Maaf beribu maaf mengganggu jam pelajaran Bapak," ucap Dito dengan suara bergetar, menunduk hormat berkali-kali. Pak Yoyo mengernyitkan dahi. "Ada apa, Dito? Kamu bukan harusnya di lapangan mengurus anak-anak baru?" "I-itu masalahnya, Pak," Dito menelan ludah, matanya langsung tertuju pada Ibran yang duduk dengan santai di barisan belakang. "Saya diutus oleh Pak Kepala Sekolah untuk... menjemput Ketua OSIS. Acara pembukaan MOS sudah tertunda lima belas menit karena Jibran malah menghilang, Pak." Seluruh kepala di kelas XI-IPA 1 otomatis menoleh ke arah Ibran, kecuali Ghea yang memilih menggambar kelinci pink di ujung buku catatannya. Pak Yoyo membelalakkan mata di balik kacamata tebalnya. Beliau berkacak pinggang, kumis tebalnya naik turun menatap Ibran dengan garang. "Jibran Adiraja! Kamu ini Ketua OSIS, kenapa malah enak-enakan duduk di kelas?! Kamu tidak tahu ada tanggung jawab besar di lapangan?!" Ibran memasang wajah sedramatis mungkin. Ia berdiri dari kursinya, merapikan seragamnya dengan gaya sok elegan. "Maaf, Pak Yoyo. Saya bukannya bermaksud lari dari tanggung jawab. Tapi bagi saya, menyerap ilmu logaritma yang Bapak ajarkan jauh lebih penting daripada sekedar memberikan kata sambutan. Ilmu Bapak adalah bekal untuk masa depan saya." Beberapa siswi perempuan menahan kikikan gemas melihat raut wajah Ibran yang pura-pura polos. Bagas di sebelahnya sudah menutup mulutnya menahan tawa, mendengar kemampuan ngeles sahabatnya itu. Pak Yoyo yang awalnya ingin marah, mendadak kehilangan kata-kata mendengar alasan manis itu. Namun, beliau tetap mengibaskan tangannya ke arah pintu. "Jangan banyak alasan! Cepat turun ke lapangan! Kepala sekolah sudah menunggu!" "Baik, Pak. Saya pamit memperjuangkan nasib adik-adik kelas dulu," ucap Ibran sambil membungkuk sopan. Pemuda itu melangkah santai menuju pintu. Namun, saat melewati meja Ghea di barisan kedua, langkah Ibran sengaja dilambatkan. Ia menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Ghea hingga gadis itu terlonjak kaget. "Jangan kangen ya, Tuan Putri," bisik Ibran dengan suara baritonnya yang menggoda. "Gue cuma pergi sebentar buat nyapa adik-adik kelas. Kalau lo nggak bisa fokus belajar karena mikirin wajah tampan gue, susul aja ke lapangan." Ghea melotot tajam, memukul lengan Ibran dengan kotak pensilnya. "Pergi sana lo, cowok caper! Jauh-jauh dari gue!" Ibran hanya tertawa renyah. Ia mengedipkan sebelah matanya pada Ghea sebelum akhirnya berjalan keluar kelas, meninggalkan Ghea yang mendengus kesal dengan pipi memerah menahan amarah atau mungkin rasa salah tingkah yang tak mau ia akui. Di lapangan utama, cuaca bulan Juli terasa begitu menyengat. Ratusan siswa-siswi kelas sepuluh yang masih memakai seragam SMP selama masa MOS, tampak berdiri berbaris rapi. Mereka mengenakan topi karton aneh dan papan nama dari kardus yang digantung di dada. Keringat bercucuran, wajah-wajah polos itu terlihat kelelahan menahan panas. "Baiklah, adik-adik! Setelah menunggu sedikit lama, mari kita dengarkan sambutan pembukaan dari Ketua OSIS kita periode ini, Kak Jibran Adiraja!" seru MC dari atas panggung. Saat Ibran melangkahkan kaki panjangnya menaiki tangga panggung, keheningan melanda lapangan. Pemuda itu tidak memakai jas OSIS-nya dengan rapi. Ia hanya menyampirkan jas almamater biru navy itu di sebelah bahunya. Rambut ikalnya sedikit tertiup angin, dan wajahnya yang diterpa cahaya matahari pagi terlihat dua kali lebih tampan. Detik berikutnya, keheningan itu pecah oleh suara bisik-bisik yang perlahan berubah menjadi pekikan tertahan dari barisan siswi kelas sepuluh. "Sumpah, itu Ketua OSIS kita?! Ganteng banget, tolong!" "Gila, gue kira yang jadi Ketua OSIS tuh modelan kutu buku pakai kacamata tebel! Ini mah foto model majalah!" "Ya ampun, senyumnya... Kak, hukum aku dong, Kak!" Ibran berdiri di depan mikrofon. Ia membiarkan pekikan memuja itu memecah keheningan sejenak, sesuatu yang sudah sangat biasa ia terima. Ia mengetuk mikrofon dua kali, lalu tersenyum miring, yang langsung membuat barisan depan siswi baru nyaris pingsan berdiri. "Halo, adik-adik," sapa Ibran, suaranya yang berat dan karismatik menggema di seluruh penjuru lapangan melalui speaker besar. "Kepanasan, ya?" Serempak, para siswa baru menjawab, "Iyaaa, Kak!" "Sama," Ibran terkekeh pelan. "Kakak juga panas ngelihat kalian yang masih kaku begini. Tenang aja, MOS di bawah pimpinan gue nggak akan ada perpeloncoan. Gue nggak butuh kalian bawa beras sekilo atau telur ayam diwarnain pakai spidol. Gue cuma butuh kalian disiplin, bawa otak kalian ke sekolah, dan jangan pernah bikin masalah yang lebih besar dari masalah yang biasa gue bikin." Para guru yang duduk di bawah tenda hanya bisa menggelengkan kepala, sementara siswa-siswi baru bersorak antusias. Karisma seorang Jibran memang tidak bisa dibantah. Ia memimpin dengan gayanya sendiri yang bebas, namun tetap dihormati karena kecerdasannya. Acara pembukaan itu berlangsung singkat. Ibran sama sekali tidak membuang waktu dengan pidato bertele-tele. Setelah mengetuk palu peresmian, ia langsung menyerahkan kembali acara pada MC dan turun dari panggung bak seorang bintang rock. *** Jam istirahat pertama berbunyi. Kantin Pelita Bangsa langsung diserbu lautan siswa yang kelaparan. Namun Ghea, dengan segala standar kebersihannya, tentu saja menolak untuk makan di tempat yang bising dan berbau asap gorengan. Gadis imut itu memilih duduk di salah satu bangku taman sekolah yang teduh, tepat di bawah pohon beringin rindang. Di hadapannya, tergeletak sebuah kotak bekal bento lucu berwarna merah muda. Isinya adalah menu sehat racikan Maminya tercinta, salad sayur organik, dada ayam panggang, dan beberapa buah tomat ceri berukuran mungil. Ghea baru saja akan menusuk tomat ceri pertamanya dengan garpu, ketika tiba-tiba sebuah tangan terjulur dari arah belakang punggungnya. Tangan itu dengan cepat mengambil satu-satunya tomat ceri paling merah di dalam kotaknya, lalu melemparkannya ke udara, dan mendarat sempurna di dalam mulutnya yang terbuka. Ghea terkesiap. Ia menoleh dengan cepat ke belakang. Ibran berdiri di sana sambil mengunyah tomat ceri itu dengan santai. Pemuda itu kemudian melompat melewati sandaran bangku taman dan mendarat tepat di sebelah Ghea, duduk bersisian dengan jarak yang sangat dekat. "Jibran!" jerit Ghea marah, matanya melotot tajam. "Itu tomat ceri gue! Lo jorok banget sih main ambil pakai tangan! Kuman tahu nggak?!" Ibran menelan tomatnya, lalu menatap Ghea dengan senyum jahil yang menyebalkan. "Inspeksi OSIS, Tuan Putri. Sebagai Ketua OSIS yang bertanggung jawab atas kesehatan rakyatnya, gue harus make sure makanan yang lo konsumsi bebas dari racun. Dan setelah gue tes... hmmm, lumayan manis. Tapi masih manisan yang punya bekal sih." Wajah Ghea bersemu merah, tapi amarahnya jauh lebih besar. Gadis itu langsung memukul lengan berotot Ibran dengan garpu plastiknya. "Aw! Sakit, Ghea! KDRT lo ya!" keluh Ibran, berpura-pura kesakitan sambil mengusap lengannya. "Lo tuh nyebelin banget, tahu nggak?! Kenapa sih lo selalu gangguin gue?! Di sekolah ini ada ratusan cewek yang rela suapin lo makan, kenapa lo harus nyuri tomat ceri gue yang cuma ada tiga biji ini?! Pokoknya gue bakalam aduin kelakuan lo ke tante Zea sama Om Dewa!" omel Ghea tanpa henti, hidungnya kembang kempis menahan kesal. Ibran menopang dagunya dengan tangan, memiringkan wajahnya untuk menatap Ghea dari jarak dekat. Helaan napas pemuda itu terasa hangat menerpa sisi wajah Ghea. "Karena dari ratusan cewek di sekolah ini, cuma lo doang yang kalau marah pipinya tambah chubby kayak hamster," bisik Ibran lembut mengabaikan ancaman Ghea yang mengatakan akan mengadukan sikapnya pada Mama dan Papanya. Mata Ibran menatap lekat ke dalam mata Ghea, membuat gadis itu mendadak kehilangan kata-kata. Ghea menelan ludah. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya, namun egonya langsung menyadarkannya. Ia mendorong dada bidang Ibran dengan telunjuknya agar menjauh. "G-gue aduin Kak Angga sama Kak Ziva juga lo, ya! Biar lo dimarahin!" ancam Ghea terbata-bata, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ibran langsung mendengus malas, menyandarkan punggungnya ke bangku taman. "Dikit-dikit Kak Angga. Lo belum tahu aja, di kampus Kak Angga tuh pelit ngomong. Kalau lo pacaran sama dia, lo ngomong panjang lebar cuma dibales 'Hmm'. Lo mau seumur hidup ngobrol sama patung?" "Biarin! Kak Angga itu cool! Nggak kayak lo, pecicilan!" balas Ghea tak mau kalah, segera menutup kotak bekalnya karena mood makannya sudah hancur lebur. Ghea bangkit berdiri, menyambar botol minumnya. "Awas lo ya, Ibran. Kalau lo ngikutin gue sampai ke kelas, gue siram lo pakai jus kale ini!" ancamnya galak sebelum berlari kecil meninggalkan taman dengan langkah menghentak. Ibran tetap duduk di bangku taman. Matanya tak lepas menatap kepergian Ghea hingga gadis itu menghilang di belokan koridor. Bukannya marah atau tersinggung, senyum miring justru kembali terukir di wajah tampan Jibran. "Ditolak lagi..! Nasib... nasib!"Decit ban yang beradu dengan aspal terdengar nyaring memecah keheningan saat Farhan menginjak pedal rem secara mendadak. Honda Civic hitam itu berhenti mendadak tepat di depan taman kompleks yang sudah mulai sepi. Sentakan keras membuat tubuh Ziva terdorong ke depan, tertahan oleh seatbelt yang mengunci tubuhnya. Napas memburu Farhan yang sejak tadi dikuasai amarah perlahan mereda. Perlahan, raut wajah tampan yang sebelumnya mengeras itu kini tertunduk lesu. Pemuda itu menarik napas panjang yang terdengar sedikit gemetar, lalu menyandarkan keningnya dengan putus asa pada kemudi setir. Ziva, yang wajahnya sudah bersimbah air mata karena panik dan ditarik paksa masuk kedalam mobil, kini membeku. Ia menatap bingung sekaligus waspada ke arah bahu tegap Farhan yang mulai berguncang pelan. "Maafkan aku..." lirih Farhan, suaranya pecah oleh isak tertahan yang menyayat hati. "Aku... aku terpaksa ngelakuin semua ini karena aku benar-benar mencintaimu, Ziva." Ziva terdiam kaku. Jant
Mendengar nama itu disebut, tawa yang sejak tadi meledak di bibir Ziva menghilang tanpa sisa. Wajah gadis itu mendadak kaku, senyumnya luntur seketika. Bahkan Ibran yang biasanya tidak peka terhadap situasi, refleks melepaskan cengkeramannya dari pinggang sang kakak dan ikut menoleh ke arah Angga dengan kening berkerut. "Ngapain tuh cowok toxic ke sini?" decak Ibran sinis, bangkit berdiri sambil merapikan kausnya yang kusut. "Belum puas dia neror hape Kak Ziva dari semalam sampai baterainya drop?" Angga tidak menjawab Ibran. Mata elangnya masih menatap lurus pada Ziva yang kini perlahan bangkit dari sofa, merapihkan rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar. "Kalau lo nggak mau ketemu dia, gue bakal suruh satpam depan buat ngusir dia sekarang juga," tawar Angga dingin. Bagi Angga, tidak ada satupun hal yang boleh mengganggu ketenangan keluarganya. Ziva menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan debar jantungnya. Ia men
Angga dan Liana masih terdiam mendengar pertanyaan Ibran. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat menjawab. Liana kembali fokus pada halaman novel To Kill a Mockingbird di pangkuannya, seolah pertanyaan Jibran Adiraja dan segala kehebohannya barusan hanyalah selembar daun kering yang ditiup angin. Gadis itu dengan tenang membalik halaman, matanya menelusuri deretan kalimat ikonik dari karakter Atticus Finch yang sedang ia baca. "You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb into his skin and walk around in it." Sebuah filosofi tentang memahami sudut pandang orang lain sebelum menghakimi. Dan dari sudut pandang Liana yang kelewat rasional, Ibran saat ini hanyalah remaja laki-laki dengan hormon hyperactive yang sedang memancing reaksi. Tidak ada alasan untuk tersipu, marah, apalagi mengklarifikasi status hubungannya dengan Angga, yang memang tidak ada apa-apa. Mengabaikan pemuda itu adalah langkah yang paling efisien un
Angin pagi berembus lembut melintasi permukaan danau buatan, membawa hawa sejuk yang menyapa kulit. Di bawah bayangan pohon trembesi yang rindang, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Angga. Otak pemuda itu biasanya bekerja cepat seperti ayahnya, dan tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Namun pagi ini, semua isi di kepalanya seakan terhenti hanya karena melihat seorang gadis. Angga melangkah perlahan mendekati bangku taman itu. Sepatu olah raganya tidak menimbulkan suara saat menginjak aspal paving. Dari jarak sedekat ini, Angga bisa mengamati sosok gadis itu dengan lebih detail. Ia sedang membaca novel tebal bersampul klasik, To Kill a Mockingbird. Jari-jarinya yang lentik membalik halaman dengan tenang. Tidak ada riasan di wajahnya, hanya kulit wajah yang bersih, cerah, dan rona merah alami akibat udara pagi. Wangi parfum Jo Malone Wood Sage & Sea Salt tercium dari arah tubuhnya, membaur sempurna dengan aroma kopi Americano di sebelahnya. Santa
"Assalamualaikum." Suara bariton yang berat dan tenang memecah hiruk-pikuk di ruang makan Griya Zadewa. Anggara baru saja membuka pintu utama dan melangkah masuk. Pemuda jangkung itu berjalan menghampiri meja makan di mana seluruh keluarganya telah berkumpul, memancarkan rasa lelah yang justru membuat wajah tampannya terlihat semakin menawan. "Kenapa baru pulang jam segini, Angga?" tegur Dewa layaknya seorang ayah yang menuntut laporan karena putranya pulang melebihi jam tujuh malam. Angga menarik kursi di sebelah Ibran, menghela napas panjang untuk melepaskan penatnya, lalu membalas singkat, "Nemenin Sena kumpul sama teman-temannya dulu di kafe tadi, Pa." Tanpa dosa, tangan Angga terulur mencomot tahu goreng terakhir yang ada di atas piring adiknya. "Ck! Kenapa ambil punya gue sih, Kak?!" protes Ibran tak terima. Ia buru-buru menoleh ke piring saji di tengah meja untuk mengamankan satu-satunya tahu goreng yang tersisa. Namun, tangannya kalah cepat oleh garpu Ziva yang men
"JIBRANNN!" Teriakan melengking Zea membahana dari lantai dasar, memantul di dinding-dinding marmer Griya Zadewa hingga nyaris membuat lampu gantung kristal di ruang tamu bergetar hebat. Para asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruang keluarga seketika menunduk, mendadak sibuk mengelap vas bunga yang sebenarnya sudah mengkilap, tak berani mencari gara-gara dengan sang Nyonya Rumah. Zea baru saja tiba dari Mahkamah Agung. Wanita cantik itu bahkan belum sempat mengganti kemeja sutra dan blazer kerjanya, apalagi melepas sepatu hak tingginya. Tas kerjanya ia letakkan sembarangan di atas sofa ruang tamu, sementara dadanya naik turun menahan emosi. "Kenapa teriak-teriak sih, Sayang? Suaramu itu aset negara, jangan dihabiskan untuk marah-marah." Sebuah suara bariton yang dalam dan berat terdengar bersamaan dengan sepasang lengan kekar yang tiba-tiba melingkar erat di pinggang Zea dari arah belakang. Dewa, yang rupanya baru saja masuk menyusul istrinya dari garasi, tanpa







