Share

BAB 7 : SIAPA DIA?

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-10-09 07:27:10

"Assalamualaikum."

​Suara bariton yang berat dan tenang memecah hiruk-pikuk di ruang makan Griya Zadewa. Anggara baru saja membuka pintu utama dan melangkah masuk. Pemuda jangkung itu berjalan menghampiri meja makan di mana seluruh keluarganya telah berkumpul, memancarkan rasa lelah yang justru membuat wajah tampannya terlihat semakin menawan.

​"Kenapa baru pulang jam segini, Angga?" tegur Dewa layaknya seorang ayah yang menuntut laporan karena putranya pulang melebihi jam tujuh malam.

​Angga menarik kursi di sebelah Ibran, menghela napas panjang untuk melepaskan penatnya, lalu membalas singkat, "Nemenin Sena kumpul sama teman-temannya dulu di kafe tadi, Pa." Tanpa dosa, tangan Angga terulur mencomot tahu goreng terakhir yang ada di atas piring adiknya.

​"Ck! Kenapa ambil punya gue sih, Kak?!" protes Ibran tak terima. Ia buru-buru menoleh ke piring saji di tengah meja untuk mengamankan satu-satunya tahu goreng yang tersisa. Namun, tangannya kalah cepat oleh garpu Ziva yang menyambarnya dengan gerakan super kilat.

​"Kak Ziva! Ngalah sama adik kenapa sih?!" omel Ibran, menatap kakaknya dengan sebal.

​Ziva justru menjulurkan lidahnya dengan ekspresi mengejek penuh kemenangan. "Itu balasan buat lo, karena udah berani bikin nangis cewek seimut Ghea!" balas Ziva, lalu tertawa puas yang langsung didukung oleh kekehan Dewa. Kalau menyangkut Ziva, Dewa memang selalu berada di pihak putrinya.

​Ibran meletakkan sendoknya ke atas piring porselen hingga menimbulkan bunyi denting nyaring. Ia mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajah ke arah Ziva yang masih tertawa.

​"Gue tahu di mana lo nyimpen sneakers keluaran terbaru lo itu, Kak," bisik Ibran dengan nada ancaman yang sangat licik. "Kayaknya bakal bagus banget kalau sepatu itu gue bungkus kado buat dikasih ke Ghea besok pagi."

​Cengiran di wajah cantik Ziva lenyap seketika. Matanya membelalak panik.

​Detik itu juga, Ibran melompat bangkit dari kursi dan melesat cepat menuju tangga lantai dua.

​"JIBRANNNN! JANGAN BERANI-BERANI LO SENTUH SEPATU GUE!" jerit Ziva keras, langsung membuang garpunya dan berlari mengejar adiknya.

​Zea hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil memijat pelipisnya. Sejak Ziva dan Ibran masih kecil, rumah mewah ini memang tidak pernah absen dari adegan kejar-kejaran ala film Tom and Jerry akibat kejahilan si bungsu.

​Di tengah keributan yang menggema hingga ke lantai atas itu, Zea mengalihkan pandangan pada putra sulungnya. Ia menatap Angga dengan helaan napas penuh rasa syukur. Setidaknya, dari tiga anak yang ia lahirkan, ada satu yang selalu anteng, dan tidak banyak tingkah sejak masih balita.

​"Angga. Bagaimana kuliahmu hari ini?" tanya Zea lembut, mengembalikan suasana makan malam mereka.

​Angga menenggak air putihnya hingga abis tak bersisa dalam satu tegukan, lalu meletakkan gelasnya. "Lancar, Ma," sahutnya tenang.

​"Kalau ada kesulitan soal referensi kasus atau pasal, kamu bisa diskusikan sama Mama atau Papa."

​Angga menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi, lalu menoleh menatap sang ayah dengan raut wajah datar. "Materi kuliahnya sih sama sekali nggak ada masalah, Ma. Tapi, aku mulai capek sama Bu Hana. Dia setiap hari nitip salam terus buat Papa."

​Tawa renyah langsung meluncur dari bibir Zea. Ia tahu betul siapa Bu Hana. Dosen pembimbing skripsinya dulu yang kini usianya sudah memasuki lima puluh tahunan, namun masih sangat setia menjadi ketua fans club Sadewa Adiraja di Fakultas Hukum Erlangga.

​Sementara itu, Dewa mendadak menghentikan kunyahannya. Kening pria berwibawa itu berkerut kesal.

​"Apa tidak ada laporan lain yang lebih bermutu dari kampus selain titipan salam dari Bu Hana?! Setiap hari hanya itu yang kamu sampaikan," gerutu Dewa sebal, merasa dilecehkan secara tidak langsung.

​"Ada, Pa," sahut Angga santai.

​"Apa?"

​"Hari ini kalimatnya beda. Bukan sekedar titip salam lagi, tapi dia bilang dia kangen berat sama Papa. Bu Hana juga memohon supaya Papa mau jadi dosen lagi di Erlangga semester ini."

​Tawa Zea langsung meledak tak tertahankan, memenuhi ruang makan. Sang Nyonya Adiraja itu terlihat sangat puas melihat raut wajah tampan suaminya yang kini merengut masam dan terlipat sempurna seperti Angry Bird.

***

Sabtu pagi selalu menjadi family time bagi keluarga Adiraja untuk melakukan rutinitas mingguan, jogging bersama. Mengingat mereka tinggal di perumahan elit di kawasan Jakarta Selatan, taman kompleks itu lebih menyerupai country club privat yang dilengkapi danau buatan, pepohonan rindang, dan jogging track beraspal mulus.

​Ketika formasi lengkap keluarga Adiraja turun ke jalan, suasana taman yang awalnya tenang mendadak berubah layaknya area peragaan busana olahraga.

​Sadewa dan Angga memimpin di depan, bak pinang dibelah dua. Keduanya mengenakan setelan olahraga Under Armour hitam legam yang mencetak sempurna postur tegap dan otot lengan mereka. Di belakang mereka, Zea dan Ziva tampak seperti kakak-adik alih-alih ibu dan anak. Zea tampil memukau nan anggun dengan setelan sport wear muslimah branded, hijab sporty instan berwarna pastel cerah yang menutup rapat bagian dadanya, dipadukan dengan kacamata hitam elegan. Sementara Ziva di sebelahnya mengenakan sport wear senada dengan visor hat di kepalanya.

​Kemunculan mereka membuat aktivitas para tetangga di kompleks itu sedikit terganggu. Beberapa ibu-ibu sosialita yang sedang melakukan senam pagi sampai kehilangan fokus demi mencuri pandang ke arah Dewa, sementara para remaja perempuan terang-terangan menahan napas saat Angga berlari melewati mereka dengan wajah datar yang menurut para gadis, sangat keren.

​Namun, segala wibawa dan keanggunan keluarga itu harus sedikit ternoda oleh kehadiran anggota paling bontot mereka, Jibran Adiraja.

​Berbeda dengan keluarganya yang berlari dengan elegan, Ibran justru menjadikan sesi jogging ini sebagai ajang jumpa fans. Pemuda itu mengenakan sleeveless hoodie berwarna abu-abu terang, headband ala atlet basket di kepalanya, dan berlari santai sambil tebar pesona. Ia sibuk memberikan senyuman manis, melambaikan tangan, hingga membentuk finger heart ke arah sekumpulan anak gadis tetangga yang sedang bersepeda.

​"Pagi, Cantik-cantik! Jangan lupa sarapan, ya!" seru Ibran sambil mengedipkan sebelah mata, membuat gadis-gadis itu memekik kegirangan.

​Saking asyiknya berjalan mundur untuk menggoda mereka, Ibran sama sekali tidak memperhatikan jalan di belakangnya.

​Guk! Guk! Guk!

​"Eh, ayam, ayam!" latah Ibran, melompat kaget.

​Ujung sepatunya tak sengaja menginjak tali rantai seekor anjing pudel putih milik Bu RT yang sedang melintas. Sang pudel yang merasa terancam langsung menyalak galak, memamerkan taring kecilnya, dan mulai mengejar Ibran.

​"Waaah! Ampun, Molly! Ampun! Gue daging alot, nggak enak digigit!" jerit Ibran panik. Pemuda berbadan atletis itu seketika lari terbirit-birit menghindari gigitan anjing berukuran sekecil galon air dengan gaya super heboh.

​Ziva tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya, sama sekali tidak berniat menolong. "Rasain lo! Makanya lari tuh pakai mata, bukan tebar pesona!" ledek Ziva puas.

​Zea menutup mulutnya dengan sebelah tangan menahan tawa, sementara Dewa menggelengkan kepala sambil tertawa kecil, melihat kelakuan anak bungsunya yang sukses merusak citra keluarga Adiraja di mata publik.

​Di tengah kekacauan itu, Angga memilih untuk tak mempedulikan keluarganya. Ia terus berlari, menambah kecepatannya hingga jauh meninggalkan rombongan.

​Setelah berlari sejauh tiga kilometer, Angga memperlambat langkahnya. Ia menepi ke bangku taman di dekat danau buatan untuk mengambil napas.

​Sambil menyeka keringat di pelipisnya, mata elang Angga menyapu sekeliling taman. Namun, sedetik kemudian, gerakannya mendadak terhenti.

​Fokus Angga terkunci pada sebuah pemandangan di salah satu bangku taman di bawah pohon rindang.

​Di sana, duduk seorang gadis yang tengah sibuk membaca buku novel. Penampilan gadis itu sangat sederhana meskipun pakaian dan sepatu yang dikenakannya adalah barang brended yang harganya tidak main-main. Gadis itu mengenakan oversized hoodie keluaran Balenciaga berwarna broken white, celana legging Lululemon premium, dan sepasang sneakers edisi terbatas yang harganya setara dengan sebuah motor sport. Di sebelahnya, tergeletak sebuah iPad Pro seri terbaru dan segelas es Americano.

​Rambut hitamnya dicepol rapi, dan kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya.

​Jantung Angga berdesir halus. Pertanyaan dalam otaknya langsung berputar sangat cepat.

​Ia sangat mengenali wajah tenang dan tatapan datar itu. Dia adalah mahasiswi yang berani menjawab argumen Sena dengan telak. Gadis yang menceramahinya tentang kesalahan yang tidak ia lakukan saat kekasihnya itu menabraknya di belokan koridor kampus, lalu menatap wajah Angga seolah ia hanyalah properti kampus yang tidak berguna.

​Pertanyaan besar langsung menghantam kepala Angga. Perumahan ini adalah salah satu cluster paling eksklusif dan mahal di Jakarta Selatan, tempat berkumpulnya para menteri, hakim agung, dan konglomerat kelas kakap. Penjagaan di gerbang depan sangat ketat, mustahil orang luar bisa masuk ke jogging track privat ini untuk sekedar duduk santai sambil membaca buku.

​Siapa sebenarnya mahasiswi yang berani mengabaikan ketampanannya itu?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 10 : KEKASIH YANG POSESIF

    Mendengar nama itu disebut, tawa yang sejak tadi meledak di bibir Ziva menghilang tanpa sisa. Wajah gadis itu mendadak kaku, senyumnya luntur seketika. Bahkan Ibran yang biasanya tidak peka terhadap situasi, refleks melepaskan cengkeramannya dari pinggang sang kakak dan ikut menoleh ke arah Angga dengan kening berkerut. ​"Ngapain tuh cowok toxic ke sini?" decak Ibran sinis, bangkit berdiri sambil merapikan kausnya yang kusut. "Belum puas dia neror hape Kak Ziva dari semalam sampai baterainya drop?" ​Angga tidak menjawab Ibran. Mata elangnya masih menatap lurus pada Ziva yang kini perlahan bangkit dari sofa, merapihkan rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar. ​"Kalau lo nggak mau ketemu dia, gue bakal suruh satpam depan buat ngusir dia sekarang juga," tawar Angga dingin. Bagi Angga, tidak ada satupun hal yang boleh mengganggu ketenangan keluarganya. Ziva menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan debar jantungnya. Ia men

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 9 : KEDATANGAN MANTAN

    Angga dan Liana masih terdiam mendengar pertanyaan Ibran. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat menjawab. Liana kembali fokus pada halaman novel To Kill a Mockingbird di pangkuannya, seolah pertanyaan Jibran Adiraja dan segala kehebohannya barusan hanyalah selembar daun kering yang ditiup angin. ​Gadis itu dengan tenang membalik halaman, matanya menelusuri deretan kalimat ikonik dari karakter Atticus Finch yang sedang ia baca. "You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb into his skin and walk around in it." ​Sebuah filosofi tentang memahami sudut pandang orang lain sebelum menghakimi. Dan dari sudut pandang Liana yang kelewat rasional, Ibran saat ini hanyalah remaja laki-laki dengan hormon hyperactive yang sedang memancing reaksi. Tidak ada alasan untuk tersipu, marah, apalagi mengklarifikasi status hubungannya dengan Angga, yang memang tidak ada apa-apa. Mengabaikan pemuda itu adalah langkah yang paling efisien un

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 8 : KETENANGAN LIANA

    Angin pagi berembus lembut melintasi permukaan danau buatan, membawa hawa sejuk yang menyapa kulit. Di bawah bayangan pohon trembesi yang rindang, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Angga. ​Otak pemuda itu biasanya bekerja cepat seperti ayahnya, dan tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Namun pagi ini, semua isi di kepalanya seakan terhenti hanya karena melihat seorang gadis. ​Angga melangkah perlahan mendekati bangku taman itu. Sepatu olah raganya tidak menimbulkan suara saat menginjak aspal paving. Dari jarak sedekat ini, Angga bisa mengamati sosok gadis itu dengan lebih detail. ​Ia sedang membaca novel tebal bersampul klasik, To Kill a Mockingbird. Jari-jarinya yang lentik membalik halaman dengan tenang. Tidak ada riasan di wajahnya, hanya kulit wajah yang bersih, cerah, dan rona merah alami akibat udara pagi. Wangi parfum Jo Malone Wood Sage & Sea Salt tercium dari arah tubuhnya, membaur sempurna dengan aroma kopi Americano di sebelahnya. Santa

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 7 : SIAPA DIA?

    "Assalamualaikum." ​Suara bariton yang berat dan tenang memecah hiruk-pikuk di ruang makan Griya Zadewa. Anggara baru saja membuka pintu utama dan melangkah masuk. Pemuda jangkung itu berjalan menghampiri meja makan di mana seluruh keluarganya telah berkumpul, memancarkan rasa lelah yang justru membuat wajah tampannya terlihat semakin menawan. ​"Kenapa baru pulang jam segini, Angga?" tegur Dewa layaknya seorang ayah yang menuntut laporan karena putranya pulang melebihi jam tujuh malam. ​Angga menarik kursi di sebelah Ibran, menghela napas panjang untuk melepaskan penatnya, lalu membalas singkat, "Nemenin Sena kumpul sama teman-temannya dulu di kafe tadi, Pa." Tanpa dosa, tangan Angga terulur mencomot tahu goreng terakhir yang ada di atas piring adiknya. ​"Ck! Kenapa ambil punya gue sih, Kak?!" protes Ibran tak terima. Ia buru-buru menoleh ke piring saji di tengah meja untuk mengamankan satu-satunya tahu goreng yang tersisa. Namun, tangannya kalah cepat oleh garpu Ziva yang men

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 6 : GEN ADIRAJA

    "JIBRANNN!" ​Teriakan melengking Zea membahana dari lantai dasar, memantul di dinding-dinding marmer Griya Zadewa hingga nyaris membuat lampu gantung kristal di ruang tamu bergetar hebat. Para asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruang keluarga seketika menunduk, mendadak sibuk mengelap vas bunga yang sebenarnya sudah mengkilap, tak berani mencari gara-gara dengan sang Nyonya Rumah. ​Zea baru saja tiba dari Mahkamah Agung. Wanita cantik itu bahkan belum sempat mengganti kemeja sutra dan blazer kerjanya, apalagi melepas sepatu hak tingginya. Tas kerjanya ia letakkan sembarangan di atas sofa ruang tamu, sementara dadanya naik turun menahan emosi. ​"Kenapa teriak-teriak sih, Sayang? Suaramu itu aset negara, jangan dihabiskan untuk marah-marah." ​Sebuah suara bariton yang dalam dan berat terdengar bersamaan dengan sepasang lengan kekar yang tiba-tiba melingkar erat di pinggang Zea dari arah belakang. Dewa, yang rupanya baru saja masuk menyusul istrinya dari garasi, tanpa

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 5 : DITOLAK LAGI

    Suasana kelas XI-IPA 1 mendadak hening begitu Pak Yoyo, guru Matematika paling disiplin seantero SMA Internasional Pelita Bangsa, mulai menggoreskan spidol hitamnya di papan tulis. Deretan rumus logaritma yang terlihat seperti bahasa alien mulai memenuhi papan putih itu. ​Bagas, yang duduk di barisan belakang, mencuri pandang ke sebelah kirinya. Matanya membulat tak percaya melihat Jibran masih duduk tegak di dalam kelas. Pasalnya, Jibran itu sudah diangkat jadi ketua Osis tahun ini, dan diluar sana adik-adik kelas yang cantik dan ganteng sudah menunggu pidatonya untuk membuka acara Orientasi siswa baru. Tangan Ibran justru masih memegang pena, matanya menatap lurus ke depan dengan raut wajah sok serius dan penuh konsentrasi. ​Namun, jika diperhatikan lebih teliti, tatapan Ibran sama sekali tidak tertuju pada rumus logaritma di papan tulis. Fokus sepasang mata elang pemuda itu terkunci rapat pada punggung kecil berbalut cardigan pink yang duduk tepat di barisan depannya. Ghea Cal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status