Se connecterAngin pagi berembus lembut melintasi permukaan danau buatan, membawa hawa sejuk yang menyapa kulit. Di bawah bayangan pohon trembesi yang rindang, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Angga.
Otak pemuda itu biasanya bekerja cepat seperti ayahnya, dan tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Namun pagi ini, semua isi di kepalanya seakan terhenti hanya karena melihat seorang gadis. Angga melangkah perlahan mendekati bangku taman itu. Sepatu olah raganya tidak menimbulkan suara saat menginjak aspal paving. Dari jarak sedekat ini, Angga bisa mengamati sosok gadis itu dengan lebih detail. Ia sedang membaca novel tebal bersampul klasik, To Kill a Mockingbird. Jari-jarinya yang lentik membalik halaman dengan tenang. Tidak ada riasan di wajahnya, hanya kulit wajah yang bersih, cerah, dan rona merah alami akibat udara pagi. Wangi parfum Jo Malone Wood Sage & Sea Salt tercium dari arah tubuhnya, membaur sempurna dengan aroma kopi Americano di sebelahnya. Santai, berkelas, namun sama sekali tidak mencolok. Sangat bertolak belakang dengan gaya mahasiswi Erlangga pada umumnya yang gemar memamerkan barang branded mereka. Tanpa permisi, Angga berdiri tepat di hadapan bangku itu, menghalangi cahaya matahari pagi yang sejak tadi menerangi halaman buku sang gadis. Merasa pencahayaannya terganggu, gadis itu menghentikan aktivitas membacanya. Ia mendongak perlahan. Kacamata berbingkai tipisnya sedikit melorot, memperlihatkan sepasang mata yang luar biasa jernih. Tidak ada jeritan. Tidak ada rona merah salah tingkah di pipinya. Gadis itu menatap wajah tampan Angga yang berkeringat sehabis lari pagi dengan ekspresi yang sangat datar. "Selain ngalangin view danau, postur lo yang setinggi itu juga nutupin cahaya matahari gue, Anggara. Bisa geser dikit ke kiri?" tegur gadis itu santai, suaranya mengalun tenang tanpa sedikit pun nada gentar atau canggung. Bibir Angga berkedut, menahan sebuah senyum tipis yang nyaris terbentuk. Pemuda itu tidak bergeser ke kiri, justru mengambil langkah maju dan duduk di ujung bangku yang sama, menyisakan jarak yang cukup sopan di antara mereka. "Lo tahu nama gue?" pancing Angga dengan suara baritonnya yang berat dan dalam. Gadis itu menutup novelnya, menyelipkan pembatas buku dengan rapi. "Satu fakultas hukum juga tahu. Susah buat pura-pura nggak kenal sama putra mahkota pengacara terkenal dan yang mukanya sering nangkring di buletin fakultas." "Kalau lo tahu siapa gue..." Angga menumpukan sikunya di atas lutut, menoleh untuk menatap gadis itu lekat-lekat. "...kenapa pas di lorong kemarin, lo natap gue seolah nggak kenal dan gue dianggap ikut bersalah karena cewek gue udah nabrak lo?" Gadis itu sama sekali tidak ciut ditatap sedemikian rupa oleh pria paling dikagumi di kampus. Ia meraih gelas Americano-nya, menghirupnya perlahan, lalu membalas tatapan Angga dengan argumen tajam yang dilontarkan setenang mungkin. "Karena faktanya, lo berdua emang ngalangin jalan," balasnya rasional. "Kalian berhenti di tengah belokan. Secara logika, siapa pun yang lewat situ pasti bakal nabrak. Gue nggak ngerasa punya kewajiban buat minta maaf berlebihan cuma karena lo anak Sadewa Adiraja dan cewek lo primadona di kampus. Make sense, kan?" Angga terdiam. Untuk pertama kali dalam sembilan belas tahun hidupnya, ia merasa seperti baru saja disiram seember air es yang menyegarkan oleh seorang gadis. Ia terbiasa dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang berisik. Sena, kekasihnya, adalah contoh paling sempurna dari keberisikan itu. Sena selalu menuntut perhatian, dan haus akan validasi publik atas hubungan mereka. Bagi Angga, menerima Sena sebagai kekasihnya adalah sebuah keputusan yang salah dan mulai melelahkan otaknya. Namun, gadis yang ada di sebelahnya sekarang? Dia adalah ketenangan yang Angga cari selama ini. Kecerdasannya memancar tanpa perlu ia pamerkan, bahasanya santai tapi menembak tepat sasaran, dan sikap acuhnya bukanlah sebuah trik murahan, melainkan karena ia memang tidak peduli. "Nama lo?" tanya Angga tanpa basa basi, nada suaranya tak lagi sedingin es. "Liana," jawab gadis itu tanpa menoleh, pandangannya kembali terarah pada danau. "Liana," ulang Angga, mengucap nama itu di lidahnya. "Terus,... ada urusan apa mahasiswi hukum kayak lo nyasar ke dalam perumahan di Sabtu pagi begini? Satpam di depan gerbang lumayan ketat masalah akses. Mereka nggak akan biarin orang luar masuk cuma buat numpang baca buku sambil minum es kopi." Liana menoleh. Sudut bibirnya sedikit tertarik, membentuk senyum meremehkan. "Kesimpulan yang terlalu terburu-buru untuk ukuran mahasiswa hukum berprestasi," balas Liana santai. "Cuma karena gue nggak pakai baju berlogo brand mahal segede gaban kayak cewek lo, lo pikir gue penyusup?" Liana meletakkan gelas kopinya. "Gue nggak perlu ngelewatin satpam depan pagi ini, karena keluarga gue tinggal di Blok C. Masuk akal kan kalau gue pakai fasilitas taman di kompleks rumah gue sendiri?" Kali ini, pertahanan wajah datar Angga benar-benar retak. Terlintas rasa terkejut di mata elangnya. 'Blok C', ulang Angga dalam hati. 'Liana tinggal di komplek ini?' Sadar bahwa tebakannya meleset jauh, Angga justru tertawa pelan. Tawa renyah yang sangat langka, yang langsung membuat aura dingin-nya menguap karena pesona Liana. "Oke, fair enough. Gue rasa gue harus tarik ucapan gue tadi. Sorry," ucap Angga jujur, menyandarkan punggungnya santai ke sandaran bangku taman. "Diterima," balas Liana singkat. Ia berniat kembali membuka bukunya, namun entah mengapa, kehadiran cowok di sebelahnya memancarkan debaran yang aneh. Mereka berdua akhirnya hanya duduk dalam diam selama beberapa menit. Tidak ada kecanggungan. Liana tenggelam dalam bukunya, sementara Angga diam-diam menikmati keheningan itu. Bau rumput basah, hembusan angin sejuk, dan ketenangan yang ditawarkan Liana benar-benar mengikis kelelahan mental Angga akibat keributan Sena belakangan ini. Namun, di dunia ini, ketenangan tidak pernah bertahan lama jika nama Jibran Adiraja ada dalam radius satu kilometer. "WAAAAAAH! MAMA! PAPA! KAK ZIVA! KAK ANGGAAAA! TOLOONGG!" Sebuah jeritan melengking yang sangat maskulin tapi panik membelah udara pagi. Angga dan Liana serempak menoleh ke arah jogging track. Dari kejauhan, terlihat Ibran sedang berlari kesetanan, melesat bagaikan atlet sprint Olimpiade. Di belakang tumitnya, seekor anjing pudel putih berukuran mini berlari mengejarnya sambil menyalak garang. "Molly! Molly, stop! Come here, girl!" teriak Bu RT yang berlari tertatih-tatih di belakang mereka sambil memegang tali rantai yang terlepas. Ibran yang melihat keberadaan kakaknya di bangku taman langsung mengambil tikungan tajam. Tanpa mempedulikan harga diri atau citra bad boy-nya, remaja jangkung itu melompat dan mendarat dengan lututnya, bersembunyi tepat di belakang punggung Angga seperti anak ayam berlindung pada induknya. "Kak! Kak, tolongin gue! Ini anjing titisan siluman! Gigi dia setajam silet, Kak!" racau Ibran histeris, mencengkeram erat bahu Angga dari belakang. Guk! Guk! Guk! Anjing pudel putih itu berhenti tepat di depan lutut Angga. Anjing kecil itu terus menyalak ke arah Ibran yang bersembunyi. Dengan wajah sangat datar dan helaan napas panjang, Angga hanya menatap anjing itu tanpa minat. Beberapa detik kemudian, Bu RT akhirnya tiba dengan napas ngos-ngosan. "Ya ampun, Molly! Naughty girl!" Bu RT buru-buru meraih tali rantai anjingnya dan menggendong pudel itu. Wanita paruh baya itu menatap Angga dan Ibran dengan wajah bersalah. "Aduh, Nak Angga, Nak Ibran, Tante minta maaf banget ya! Molly ini kalau kaget emang suka agresif. Nak Ibran nggak digigit, kan?" "Nggak, Tante. Dia cuma kaget," jawab Angga dengan nada sopan, berusaha menutupi kelakuan adiknya yang memalukan. "Syukurlah. Sekali lagi Tante minta maaf ya. Ayo, Molly, kita pulang," pamit Bu RT, bergegas pergi menjauh dari sana dengan anjingnya. Setelah suasana kembali aman, Ibran menghela napas lega yang luar biasa panjang. Ia mengusap dadanya yang berdetak kencang, lalu perlahan bangkit berdiri dari balik punggung kakaknya. "Sumpah, gue kira pagi ini kaki gue bakal diamputasi gara-gara rabies," keluh Ibran sambil membersihkan celana training-nya dari sisa rumput. "Lo lari kayak orang kesetanan cuma karena anjing yang ukurannya lebih kecil dari bola basket," sindir Angga kejam, tanpa menoleh. "Anjing kecil itu berbahaya, Kak! Lo nggak tahu—" Kalimat Ibran mendadak terputus di tenggorokan. Pemuda jahil itu baru menyadari bahwa kakaknya tidak sedang duduk sendirian di bangku taman. Di ujung bangku yang sama, duduk seorang gadis cantik berkacamata yang menatap Ibran dengan raut wajah menahan tawa. Mata Ibran langsung membulat sempurna. Ia menatap gadis itu, lalu menatap Angga bergantian. Otak Ibran yang biasanya berpikir cepat dalam pelajaran namun tak kalah cepat dalam urusan gosip, langsung menangkap sebuah skandal besar. Anggara Adiraja, si kulkas dua pintu yang terkenal sangat menjaga jarak dengan perempuan dan karena statusnya sebagai pacar Sena, kini sedang duduk berdua menikmati angin pagi bersama seorang cewek yang tidak pernah Ibran lihat sebelumnya. Dan yang lebih mencurigakan lagi, jarak duduk mereka terbilang dekat, tanpa ada raut kebencian atau rasa terganggu di wajah Angga. Ibran memicingkan matanya. Jari telunjuknya terangkat, menunjuk lurus ke arah wajah kakaknya dengan tatapan penuh selidik layaknya detektif yang baru saja menemukan barang bukti. "Tunggu dulu..." aura jahil Ibran telah kembali sepenuhnya, melupakan trauma anjing pudel Bu RT. "Kak Angga... sejak kapan lo punya hobi nongkrong berdua sama cewek di taman selain sama Kak Sena? Dan kenapa lo berdua auranya adem banget kayak lagi latihan membangun rumah tangga bahagia?!" Pertanyaan jebakan dari Ibran pagi itu, sukses menciptakan sebuah situasi yang membuat Angga dan Liana kesulitan untuk menemukan jawabannya.Mendengar nama itu disebut, tawa yang sejak tadi meledak di bibir Ziva menghilang tanpa sisa. Wajah gadis itu mendadak kaku, senyumnya luntur seketika. Bahkan Ibran yang biasanya tidak peka terhadap situasi, refleks melepaskan cengkeramannya dari pinggang sang kakak dan ikut menoleh ke arah Angga dengan kening berkerut. "Ngapain tuh cowok toxic ke sini?" decak Ibran sinis, bangkit berdiri sambil merapikan kausnya yang kusut. "Belum puas dia neror hape Kak Ziva dari semalam sampai baterainya drop?" Angga tidak menjawab Ibran. Mata elangnya masih menatap lurus pada Ziva yang kini perlahan bangkit dari sofa, merapihkan rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar. "Kalau lo nggak mau ketemu dia, gue bakal suruh satpam depan buat ngusir dia sekarang juga," tawar Angga dingin. Bagi Angga, tidak ada satupun hal yang boleh mengganggu ketenangan keluarganya. Ziva menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan debar jantungnya. Ia men
Angga dan Liana masih terdiam mendengar pertanyaan Ibran. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat menjawab. Liana kembali fokus pada halaman novel To Kill a Mockingbird di pangkuannya, seolah pertanyaan Jibran Adiraja dan segala kehebohannya barusan hanyalah selembar daun kering yang ditiup angin. Gadis itu dengan tenang membalik halaman, matanya menelusuri deretan kalimat ikonik dari karakter Atticus Finch yang sedang ia baca. "You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb into his skin and walk around in it." Sebuah filosofi tentang memahami sudut pandang orang lain sebelum menghakimi. Dan dari sudut pandang Liana yang kelewat rasional, Ibran saat ini hanyalah remaja laki-laki dengan hormon hyperactive yang sedang memancing reaksi. Tidak ada alasan untuk tersipu, marah, apalagi mengklarifikasi status hubungannya dengan Angga, yang memang tidak ada apa-apa. Mengabaikan pemuda itu adalah langkah yang paling efisien un
Angin pagi berembus lembut melintasi permukaan danau buatan, membawa hawa sejuk yang menyapa kulit. Di bawah bayangan pohon trembesi yang rindang, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Angga. Otak pemuda itu biasanya bekerja cepat seperti ayahnya, dan tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Namun pagi ini, semua isi di kepalanya seakan terhenti hanya karena melihat seorang gadis. Angga melangkah perlahan mendekati bangku taman itu. Sepatu olah raganya tidak menimbulkan suara saat menginjak aspal paving. Dari jarak sedekat ini, Angga bisa mengamati sosok gadis itu dengan lebih detail. Ia sedang membaca novel tebal bersampul klasik, To Kill a Mockingbird. Jari-jarinya yang lentik membalik halaman dengan tenang. Tidak ada riasan di wajahnya, hanya kulit wajah yang bersih, cerah, dan rona merah alami akibat udara pagi. Wangi parfum Jo Malone Wood Sage & Sea Salt tercium dari arah tubuhnya, membaur sempurna dengan aroma kopi Americano di sebelahnya. Santa
"Assalamualaikum." Suara bariton yang berat dan tenang memecah hiruk-pikuk di ruang makan Griya Zadewa. Anggara baru saja membuka pintu utama dan melangkah masuk. Pemuda jangkung itu berjalan menghampiri meja makan di mana seluruh keluarganya telah berkumpul, memancarkan rasa lelah yang justru membuat wajah tampannya terlihat semakin menawan. "Kenapa baru pulang jam segini, Angga?" tegur Dewa layaknya seorang ayah yang menuntut laporan karena putranya pulang melebihi jam tujuh malam. Angga menarik kursi di sebelah Ibran, menghela napas panjang untuk melepaskan penatnya, lalu membalas singkat, "Nemenin Sena kumpul sama teman-temannya dulu di kafe tadi, Pa." Tanpa dosa, tangan Angga terulur mencomot tahu goreng terakhir yang ada di atas piring adiknya. "Ck! Kenapa ambil punya gue sih, Kak?!" protes Ibran tak terima. Ia buru-buru menoleh ke piring saji di tengah meja untuk mengamankan satu-satunya tahu goreng yang tersisa. Namun, tangannya kalah cepat oleh garpu Ziva yang men
"JIBRANNN!" Teriakan melengking Zea membahana dari lantai dasar, memantul di dinding-dinding marmer Griya Zadewa hingga nyaris membuat lampu gantung kristal di ruang tamu bergetar hebat. Para asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruang keluarga seketika menunduk, mendadak sibuk mengelap vas bunga yang sebenarnya sudah mengkilap, tak berani mencari gara-gara dengan sang Nyonya Rumah. Zea baru saja tiba dari Mahkamah Agung. Wanita cantik itu bahkan belum sempat mengganti kemeja sutra dan blazer kerjanya, apalagi melepas sepatu hak tingginya. Tas kerjanya ia letakkan sembarangan di atas sofa ruang tamu, sementara dadanya naik turun menahan emosi. "Kenapa teriak-teriak sih, Sayang? Suaramu itu aset negara, jangan dihabiskan untuk marah-marah." Sebuah suara bariton yang dalam dan berat terdengar bersamaan dengan sepasang lengan kekar yang tiba-tiba melingkar erat di pinggang Zea dari arah belakang. Dewa, yang rupanya baru saja masuk menyusul istrinya dari garasi, tanpa
Suasana kelas XI-IPA 1 mendadak hening begitu Pak Yoyo, guru Matematika paling disiplin seantero SMA Internasional Pelita Bangsa, mulai menggoreskan spidol hitamnya di papan tulis. Deretan rumus logaritma yang terlihat seperti bahasa alien mulai memenuhi papan putih itu. Bagas, yang duduk di barisan belakang, mencuri pandang ke sebelah kirinya. Matanya membulat tak percaya melihat Jibran masih duduk tegak di dalam kelas. Pasalnya, Jibran itu sudah diangkat jadi ketua Osis tahun ini, dan diluar sana adik-adik kelas yang cantik dan ganteng sudah menunggu pidatonya untuk membuka acara Orientasi siswa baru. Tangan Ibran justru masih memegang pena, matanya menatap lurus ke depan dengan raut wajah sok serius dan penuh konsentrasi. Namun, jika diperhatikan lebih teliti, tatapan Ibran sama sekali tidak tertuju pada rumus logaritma di papan tulis. Fokus sepasang mata elang pemuda itu terkunci rapat pada punggung kecil berbalut cardigan pink yang duduk tepat di barisan depannya. Ghea Cal







