MasukMendengar nama itu disebut, tawa yang sejak tadi meledak di bibir Ziva menghilang tanpa sisa. Wajah gadis itu mendadak kaku, senyumnya luntur seketika.
Bahkan Ibran yang biasanya tidak peka terhadap situasi, refleks melepaskan cengkeramannya dari pinggang sang kakak dan ikut menoleh ke arah Angga dengan kening berkerut. "Ngapain tuh cowok toxic ke sini?" decak Ibran sinis, bangkit berdiri sambil merapikan kausnya yang kusut. "Belum puas dia neror hape Kak Ziva dari semalam sampai baterainya drop?" Angga tidak menjawab Ibran. Mata elangnya masih menatap lurus pada Ziva yang kini perlahan bangkit dari sofa, merapihkan rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar. "Kalau lo nggak mau ketemu dia, gue bakal suruh satpam depan buat ngusir dia sekarang juga," tawar Angga dingin. Bagi Angga, tidak ada satupun hal yang boleh mengganggu ketenangan keluarganya. Ziva menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan debar jantungnya. Ia menatap kakak sulungnya dan menggeleng tegas. "Nggak usah, Kak. Biar aku hadapin. Hubungan ini harus benar-benar diakhiri sekarang juga. Besok pagi aku udah berangkat ke Yogya. Aku nggak mau bawa beban pikiran atau drama nggak penting dari Jakarta," ucap Ziva mantap. Ya, ini bukan sekedar perjalanan liburan biasa. Perjalanan Ziva ke Yogyakarta kali ini adalah langkah awal dari babak baru kehidupan yang sesungguhnya. Gadis itu baru saja resmi diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, salah satu program studi paling bergengsi yang legendaris di tanah air. Untuk mempermudah masa studinya yang panjang dan penuh perjuangan, Ziva telah memutuskan untuk menetap dan tinggal bersama Kakek Hasan di pendopo Ndalem Sastrowardoyo. Bagi Ziva, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan, sekaligus kesempatan emas untuk sepenuhnya lepas dari cengkeraman Farhan yang kian hari kian tidak sehat. Ziva melangkah keluar rumah dengan langkah tegap. Di ujung papan nama Griya Zadewa, sebuah Honda Civic hitam terparkir. Farhan bersandar di kap mobilnya. Pemuda itu memiliki perawakan yang cukup tinggi dan wajah tampan. Dia juga mantan ketua OSIS yang diidolakan banyak siswi di SMA Pelita Bangsa. Ia mengenakan kemeja flanel berlengan pendek dan kacamata hitam, tampak tenang dan percaya diri, seolah pertengkaran kecil mereka di kafe kemarin hanyalah angin lalu. Melihat Ziva keluar dari pintu utama, Farhan langsung menegakkan tubuhnya. Senyum manis andalannya mengembang, menutupi sifat aslinya yang sangat posesif dan mengekang hari-hari Ziva. "Hai, Sayang," sapa Farhan lembut saat Ziva berjalan pelan untuk menghampirinya. Pemuda itu mengulurkan tangannya, berniat mengelus puncak kepala Ziva seperti biasanya. "Kok chat aku dari semalam nggak dibalas? Aku telepon juga nggak aktif. Aku khawatir banget, lho." Ziva dengan cepat memundurkan langkahnya, menghindari sentuhan Farhan. Matanya menatap pemuda itu dengan sorot sedingin es. "Ngapain kamu ke sini, Han? Rasanya di kafe kemarin aku udah bilang semua hal dengan jelas," balas Ziva tajam, tanpa ada lagi kelembutan di nada suaranya. Farhan menghela napas panjang, memasang wajah seolah ia adalah pihak yang paling pengertian di dunia ini. "Ziv, kamu kan tahu aku kayak gitu karena aku peduli sama kamu. Aku cuma pengen tahu pacar aku pergi ke mana, sama siapa, dan ngapain aja. Itu wajar kan dalam sebuah hubungan? Aku bahkan sudah memintamu memilih FK-UI agar bisa bersamaku, tapi kamu malah memilih FK-UGM, gimana aku tidak marah, sayang?" Nada suara Farhan mulai terdengar menuntut dan cemburu. "Kamu lolos FK UGM itu hebat, aku bangga. Tapi kenapa kamu harus bener-bener tinggal dan menetap di sana? Kamu bisa kan ambil swasta atau kampus lain di Jakarta aja supaya kita nggak jauh? Yogya itu jauh, Ziv! Kamu di sana sendirian, tanpa pengawasan aku. Gimana aku bisa tenang?" Ziva tertawa hambar, menggelengkan kepalanya tak percaya mendengarkan keegoisan pria di hadapannya. "Pengawasan kamu?Han, aku ke UGM itu buat ngejar cita-cita aku jadi dokter, bukan buat dikandangin sama kamu! Kamu selalu memaksakan kehendak kamu dengan alasan 'peduli'." "Itu karena aku sayang sama kamu, Ziva!" Farhan mencoba memotong, melangkah maju untuk memangkas jarak. "Kita udah pacaran setahun lebih. Masa kamu mau hancurin semuanya dan pergi sejauh itu cuma karena ego kamu yang pengen kuliah di luar kota? Kita bisa cari solusi lain. Jangan pergi ke Yogya, Ziv. Aku nggak izinin kamu tinggal di sana." "Aku nggak butuh izin dari kamu, Farhan! Karena mulai detik ini, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kita putus!" ucap Ziva dengan penuh penekanan. "Besok pagi aku berangkat ke Yogyakarta untuk tinggal di sana, menetap, dan belajar. Aku mau fokus sama kuliahku, dan aku nggak butuh pacar yang kerjanya cuma bisa ngebatasin ruang gerakku." Wajah manis Farhan perlahan memudar, rahangnya mengeras. Sifat aslinya yang tidak bisa menerima penolakan mulai muncul ke permukaan. "Kamu nggak bisa mutusin aku sepihak cuma karena kamu ngerasa udah hebat mau kuliah di UGM, Ziva!" nada suara Farhan mulai meninggi, menunjuk ke arah wajah Ziva. "Kamu pikir hidup di luar kota sendirian itu gampang? Siapa yang bakal jagain kamu di sana?!" "Aku tinggal sama Kakek aku, dan aku jauh lebih aman di sana daripada harus terus-terusan dicurigai sama kamu di sini!" balas Ziva tak kalah lantang. "Nggak! Aku nggak bakal biarin kamu pergi gitu aja!" Kehilangan kendali atas emosinya, Farhan tiba-tiba melangkah maju dengan kasar dan mencengkeram pergelangan tangan Ziva dengan sangat kuat. Pemuda itu menarik Ziva mendekat, menatap gadis itu dengan kilat kemarahan yang mengerikan. "Dengerin aku, Zivanna Adiraja. Kamu itu pacar aku. Kamu nggak akan pergi ke mana-mana sebelum kita selesaiin masalah ini!" desis Farhan penuh ancaman. "Lepasin! Sakit, Han!" Ziva meronta, berusaha menarik tangannya, namun tenaga pemuda itu jauh lebih besar. Ketakutan mulai merayapi dada Ziva. Laki-laki itu seolah menulikan telinganya. Menolak peduli pada rontaan Ziva, Farhan justru menarik paksa gadis itu menuju pintu penumpang dan mendorongnya masuk ke dalam Honda Civic hitam miliknya. Dengan urat-urat tangan yang menonjol tegang menahan emosi, Farhan menarik seatbelt dan memasangkannya secara paksa ke tubuh Ziva, lalu membanting pintu mobil dengan keras. Pemuda itu kemudian setengah berlari memutari kap depan dan langsung melompat masuk ke kursi pengemudi. "Kita mau ke mana?! Aku nggak mau pergi sama kamu! Buka pintunya, Farhan! Turunin aku sekarang juga, atau Papa dan kakakku bakal nyari kamu sampai kemanapun!" jerit Ziva panik. Tangannya menggedor-gedor kaca jendela dan menarik-narik tuas pintu yang sudah terkunci otomatis dari sisi kemudi. Sama sekali tidak mempedulikan rontaan Ziva, Farhan justru menginjak pedal gas, melajukan mobilnya membelah jalanan. "Papa dan kakakmu tahu aku ini pacarmu, Sayang. Jadi mereka pasti mengira kita cuma kencan biasa," balas Farhan dengan nada tenang dan senyum tipis yang justru memancarkan aura mengerikan. "Aku cuma mau ngajak kamu jalan-jalan sebentar. Sekedar membuka pikiranmu supaya kamu membatalkan rencana konyol pindah ke Yogya besok." "Kamu benar-benar gila, Farhan! Turunin aku sekarang...!" teriak Ziva histeris, napasnya memburu di tengah rasa takut yang mulai mencekik dadanya. Mendengar nama itu disebut, tawa yang sejak tadi meledak di bibir Ziva menghilang tanpa sisa. Wajah gadis itu mendadak kaku, senyumnya luntur seketika. Bahkan Ibran yang biasanya tidak peka terhadap situasi, refleks melepaskan cengkeramannya dari pinggang sang kakak dan ikut menoleh ke arah Angga dengan kening berkerut. "Ngapain tuh cowok toxic ke sini?" decak Ibran sinis, bangkit berdiri sambil merapikan kausnya yang kusut. "Belum puas dia neror hape Kak Ziva dari semalam sampai baterainya drop?" Angga tidak menjawab Ibran. Mata elangnya masih menatap lurus pada Ziva yang kini perlahan bangkit dari sofa, merapihkan rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar. "Kalau lo nggak mau ketemu dia, gue bakal suruh satpam depan buat ngusir dia sekarang juga," tawar Angga dingin. Bagi Angga, tidak ada satupun hal yang boleh mengganggu ketenangan keluarganya. Ziva menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan debar jantungnya. Ia men
Angga dan Liana masih terdiam mendengar pertanyaan Ibran. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat menjawab. Liana kembali fokus pada halaman novel To Kill a Mockingbird di pangkuannya, seolah pertanyaan Jibran Adiraja dan segala kehebohannya barusan hanyalah selembar daun kering yang ditiup angin. Gadis itu dengan tenang membalik halaman, matanya menelusuri deretan kalimat ikonik dari karakter Atticus Finch yang sedang ia baca. "You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb into his skin and walk around in it." Sebuah filosofi tentang memahami sudut pandang orang lain sebelum menghakimi. Dan dari sudut pandang Liana yang kelewat rasional, Ibran saat ini hanyalah remaja laki-laki dengan hormon hyperactive yang sedang memancing reaksi. Tidak ada alasan untuk tersipu, marah, apalagi mengklarifikasi status hubungannya dengan Angga, yang memang tidak ada apa-apa. Mengabaikan pemuda itu adalah langkah yang paling efisien un
Angin pagi berembus lembut melintasi permukaan danau buatan, membawa hawa sejuk yang menyapa kulit. Di bawah bayangan pohon trembesi yang rindang, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Angga. Otak pemuda itu biasanya bekerja cepat seperti ayahnya, dan tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Namun pagi ini, semua isi di kepalanya seakan terhenti hanya karena melihat seorang gadis. Angga melangkah perlahan mendekati bangku taman itu. Sepatu olah raganya tidak menimbulkan suara saat menginjak aspal paving. Dari jarak sedekat ini, Angga bisa mengamati sosok gadis itu dengan lebih detail. Ia sedang membaca novel tebal bersampul klasik, To Kill a Mockingbird. Jari-jarinya yang lentik membalik halaman dengan tenang. Tidak ada riasan di wajahnya, hanya kulit wajah yang bersih, cerah, dan rona merah alami akibat udara pagi. Wangi parfum Jo Malone Wood Sage & Sea Salt tercium dari arah tubuhnya, membaur sempurna dengan aroma kopi Americano di sebelahnya. Santa
"Assalamualaikum." Suara bariton yang berat dan tenang memecah hiruk-pikuk di ruang makan Griya Zadewa. Anggara baru saja membuka pintu utama dan melangkah masuk. Pemuda jangkung itu berjalan menghampiri meja makan di mana seluruh keluarganya telah berkumpul, memancarkan rasa lelah yang justru membuat wajah tampannya terlihat semakin menawan. "Kenapa baru pulang jam segini, Angga?" tegur Dewa layaknya seorang ayah yang menuntut laporan karena putranya pulang melebihi jam tujuh malam. Angga menarik kursi di sebelah Ibran, menghela napas panjang untuk melepaskan penatnya, lalu membalas singkat, "Nemenin Sena kumpul sama teman-temannya dulu di kafe tadi, Pa." Tanpa dosa, tangan Angga terulur mencomot tahu goreng terakhir yang ada di atas piring adiknya. "Ck! Kenapa ambil punya gue sih, Kak?!" protes Ibran tak terima. Ia buru-buru menoleh ke piring saji di tengah meja untuk mengamankan satu-satunya tahu goreng yang tersisa. Namun, tangannya kalah cepat oleh garpu Ziva yang men
"JIBRANNN!" Teriakan melengking Zea membahana dari lantai dasar, memantul di dinding-dinding marmer Griya Zadewa hingga nyaris membuat lampu gantung kristal di ruang tamu bergetar hebat. Para asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruang keluarga seketika menunduk, mendadak sibuk mengelap vas bunga yang sebenarnya sudah mengkilap, tak berani mencari gara-gara dengan sang Nyonya Rumah. Zea baru saja tiba dari Mahkamah Agung. Wanita cantik itu bahkan belum sempat mengganti kemeja sutra dan blazer kerjanya, apalagi melepas sepatu hak tingginya. Tas kerjanya ia letakkan sembarangan di atas sofa ruang tamu, sementara dadanya naik turun menahan emosi. "Kenapa teriak-teriak sih, Sayang? Suaramu itu aset negara, jangan dihabiskan untuk marah-marah." Sebuah suara bariton yang dalam dan berat terdengar bersamaan dengan sepasang lengan kekar yang tiba-tiba melingkar erat di pinggang Zea dari arah belakang. Dewa, yang rupanya baru saja masuk menyusul istrinya dari garasi, tanpa
Suasana kelas XI-IPA 1 mendadak hening begitu Pak Yoyo, guru Matematika paling disiplin seantero SMA Internasional Pelita Bangsa, mulai menggoreskan spidol hitamnya di papan tulis. Deretan rumus logaritma yang terlihat seperti bahasa alien mulai memenuhi papan putih itu. Bagas, yang duduk di barisan belakang, mencuri pandang ke sebelah kirinya. Matanya membulat tak percaya melihat Jibran masih duduk tegak di dalam kelas. Pasalnya, Jibran itu sudah diangkat jadi ketua Osis tahun ini, dan diluar sana adik-adik kelas yang cantik dan ganteng sudah menunggu pidatonya untuk membuka acara Orientasi siswa baru. Tangan Ibran justru masih memegang pena, matanya menatap lurus ke depan dengan raut wajah sok serius dan penuh konsentrasi. Namun, jika diperhatikan lebih teliti, tatapan Ibran sama sekali tidak tertuju pada rumus logaritma di papan tulis. Fokus sepasang mata elang pemuda itu terkunci rapat pada punggung kecil berbalut cardigan pink yang duduk tepat di barisan depannya. Ghea Cal







