Share

Bab 4. Ritual Makan Bersama

"Nona Patrice memang bisa diandalkan," Amar Mea Malawi menajamkan telinga ingin tahu apa saja yang di perbincangkan.

["Nyonya Muda sangat beruntung, tuan muda Mea Malawi menjatuhkan pilihannya kepada Nyonya Muda. Banyak sekali wanita cantik datang ke rumah ini mencari perhatian tuan muda, namun majikan Patrice itu tidak pernah menemui mereka."]

["Beruntung apanya? Kau tidak tahu bagaimana rasanya ketika senjata tajam majikanmu yang besar, panjang, dan keras itu menusuk diriku? Sangat sakit! Membuat napasku nyaris putus."]

["Nyonya Muda, yang terpenting cinta tuan muda sangat besar pada Nyonya Muda."]

Mary Aram kembali menangis tersedu-sedu, hingga terbatuk.

["Rasa sakit itu masih terasa ngilu dan kaku sampai saat ini."]

"Oh kasihan sekali! Sebesar dan sepanjang apakah senjata tajam ku?" Amar Mea Malawi menutup matanya dengan telapak tangan.

["Nyonya Muda, mungkin untuk pertama kali memang sakit, seiring berjalannya waktu tentu akan terbiasa. Bahkan Nyonya Muda akan merindukan tuan muda."]

["Bagaimana bisa merindukan majikanmu? Pria itu sangat berat dan geramannya sangat berisik."]

Amar Mea Malawi terbahak mendengarnya, ia menikmati anggurnya sambil memandang gemerlap lampu kota St Martin yang indah bagai permata.

"Tuan Muda, nyonya muda siap untuk makan malam," terdengar nona Patrice memanggil.

"Ah Nona Patrice terimakasih," Amar Mea Malawi tersentak dari lamunannya.

Pria itu kembali masuk ke dalam kamar, ia mendapati Mary Aram duduk di atas pembaringan sambil menunduk. Gadis itu terus menangis memukul-mukul dirinya sendiri.

"Terlalu! Sungguh terlalu! Aku tidak dapat menjaga diri sendiri," isak tangis kemarahan memecah keheningan kamar.

"Kita telah menjadi satu tubuh. Diriku adalah dirimu, dan dirimu adalah diriku," Amar Mea Malawi mengangkat dagu Mary Aram, "Jadi tidak ada gunanya kau mempertahankan amarahmu."

Amar Mea Malawi mengangkat dan memindahkan tubuh Mary Aram ke permadani di sudut kamar, di sana sudah tertata rapi makan malam serta anggur untuk ritual makan bersama.

Amar Mea Malawi meneguk sedikit anggur, kemudian memindahkan anggur yang tersisa di mulutnya ke dalam mulut Mary Aram sebagai tanda memulai ritual makan bersama. Lalu mengulanginya sekali lagi.

"Kita telah menjadi satu tubuh, sebagai suami aku berjanji mencintaimu seumur hidupku. Dari mulutku aku melimpahkan kasih sayang, serta makanan dari hasil jerih payahku secara halal."

"Apakah kau bersedia menjalani hidup baru bersamaku?" Amar Mea Malawi menatap mata Mary Aram dengan bersungguh-sungguh.

Mendapati Mary Aram diam tidak bergeming, Amar Mea Malawi mengulangi meneguk anggur dan memindahkannya kembali ke mulut Mary Aram.

"Kau bersedia menjalani hidup baru bersamaku?" Amar Mea Malawi mendekatkan mulutnya pada lubang telinga Mary Aram.

Mary Aram menangis menunduk, menghindari tatapan Amar Mea Malawi, "Mary Aram belum siap menikah."

"Baik," sekali lagi pria itu memindahkan anggur dari mulutnya ke mulut Mary Aram.

"Amar Mea Malawi sangat mencintai Mary Aram. Apakah Mary Aram bersedia menjalani hidup baru bersama Amar Mea Malawi?"

Anggur itu membuat wajah Mary Aram merona memerah, hawa panas anggur mulai menguasai dirinya. Dengan kesal Mary Aram akhirnya menjawab, "Mary Aram bersedia!"

"Terimakasih Mary Aram," Amar Mea Malawi mengecup kening Mary Aram, "Aku berjanji mencurahkan kasih sayang padamu dan anak-anakmu, serta menjamin hidupmu berkelimpahan susu dan madu."

Amar Mea Malawi memindahkan makanan dari mulutnya ke dalam mulut Mary Aram, sebagai bentuk ungkapan kasih sayang kepada belahan jiwanya.

Dalam tradisi masyarakat Mua Mua, ritual makan bersama sangatlah penting untuk menjalin keharmonisan dan keintiman pernikahan.

Amar Mea Malawi mengagumi kecantikan belahan jiwanya, yang mulai membalas menyuapkan makanan dengan mulutnya.

Acara ritual makan bersama itu berjalan dengan mengesankan. Amar Mea Malawi mengakhiri ritual makan bersama itu dengan saling berpagut anggur.

"Apakah tusukan senjata tajam milikku sangat menyakitkan?" Amar Mea Malawi berbisik lembut membelai telinga Mary Aram.

"Sangat menyakitkan," Mary Aram menjawab dengan canggung.

"Baik! Aku akan memberi penawarnya," Amar Mea Malawi membaringkan Mary Aram di permadani, kemudian menyingkap kain dan mulai menjelajah dengan pagutan pada ambang pintu istana misteri.

"Tuan Muda hentikan!" Rasa itu menguasai diri Mary Aram menciptakan getaran. "Tuan Muda kumohon hentikan."

Pagutan itu berganti dengan kunjungan mesra. Dalam gerak selaras dengan detak jantung, Amar Mea Malawi berkarya menciptakan denyut.

"Kau menyukainya? Mintalah kapan saja jika kau ingin," Amar Mea Malawi berbisik sangat lembut. Dalam suasana lampu yang temaram, pekik dan tangis sendu Mary Aram mewarnai suasana.

"Tuan Muda hentikan," kesenduan itu begitu mengesankan bagi Amar Mea Malawi. Belahan jiwanya itu terlihat sangat cantik! Sangat memukau!

Di bawah kekuasaan mata bajak Amar Mea Malawi, Mary Aram kembali terikat dalam penyatuan. Benih-benih cinta tercurah bertaburan di lahan subur, mengantar keduanya ke puncak getaran kasih sayang.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status