تسجيل الدخول"Maaf membuatmu menunggu."Raka kembali ke ruang tamu sambil membawa sebuah map berwarna cokelat di tangannya. Ia menghampiri sofa, lalu menyerahkan map itu kepada Calista yang sejak tadi menunggu dengan kedua tangan terlipat di depan dada."Ini hasil pemeriksaan ulang Tuan Adrian," ucap Raka. "Aku ingin mendiskusikannya bersamamu."Calista menerima map itu tanpa banyak bicara. Jemarinya segera membuka halaman demi halaman, sementara tatapannya langsung menelusuri setiap hasil pemeriksaan dengan saksama."Kau mau makan apa, Dokter Calista?" tanya Raka tiba-tiba. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mulai membuka aplikasi pemesanan makanan."Tidak," jawab Calista singkat. Pandangannya tetap tertuju pada berkas di tangannya, seolah tidak tertarik sedikit pun dengan pertanyaan itu."Baiklah." Raka mengangguk pelan sambil menggeser layar ponselnya. "Kalau begitu aku pesan dua porsi yang sama saja.""Terserah kau." Calista membalik halaman berikutnya tanpa mengangkat kepala. "Aku tidak akan mem
“Dokter Raka...” panggil Dokter Hadi sambil mengenakan tas kerjanya. Ia berdiri dari kursinya dan menoleh ke arah Raka yang masih menatap layar komputer. “Kau tidak pulang?”"Sebentar lagi," jawab Raka tanpa mengalihkan pandangan dari berkas yang sedang diperiksanya. Jemarinya masih bergerak membolak-balik hasil pemeriksaan pasien. "Masih ada beberapa hal yang harus kuselesaikan untuk persiapan besok.""Baiklah kalau begitu, aku pulang duluan." Dokter Hadi menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis. "Jangan bekerja terlalu malam."Raka hanya membalas dengan anggukan kecil. Tak lama kemudian, pintu ruangan tertutup pelan, meninggalkan dirinya kembali larut dalam tumpukan berkas dan keheningan ruang dokter spesialis.Namun tiba-tiba, Dokter Hadi berbalik dan kembali membuka pintu kaca ruang dokter spesialis."Oh iya, dokter Raka," ucap dokter Hadi. "Sekarang kita sudah menjadi rekan kerja. Tidak usah terlalu formal denganku."Raka tertawa sebentar sebelum kembali berkata,"Siap, dokter
Waktu terus berlalu, tetapi Calista belum juga kembali. Raka beberapa kali mengangkat pandangannya ke arah jam itu sebelum kembali menatap meja kerja Calista yang masih kosong."Kenapa kau terlihat gelisah seperti itu, Dokter Raka?" tanya Dokter Hadi. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak lalu menoleh ke arah Raka yang sejak tadi tampak tidak tenang."Saya akan melakukan pemeriksaan ulang secara menyeluruh kepada Tuan Adrian sebentar lagi," jawab Raka sambil mengembuskan napas pelan. Tatapannya kembali tertuju pada meja Calista. "Tapi Dokter Calista belum juga kembali.""Oh, jadi itu penyebabnya." Dokter Hadi menganggukkan kepala. Ia melirik jam dinding sebelum kembali menatap Raka. "Sepertinya kau harus melakukannya sendiri. Dokter Calista memang sangat jarang kembali ke departemen kalau hari sudah sore."Raka terdiam beberapa saat. Ia akhirnya mengangguk, lalu meraih map rekam medis yang telah dipersiapkannya sejak tadi."Baiklah kalau begitu," ucap Raka sambil berdiri dari kursinya.
Di ruang krematorium, peti jenazah Tuan Baskoro telah dipersiapkan untuk memasuki mesin kremasi. Dua orang petugas berdiri di sisi peti, sementara Raka dan Kevin ikut membantu mendorongnya dengan perlahan. Di sudut ruangan, Nita tetap berada di samping Arvin, menemaninya sejak tadi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Calista melangkah masuk dengan tenang. Kehadirannya membuat beberapa orang menoleh, termasuk Nita dan Arvin yang langsung mengalihkan pandangan ke arahnya."Kakak..." ucap Arvin lirih.Calista membalas dengan senyum tipis, lalu menghampiri Arvin hingga berdiri di sampingnya. "Arvin," ucapnya lembut, "ini adalah kesempatan terakhirmu untuk berpamitan kepada ayahmu."Arvin mengangguk pelan. Ia tidak melangkah mendekati peti jenazah, melainkan memejamkan mata sambil merapatkan kedua telapak tangannya.Ketika peti itu perlahan bergerak memasuki mesin kremasi, bibirnya bergetar menahan tangis. "Ayah... selamat tinggal," ucapnya lirih.
"Rangga Tirta..." ucap Putri Jayasari lirih. Kepalanya masih bersandar di bahu pria itu. "Apakah kau senang telah diangkat menjadi Jenderal Perang?"Rangga Tirta yang semula menegang perlahan memaksa dirinya untuk tetap tenang. Ia menatap lurus ke depan sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan."Sepertinya lebih banyak tidak senangnya," jawab Rangga Tirta."Kenapa?" tanya Putri Jayasari. Ia sedikit mengangkat wajahnya, berusaha mencari jawaban dari ekspresi pria di sampingnya."Tanggung jawab yang hamba pikul kini jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya," ucap Rangga Tirta tenang. "Jika hamba memimpin perang, bukan hanya nyawa hamba yang dipertaruhkan, tetapi juga nyawa seluruh prajurit yang berada di bawah komando hamba.""Lalu?" Putri Jayasari kembali bertanya. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah pria itu. "Apa lagi yang membuatmu tidak senang?"Rangga Tirta terdiam sejenak. Pandangannya kosong menatap lantai sebelum akhirnya tersenyum tipis."Entahlah." Ia menggeleng pelan.
Setelah pelantikan resmi selesai, para prajurit mengadakan pesta besar untuk merayakan pengangkatan Rangga Tirta sebagai Jenderal Perang Kerajaan Jayantara. Sebelumnya, Rudha Wisesa telah meminta izin kepada Maharaja Jayawardhana untuk mengadakan perayaan tersebut, dan sang raja mengizinkannya. Hingga malam tiba, suara tawa, dentingan gelas, serta alunan musik masih memenuhi camp para prajurit."Rangga Tirta," ucap Rudha Wisesa dengan wajah memerah karena pengaruh arak. "Sedikit sekali kau minum. Ini pesta untukmu, jadi habiskan semuanya."Rangga Tirta hanya tersenyum tipis sambil menatap gelas di tangannya. "Jenderal tahu aku tidak terbiasa minum sebanyak itu," jawabnya tenang sebelum meneguk sedikit arak di dalam gelasnya."Tidak, aku tahu itu bukan alasanmu." Rudha Wisesa menunjuknya dengan gelas yang hampir kosong. "Jika kau benar-benar seorang lelaki, minumlah sampai tidak sadarkan diri. Percayalah, itu sedikit membantu menghadapi perasaan yang tidak bisa kau lawan."Rangga Tirta
Raka mengembuskan napas pelan sebelum menggeleng kecil. Tatapannya kembali tertuju pada layar besar yang masih menampilkan rekonstruksi tiga dimensi mediastinum pasien."Masalahnya, pasien ini juga mengalami kompresi arteri pulmonalis kanan, penyempitan bronkus utama kanan, dan ancaman hipertensi p
Tepat menjelang waktu makan siang, suasana rumah sakit yang semula tenang mendadak berubah ramai. Para dokter dari berbagai departemen bergegas menyusuri koridor dengan langkah terburu-buru.Di Departemen Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular, Kevin yang baru saja menerima panggilan segera mempercepa
"Apakah karena aku seorang wanita..." tanya Calista sambil menyandarkan tubuh ke kursinya. "Kau meminta saranku?" Tatapannya kini tertuju pada Raka, sementara jemarinya berhenti membalik halaman berkas di tangannya.Raka menganggukkan kepala tanpa ragu."Itu benar," jawabnya sambil tersenyum kecil.
"Apa yang membuat Ibu tidak ingin menjalani operasi?" tanya Raka pelan. Ia menunggu dengan sabar tanpa mendesak wanita di hadapannya.Wanita itu menunduk. Jemarinya kembali menyentuh benjolan di pipinya, lalu berhenti tepat di sudut bibirnya."Saya tidak ingin wajah saya berubah," jawabnya lirih. K







