LOGINSelama beberapa hari di sana, hubungan Ayyana dan Fakhri mulai semakin dekat. Mereka sudah tidak terlalu canggung untuk sekedar berpegangan tangan atau duduk berdekatan layaknya pasangan.
Hanya saja mereka belum terlalu jauh untuk melakukan kontak fisik yang lebih dari itu, hubungan mereka terlihat lebih mirip para remaja yang sedang berpacaran.Namun Ayyana sudah cukup bahagia, menurutnya hubungan mereka tidak perlu berkembang terlalu cepat. Mengingat mereka menikah karenaDaffa tidak bisa terus menerus seperti ini, ia juga ingin bisa berdamai dengan dirinya, seperti Fakhri. Ia kembali mengambil ponsel dan mengirimkan pesan lagi pada Dita. 'Ayo kita nikah.' Isi pesannya. Singkat dan langsung to the point, tidak seperti pesan sebelumnya. Setelah itu, ia melempar ponselnya ke kasur dan meraup wajahnya sendiri. Apa yang akan di pikirkan Dita begitu melihat pesannya? Apakah ia akan dianggap gila? oOoOo Keesokannya, Daffa melakukan aktivitas seperti biasa, setelah membuat sarapan untuknya dan Jihan, ia duduk di meja makan dan kembali mengecek ponsel. Menanti pesan balasan dari Dita yang tak kunjung datng sejak semalam padahal pesannya sudah di baca. Helaan napas terdengar dari pria itu, namun baru saja meletakkan ponsel, benda itu tiba-tiba saja berdering. Ia terlonjak dengan semangat meraih ponselnya lagi, berharap itu panggilan dari orang yang ia tunggu-tunggu teta
"Kata Daffa, dia ngamuk.""Ngamuk?""Jihan itu tempramental, mungkin faktor dari kejadian saat kecelakaan keluarganya, emosi Jihan kadang jadi sulit dikendalikan. Kalau ada hal yang nggak sesuai sama keinginannya, dia akan melakukan berbagai hal, kayak ngamuk atau bahkan mencoba mencelakai dirinya sendiri.""Tapi dia baik-baik ajah kan sekarang?" Itu yang paling penting, meski Ayyana tahu bahwa mustahil rasanya baik-baik saja setelah tahu kenyataan seperti itu."Ada Daffa sayang, dia bisa nanganin Jihan jauh lebih baik dari aku.""Gimana kalau kita samperin dia?" Cicit Ayyana pelan, itu jelas bukan jalan terbaik, tapi apa yang lebih baik dari pada membiarkan Jihan seolah tergantung tanpa penjelasan pasti dari pihak yang bersangkutan?Kalau Ayyana ada diposisi yang sama, ia jelas akan jauh lebih tenang setelah membicarakan semuanya secara langsung pada Fakhri, agar masalah tidak semakin berlarut."Aku memang berencana unt
Dengan usil Fakhri mengangkat tubuh Ayyana ke ranjang. "Mas!" Protes Ayyana menggeplak lengan Fakhri. "Udah diperingatin kan tadi." "Aku bilang 'heh' bukan 'hah'." Katanya mendorong Fakhri. "Jangan lari dari penjelasan kamu." Ayyana beralih duduk dan bersedekap. "Jadi dulu kamu sempat mau nikah sama Jihan? terus kamu masih bilang kalau kalian nggak pernah ada hubungan, iya?" Fakhri kembali ke mode serius. "Aku murni anggap Jihan sebagai adik, sayang. Dari dulu sampai sekarang." "Tapi kenapa aku sempat mengiyakan permintaan dia? Karena aku mikirnya saat itu, mungkin itu salah satu cara untuk aku tebus kesalahan ku sama Jihan. Juga sebagai bentuk perwujudan tanggung jawab ku untuk memenuhi permintaan terakhir Reza." Situasi diantara mereka dalam sekejap kembali sendu, Ayyana bisa menangkap sorot kesedihan yang masih tertanam dalam hati suaminya. Tatapan yang sama dengan apa yang selama ini ia lihat setiap kali Fakhri kembali dari luar negeri, tatapan yang dulunya ia pikir hanya
"Aku nggak bermaksud buat bohongin kamu sayang.""Tapi Mas bermaksud untuk menutupinya dari aku." Telak Ayyana. "Kita suami istri Mas, komunikasi itu pnting. Mau sampai kapan kamu selalu menutup diri dari aku? Apa kamu merasa aku nggak sebegitu bergunanya sampai kamu nggak pernah mau berbagi keluh kesah sama aku?"Fakhri bangkit dengan cepat kearah Ayyana. "Sayang hei, aku nggak pernah mikir kayak gitu."Ia meraih jemari Ayyana dan berlutut di hadapannya. "Aku nutupin semuanya selama ini, bahkan pun soal keberadaan Jihan karena nggak pengen bikin kamu khawatir.""Berhenti beranggapan kalau kamu nggak penting buat aku. kamu penting sayang, lebih dari apapun dan siapapun.""Kalau gitu cerita sama aku." Tuntut Ayyana."Oke, fine. Tapi nggak sekarang__""Mas!""Kita harus ke kantor sayang." Kata Fakhri mengangkat tangan kiri Ayyana yang dilingkari jam tangan, menunjukkan waktu masuk kantor yang sudah mepet.Ayyana cemberut. "Kamu mah.""Aku cerita
Jihan menyentak tangan Daffa dengan cukup keras dan beranjak masuk ke kamarnya."AARRGH!!!" Amukan Jihan berlanjut dengan melampiaskan kekesalannya pada barang-barang di kamarnya.Membanting bantal ke lantai hingga menarik seprai dengan kasar sampai tak berbentuk."Brengsek!" Maki Jihan entah ia tujukan pada siapa. "Setelah semua hal yang gue lakuin, setelah semua hal yang gue korbanin, kenapa harus kayak gini?"Jihan meremas kuat rambutnya dan duduk di meringkuk di samping tempat tidur, ia menangis sejadi-jadinya."Enggak! Kak Fakhri harus tetap sama gue! Kak Fakhri harus nikah sama gue! Kak Reza udah minta dia buat jagain gue, tapi kenapa harus kayak gini?"Tubuh Jihan menggigil, ia tidak bisa menerima kenyataan kalau Fakhri sudah menikah dengan perempuan lain."Kalau gue nggak bisa bahagia, Kak Fakhri juga nggak boleh bahagia!"Tangisan Jihan semakin menjadi, mengiringi tubuhnya yang terasa mulai lunglai.
"Lah Mami lo sakit?"Perhatian Ayyana ikut teralihkan mendengar pertanyaan Fakhri. "Sakit apa? Kok Mami nggak ada hubungin gue?" Cecar Fakhri yang tak mendapat kabar apapun dari Maminya sendiri.'Eh, apa sih?' Daffa jadi ikutan pnik mendengar Fakhri. "Bukan itu maksud gue elah.""Lo tadi bilang Mami lo lagi nggak baik."'Bukan sakit.' Perjelas Daffa."Ya terus?"'Kurang lebih dua bulan yang lalu, Mami minta gue buat pulang tapi nggak gue tanggapin dan kali ini dia ngancem bakalan kesini nyeret gue kalau gue nggak pulang besok.'"Ya udah sih pulang dulu, dia pasti juga kangen sama lo."'Bukan kangen.'"Terus?"'Mami maksa gue buat bawain dia calon mantu.'Bibir Fakhri berkedut menahan tawa."Kenapa? Tante Rania sakit apa?" Tanya Ayyana heran melihat perubahan sikap Fakhri."Ngidam sayang."Bola mata Ayana melebar. "Hah? Tante Rania hamil? Kak Daffa mau punya a
Ayyana benar-benar memenuhi permintaan Dita dengan mengajaknya makan di restoran mahal, meski bukan tempat makan paling mahal tapi itu sudah cukup membuat Dita terkesan.Toh, kalau hendak ke restoran yang lebih mewah harus reservasi jauh-jauh hari jadi mereka memilih yang mudah saja.
"Aku selalu percaya sama kamu selama ini Mas, bahkan saat Dita gencar minta aku selidiki pekerjaan kamu pun, aku tetap ada di pendirian yang sama. Tapi apa? Ternyata yang Dita bilang selama ini itu benar. Tega ya kamu bohongin aku selama ini."Melihat Ayyana histeris, Fakhri segera menar
Bukannya membaik, kondisi Ayyana justru semakin parah. Suhunya meningkat sejak semalam, karena itu pula Dania memutuskan untuk ikut bermalam bersama Kayla. Ia tidak tega meninggalkan Ayyana dengan kondisi seperti itu, tadinya Dania hendak menghubungi Ayu tapi Ayyana melarang dan se
"Mau di pijit nggak?" Tanya Fakhri mendekati Ayyana yang duduk setengah berbaring di kasur."Enggak usah, Mas juga pasti capek kan.""Kalau cuma buat mijit kamu sih, masih kuat sayang."Ayyana tetap menolak, ia lebih memilih menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Keduanya duduk bers







