ANMELDENAyyana benar-benar memenuhi permintaan Dita dengan mengajaknya makan di restoran mahal, meski bukan tempat makan paling mahal tapi itu sudah cukup membuat Dita terkesan.
Toh, kalau hendak ke restoran yang lebih mewah harus reservasi jauh-jauh hari jadi mereka memilih yang mudah saja.Selesai makan, mereka menyeret dua pria itu ke mall untuk berbelanja seperti yang tadi mereka katakan."Mau beli apa dulu?" Tanya Fakhri yang setia menggenggam tangan Ayyana.PAyyana menarik napas panjang, menyeka air matanya dan membalas tatapan Fakhri, "Aku kasih kamu kesempatan untuk jujur sekarang Mas, nggak usah tutupin apapun lagi sama aku. Jujur dan buka semuanya tentang hubungan kamu dan Jihan selama ini." Jika pun kebenaran yang diucapkan Fakhri adalah sebuah fakta menyakitkan, itu jelas lebih baik jika ia mendengarnya secara langsung dari Fakhri bukan dari orang lain. "Sayang, aku memang pernah membohongi kamu soal Jihan, tapi untuk hal ini, aku berani bersumpah, aku nggak pernah sekali pun menyentuh Jihan melewati batas, apalagi sampai berzinah dengan dia sayang." Fakhri putus asa, entah harus menjelaskan dengan cara bagaimana lagi untuk membuat Ayyana kembali percaya padanya. Di saat mereka kembali bersitegang, ponsel Fakhri tiba-tiba berdering, menandakan satu notifikasi pesan baru. Tak ia hiraukan, tak ada yang lebih penting saat ini selain mendapatkan kembali kepercayan sang istri. "Buka pesan kamu Mas," pinta Ayyana. "Itu nggak penting
Ayyana berusaha mengabaikan panggilan Fakhri, namun suaminya itu tak berhenti memanggil dan mengetuk. Ia yang sedang berbaring di kasur membalikkan tubuh, hingga tanpa sengaja menatap obat yang di dapatnya dari rumah sakit tadi. Perasaan bersalah menyeruak dalam hati Ayyana, ada getaran dalam dirinya yang mengingatkannya untuk menjadi ibu yang baik. Karena itulah ia bangkit dan keluar dari kamar. Hal pertama yang dilihatnya begitu membuka pintu, tentu saja Fakhri. Pria itu masih berdiri di sana, namun kali ini ada sebuah piring berisi makanan lengkap dengan segelas air ditangannya. Tanpa mengatakan apapun, Ayyana segera merebut kedua benda itu dan kembali menutup pintu. Tapi Fakhri berhasil menerobos masuk karena Ayyana kesulitan menguncinya. Fakhri berusaha mengulas senyum meski Ayyana menatapnya horor, lalu merebut piring dan gelas di tangan Ayyana, menyimpannya di atas meja depan sofa. "Makan dulu sayang," ajak Fakhri.
Untungnya Fakhri dengan sigap bisa mengentikan Jihan dan menahan tangannya untuk tidak bertindak lebih brutal.Ia lalu menyeret Jihan keluar dari sana, tidak ingin Ayyana kembali mendengar pertengkaran mereka."Lepas! Aku akan tinggal di sini sama perempuan itu, aku nggak mau pergi." Jerit Jihan seraya meronta, namun tenaga Fakhri masih lebih kuat.Fakhri mendorong tubuh Jihan memasuki mobil dengan sedikit kasar karena Jihan terus berontak, "Kalau kamu masih tidak bisa diam, saya nggak akan segan mengirim kamu pulang ke luar negeri sekarang juga."Ancaman itu berhasil, Jihan menyentak tangan Fakhri dan duduk dengan tenang di kursi belakang. Fakhri kembali mengambil koper Jihan dan memasukkannya ke bagasi sebelum membawa mobilnya menjauh dari sana.Kedatangan Jihan hari ini pun sama sekali diluar kendalinya, bahkan semalam pun Daffa tidak mengatakan apapun. Tiba-tiba saja beberapa saat setelah ia sampai di kantor, Daffa baru menghubunginya bahwa Jihan menghilang.
Bagai disambar petir di siang bolong, Ayyana tidak pernah menyangka pertemuan pertamanya dengan Jihan akan membawa fakta mengerikan seperti ini."Sayang jangan dengerin dia, itu semua fitnah, aku sama sekali nggak pernah melakukan hal seperti itu." Jelas Fakhri yang sama sekali tak bisa mengobati sesak di hati Ayyana.Dengan tangan bergetar, ia membolak balik kertas hasil pemeriksaan kesehatan Jihan dan juga beberapa hasil medis lain yang menyatakan bahwa perempuan itu pernah mengandung dan berakhir keguguran karena sebuah kecelakaan hingga akhirnya rahim Jihan harus di angkat karena cedera yang serius."Kalau kalian masih belum percaya, aku punya bukti lain." Jihan menarik senyum sinis dan mengeluarkan beberapa lembar foto dari tasnya.Hari ini adalah moment yang paling ia nantikan, ia akan merebut Fakhi kembali dengan cara apapun. Melihat Ayyana yang tidak berkutik di hadapannya membuat Jihan merasa di selimuti kemenangan, perempuan itu tampak lemah dan Jihan meras
Melihat kondisi Ayyana, Anggi paham betul apa yang dirasakannya. Ia mengelus pelan lengan Ayyana dan berucap, "Semuanya akan baik-baik ajah Ayyana, kamu nggak perlu terlalu khawatir."Anggi berusaha untuk meyakinkannya, meminta Ayyana untuk tidak terlalu banyak pikiran. Kemudian ia menjadwalkan pemeriksaan rutin untuk Ayyana lebih sering untuk memantau kondisinya secara ekstra.Untuk masalah fisik, Ayyana sebenarnya sudah baik-baik saja, bahkan pun rahimnya sudah normal dan siap untuk kembali hamil. Tetapi psikisnya yang tidak terlalu baik, trauma akan keguguran itu jelas bisa memicu stres yang dapat membuat tekanan darahnya naik.Setelah berkonsultasi lebih banyak, Ayyana pun memutuskan untuk kembali, berganti dengan pasien di antrian selanjutnya.Ia pun tidak kembali ke kantor lagi, Dita menyarankan agar ia pulang saja untuk beristirahat lebih banyak. Apalagi wajah perempuan itu sejak tadi tampak lebih pucat.Menyadari keterdiaman Ayyana sejak tadi, Dita yang sudah menghentikan mobi
"Inget, jangan capek-capek." Peringat Fakhri setelah Ayyana menyalami tangannya dan hendak masuk ke kantor. "Siap Pak Bos." Canda Ayyana. "Dasar kamu." Fakhri mengakhiri obrolan mereka dengan mencubit pelan pipi sang istri kemudian ia sendiri beranjak masuk ke mobil dan menuju perusahaannya. Ayyana sendiri masih merasa belum terlalu fit, tapi ia bosan jika harus tinggal di rumah lebih lama, jadi ia memutuskan berangkat ke kantor saja hari ini, meski harus melewati perdebatan cukup panjang dengan suaminya. Karena itulah, saat ia sampai, Dita justru sudah duduk serius di meja kerjanya dengan alis terangkat sebelah saat Ayyana masuk. "Tumben telat Bu?" Dita tahu perempuan itu sedang tidak sehat karena memang Ayyana sudah izin dua hari, tetapi biasanya bahkan setelah sakit yang lebih parah pun tidak ada dalam sejarah dia telat masuk kantor. "Tadi Mas Fakhri ngajak debat dulu, dia masih ngelarang gue berangkat ke kanto
"Ayy?""Hm?"Dita tampak menimbang sejenak seakan ragu dengan apa yang akan ia sampaikan."Kenapa sih? Ada masalah?" Tanya Ayyana melihat keraguan di mata perempuan itu."Gimana ya ngomongnya." Dita menarik napas pelan sebelum melanjutkan. "Tapi lo jangan ketawain gue ya?"Ker
Di lain tempat, Daffa tertawa terpingkal-pingkal membaca balasan dari Fakhri. Sangat menyenangkan memang mengerjai sepupunya itu. Eh? Daffa nggak keterlaluan kan bercandanya? Tak ingin diteror telpon sama yang lain, ia kembali menonaktifkan ponselnya. Biar aman, kalau pun ada yang mau ketuk kepala
Setelah mandi dan mengganti pakaian, Ayyana lantas turun menghampiri sang Ibu yang tengah berkutat di dapur. "Udah sholat sayang?" tanya Ayu. Ayyana nyengir. "Lagi nggak sholat Bu." Perempuan itu mengangguk lalu melanjutkan aktivitas memasaknya. Mereka memang tak punya asisten rumah tangga, jadil
"Jadi lo sama Fakhri beneran nggak ada hubungan apa-apa?" tanya Daffa sekedar basa basi. Sekalian untuk mengusir keheningan yang tercipta dalam mobil, karena Ayyana sama sekali tak mengeluarkan suara jika bukan Daffa yang memulai obrolan. "Nggak ada Pak," perjelas Ayyana penuh penekanan. "Padaha







