Share

Bab3

last update Last Updated: 2025-11-14 04:54:16

Aku menatap nanar alat tes kehamilan yang kupegang. Alat panjang bergaris dua itu basah karena air mata.

“Apa salahmu, Nak?” Aku mengelus perutku yang masih rata. Malang sekali masibumu, Nak, akan terlahir sebagai anak Broken Home. Bahkan baru saja janinnya bersemayam di rahim, kamu sudah menjadi anak broken home.

“Salahku apa ya, Allah ....” Aku merintih. Kutelungkupkan wajah ke ke atas lutut.

Baru saja aku merasa bahagia saat tidak mendapat tamu bulanan. Aku cepat membeli tespek dan melakukan tes urin yang hasilnya akan kujadikan kejutan untuk Mas Husain. Sayangnya, sebelum memberikan kejutan, dia sudah terlebih dulu memberi kejutan yang menyakitkan.

“Nashwa, kamu di dalam?” Suara panggilan Mas Husain diiringi ketukan pintu.

Aku terperanjat. Segera bangun dan mencuci muka. Wajahku sangat berantakan. Aku tidak mau terlihat rapuh di depannya. Dan tespek ini, kulemparkan ke tong sampah. Mas Husain tidak perlu tahu kehamilan ini. Toh, nanti kita akan cerai. Jadi, biarkan anak ini menjadi kenang-kenangan atas hubunganku dengan dia yang hanya seumur jagung.

“Mas, kok balik?” Aku segera membuka pintu. Beruntung tadi kukunci, kalau tidak, mungkin dia tahu apa yang aku lakukan di dalam.

“Ada berkas yang ketinggalan,” jawabnya, lalu beranjak ke lemari untuk mencarinya.

“Mau aku bantu?” Aku mendekatinya.

“Nggak usah, ni udah ketemu.” Dia menunjukkan map warna coklat sambil tersenyum.

Aku tersenyum getir, betapa mirisnya. Senyum manis itu, sebentar lagi akan jadi milik orang lain.

“Kamu sakit?” Mas Husain memperhatikan wajahku.

“Kok pucet?” Dia mendekat dan membingkai pipiku.

“Nggak kok, Mas, Cuma sedikit pusing!” Aku berusaha menyingkirkan tangannya dari wajahku. Kenapa sikapnya masih saja lembut, padahal sebentar lagi kita akan bercerai. Ini akan membuatku sulit untuk melupakannya.

“Mau aku anter ke dokter?” tanyanya perhatian. Aku menggeleng. “Kan Mas mau kerja.”

“Aku bisa ijin sebentar kalo kamu mau ke dokter.”

“Nggak usah, Mas. Aku istirahat aja di rumah.”

“Yaudah, kalo gitu, nanti kalo ada apa-apa telepon aja ya!” Dia mengusap kepalaku sebelum kembali pergi. Setetes air mata kembali meluncur ke pipi. Buat apa perhatian, jika pada akhirnya akan dijandakan.

“Oh iya, nanti kayaknya aku pulang telat, ada keperluan.” Dia berbalik, untung aku sudah menyusut air mata.

“Sama ... Anggita?” tanyaku hati-hati. Diapun mengangguk. Dan sekali lagi, hatiku retak.

.

Aku tidak bisa begini terus, meratapi nasib tidak akan menyelesaikan maslaah. Lebih baik wudhu dan segera salat Dhuha. Mencurahkan segala kesedihan hati. Hanya kepadaNYA aku bisa berkeluh kesah.

Aku tidak punya sahabat dekat yang kujadikan tempat curhat. Aku takut jika curhat dengan manusia, nanti saat kami ada masalah, semua rahasiaku dibeberkan.

Setelah empat rakaat yang cukup panjang, karena tidak fokus, kubuka mushaf dan membacanya agar hati tenang.

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Pada Surat Al Baqarah ayat 153 air mataku kembali menetes. Aku lalu berdoa pada Allah, memohon ampunan, dan memohon kekuatan dalam menghadapi cobaan.Aku percaya, bahwa ada hikmah dari setiap cobaan yang diberikan.

Kututup kembali mushaf setelah berdoa. Aku harus keluar untuk menenangkan diri. Tujuanku yaitu makam. Aku rindu Ibu. Tapi, aku harus ijin dulu dengan Mas Husain.

“Boleh, keluar sebentar?” tanyaku pada Mas Husain setelah telepon terhubung. Seperti biasa, dia tidak akan segera memberi ijin sebelum bertanya detail tujuanku.

Aku bimbang, jika ke makam Ibu, sudah pasti dia akan mengantarku. Apalagi jika aku bilang mau ke tempat Ayah, pasti dia tidak mengijinkanku pergi sendirian.

Meski pernikahan kami dilakukan secara terpaksa. Tapi dia sangat menghargai orang tua. Laki-laki itu tidak mau orang tuaku berpikir macam-macam jika aku kesana tanpa dia.

Dia memang cukup protektif. Karena Ibunya sangat menyayangiku. Dia akan kena omel jika tahu aku pergi tanpanya.

“Mau ke ... Keluar aja biar gak bosen.”

“Tapii—“

“Ayo,Sen, cepet!” Di seberang telepon kudengar seorang wanita berbicara dengan Mas Husain. Sepertinya mereka buru-buru, sehingga Mas Husain langsung mengijinkanku pergi.

.

Angin sepoi-sepoi menerpa wajah saat aku sampai di makam. Suasana cukup sepi karena hari masih siang. Biasanya makam cukup ramai di sore hari saat hari kamis.

Di pojok Utara, bapak-bapak penjaga makam sedang bersih-bersih. Dia menyapaku dengan anggukan kepala. Akupun membalasnya dengan anggukan kepala juga.

Aku menaburkan bunga mawar ke atas makam ibu setelah mengucap salam. Tak lupa mencabuti rumput liar yang tumbuh di sekitar batu nisan. Aroma bunga-bunga segar, cukup menenangkan. Aku lalu mulai membaca doa.

Usai membaca doa dan sedikit bercerita dia atas nisan, aku berjalan keluar makam, sambil mengamati nisan-nisan yang berjejer.

Aku memang suka pergi ke makam. Selain untuk berziarah dan mendoakan almarhum Ibu, disini juga aku belajar, bahwa secantik apapun, sekaya apapun kita akan berakhir disini. Itu sebabnya aku sering berkunjung ke makam, tapi di siang atau sore hari saja.

“Nashwa!” Seseorang memanggil namaku saat aku berada di pintu makam. Aku menoleh ke arah suara, lalu tubuhku membeku, mendapati seorang pemuda berjalan ke arahku.

“Ilham?” Kenapa aku bertemu dia disini. Tak terasa bibirku melengkung melihat wajahnya.

“Siang-siang ziarah?” tanyanya tanpa basa-basi. Dia masih sama seperti dulu. Wajahnya selalu tampak ceria, membuat siapa saja yang melihat seolah tertular aura bahagia.

“Memangnya ada larangan ziarah waktu siang?” Aku tidak bisa menahan senyum.

“Oh iya, kamu sendiri? Suamimu mana?” tanyanya sambil celingukan.

Ah iya, suami. Aku ini wanita bersuami. Kenapa malah senyum-senyum dengan laki-laki lain. Apalagi laki-laki itu pernah mengisi hatiku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Calon Janda   45

    Nahswa menundukkan wajah. Malu dengan perawat yang sedang mengatar makan dan obat. Dia merutuki diri sendiri. Bisa-bisanya sampai tidak mendengar orang mengetuk pintu dan membukanya.Sang perawat juga malu. Dia sudah mengetuk pintu tiga kali, lalu masuk dengan permisi. Tapi yang di dalam tidak mendengarnya. “Maaf, Pak, Bu, saya mau mengantar makanan dan obat.” Dia meletakkan mangkuk berisi makan dan juga obat-obatan ke atas nakas. Setelah itu segera keluar keburu malu. “Mas mikirin apa, si?” tanya Nahswa sambil menyuapi Husain. Laki-laki itu terlihat celingukan sambil mencari sesuatu. “Kamu lihat tas Mas nggak, Nash, apa ilang ya?” “Tas yang mana, Mas?” “Tas slempang yang aku bawa waktu itu.” Husain berhenti mengunyah, mengingat-ingat kejadian saat dia dikeroyok, apa mungkin tasnya terlepas atau dijarah orang-orang itu. “Kalo sampe ilang ....” Husain mengesah. “Ada barang penting disana.”“Barang penting apa, Mas, file atau ....”“Bukan urusan kerjaan.”“Ini bukan?” Nahswa meng

  • Calon Janda   44

    "Kenapa, Mas?” Nahswa merasa tidak nyaman saat suaminya memerhatikan dengan seksama. Mama dan papanya sedang pergi. Sementara Bapak dan Aishwa belum sampai sini. Jadi tinggallah mereka berdua di dalam ruangan. “Apa kamu beneran istriku?” tanya Husain sambil menatapnya lekat. “Mas sama sekali belum inget aku?” Nashwa bertanya. Husain menjawab dengan anggukan kepala. “Aku perlu bukti, biar aku percaya kalo kamu benar-benar istriku.” “Dokumen pernikahan kita disimpan di rumah, nanti aku ambilin ya, oh iya aku juga masih nyimpen foto nikahan kita di—““Bukan itu!” Husain memotong ucapan Nashwa. Wanita yang sedang merogoh ponsel di saku itu mengurungkan niatnya. Dia ingin memperlihatkan foto pernikahan mereka dari galeri ponselnya, tapi tidak jadi. “Foto bisa dimanipulasi, dokumen juga bisa dipalsukan, aku ragu, jangan-jangan kamu mau nipu aku ya, mau memanfaatkan kondisiku buat merebut hatiku!” “Terus apa yang bisa bikin Mas Husain percaya kalo aku ini istri Mas?” Nashwa sepertin

  • Calon Janda   43

    "Move on! atau mau saya carikan uhkty-ukhty dari pesantren atau dari kampus? atau saya mintain rekomendasi istri saya buat nyariin single yang mau diajak taaruf?" Ustadz sekaligus dosen itu kembali mencandai Ilham.Ilham hanya tertawa tanpa menjawab. Mungkin suatu saat nanti kalau memang sudah siap, dia bisa meminta Ustadz Ahmad untuk mencarikan jodoh. "Lagi pula, kayaknya si nggak ada yang bakal nolak pesona Ustadz Ilham," lanjutnya lagi. "Bisa aja, Tadz." "Oh iya, saya turun di depan saja pas toko buku, udah janjian sama istri disana." "Ehm!" Ilham sengaja berdehem dengan keras mendengar Ustadz Ahmad sengaja berbicara istri."Nikah makanya." Untuk kesekian kalinya, Ustadz Ahmad menepuk pundak Ilham. Dia lalu turun dari mobil dan berterima kasih. Ilham melajukan mobil menuju makam. Dia ingin berziarah ke makam ibunya Nahswa. Biasanya seminggu sekali laki-laki itu datang kesana. Menunggu Nashwa yang rutin berziarah, sekedar melihatnya dari jauh. Sekarang dia mendatangi makan dan

  • Calon Janda   42

    “Emang Mbak Nashwa nggak tahu kalau suaminya sedang belajar disana?" tanya Ustadz Ahmad. Nashwa pun menggeleng. Dia bahkan tidak menyangka kalau suaminya mau belajar membaca Al-Qur'an. Apalagi Nashwa pernah mengajar disana juga sebelum menikah. Nashwa memang menyukai pendidikan. Di usianya yang masih dua puluh tahun. Dia sudah mengabdikan separuh hidupnya untuk mengajar di rumah baca Al-Qur'an pada sore hari setelah dia selesai kuliah. "Saya baru tahu hari ini dari ustadz.""Saya pikir itu atas rekomendasi Mbak Nashwa ngaji di tempat kita," ucap Ustadz Ahmad. Kita? Nahswa hanya membatin. Sepertinya orang-orang disana masih menganggapnya bagian dari yayasan. Dulu saat dia pamit keluar, mereka berusaha menahan.Tapi karena di semester akhir dia sudah banyak kegiatan, dia memutuskan untuk berhenti dari yayasan cinta Al-Qur'an. Karena ingin fokus dengan skripsi. Rekan-rekan guru pun mendukung dan mengharapkan dia kembali ke sana lagi. Tapi setelah lulus dia mengajar di PAUD dan tidak

  • Calon Janda   41

    Dia masih ingat, saat baru pulang dari rumah sakit, Husain yang merawatnya. Ketika Gagah sudah pulang, laki-laki itu juga siaga menjaga anaknya. Sekarang Nashwa merasa jadi istri durhaka karena mengabaikan suaminya yang sedang berusaha memperbaiki rumah tangganya.“Hey, kenapa kamu ngomong gitu?” “Mas Husain pasti takut aku marah, makanya dia tetap berusaha pulang sampe rumah meskipun kondisinya menyedihkan, padahal di jalan di melewati rumah sakit, tapi dia nggak kesana dulu malah milih pulang.” Bahu Nashwa berguncang. “Aku juga sempet mikir negatif sama dia gara-gara nggak datang-datang sampe acara aqiqah selesai, mama masih inget kan waktu aku ngadu sama Mama?” “Iya, Nak, mama juga ikut kesal sama dia, mau marahin dia kalo udah ketemu, tapi ternyata ....”“Ternyata pas kita marah-marah dia lagi nahan sakit dikeroyok orang?” Hati Nashwa perih membayangkan suaminya dipukuli orang. Sakit sekali rasanya. “Nak, kita semua nggak ada yang salah, semua yang terjadi atas skenario Allah,

  • Calon Janda   40

    Suara dering ponsel membuatnya merenggangkan pelukan. Dia menjawab telepon dari Mama. “Kamu makan dulu, Husain biar gantian mama yang jagain!” ucap Mama di seberang telepon. “Tapi aku belum lapar,Ma.” “Nggak usah ngeyel! Ingat ada Gagah yang harus dapat nutrisi lewat kamu, awas ya kalo sampe cucu mama kekurangan ASI gara-gara ibunya susah makan!” Perintah mama kali ini tidak bisa dibantah. Kalau sudah menyinggung Gagah, Nashwa tidak akan bisa berkutik. Nashwa pun keluar dari ruang ICU. Mama dan Papa sudah menunggu di depan pintu. Papa yang masuk mengganti Nahswa. “Katanya Mama yang mau gantiin?” tanya Nashwa. “Mama nemenin kamu makan, biar bener makannya gak dikit doang, nanti kalo gak dipantau bisa-bisa kamu Cuma makan seuprit.” Mama lalu menggandeng lengan Nashwa. Mengajak makan malam di rumah makan dekat rumah sakit. Disana terdapat mushola dan kamar mandi. Nashwa pamit salat isya di mushola. Wanita itu ingin menenangkan diri. Rangkaian kejadian hari ini benar-b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status