Masuk“Tunggu, Tuan,” dokter itu tampak sedikit tercengang. “Anda menyalahkan saya atas kebocoran ini?” Radja menyipitkan mata, senyum tipis tersungging di bibirnya, dingin, tanpa emosi. “Lalu siapa lagi? Hanya kita berdua yang tahu.” Dokter itu mengangguk pelan, mencoba tetap tenang meski kegelisahan jelas terpancar di wajahnya. “Tapi saya tidak pernah membocorkan hal ini kepada siapa pun, Tuan. Apalagi untuk keuntungan pribadi.” “Saya tidak mengatakan kamu melakukannya demi keuntungan pribadi,” potong Radja tegas, suaranya merendah namun menekan. “Kamu sendiri yang menyimpulkan itu.” Kalimat itu seperti menjebak. Dokter itu terdiam, tenggorokannya terasa kering. Ia menelan ludah dengan susah payah. “Jadi benar, kamu yang lalai?” satu alis Radja terangkat tipis, tatapannya menusuk tanpa ampun. “Saya tidak cukup bodoh untuk membuka rahasia ini sendiri. Maka sudah jelas, kamu yang menjadi sumbernya.” “Saya berani bersumpah atas nama Tuhan, saya tidak pernah membocorkannya kepada sia
“Kadang …,” suara Bagas merendah, nyaris seperti bisikan yang hati-hati, “Yang menentukan siapa yang bertahan bukan hanya medis.” Djiwa membeku. Degup jantungnya mendadak tak beraturan. “Apa maksud kamu?” tanyanya, kali ini lebih tegas, meski ada sesuatu yang mulai merambat di dadanya—gelisah yang tak bisa ia jelaskan. Bagas menarik napas panjang, seakan menimbang setiap kata yang akan keluar. “Saya dengar … Anda memilih mengorbankan diri, demi memastikan anak Anda tetap hidup.” Kalimat itu membuat jemari Djiwa yang semula mengepal perlahan mengendur. “Dan itu cukup menjelaskan …,” lanjut Bagas pelan, “Bahwa dalam keadaan tertentu, manusia juga bisa menjadi penentu.” Ada jeda singkat. “Tapi …,” Bagas kembali bersuara, kali ini lebih berat, “Ternyata ada seseorang yang menginginkan sebaliknya.” Kening Djiwa berkerut dalam. Ada firasat buruk yang mulai menyesakkan napasnya. “Suami Anda,” ucap Bagas akhirnya, menatapnya lurus. “Beliau ingin Anda yang tetap hidup.” Napas Djiwa s
“Kamu tega banget sama aku, Mas …,” suara Djiwa pecah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, membasahi pipinya. “Kamu juga tega sama anak kamu sendiri. Kamu jahat!” Radja tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap lurus ke depan, rahangnya mengeras. Diamnya terlalu lama. “Kamu khianatin aku,” lanjut Djiwa, suaranya kini lebih tajam meski bergetar. “Kamu bilang kamu terima keputusan aku, tapi ternyata selama ini kamu cuma pura-pura?” Radja masih tidak bersuara. Itu justru membuat dada Djiwa semakin sesak. “Mas …,” suaranya melemah, tapi penuh desakan. “Aku tanya baik-baik. Ini bener atau nggak?” Radja akhirnya mengalihkan pandangannya, menatap sang istri. Dalam. Datar. “Dari siapa kamu dengar itu?” Bukan jawaban yang Radja berikan, melainkan sebuah pertanyaan. Djiwa tertawa kecil, pahit. “Itu gak penting.” Ia menggeleng pelan, air matanya jatuh lagi. “Yang penting aku dengar itu dari seseorang. Dan sekarang aku tanya langsung ke kamu.” Langkahnya mendekat satu langkah. “Mau j
“Djiwa,” panggil Radja, suaranya berat, tertahan. Namun perempuan itu tidak berhenti. Ia tetap melangkah, meninggalkan pusara kecil itu, juga meninggalkan suaminya sendirian di belakang. Radja perlahan bangkit dari posisinya. Tatapannya tertuju pada punggung Djiwa yang semakin menjauh. Rahangnya mengeras, jemarinya mengepal di sisi tubuh. Tanpa pikir panjang, ia mempercepat langkah, menyusul hingga akhirnya berhasil meraih lengan sang istri. “Sayang, dengarkan saya,” pintanya rendah. Namun Djiwa langsung menepis tangan itu—tegas, tanpa ragu. Ia kembali melangkah. “Djiwa!” panggil Radja kali ini lebih keras. Ia kembali menarik lengan perempuan itu, lebih kuat dari sebelumnya. “Lihat saya.” Genggamannya tak memberi ruang untuk lepas. “Sayang … kamu kenapa?” desisnya pelan, suaranya ditekan, namun jelas menyimpan emosi. Djiwa tetap diam. Tak ada satu kata pun keluar dari bibirnya. “Kamu marah?” lanjut Radja, alisnya terangkat tipis. “Saya salah apa, hm? Justru seharusnya saya
Berkali-kali Radja mencoba menghubungi nomor Djiwa, namun tak satu pun panggilannya mendapat jawaban. Bukan ditolak, melainkan ponsel sang istri benar-benar tidak aktif. Meski begitu, jemarinya terus menekan tombol panggil, lagi dan lagi, seolah berharap pada percobaan berikutnya keajaiban kecil akan terjadi. Ponsel itu kembali menyala, dan suara Djiwa menjawab di seberang sana. “Pergi ke mana kamu, sayang?” gumamnya lirih, nyaris putus asa. Akhirnya, ia menjatuhkan iPad di atas ranjang dengan gerakan lelah, lalu berbalik meninggalkan kamar tanpa sempat mengganti pakaian. “Daddy gak jadi mandi?” tanya Ratu heran saat melihat ayahnya keluar dengan langkah tergesa, wajahnya kaku tanpa ekspresi. Radja berhenti sejenak, menatap putrinya. “Daddy ada urusan penting mendadak, Nak. Jadi harus keluar lagi. Kalian di rumah aja, ya. Nanti makan malam nggak usah nunggu Daddy.” Ratu langsung mencebik, bibirnya maju ke depan. “Ratu tungguin sampe Daddy pulang.” “Tidak, Ratu,” jawab Radja te
“Kami kangen banget sama Kak Bagas. Udah lama gak ketemu,” ucap Ratu begitu ia tiba di ruang tengah, langsung mengambil tempat di meja belajar yang telah disiapkan. Naren spontan menoleh pada adiknya. “Ratu aja, Kak. Aku nggak, kok,” ujarnya cepat, seolah ingin meluruskan. Ratu mendengus pelan, melirik tajam ke arah kakaknya. Bagas tersenyum tipis, hangat. “Iya. Kak Bagas juga kangen sama kalian, terutama Non Ratu.” Senyum Ratu seketika merekah. “Ratu juga mau cerita, Mommy udah lahiran. Tapi—” “Kak Bagas udah tahu, Dek,” sela Regan lembut. “Beberapa hari ini Kak Bagas gak dateng karena tahu kita sedang berduka atas kepergian Dek Sankara.” “Oh …,” Ratu menatap Bagas, ragu. “Jadi Kakak udah tahu?” Bagas mengangguk pelan. “Iya, Non. Sudah. Tapi kalian harus tetap semangat belajar, ya, dan jangan putus mendoakan adek.” Ratu mengerutkan keningnya polos. “Tapi kan … adeknya udah gak ada, Kak. Buat apa didoain lagi? Dia kan udah gak bisa diselamatkan.” Bagas menahan senyum, lalu me
“M-mas ... jangan bercanda,” Djiwa mengerucutkan bibirnya sebal, takut diberi harapan palsu. Radja tersenyum miring. “Untuk apa saya bercanda? Memangnya ada saya katakan kalau kita ke sini untuk kerja?” satu alisnya terangkat tipis. Napas Djiwa tercekat di tenggorokan. “Ta-tapi, schedule yang Pa
“Sultan, kamu di mana?” tanya Radja pada sang adik melalui telepon. Saat ini dia masih berada di depan ruangan rawat inap kakek Djiwa yang tiba-tiba menghilang dari ruangan. Sementara Djiwa di hadapannya tampak cemas dan gelisah. “Saya baru saja keluar dari ruangan radiologi, kenapa?” suara Sulta
“Mas, harus banget ke Belanda berdua sama Djiwa?” tanya Inggrit begitu mereka berdua kembali ke kamar. Radja tak menjawab. Pria itu melangkah dengan penuh wibawa menuju meja, kemudian menyandarkan punggungnya di sana, sementara kedua tangannya terlipat di dada. Tatapannya yang dingin namun berbah
Kaisar menghela napas panjang begitu mobilnya masuk gerbang kantor. Langit siang yang terik tak mampu menghangatkan dinginnya pikiran yang menggulung di kepalanya sejak sesi konsultasi tadi. Jemarinya mengetuk-ngetuk setir, iramanya tak beraturan—tanda jelas bahwa hatinya sedang kacau karena renc







