Share

Bab 96

Author: Kak Wina
last update publish date: 2026-10-29 11:34:31

Reyhan memasang ekspresi wajah datar yang begitu dingin dan tenang, tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dia mengangkat bola lampu di tangannya ke hadapan Nadia.

​"Lampu kamar Valerie tiba-tiba korslet tadi, mati total. Tadi dia teriak ketakutan pas aku mau lewat koridor mau ambil minum. Makanya aku masuk sebentar buat bantuin benerin lampunya,” jawab Reyhan dengan nada suara berat yang santai.

​Nadia terpaku. Dia mendongak, melihat lampu di langit-langit kamar Valerie yang memang menyala terang ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 99

    ​Melalui celah pintu yang terbuka dua sentimeter itu, mata Erika membelalak lebar. Dia menyaksikan dengan jelas bagaimana Maudy begitu lihai dan tergesa-gesa memotret setiap lembar dokumen rahasia di atas meja Reyhan.​Erika dengan cepat menutupi mulutnya dengan telapak tangan agar jeritan kagetnya tidak terdengar. Jantungnya berdegup kencang bagai dihantam palu.​’Maudy... dia bukan cuma sekretaris baru. Apa dia mata-mata Pak Danu yang mau hancurin Reyhan? Tapi kenapa?!’ batin Erika menjerit panik dalam diam.​Erika perlahan mundur dua langkah tanpa menimbulkan suara sedikit pun, menyembunyikan tubuhnya di balik pilar koridor. Jemarinya yang gemetar langsung merogoh saku rok dan mengetik pesan singkat dengan cepat kepada Reyhan.“Rey, kamu di mana?! Maudy baru aja nggeledah meja kamu dan foto-foto isi map merah!”Di pinggir jalan yang berjarak sepuluh menit dari kantor, ponsel di genggaman Reyhan bergetar. Reyhan yang sedang menikmati puntung rokoknya di atas motor tua melirik layar

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 98

    ​Reyhan melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul delapan pagi. Waktunya dia pergi ke kantor untuk menghadapi babak baru permainan bisnisnya.​Pria itu bangkit berdiri dari kursinya, merapikan jas hitamnya yang elegan. "Pa, Ma... Reyhan permisi berangkat ke kantor duluan. Ada rapat penting pagi ini."“Sudah berangkat saja kamu,” jawab Bu Rina dingin.​Reyhan mengangguk, lalu melangkah mendekati Nadia. ​"Istirahat di rumah ya, Nad... Jangan kemana-mana lagi hari ini," bisik Reyhan tepat di telinga Nadia dengan nada suara berat yang sarat akan ancaman terselubung.Suara raungan mesin motor tua kesayangan Reyhan membelah kepadatan lalu lintas pagi kota.​BZZZ... BZZZ...​Ponsel di saku jasnya bergetar kencang. Melalui kaca spion, Reyhan melihat nama Maudy tertera di layar. Tanpa tergesa-gesa, pria itu menyalakan lampu sein kiri dan menepikan motor tuanya di pinggir jalan raya yang agak lengang.​Reyhan melepas helmnya, lalu mengangkat telepon tersebut dengan nada suara yang tena

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 97

    Mendengar balasan dingin dari Reyhan yang sarat teka-teki, Nadia makin panik. Takut kebohongannya terbongkar di depan sang ayah, dia buru-buru menyela sebelum suasana di meja makan makin panas.​"Iya, Pa... Reyhan benar kok. Aku yang menolak diantar kemarin karena nggak mau repot. Dan kemarin siang aku udah pergi ke dokter sendiri kok, Pa... Dokter bilang memang murni murni asam lambung sama stres aja,” potong Nadia terbata-bata, mencoba memasang wajah seluwes mungkin.​Pak Anton menghela napas panjang, raut wajah tegasnya sedikit melunak. "Yaudah kalau memang sudah diperiksa. Tapi kamu tetap harus jaga makan, Nadia. Jangan sampai disepelekan."​Namun, belum sempat Nadia bernapas lega, suara berdahak pelan dari arah seberang meja memecah suasana. Tante Mia meletakkan sendok dan garpunya dengan bunyi klang yang lumayan keras, lalu menyunggingkan senyum miring yang sangat memprovokasi.​"Duh, hebat ya Nadia... sakit-sakit asam lambung tapi masih kuat pergi ke luar rumah sendirian," cele

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 96

    Reyhan memasang ekspresi wajah datar yang begitu dingin dan tenang, tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dia mengangkat bola lampu di tangannya ke hadapan Nadia.​"Lampu kamar Valerie tiba-tiba korslet tadi, mati total. Tadi dia teriak ketakutan pas aku mau lewat koridor mau ambil minum. Makanya aku masuk sebentar buat bantuin benerin lampunya,” jawab Reyhan dengan nada suara berat yang santai.​Nadia terpaku. Dia mendongak, melihat lampu di langit-langit kamar Valerie yang memang menyala terang kembali. Rasa curiga yang luar biasa besar di dadanya berbenturan dengan logika yang disajikan di depan matanya.‘​Cuma benerin lampu...? Tapi… Kenapa harus ditutup pintunya?’ batin Nadia berperang hebat dengan perasaannya sendiri, mencoba meredakan debar jantungnya yang masih menggila.​Valerie yang melihat Nadia terdiam langsung melangkah mendekat, memasang senyuman sok polos untuk memperkuat alibi Reyhan.​"Iya, Mbak... untung ada Kak Reyhan yang lewat. Aku tuh penakut banget kalau gelap-gelapa

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 95

    Reyhan tidak sedikit pun mundur. Ketika adegan panas di layar TV itu terus berlanjut diiringi bisikan halus dari Valerie, pria itu sadar betul ke mana arah permainan yang sedang dimainkan oleh adik sepupu istrinya tersebut.​"Kamu kangen sama aku ya, Val?" pukas Reyhan dengan suara berat dan serak yang begitu santai, seolah-olah membaca seluruh pikiran gadis di sampingnya.​Valerie tersentak pelan. Jantungnya berdegup kencang bagai dihantam palu, tapi kehebohan di dadanya berganti menjadi keberanian luar biasa. Dia memberanikan diri menatap lurus ke dalam manik mata Reyhan, menyunggingkan senyum manja yang sarat akan obsesi terselubung.​"Iya, Kak… Emangnya... Kakak nggak mau?" bisik Valerie halus, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfumnya menguar kuat.​Reyhan terkekeh rendah, sebuah kekehan dingin yang penuh teka-teki. Tangan kirinya perlahan terangkat, mendarat di sandaran sofa di belakang bahu Valerie, seakan mengunci posisi gadis itu.​Namun, alih-alih melanjutkan ak

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 94

    Tante Mia tersenyum puas melihat keraguan yang berhasil dia tanamkan di kepala Reyhan. Dengan langkah anggun yang penuh kepura-puraan, wanita paruh baya itu bangkit dari sofa, menyambar cangkir tehnya, lalu berbalik menuju kamar utama di lantai bawah.​"Tante tidur duluan ya, Rey. Jangan malam-malam tidurnya," pesan Tante Mia sebelum menghilang di balik pintu.​Sepeninggal Tante Mia, keheningan kembali menguasai ruang tengah. Hanya pantulan cahaya biru dari layar televisi yang menerangi rahang tegak Reyhan. Jemarinya yang menggenggam remot, cengkramannya kian mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.‘​Kalau sampai Nadia hamil dengan selingkuhannya itu... gue nggak akan pernah maafin dia, Gue akan pastikan dia dan pria itu hancur sampai tak tersisa,’ batin Reyhan berbisik dingin. Tatapannya menajam bagai sembilu.​Tak lama kemudian, suara gesekan sandal rumah di anak tangga memecah lamunan Reyhan.​Valerie melangkah turun dengan perlahan. Dia mengenakan baju tidur satin yang kasual,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status