Share

Lampu disebrang

Penulis: Nocturnalziah
last update Tanggal publikasi: 2026-01-16 20:00:49

Magrib hampir lewat ketika Sera akhirnya sampai di depan rumah. Langit di atas desa mulai berubah warna—jingga memudar menjadi biru keabu-abuan. Bahunya terasa pegal karena tas dan easel yang digendong sejak sore. Tali tas menekan bahunya, membuat kulitnya terasa perih. Kakinya sedikit gemetar, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena ia sudah bisa menebak wajah siapa yang akan menyambutnya di ruang tamu.

Ia mendorong pintu perlahan.

Benar saja.

Ayahnya, Pak Bimo, duduk di sofa sambil menonton televisi. Suara berita terdengar pelan, tapi sorot mata ayahnya langsung terangkat ketika mendengar pintu dibuka. Tatapan itu tajam, seperti selalu tahu kapan Sera pulang lebih lambat dari biasanya.

“Kok baru pulang?” tanya Pak Bimo. Suaranya datar, tapi ada nada tidak senang yang jelas terasa.

Sera menunduk. Jari-jarinya masih menggenggam tali tas. “Maaf, Yah… lukisannya baru selesai.”

Ia menunggu. Biasanya, setelah itu akan ada ceramah panjang—tentang anak perempuan, tentang waktu, tentang orang-orang di luar sana yang tidak selalu baik. Tapi malam itu, Pak Bimo hanya menghela napas pendek.

“Lain kali jangan terlalu sore. Kamu itu anak perempuan,” katanya singkat.

Sera mengangguk cepat. “Iya, Yah.”

Tidak ada pertengkaran. Tidak ada suara keras. Tapi justru keheningan setelahnya terasa lebih berat daripada dimarahi. Sera melangkah cepat ke tangga, naik ke kamarnya di lantai dua, menaruh alat lukisnya di sudut kamar, lalu masuk kamar mandi.

Air dingin menyentuh kulitnya, membuat lelah di tubuhnya sedikit berkurang. Tapi pikirannya tidak ikut tenang. Bayangan sore tadi muncul lagi—jalan berbatu, mobil dengan ban bocor, pria muda bernama Kai, dan kanvasnya yang tergores batu.

Setelah mandi, rambutnya yang masih lembap dibiarkan terurai. Ia duduk di tepi ranjang, menatap lantai beberapa saat. Pikirannya kembali ke arah jalan yang dilalui mobil itu setelah mereka berpisah.

Pelan-pelan, Sera berdiri dan melangkah ke jendela kamarnya. Jendela itu menghadap langsung ke arah villa di seberang jalan kecil—villa yang selama ini kosong dan hanya jadi bangunan sunyi tanpa cerita.

Malam itu, villa itu tidak lagi gelap.

Lampu-lampu di teras menyala hangat. Dari dalam, bayangan orang tampak bergerak-gerak. Di halaman, sebuah mobil terparkir—mobil yang bentuknya sangat ia kenal.

“Jadi mereka memang di situ…” gumamnya pelan.

Ia bersandar di kusen jendela, menatap villa itu lama. Ada perasaan aneh yang tidak bisa ia beri nama—bukan senang, bukan juga takut. Hanya terasa berbeda.

Saat ia hendak menutup jendela, matanya menangkap gerakan di luar. Seseorang berdiri di balkon villa, menghadap ke arah rumahnya.

Jarak mereka cukup jauh. Wajah orang itu hanya tampak seperti bayangan gelap di bawah lampu. Tapi jelas—ia sedang melihat ke arah rumah Sera.

Sera menahan napas.

Beberapa detik terasa panjang. Lalu bayangan itu bergerak, menjauh, menghilang dari pandangannya.

Sera menutup jendelanya perlahan. Dadanya terasa sedikit hangat dan aneh, seperti ada sesuatu yang baru saja lewat, lalu pergi begitu saja.

Di seberang jalan, di balkon lantai dua villa itu, Kai masih berdiri dengan tangan bersandar di pagar kayu. Angin malam menyentuh wajahnya. Dari sana, ia bisa melihat rumah besar di seberang—rumah yang terlihat lebih hidup daripada villa tempat ia berdiri.

Di salah satu jendelanya, tirai sedikit terbuka.

Ada bayangan seseorang di sana—diam, tidak bergerak.

Kai refleks menegakkan tubuhnya, matanya menyipit mencoba melihat lebih jelas.

“Siapa itu…?” gumamnya.

Lampu kamar itu tidak terlalu terang. Wajah orang itu tidak terlihat. Beberapa detik kemudian, bayangan itu menghilang, menjauh dari jendela.

“Kai!”

Suara ibunya terdengar dari dalam villa.

“Ikan bakarnya sudah jadi! Masuk, nanti keburu dingin.”

Kai menoleh. “Iya, Bu.”

Ia melirik sekali lagi ke arah rumah di seberang, lalu melangkah masuk. Pintu kaca ditutup pelan di belakangnya, memutus pemandangan malam yang tadi sempat membuatnya bertanya-tanya.

Pagi datang dengan udara yang bersih dan dingin. Kabut tipis menggantung di atas sawah, membuat desa terlihat seperti lukisan yang belum selesai. Kai dan keluarganya keluar dari villa untuk jogging ringan. Ayah dan ibu masih sibuk membetulkan tali sepatu, sementara Leo sudah mondar-mandir di halaman seperti anak kecil yang kelebihan energi.

Seberang jalan, rumah besar itu sudah ramai. Dari kejauhan terlihat beberapa pekerja berjalan mondar-mandir, memandikan sapi-sapi di area peternakan yang letaknya agak jauh dari rumah utama. Suara air dan sapi terdengar samar, tertelan jarak.

“Kayaknya sapinya banyak banget,” kata Leo dengan mata berbinar.

“Tunggu dulu, Nak. Kita pemanasan dulu,” kata ibu sambil mengikat tali sepatu.

Leo mengangguk, tapi matanya tidak pernah lepas dari arah peternakan. Saat ayah dan ibu masih berbicara soal rute jogging, Leo pelan-pelan menjauh. Tanpa permisi, dia berlari kecil menyeberang jalan dan masuk ke halaman rumah besar itu.

Beberapa menit kemudian, ibu menoleh. “Leo mana?”

Ayah ikut melihat ke sekitar. “Tadi di sini.”

Jantung Kai langsung berdegup lebih cepat. Ia menoleh ke seberang dan melihat sosok kecil Leo sudah jauh, berjalan ke arah kandang sapi.

“Dia masuk ke rumah seberang,” kata Kai cepat.

“Ya ampun, kok masuk tanpa izin sih,” kata ibu panik. “Kai, tolong kejar. Jangan sampai dia tersesat.”

Kai langsung berlari menyeberang jalan. Halaman rumah itu luas dan bersih. Tidak ada suara selain langkah kakinya sendiri. Leo sudah tidak terlihat, mungkin sudah terlalu jauh ke arah kandang.

“Leo!” panggil Kai.

Tidak ada jawaban.

Di tikungan dekat kolam ikan, langkahnya terlalu cepat. Ia menabrak seseorang.

“Aduh—maaf! Maaf banget!” Kai refleks menahan tubuhnya. “Saya lagi nyari adik saya, dia tadi masuk ke sini tanpa izin.”

Orang yang ia tabrak tidak langsung menjawab.

Kai menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah.

Di depannya berdiri seorang gadis dengan baju rumah sederhana, rambutnya diikat asal. Tubuhnya berisi, tapi wajahnya lembut. Kai langsung mengenalinya.

“Kita pernah ketemu, ya?” katanya. “Kemarin… waktu mobil kami bocor di jalan.”

Gadis itu mengangguk pelan. “Iya.”

Kai tersenyum kecil. “Pantesan kelihatan nggak asing.”

Sera tidak menatapnya. Pandangannya turun ke ujung sepatunya.

“Aku lagi nyari adikku. Bajunya biru. Tadi lari ke sini,” kata Kai.

Sera mengangkat wajah sedikit, menunjuk ke arah samping rumah. “Ke… ke arah kandang sapi.”

“Oh, makasih banget.” Kai terlihat lega. “Kamu… rumah sini?”

Sera mengangguk lagi. “Iya.”

“Maaf ya… kami baru datang ke villa seberang. Adikku agak susah dikontrol.”

Sera tersenyum tipis. “Nggak apa-apa. Anak kecil memang suka penasaran.”

Tiba-tiba terdengar suara dari jauh. “Kak Kaaaai!”

Kai menoleh. Leo berdiri dekat pagar kandang, melambai-lambaikan tangan.

“Nah itu dia.” Kai menghela napas lega. “Makasih ya.”

Ia mulai berlari, tapi berhenti sebentar dan menoleh lagi. “Makasih, sekali lagi.”

Sera mengangguk kecil.

Kai menghampiri Leo. “Kamu ngapain sih masuk rumah orang tanpa izin?”

“Aku mau lihat sapi dari dekat!” kata Leo polos.

Kai menarik tangan adiknya. “Nanti bilang dulu. Nggak sopan.”

Saat mereka berbalik, Kai tanpa sadar menoleh lagi ke belakang. Sera masih berdiri di tempat yang sama. Saat mata mereka bertemu, Sera cepat-cepat menunduk.

Kai tersenyum kecil, tanpa suara.

Leo mendongak ke arah Sera. “Kakak pemilik rumah ini, ya?”

Sera mengangguk kecil.

“Boleh nggak aku kasih makan sapi-sapi itu sekali aja?” tanya Leo cepat.

Sera membuka mulut, tapi sebelum menjawab, suara dari arah rumah memanggil, “Sera! Cepat ke sini!”

Sera tersentak. “Aku… harus pergi,” katanya pelan.

Leo terlihat kecewa. “Belum dijawab…”

Sera tersenyum tipis, lalu melangkah cepat pergi.

Kai memperhatikan sampai sosoknya menghilang. “Sera…” gumamnya.

“Kakak itu udah pergi,” keluh Leo.

Kai mengacak rambut Leo. “Kita balik dulu.”

Mereka berjalan kembali ke arah villa, meninggalkan halaman besar itu dengan perasaan yang sama-sama belum selesai—seperti ada sesuatu yang baru dimulai, tapi belum tahu akan jadi apa.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cantik Yang Disembunyikan   Tatapan Yang Terlalu Ramai

    Di kantin kampus yang luas, sekelompok mahasiswa duduk bersama di salah satu meja panjang. Kai, Veronica, Adam, dan Doni—mereka bagian dari satu lingkaran pertemanan yang sudah cukup dikenal di kampus. Kai duduk dengan tatapan kosong, seolah terjebak dalam pikirannya sendiri, sementara Veronica sibuk menatap layar laptop Doni, yang sedang mengedit vlog mereka. Tiba-tiba, Veronica berhenti sejenak dan mengamati Kai yang melamun. Wajahnya menunjukkan rasa penasaran, lalu dengan suara manja ia bertanya, "Sayang, kamu kenapa?" Kai menoleh dengan ekspresi datar, tak ada senyum di wajahnya. "Gausah panggil kaya gitu di luar konten," jawabnya dengan nada sinis yang sedikit menusuk. Veronica mendengus, namun tetap mempertahankan sikap ceria. "Tapi kan, biar mendalami peran, biar gak ketahuan orang-orang di sini," katanya sambil melirik mahasiswa lain yang ada di kantin. Beberapa dari mereka terlihat mengamati kelompok mereka dengan tatapan penasaran, seolah ingin tahu apa yang sedang

  • Cantik Yang Disembunyikan   Hari Pertama, Orang Asing

    Pagi pertama orientasi mahasiswa membuat kamar kos terasa lebih sempit dari biasanya. Bukan karena ukurannya berubah, tapi karena isi kepala Sera yang penuh. Ia berdiri di depan cermin kecil yang menempel miring di dinding, menatap pantulan dirinya sendiri sambil merapikan kemeja putih yang sudah ia setrika sejak malam. Celana hitamnya terasa kaku di kaki. Di dadanya tergantung name tag besar—terlalu besar, bahkan—hasil kreativitas yang diwajibkan panitia. Name tag itu hampir menutupi setengah dadanya, membuatnya merasa kikuk setiap kali bergerak. Name tag tersebut terbuat dari karton tebal yang dibungkus kertas cokelat. Di sekelilingnya, Sera menempelkan potongan daun kering yang ia susun melingkar, sebagian warnanya sudah menguning, sebagian lagi kecokelatan. Di sudut kanan bawah, ada pita rafia yang diikat asal-asalan, dan di tengahnya tertulis namanya dengan spidol hitam—hurufnya sedikit miring, tidak simetris, tapi jelas terbaca. Tidak rapi. Namun dibuat dengan sungguh-sunggu

  • Cantik Yang Disembunyikan   Kota Berisik

    Jakarta menyambut Sera dengan suara yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.Bukan suara serangga atau angin sawah, tapi klakson yang saling bersahutan, mesin kendaraan, dan orang-orang yang bergerak cepat tanpa saling menoleh. Dari dalam mobil, Sera menatap keluar jendela, mencoba mencerna kenyataan bahwa mulai hari ini, hidupnya benar-benar berpindah tempat.Mobil berhenti di depan sebuah bangunan kos bertingkat tiga. Catnya masih terlihat baru. Di depan gerbang ada pos satpam, lengkap dengan palang dan kamera CCTV yang menghadap ke jalan.“Ini kosnya,” kata Ayah singkat.Sera turun dari mobil, menatap bangunan itu pelan. Tidak seperti bayangannya tentang kos mahasiswa yang sempit dan berisik, tempat ini terasa… rapi. Terlalu rapi, bahkan. Gerbangnya terkunci otomatis. Ada papan kecil bertuliskan Kosan Putri — Tamu Wajib Lapor.Satpam menyapa mereka sopan. Ayah langsung menjelaskan keperluan mereka, menyebut nama Sera, kamar, dan lantai. Semua terdengar teratur, resmi, dan—aman.“Iya,

  • Cantik Yang Disembunyikan   Pintu yang setengah terbuka

    Kabar itu datang begitu saja, seperti sesuatu yang tidak pernah dipersiapkan siapa pun untuk menerimanya.“Hamil?” Nenek mengulang pelan, seolah kata itu butuh waktu untuk sampai ke kepalanya.Sera berdiri di dekat pintu kamar, tubuhnya kaku. “Ibu… hamil?”Ayah masih memegang ponsel di tangannya, wajahnya seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami dalam sekali dengar. Ia mengangguk pelan, napasnya terdengar lebih berat dari biasanya.“Iya,” katanya singkat. “Dia pingsan di pasar. Warga yang bawa ke rumah sakit. Dokter baru nelepon.”Tidak ada yang berkata apa-apa lagi. Keheningan di rumah itu terasa berbeda dari biasanya—bukan tenang, tapi penuh kebingungan yang tidak terucap.Mereka berangkat ke rumah sakit tanpa banyak bicara.Di perjalanan, Sera menatap keluar jendela mobil. Pikirannya kosong, tapi juga penuh. Delapan belas tahun. Selama itu, ia tumbuh sebagai anak tunggal. Ibunya tidak pernah hamil lagi, atau setidaknya tidak pernah ada kabar

  • Cantik Yang Disembunyikan   Antara Jarak Dan Waktu

    Dua hari setelah percakapan di balkon itu, semuanya berjalan lebih tenang dari yang Sera kira.Tidak ada kejadian besar. Tidak ada percakapan berat. Mereka hanya sering duduk bersama di villa—kadang di ruang tamu, kadang di teras belakang. Ngobrol hal-hal ringan. Tentang kampus impian Kai. Tentang lukisan-lukisan Sera. Tentang hal-hal kecil yang biasanya tidak pernah Sera ceritakan ke siapa pun.Nenek jadi semacam “jembatan”. Dengan alasan membantu atau sekadar menemani, nenek selalu punya cara supaya Sera bisa datang lagi ke villa tanpa menarik perhatian ayah maupun ibu.Waktu berjalan lebih cepat dari yang mereka sadari.Hari kepulangan keluarga Kai datang begitu saja. Pagi itu villa lebih ramai dari biasanya. Koper-koper disusun. Suara orang berlalu-lalang terdengar dari berbagai sudut rumah.Sera tidak datang hari itu. Ayahnya sedang di rumah, dan ia tidak bisa mencari alasan untuk pergi.Kai sempat berdiri di balkon yang sama, menatap ke arah rumah sera, berharap bisa melihat ser

  • Cantik Yang Disembunyikan   Teman Pertama

    Kai dan Sera sudah berdiri di balkon lantai atas villa. Anginnya sejuk, cukup kencang sampai ujung rambut Sera sedikit bergerak. Dari sana, sawah kelihatan jelas, hijau dan luas, dengan suara serangga yang samar.Awalnya mereka sama-sama diam.Bukan karena suasananya canggung berlebihan, tapi lebih ke… belum tahu mau mulai dari mana. Kai bersandar di pagar balkon, sementara Sera berdiri agak ke samping, tangannya saling menggenggam di depan perut.Kai sebenarnya memang ingin mengajak Sera ke sini buat ngobrol. Tidak ada maksud aneh. Ia cuma ingin suasananya lebih tenang dibanding ruang tamu. Tapi begitu mereka sampai, Kai malah kehilangan fokusnya sendiri.Tanpa sadar, matanya beberapa kali melirik ke arah Sera.Dan entah kenapa, omongan ibunya semalam langsung terlintas di kepalanya. Tentang bagaimana ibunya bilang Sera itu cantik. Tentang matanya yang kelihatan tenang. Tentang kulitnya yang bersih. Waktu itu Kai tidak menanggapi apa-apa, cuma menganggapnya komentar biasa.Sekarang,

  • Cantik Yang Disembunyikan   Diantara Piring Dan Pelukan

    Di sisi lain, Sera melangkah cepat masuk ke rumahnya. Pintu kayu itu menutup dengan bunyi pelan di belakangnya, seolah ikut menjaga rahasia kegugupan yang masih tertinggal di dadanya. Ruang tengah tampak lengang. Hanya suara televisi yang menyala, menyiarkan berita pagi dengan suara datar yang tida

  • Cantik Yang Disembunyikan   Langkah yang Tertinggal

    Lapangan tujuhbelasan mulai lengang. Sorak-sorai masih terdengar, tapi satu per satu orang sudah beralih ke lomba berikutnya. Di pinggir lapangan, hanya Leo yang tersisa—berdiri sendirian, matanya sesekali mencari ke arah kerumunan, seolah berharap dua sosok yang tadi bersamanya muncul kembali.Tak

  • Cantik Yang Disembunyikan   Saat Dunia Mentertawakan

    Lomba balap karung menjadi pembuka acara tujuhbelasan sore itu. Nama Sera sudah terdaftar di papan peserta—tulisan tangannya sendiri yang sedikit miring, seolah ragu dengan keputusan yang baru saja ia ambil. Di bawah namanya, tertera beberapa nama lain yang ia kenal: Zahra, Nisa, Chika, Olive. Nama

  • Cantik Yang Disembunyikan   Jalan Menuju Sunyi

    Sera melangkah pelan di jalan desa yang berbatu dan rusak. Tas berisi perlengkapan lukis menggantung di bahunya, sementara easel ia pegang di tangan kiri. Setiap beberapa langkah, ia harus menyesuaikan pijakan agar tidak tersandung batu atau tanah yang tidak rata.Udara pedesaan terasa segar, sedik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status