Mag-log inMagrib hampir lewat ketika Sera akhirnya sampai di depan rumah. Langit di atas desa mulai berubah warna—jingga memudar menjadi biru keabu-abuan. Bahunya terasa pegal karena tas dan easel yang digendong sejak sore. Tali tas menekan bahunya, membuat kulitnya terasa perih. Kakinya sedikit gemetar, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena ia sudah bisa menebak wajah siapa yang akan menyambutnya di ruang tamu.
Ia mendorong pintu perlahan. Benar saja. Ayahnya, Pak Bimo, duduk di sofa sambil menonton televisi. Suara berita terdengar pelan, tapi sorot mata ayahnya langsung terangkat ketika mendengar pintu dibuka. Tatapan itu tajam, seperti selalu tahu kapan Sera pulang lebih lambat dari biasanya. “Kok baru pulang?” tanya Pak Bimo. Suaranya datar, tapi ada nada tidak senang yang jelas terasa. Sera menunduk. Jari-jarinya masih menggenggam tali tas. “Maaf, Yah… lukisannya baru selesai.” Ia menunggu. Biasanya, setelah itu akan ada ceramah panjang—tentang anak perempuan, tentang waktu, tentang orang-orang di luar sana yang tidak selalu baik. Tapi malam itu, Pak Bimo hanya menghela napas pendek. “Lain kali jangan terlalu sore. Kamu itu anak perempuan,” katanya singkat. Sera mengangguk cepat. “Iya, Yah.” Tidak ada pertengkaran. Tidak ada suara keras. Tapi justru keheningan setelahnya terasa lebih berat daripada dimarahi. Sera melangkah cepat ke tangga, naik ke kamarnya di lantai dua, menaruh alat lukisnya di sudut kamar, lalu masuk kamar mandi. Air dingin menyentuh kulitnya, membuat lelah di tubuhnya sedikit berkurang. Tapi pikirannya tidak ikut tenang. Bayangan sore tadi muncul lagi—jalan berbatu, mobil dengan ban bocor, pria muda bernama Kai, dan kanvasnya yang tergores batu. Setelah mandi, rambutnya yang masih lembap dibiarkan terurai. Ia duduk di tepi ranjang, menatap lantai beberapa saat. Pikirannya kembali ke arah jalan yang dilalui mobil itu setelah mereka berpisah. Pelan-pelan, Sera berdiri dan melangkah ke jendela kamarnya. Jendela itu menghadap langsung ke arah villa di seberang jalan kecil—villa yang selama ini kosong dan hanya jadi bangunan sunyi tanpa cerita. Malam itu, villa itu tidak lagi gelap. Lampu-lampu di teras menyala hangat. Dari dalam, bayangan orang tampak bergerak-gerak. Di halaman, sebuah mobil terparkir—mobil yang bentuknya sangat ia kenal. “Jadi mereka memang di situ…” gumamnya pelan. Ia bersandar di kusen jendela, menatap villa itu lama. Ada perasaan aneh yang tidak bisa ia beri nama—bukan senang, bukan juga takut. Hanya terasa berbeda. Saat ia hendak menutup jendela, matanya menangkap gerakan di luar. Seseorang berdiri di balkon villa, menghadap ke arah rumahnya. Jarak mereka cukup jauh. Wajah orang itu hanya tampak seperti bayangan gelap di bawah lampu. Tapi jelas—ia sedang melihat ke arah rumah Sera. Sera menahan napas. Beberapa detik terasa panjang. Lalu bayangan itu bergerak, menjauh, menghilang dari pandangannya. Sera menutup jendelanya perlahan. Dadanya terasa sedikit hangat dan aneh, seperti ada sesuatu yang baru saja lewat, lalu pergi begitu saja. Di seberang jalan, di balkon lantai dua villa itu, Kai masih berdiri dengan tangan bersandar di pagar kayu. Angin malam menyentuh wajahnya. Dari sana, ia bisa melihat rumah besar di seberang—rumah yang terlihat lebih hidup daripada villa tempat ia berdiri. Di salah satu jendelanya, tirai sedikit terbuka. Ada bayangan seseorang di sana—diam, tidak bergerak. Kai refleks menegakkan tubuhnya, matanya menyipit mencoba melihat lebih jelas. “Siapa itu…?” gumamnya. Lampu kamar itu tidak terlalu terang. Wajah orang itu tidak terlihat. Beberapa detik kemudian, bayangan itu menghilang, menjauh dari jendela. “Kai!” Suara ibunya terdengar dari dalam villa. “Ikan bakarnya sudah jadi! Masuk, nanti keburu dingin.” Kai menoleh. “Iya, Bu.” Ia melirik sekali lagi ke arah rumah di seberang, lalu melangkah masuk. Pintu kaca ditutup pelan di belakangnya, memutus pemandangan malam yang tadi sempat membuatnya bertanya-tanya. Pagi datang dengan udara yang bersih dan dingin. Kabut tipis menggantung di atas sawah, membuat desa terlihat seperti lukisan yang belum selesai. Kai dan keluarganya keluar dari villa untuk jogging ringan. Ayah dan ibu masih sibuk membetulkan tali sepatu, sementara Leo sudah mondar-mandir di halaman seperti anak kecil yang kelebihan energi. Seberang jalan, rumah besar itu sudah ramai. Dari kejauhan terlihat beberapa pekerja berjalan mondar-mandir, memandikan sapi-sapi di area peternakan yang letaknya agak jauh dari rumah utama. Suara air dan sapi terdengar samar, tertelan jarak. “Kayaknya sapinya banyak banget,” kata Leo dengan mata berbinar. “Tunggu dulu, Nak. Kita pemanasan dulu,” kata ibu sambil mengikat tali sepatu. Leo mengangguk, tapi matanya tidak pernah lepas dari arah peternakan. Saat ayah dan ibu masih berbicara soal rute jogging, Leo pelan-pelan menjauh. Tanpa permisi, dia berlari kecil menyeberang jalan dan masuk ke halaman rumah besar itu. Beberapa menit kemudian, ibu menoleh. “Leo mana?” Ayah ikut melihat ke sekitar. “Tadi di sini.” Jantung Kai langsung berdegup lebih cepat. Ia menoleh ke seberang dan melihat sosok kecil Leo sudah jauh, berjalan ke arah kandang sapi. “Dia masuk ke rumah seberang,” kata Kai cepat. “Ya ampun, kok masuk tanpa izin sih,” kata ibu panik. “Kai, tolong kejar. Jangan sampai dia tersesat.” Kai langsung berlari menyeberang jalan. Halaman rumah itu luas dan bersih. Tidak ada suara selain langkah kakinya sendiri. Leo sudah tidak terlihat, mungkin sudah terlalu jauh ke arah kandang. “Leo!” panggil Kai. Tidak ada jawaban. Di tikungan dekat kolam ikan, langkahnya terlalu cepat. Ia menabrak seseorang. “Aduh—maaf! Maaf banget!” Kai refleks menahan tubuhnya. “Saya lagi nyari adik saya, dia tadi masuk ke sini tanpa izin.” Orang yang ia tabrak tidak langsung menjawab. Kai menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah. Di depannya berdiri seorang gadis dengan baju rumah sederhana, rambutnya diikat asal. Tubuhnya berisi, tapi wajahnya lembut. Kai langsung mengenalinya. “Kita pernah ketemu, ya?” katanya. “Kemarin… waktu mobil kami bocor di jalan.” Gadis itu mengangguk pelan. “Iya.” Kai tersenyum kecil. “Pantesan kelihatan nggak asing.” Sera tidak menatapnya. Pandangannya turun ke ujung sepatunya. “Aku lagi nyari adikku. Bajunya biru. Tadi lari ke sini,” kata Kai. Sera mengangkat wajah sedikit, menunjuk ke arah samping rumah. “Ke… ke arah kandang sapi.” “Oh, makasih banget.” Kai terlihat lega. “Kamu… rumah sini?” Sera mengangguk lagi. “Iya.” “Maaf ya… kami baru datang ke villa seberang. Adikku agak susah dikontrol.” Sera tersenyum tipis. “Nggak apa-apa. Anak kecil memang suka penasaran.” Tiba-tiba terdengar suara dari jauh. “Kak Kaaaai!” Kai menoleh. Leo berdiri dekat pagar kandang, melambai-lambaikan tangan. “Nah itu dia.” Kai menghela napas lega. “Makasih ya.” Ia mulai berlari, tapi berhenti sebentar dan menoleh lagi. “Makasih, sekali lagi.” Sera mengangguk kecil. Kai menghampiri Leo. “Kamu ngapain sih masuk rumah orang tanpa izin?” “Aku mau lihat sapi dari dekat!” kata Leo polos. Kai menarik tangan adiknya. “Nanti bilang dulu. Nggak sopan.” Saat mereka berbalik, Kai tanpa sadar menoleh lagi ke belakang. Sera masih berdiri di tempat yang sama. Saat mata mereka bertemu, Sera cepat-cepat menunduk. Kai tersenyum kecil, tanpa suara. Leo mendongak ke arah Sera. “Kakak pemilik rumah ini, ya?” Sera mengangguk kecil. “Boleh nggak aku kasih makan sapi-sapi itu sekali aja?” tanya Leo cepat. Sera membuka mulut, tapi sebelum menjawab, suara dari arah rumah memanggil, “Sera! Cepat ke sini!” Sera tersentak. “Aku… harus pergi,” katanya pelan. Leo terlihat kecewa. “Belum dijawab…” Sera tersenyum tipis, lalu melangkah cepat pergi. Kai memperhatikan sampai sosoknya menghilang. “Sera…” gumamnya. “Kakak itu udah pergi,” keluh Leo. Kai mengacak rambut Leo. “Kita balik dulu.” Mereka berjalan kembali ke arah villa, meninggalkan halaman besar itu dengan perasaan yang sama-sama belum selesai—seperti ada sesuatu yang baru dimulai, tapi belum tahu akan jadi apa.Lapangan tujuhbelasan mulai lengang. Sorak-sorai masih terdengar, tapi satu per satu orang sudah beralih ke lomba berikutnya. Di pinggir lapangan, hanya Leo yang tersisa—berdiri sendirian, matanya sesekali mencari ke arah kerumunan, seolah berharap dua sosok yang tadi bersamanya muncul kembali.Tak lama kemudian, seorang nenek berjalan pelan mendekat. Rambutnya disanggul sederhana, wajahnya penuh garis usia yang lembut. Itu nenek Sera.“Leo,” panggilnya pelan. “Kamu lihat Sera?”Leo menoleh cepat. “Tadi ikut lomba balap karung, Nek.”Nenek itu tertegun. Alisnya terangkat, jelas terkejut. “Sera… ikut lomba?” ulangnya, seolah tak yakin dengan apa yang ia dengar. Selama ini, cucunya itu bahkan jarang mau berdiri di tengah keramaian, apalagi ikut perlombaan.“Iya,” jawab Leo jujur. “Terus… habis itu dia pergi. Sama Kak Kai.”“Kai?” Nenek itu menoleh ke sekeliling. “Sekarang di mana mereka?”Leo menggeleng. “Aku juga nggak tahu. Kak Kai tadi jalan ke arah sana, terus nggak kelihatan lagi.”
Lomba balap karung menjadi pembuka acara tujuhbelasan sore itu. Nama Sera sudah terdaftar di papan peserta—tulisan tangannya sendiri yang sedikit miring, seolah ragu dengan keputusan yang baru saja ia ambil. Di bawah namanya, tertera beberapa nama lain yang ia kenal: Zahra, Nisa, Chika, Olive. Nama-nama yang selama ini ada di sekelilingnya, tapi jarang benar-benar bersamanya.Di sisi lapangan, Kai dan Leo berdiri memberi semangat. Leo melompat-lompat kegirangan sambil meneriakkan nama Sera, seolah yang akan berlomba itu adalah kakaknya sendiri. Kai hanya berdiri agak kaku, menepuk tangan pelan. Mereka memang belum benar-benar akrab—baru sehari saling mengenal—tapi entah kenapa, Kai merasa tak tega membiarkan Sera sendirian di tengah tatapan orang-orang yang terasa berat.Peluit ditiup.Para peserta mulai melompat bersamaan. Tawa pecah di mana-mana. Karung-karung bergoyang, tubuh-tubuh terhuyung. Ada yang langsung jatuh, ada yang tertawa sambil bangkit lagi. Sera melompat dengan susah
Sesampainya di rumah, Kai dan Leo langsung disambut aroma nasi hangat yang memenuhi udara. Dari ruang makan terdengar bunyi piring beradu pelan, sendok yang diketuk ringan ke tepi mangkuk. Ayah dan ibu mereka ternyata sudah lebih dulu makan, tinggal menunggu dua anaknya yang pulang belakangan.Bu Maya menoleh begitu melihat mereka masuk. Wajahnya langsung melunak.“Akhirnya pulang juga. Cuci tangan dulu, jangan langsung duduk.”Leo tanpa menunggu dua kali langsung berlari ke kamar mandi. Langkahnya kecil tapi cepat, seperti selalu takut ketinggalan sesuatu. Kai menyusul lebih pelan, sambil melepas jaket dan menggantungkannya di belakang kursi.Beberapa menit kemudian mereka duduk di meja makan. Nasi masih mengepul, lauk masih hangat.Bu Maya membuka suara. “Tadi Pak RT sempat ke sini.”Kai mengangkat kepala. “Ada apa, Ma?”“Besok ada acara tujuh belasan di kampung. Katanya pendatang juga boleh ikut. Mau ikut lomba atau cuma nonton aja juga nggak apa-apa.”Mata Leo langsung berbinar, s
Aroma rendang memenuhi villa itu sejak siang. Dari dapur, bau santan dan rempah yang dimasak lama-lama naik ke seluruh ruangan, hangat, pekat, dan seperti menempel di dinding-dinding rumah.Bu Maya berdiri di depan kompor, mengaduk rendang dengan sabar. Sendok kayu bergerak pelan, memutar daging yang mulai menghitam dan berminyak. Keringat tipis muncul di pelipisnya, tapi wajahnya terlihat puas, seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu yang sangat dia kenal sejak lama.“Namanya juga orang Padang,” gumamnya sambil tersenyum kecil. “Kalau soal rendang, nggak bisa asal.”Kai lewat di depan dapur lalu berhenti. Dia mengendus pelan. “Wangi banget, Ma.”Leo muncul di belakangnya, mengucek mata. “Aku laper…”Bu Maya tertawa kecil. “Sabar. Ini bukan cuma buat kita.”Dia mematikan kompor, lalu memindahkan rendang ke wadah sederhana. Tutupnya ditutup rapat, tapi aroma masih tetap keluar, seolah tidak mau dikurung.“Kalian sudah dua hari di sini, tapi belum nyapa tetangga depan,” katanya sa
Di sisi lain, Sera melangkah cepat masuk ke rumahnya. Pintu kayu itu menutup dengan bunyi pelan di belakangnya, seolah ikut menjaga rahasia kegugupan yang masih tertinggal di dadanya. Ruang tengah tampak lengang. Hanya suara televisi yang menyala, menyiarkan berita pagi dengan suara datar yang tidak benar-benar didengarkan siapa pun.Ayahnya duduk di sofa, tubuhnya tegak, tangan bertumpu di paha. Matanya mengarah ke layar, tapi Sera tahu—tatapan itu kosong. Seperti orang yang sedang berpikir terlalu jauh.“Ada apa, Yah?” tanya Sera pelan.Ayah menoleh. Tatapannya tajam, menelusuri wajah Sera seakan sedang menimbang sesuatu yang tidak terucap.“Siapa pria tadi yang ngobrol sama kamu di luar?” tanyanya tanpa basa-basi.Sera terdiam sejenak. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia menarik napas pendek sebelum menjawab.“Mereka tamu dari kota, Yah. Pemilik villa di depan rumah kita. Tadi anak kecilnya masuk ke halaman tanpa izin, mau lihat sapi. Kakaknya nyari adiknya… terus kam
Magrib hampir lewat ketika Sera akhirnya sampai di depan rumah. Langit di atas desa mulai berubah warna—jingga memudar menjadi biru keabu-abuan. Bahunya terasa pegal karena tas dan easel yang digendong sejak sore. Tali tas menekan bahunya, membuat kulitnya terasa perih. Kakinya sedikit gemetar, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena ia sudah bisa menebak wajah siapa yang akan menyambutnya di ruang tamu.Ia mendorong pintu perlahan.Benar saja.Ayahnya, Pak Bimo, duduk di sofa sambil menonton televisi. Suara berita terdengar pelan, tapi sorot mata ayahnya langsung terangkat ketika mendengar pintu dibuka. Tatapan itu tajam, seperti selalu tahu kapan Sera pulang lebih lambat dari biasanya.“Kok baru pulang?” tanya Pak Bimo. Suaranya datar, tapi ada nada tidak senang yang jelas terasa.Sera menunduk. Jari-jarinya masih menggenggam tali tas. “Maaf, Yah… lukisannya baru selesai.”Ia menunggu. Biasanya, setelah itu akan ada ceramah panjang—tentang anak perempuan, tentang waktu, tentang o







