Home / Romansa / Cantik Yang Disembunyikan / Saat Dunia Mentertawakan

Share

Saat Dunia Mentertawakan

last update Last Updated: 2026-01-19 08:43:23

Lomba balap karung menjadi pembuka acara tujuhbelasan sore itu. Nama Sera sudah terdaftar di papan peserta—tulisan tangannya sendiri yang sedikit miring, seolah ragu dengan keputusan yang baru saja ia ambil. Di bawah namanya, tertera beberapa nama lain yang ia kenal: Zahra, Nisa, Chika, Olive. Nama-nama yang selama ini ada di sekelilingnya, tapi jarang benar-benar bersamanya.

Di sisi lapangan, Kai dan Leo berdiri memberi semangat. Leo melompat-lompat kegirangan sambil meneriakkan nama Sera, seolah yang akan berlomba itu adalah kakaknya sendiri. Kai hanya berdiri agak kaku, menepuk tangan pelan. Mereka memang belum benar-benar akrab—baru sehari saling mengenal—tapi entah kenapa, Kai merasa tak tega membiarkan Sera sendirian di tengah tatapan orang-orang yang terasa berat.

Peluit ditiup.

Para peserta mulai melompat bersamaan. Tawa pecah di mana-mana. Karung-karung bergoyang, tubuh-tubuh terhuyung. Ada yang langsung jatuh, ada yang tertawa sambil bangkit lagi. Sera melompat dengan susah payah. Tubuhnya yang berat membuat setiap loncatan terasa seperti menarik bumi bersamanya. Nafasnya cepat, dadanya naik turun lebih keras dari peserta lain. Beberapa warga menertawakannya, sebagian lain berbisik sambil menahan senyum mengejek.

“Aduh, kasihan…” “Lambat banget, ya.” “Berat badannya itu…”

Bisik-bisik itu seperti duri kecil yang menempel di telinganya.

Namun di mata Kai dan Leo, Sera tidak terlihat lucu karena memalukan—ia terlihat lucu karena berani. Cara ia menggigit bibir menahan capek, cara lengannya berusaha menjaga keseimbangan, cara matanya tetap lurus ke depan walau seluruh dunia terasa menertawakannya—semuanya terasa… menggemaskan dalam arti yang paling manusiawi: berusaha.

Saat hampir mencapai garis akhir, tiba-tiba tubuh Sera tersenggol dari samping. Zahra—yang berada di jalur sebelah—tak sengaja atau sengaja, tak ada yang tahu, membuat Sera kehilangan keseimbangan. Karungnya tersangkut, kakinya terpelintir sedikit, lalu tubuhnya terjatuh bersama karung, berguling di tanah.

Tawa meledak lebih keras.

Sera terdiam. Wajahnya memerah, bukan karena lelah, tapi karena malu. Untuk sesaat, ia ingin tetap di tanah dan berpura-pura lomba itu tak pernah ada. Tanah terasa dingin di pipinya, tapi yang lebih dingin adalah perasaan di dadanya.

Kai menegang. Dadanya terasa panas. Saat itu juga ia mengerti—ini bukan sekadar lomba. Ini jebakan. Tatapan Zahra barusan, senyum kecil Nisa, cara mereka berdiri terlalu dekat satu sama lain—semuanya bukan kebetulan.

“Sera! Bangun!” teriak Leo sambil berlari ke pinggir lintasan. “Dikit lagi, Kak! Dikit lagi!”

Kai ikut maju beberapa langkah, suaranya lebih tegas dari yang ia kira. “Nggak apa-apa jatuh! Bangun lagi! Kamu udah hebat sampai sini!”

Sera menoleh. Di antara suara tawa yang menyakitkan, ia mendengar dua suara yang berbeda—yang tidak menertawakan, tapi menunggu. Dengan tangan gemetar, ia menopang tubuhnya, berdiri lagi di dalam karung, lalu melompat pelan menuju garis akhir. Setiap loncatan terasa seperti melawan seluruh rasa ingin menyerah di tubuhnya.

Ia tidak menang. Tapi ia sampai.

Lomba berakhir. Sera duduk terengah di tepi lapangan, tangannya bertumpu di tanah. Karung yang tadi membelit kakinya tergeletak kusut di sampingnya. Nafasnya masih berat, tapi yang paling berat justru dadanya. Di belakang, suara tawa terdengar pecah.

Zahra, Olive, dan Chika berdiri berdekatan. Nisa mengangkat ponsel, memutar ulang video yang baru saja direkam.

“Lihat mukanya waktu jatuh,” ujar Nisa sambil tertawa kecil. “Lucu banget.”

Sera berdiri perlahan. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar. Ia melangkah mendekat, langkahnya ragu tapi dipaksa kuat.

“Tolong… jangan disebar,” katanya. Suaranya nyaris tak terdengar. “Hapus aja.”

Mereka saling pandang, lalu tertawa lebih keras.

“Kenapa sih?” kata Zahra. “Santai aja kali. Ini kan cuma lomba.”

Nisa menggeser ponselnya, memperlihatkan layar itu ke teman-temannya. “Biar sekelas juga ikut ketawa.”

Mata Sera berkaca-kaca. Tangannya mencengkeram ujung kausnya sendiri. Ia merasa seperti berdiri telanjang di tengah lapangan—semua orang bisa melihat lukanya, tapi tak ada yang mau menutupinya. Ia mundur satu langkah, lalu berbalik dan berlari menembus kerumunan.

Kai melihat punggung Sera menghilang. Dadanya seperti diremas. Ia menoleh ke arah Nisa, ke ponsel di tangannya. Langkahnya maju.

“Kasih sini,” katanya, datar tapi keras.

Zahra mengangkat alis. “Ngapain?”

Kai meraih ponsel itu. Zahra terlonjak. “Hei!”

Jari Kai bergerak cepat di layar. Ia menemukan video itu. Menekannya lama. Menggeser ke ikon hapus.

“Balikin!” teriak Olive sambil mencoba menarik tangannya.

Layar berkedip sebentar, lalu kosong.

Zahra mendorong bahu Kai. “Berani-beraninya!”

Kai tidak menoleh. Ia memutar badan, mencari ke arah Sera tadi berlari. Kerumunan makin rapat. Wajah itu tidak terlihat di mana-mana.

Kai berkeliling lapangan, matanya menyapu wajah-wajah yang lewat. Tidak ada Sera. Hanya orang-orang yang tertawa, berteriak, dan bersenang-senang—seolah tak ada seorang pun yang baru saja patah di antara mereka.

Tanpa sadar, langkahnya makin menjauh dari Leo yang masih berdiri di pinggir arena, sibuk menonton lomba berikutnya. Leo baru menyadari ketika menoleh dan tidak lagi melihat Kai di sisinya.

“Kak Kai mau ke mana?” gumamnya, tapi Kai sudah menghilang di antara orang-orang.

Kai sendiri tidak tahu harus ke arah mana. Jalan-jalan kampung itu terasa asing. Setiap belokan tampak sama di matanya. Ia hanya tahu satu hal: Sera tidak mungkin pergi terlalu jauh.

Di kepalanya tiba-tiba muncul ingatan tentang hari pertama ia bertemu Sera.

Tentang seorang gadis yang berdiri di pinggir jalan dengan alat lukisnya, kemungkinan seorang pelukis itu selalu mencari tempat tenang untuk berfikir.

Sawah.

Langkah Kai mengarah ke luar kampung, melewati rumah-rumah yang mulai jarang, sampai hamparan hijau terbentang di depan matanya. Angin menggerakkan padi pelan-pelan, seperti bisikan panjang. Langit mulai menguning, tanda sore hampir habis.

Di kejauhan, sebuah saung kecil berdiri sendiri.

Kai mendekat. Dan di sanalah ia melihatnya.

Sera duduk di lantai bambu saung itu, lututnya dipeluk erat. Bahunya naik turun tak beraturan. Sesekali ia menyeka pipinya, tapi air mata tetap jatuh, membasahi tangan dan bajunya.

Kai berhenti beberapa langkah darinya. Untuk sesaat, ia hanya berdiri, menatap sosok yang tampak jauh lebih kecil dari biasanya di tengah luasnya sawah. Tidak ada tawa di sini. Tidak ada suara orang. Hanya angin dan isak yang tertahan.

Kai melangkah mendekat, pelan, seolah takut langkahnya sendiri bisa memecah kesunyian.

Sera tersentak saat menyadari ada bayangan berdiri di hadapannya. Ia mengangkat wajah dengan mata sembab.

“Kamu… ngikutin aku?” tanyanya lirih, nada suaranya campur antara kaget dan bingung. “Kok kamu tahu aku di sini?”

Kai tidak langsung menjawab. Ia naik ke lantai bambu saung dan duduk di samping Sera, menjaga jarak sedikit—tidak terlalu dekat, tapi juga tidak jauh.

“Aku cuma nebak,” katanya pelan. “Kamu kelihatan kayak orang yang butuh tempat sepi. Dan… di desa ini, yang paling sepi ya sawah.”

Sera menunduk lagi. Tangannya mengusap pipinya yang masih basah.

“Ngapain kamu nyusul aku?” tanyanya lagi, suaranya gemetar kecil.

Kai menoleh padanya, matanya serius tapi lembut. “Karena waktu kamu lari… nggak ada satu orang pun yang ngejar kamu. Dan menurutku, itu salah.”

Sera menggeleng pelan. “Kamu nggak harus…”

“Aku tahu,” potong Kai pelan. “Aku nggak harus. Tapi aku mau.”

“Kamu sering ke sini?” tanyanya akhirnya.

Sera menggeleng pelan.

“Tapi kamu kelihatan kayak orang yang butuh tempat sepi,” lanjut Kai, suaranya rendah.

Sera tidak menjawab. Tapi tangannya mencengkeram bajunya lebih kuat.

Kai memperhatikan itu. “Tadi… waktu mereka ketawa, kamu nggak marah. Kamu cuma… kayak mau menghilang.”

Sera mengangguk sangat kecil.

“Aku nggak tahu kenapa,” kata Kai jujur, “tapi menurutku, orang yang pengen menghilang itu biasanya cuma capek.”

Mata Sera berkedip. Air mata jatuh lagi. Tapi ia tetap tidak bicara.

Kai tidak mendesak. “Kalau kamu nggak mau cerita, nggak apa-apa. Aku cuma… nggak mau kamu sendirian di sini.”

Lama sekali baru Sera berkata, sangat lirih,

“Makasih.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cantik Yang Disembunyikan   Langkah yang Tertinggal

    Lapangan tujuhbelasan mulai lengang. Sorak-sorai masih terdengar, tapi satu per satu orang sudah beralih ke lomba berikutnya. Di pinggir lapangan, hanya Leo yang tersisa—berdiri sendirian, matanya sesekali mencari ke arah kerumunan, seolah berharap dua sosok yang tadi bersamanya muncul kembali.Tak lama kemudian, seorang nenek berjalan pelan mendekat. Rambutnya disanggul sederhana, wajahnya penuh garis usia yang lembut. Itu nenek Sera.“Leo,” panggilnya pelan. “Kamu lihat Sera?”Leo menoleh cepat. “Tadi ikut lomba balap karung, Nek.”Nenek itu tertegun. Alisnya terangkat, jelas terkejut. “Sera… ikut lomba?” ulangnya, seolah tak yakin dengan apa yang ia dengar. Selama ini, cucunya itu bahkan jarang mau berdiri di tengah keramaian, apalagi ikut perlombaan.“Iya,” jawab Leo jujur. “Terus… habis itu dia pergi. Sama Kak Kai.”“Kai?” Nenek itu menoleh ke sekeliling. “Sekarang di mana mereka?”Leo menggeleng. “Aku juga nggak tahu. Kak Kai tadi jalan ke arah sana, terus nggak kelihatan lagi.”

  • Cantik Yang Disembunyikan   Saat Dunia Mentertawakan

    Lomba balap karung menjadi pembuka acara tujuhbelasan sore itu. Nama Sera sudah terdaftar di papan peserta—tulisan tangannya sendiri yang sedikit miring, seolah ragu dengan keputusan yang baru saja ia ambil. Di bawah namanya, tertera beberapa nama lain yang ia kenal: Zahra, Nisa, Chika, Olive. Nama-nama yang selama ini ada di sekelilingnya, tapi jarang benar-benar bersamanya.Di sisi lapangan, Kai dan Leo berdiri memberi semangat. Leo melompat-lompat kegirangan sambil meneriakkan nama Sera, seolah yang akan berlomba itu adalah kakaknya sendiri. Kai hanya berdiri agak kaku, menepuk tangan pelan. Mereka memang belum benar-benar akrab—baru sehari saling mengenal—tapi entah kenapa, Kai merasa tak tega membiarkan Sera sendirian di tengah tatapan orang-orang yang terasa berat.Peluit ditiup.Para peserta mulai melompat bersamaan. Tawa pecah di mana-mana. Karung-karung bergoyang, tubuh-tubuh terhuyung. Ada yang langsung jatuh, ada yang tertawa sambil bangkit lagi. Sera melompat dengan susah

  • Cantik Yang Disembunyikan   17 Agustusan

    Sesampainya di rumah, Kai dan Leo langsung disambut aroma nasi hangat yang memenuhi udara. Dari ruang makan terdengar bunyi piring beradu pelan, sendok yang diketuk ringan ke tepi mangkuk. Ayah dan ibu mereka ternyata sudah lebih dulu makan, tinggal menunggu dua anaknya yang pulang belakangan.Bu Maya menoleh begitu melihat mereka masuk. Wajahnya langsung melunak.“Akhirnya pulang juga. Cuci tangan dulu, jangan langsung duduk.”Leo tanpa menunggu dua kali langsung berlari ke kamar mandi. Langkahnya kecil tapi cepat, seperti selalu takut ketinggalan sesuatu. Kai menyusul lebih pelan, sambil melepas jaket dan menggantungkannya di belakang kursi.Beberapa menit kemudian mereka duduk di meja makan. Nasi masih mengepul, lauk masih hangat.Bu Maya membuka suara. “Tadi Pak RT sempat ke sini.”Kai mengangkat kepala. “Ada apa, Ma?”“Besok ada acara tujuh belasan di kampung. Katanya pendatang juga boleh ikut. Mau ikut lomba atau cuma nonton aja juga nggak apa-apa.”Mata Leo langsung berbinar, s

  • Cantik Yang Disembunyikan   Perkenalan Tetangga

    Aroma rendang memenuhi villa itu sejak siang. Dari dapur, bau santan dan rempah yang dimasak lama-lama naik ke seluruh ruangan, hangat, pekat, dan seperti menempel di dinding-dinding rumah.Bu Maya berdiri di depan kompor, mengaduk rendang dengan sabar. Sendok kayu bergerak pelan, memutar daging yang mulai menghitam dan berminyak. Keringat tipis muncul di pelipisnya, tapi wajahnya terlihat puas, seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu yang sangat dia kenal sejak lama.“Namanya juga orang Padang,” gumamnya sambil tersenyum kecil. “Kalau soal rendang, nggak bisa asal.”Kai lewat di depan dapur lalu berhenti. Dia mengendus pelan. “Wangi banget, Ma.”Leo muncul di belakangnya, mengucek mata. “Aku laper…”Bu Maya tertawa kecil. “Sabar. Ini bukan cuma buat kita.”Dia mematikan kompor, lalu memindahkan rendang ke wadah sederhana. Tutupnya ditutup rapat, tapi aroma masih tetap keluar, seolah tidak mau dikurung.“Kalian sudah dua hari di sini, tapi belum nyapa tetangga depan,” katanya sa

  • Cantik Yang Disembunyikan   Diantara Piring Dan Pelukan

    Di sisi lain, Sera melangkah cepat masuk ke rumahnya. Pintu kayu itu menutup dengan bunyi pelan di belakangnya, seolah ikut menjaga rahasia kegugupan yang masih tertinggal di dadanya. Ruang tengah tampak lengang. Hanya suara televisi yang menyala, menyiarkan berita pagi dengan suara datar yang tidak benar-benar didengarkan siapa pun.Ayahnya duduk di sofa, tubuhnya tegak, tangan bertumpu di paha. Matanya mengarah ke layar, tapi Sera tahu—tatapan itu kosong. Seperti orang yang sedang berpikir terlalu jauh.“Ada apa, Yah?” tanya Sera pelan.Ayah menoleh. Tatapannya tajam, menelusuri wajah Sera seakan sedang menimbang sesuatu yang tidak terucap.“Siapa pria tadi yang ngobrol sama kamu di luar?” tanyanya tanpa basa-basi.Sera terdiam sejenak. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia menarik napas pendek sebelum menjawab.“Mereka tamu dari kota, Yah. Pemilik villa di depan rumah kita. Tadi anak kecilnya masuk ke halaman tanpa izin, mau lihat sapi. Kakaknya nyari adiknya… terus kam

  • Cantik Yang Disembunyikan   Lampu disebrang

    Magrib hampir lewat ketika Sera akhirnya sampai di depan rumah. Langit di atas desa mulai berubah warna—jingga memudar menjadi biru keabu-abuan. Bahunya terasa pegal karena tas dan easel yang digendong sejak sore. Tali tas menekan bahunya, membuat kulitnya terasa perih. Kakinya sedikit gemetar, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena ia sudah bisa menebak wajah siapa yang akan menyambutnya di ruang tamu.Ia mendorong pintu perlahan.Benar saja.Ayahnya, Pak Bimo, duduk di sofa sambil menonton televisi. Suara berita terdengar pelan, tapi sorot mata ayahnya langsung terangkat ketika mendengar pintu dibuka. Tatapan itu tajam, seperti selalu tahu kapan Sera pulang lebih lambat dari biasanya.“Kok baru pulang?” tanya Pak Bimo. Suaranya datar, tapi ada nada tidak senang yang jelas terasa.Sera menunduk. Jari-jarinya masih menggenggam tali tas. “Maaf, Yah… lukisannya baru selesai.”Ia menunggu. Biasanya, setelah itu akan ada ceramah panjang—tentang anak perempuan, tentang waktu, tentang o

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status