Home / Romansa / Cantik Yang Disembunyikan / Perkenalan Tetangga

Share

Perkenalan Tetangga

last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-18 09:13:38

Aroma rendang memenuhi villa itu sejak siang. Dari dapur, bau santan dan rempah yang dimasak lama-lama naik ke seluruh ruangan, hangat, pekat, dan seperti menempel di dinding-dinding rumah.

Bu Maya berdiri di depan kompor, mengaduk rendang dengan sabar. Sendok kayu bergerak pelan, memutar daging yang mulai menghitam dan berminyak. Keringat tipis muncul di pelipisnya, tapi wajahnya terlihat puas, seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu yang sangat dia kenal sejak lama.

“Namanya juga orang Padang,” gumamnya sambil tersenyum kecil. “Kalau soal rendang, nggak bisa asal.”

Kai lewat di depan dapur lalu berhenti. Dia mengendus pelan. “Wangi banget, Ma.”

Leo muncul di belakangnya, mengucek mata. “Aku laper…”

Bu Maya tertawa kecil. “Sabar. Ini bukan cuma buat kita.”

Dia mematikan kompor, lalu memindahkan rendang ke wadah sederhana. Tutupnya ditutup rapat, tapi aroma masih tetap keluar, seolah tidak mau dikurung.

“Kalian sudah dua hari di sini, tapi belum nyapa tetangga depan,” katanya sambil membersihkan tangan di celemek. “Rumah kita dan rumah mereka kan benar-benar depan-depanan, cuma kehalang jalan. Nggak enak kalau saling lihat tapi nggak pernah nyapa.”

Kai mengangguk. “Jadi kita ke sana?”

“Iya. Antarin ini. Biar kenal.”

Leo langsung melonjak sedikit. “Ke rumah sapi itu?”

Bu Maya tertawa. “Iya, ke rumah yang ada sapinya.”

Kai mengambil wadah rendang itu dengan hati-hati. Leo berdiri di sampingnya, sudah tidak sabar.

Mereka keluar, menyeberangi jalan kecil yang cuma muat satu mobil. Udara desa terasa berbeda—lebih pelan, lebih sunyi, seperti waktu berjalan lebih lambat. Rumah di seberang terlihat tenang, pintunya tertutup, halaman bersih dengan jejak-jejak kaki kecil di tanah yang agak lembap.

Kai mengetuk pelan.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Seorang nenek berdiri di sana, rambutnya disanggul sederhana, wajahnya datar tapi matanya tidak dingin.

“Iya, Nak?” tanyanya.

Kai sedikit menunduk. “Kami dari rumah depan. Baru pindah. Ini… ibu kami nitip makanan. Katanya buat kenalan.”

Nenek itu mengangguk pelan. “Oh… tetangga baru, ya.”

Leo maju setengah langkah, mengangkat wadah itu sedikit. “Ini rendang, Nek.”

Nenek menerima wadah itu tanpa banyak ekspresi berlebihan. “Terima kasih. Nanti nenek sampaikan.”

Kai tersenyum kecil. “Iya, Nek.”

“Nama kalian siapa?”

“Saya Kai. Ini Leo.”

Nenek mengangguk lagi. “Iya. Nanti nenek bilang ke yang di rumah.”

Dia menatap mereka sebentar, lalu berkata, “Masuk dulu, Nak. Duduk sebentar.”

Kai sempat ragu, tapi melihat senyum kecil yang muncul sebentar di wajah nenek itu, dia mengangguk. “Terima kasih, Nek.”

Mereka melangkah masuk. Ruang tamu rumah itu cukup besar, bersih, dan terasa sejuk. Ada bau kayu, bau kain, dan sedikit bau tanah yang masuk dari jendela. Nenek menunjuk kursi kayu di dekat jendela.

“Duduk di situ saja.”

Kai duduk lebih dulu, disusul Leo yang langsung menoleh ke segala arah, matanya bergerak cepat, seperti takut melewatkan sesuatu.

“Sapinya di mana, Nek?” tanyanya polos.

Nenek tersenyum tipis. “Di belakang. Tapi nanti ya.”

Saat itu, terdengar langkah pelan dari tangga lantai dua.

Sera turun perlahan. Setiap anak tangga diinjaknya dengan hati-hati, seperti takut suara langkahnya terlalu keras. Begitu sampai di anak tangga terakhir, dia melihat dua orang asing duduk di ruang tamu.

Dadanya langsung mengencang.

Matanya membesar sebentar—lalu refleks menunduk, seperti itu satu-satunya cara agar dia tidak terlihat.

Kai menoleh.

Dia mengenali wajah itu.

Sera.

Leo langsung berdiri. “Kak Sera!” serunya ceria. “Aku mau lihat sapi! Boleh sekarang?”

Nama itu membuat Sera kaget. Jantungnya berdetak lebih cepat. “Kok… kamu tahu namaku?” tanyanya pelan, suaranya hampir tenggelam di ruang itu.

Kai tersenyum kecil, lalu berdiri. “Kemarin aku dengar seseorang manggil kamu. Namaku Kai,” katanya sambil sedikit menunduk sopan. “Ini adikku, Leo.”

“Aku Leo, Kak!” tambah Leo cepat.

Sera mengangguk pelan. “Aku… Sera.”

Suaranya lirih, nyaris seperti bisikan. Bahkan dia sendiri merasa suaranya terlalu kecil untuk ruangan sebesar itu.

Nenek menepuk tangan pelan. “Nah, sekarang sudah kenal. Ini tetangga baru kita yang di depan rumah.”

Sera mengangguk lagi. Tangannya meremas ujung bajunya tanpa dia sadari.

“Kamu temani mereka sebentar, ya,” kata nenek sambil mengangkat wadah rendang. “Nenek mau simpan ini dulu sama ibumu di dapur.”

Sera kaget. Perutnya langsung terasa ringan seperti kosong. “Nenek—”

“Sebentar saja,” potong nenek lembut tapi tegas.

Nenek lalu berjalan ke arah dapur, memanggil ibu Sera dari dalam.

Tinggallah mereka bertiga di ruang tamu.

Sunyi.

Sunyi yang terasa terlalu besar untuk tiga orang.

Sera berdiri kaku. Dia ingin duduk, tapi tidak tahu harus duduk di mana. Ingin bicara, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Rasanya seperti semua kata bersembunyi jauh di tenggorokannya.

Leo memecah sunyi lebih dulu. “Kita ke sapi, ya, Kak Sera?”

Kai melirik Sera, lalu berkata hati-hati, “Kalau nggak boleh juga nggak apa-apa. Jangan dipaksa.”

Kalimat itu membuat Sera sedikit lega—seperti ada orang yang tidak menuntutnya langsung bisa ramah.

Sera menelan ludah. Dia tidak terbiasa jadi tuan rumah. Tidak terbiasa mengajak orang bicara, apalagi orang asing.

“B… belakang,” katanya pelan sambil menunjuk pintu samping. “Kandangnya… di sana.”

Leo langsung melonjak kecil. “Yeay!”

Kai berdiri. “Makasih, Sera.”

Mereka berjalan pelan ke arah belakang. Leo hampir berlari, tapi Kai cepat menahannya. “Pelan, Leo.”

Sera berjalan di belakang mereka. Kepalanya tertunduk, pandangannya lebih sering ke lantai daripada ke depan. Dia bisa mendengar langkah Kai dan Leo di depan, tapi dia merasa seperti berjalan di dunia sendiri.

Karena terlalu fokus menunduk, Sera tidak sadar langkah Kai tiba-tiba melambat.

Bruk.

Dahinya nyaris menabrak punggung Kai.

“Eh—” Kai refleks berhenti dan menoleh. “Kamu nggak apa-apa?”

Sera tersentak. Wajahnya langsung panas. “Ma… maaf,” katanya cepat.

Kai menggeleng pelan. “Nggak usah minta maaf. Aku yang tiba-tiba berhenti.”

Sera mengangguk, tapi tetap menunduk lagi. Dadanya terasa sesak, bukan karena sakit, tapi karena malu.

Kai memperhatikan sebentar. Cara jalannya, cara dia memegang ujung bajunya, cara dia menghindari tatapan—semuanya terlihat seperti orang yang ingin mengecil, ingin hilang dari pandangan.

“Kamu… capek?” tanya Kai pelan.

Sera menggeleng. “Nggak.”

Mereka lanjut berjalan. Di depan, Leo sudah sampai di dekat kandang. Matanya berbinar melihat sapi-sapi yang berdiri tenang.

“Wah… gede banget!” serunya.

Kai tersenyum kecil, lalu melirik ke arah Sera lagi. “Kamu sekolah di sini?” tanyanya santai, seolah cuma ingin mengisi udara yang kosong.

Sera mengangguk. “Iya.”

“Kelas berapa?”

“Sebelas.”

“Oh, berarti kita seumuran,” kata Kai. “Aku juga kelas sebelas.”

Sera menoleh sedikit, hanya sekilas. Di dalam dadanya ada rasa aneh—seperti ada jarak yang tiba-tiba jadi lebih dekat, walau cuma karena angka kelas.

“Oh,” katanya.

Kai tidak memaksa. Dia berjalan pelan, menyamakan langkah.

“Sekolahmu jauh dari sini?”

“Lumayan. Naik motor.”

Kai mengangguk. “Oh….”

Obrolan mereka berhenti di situ. Tapi sunyinya tidak terasa menusuk. Lebih seperti dua orang yang sama-sama belum tahu harus bicara apa, dan sama-sama tidak ingin merusaknya.

Di depan, Leo sudah berdiri di dekat pagar kandang.

“Kak Sera, ini makannya!” katanya sambil mengangkat daun dan potongan rumput.

Sera mendekat. Kali ini dia tidak terlalu menunduk. Dia mengambil pakan itu, lalu menyerahkannya ke Leo.

“Pelan-pelan,” katanya. “Jangan dekat banget.”

Leo mengangguk serius. Sapi itu mendekat, mengunyah pelan.

Leo tertawa. “Dia makan! Beneran makan!”

Sera melihatnya. Ada rasa kecil di dadanya—bukan bahagia besar, tapi seperti melihat sesuatu yang hidup karena dia mengizinkannya.

Kai berdiri di samping. Sesekali dia melirik ke arah Sera, yang kini berdiri agak lebih santai, walau tangannya masih sering meremas ujung bajunya.

“Kalau dikasih makan, pasti senang,” kata Kai ringan.

Sera mengangguk. “Iya.”

Leo memberi makan satu per satu. Sera mengingatkan jarak. Kai menjaga Leo supaya tidak terlalu maju.

“Udah cukup, Leo,” kata Kai. “Nanti sapinya kebanyakan makan.”

Leo menatap sapi terakhir. “Iya… besok lagi ya.”

Mereka berjalan kembali ke rumah. Langkah Sera tidak terlalu tertunduk seperti tadi. Masih pelan, masih hati-hati, tapi ada sesuatu yang lebih ringan.

Di ruang tamu, nenek sudah duduk lagi. Di meja kecil ada wadah rendang.

“Terima kasih ya, Nak,” kata nenek.

Kai menggeleng. “Ibu yang masak.”

“Ya tetap saja.”

Leo mendekati Sera. “Makasih ya, Kak.”

Sera mengangguk. Bibirnya melengkung tipis—senyum kecil yang bahkan dia sendiri tidak yakin itu bisa disebut senyum.

“Iya.”

Nenek mengantar mereka ke pintu. Sera ikut.

“Aku… nganter sampai gerbang,” kata Sera pelan.

Kai mengangguk. “Makasih.”

Mereka berjalan bertiga. Leo bercerita soal sapi.

Kai berjalan sejajar dengan Sera.

Sebelum sampai pagar, Kai menoleh sedikit. “Sampai jumpa, Sera.”

Sera kaget kecil. “Iya.”

Telinganya terasa hangat.

Kai pergi. Sera berdiri sebentar. Dadanya terasa aneh—bukan deg-degan besar, bukan takut. Hanya seperti angin kecil yang lewat dan tidak langsung pergi.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cantik Yang Disembunyikan   Tatapan Yang Terlalu Ramai

    Di kantin kampus yang luas, sekelompok mahasiswa duduk bersama di salah satu meja panjang. Kai, Veronica, Adam, dan Doni—mereka bagian dari satu lingkaran pertemanan yang sudah cukup dikenal di kampus. Kai duduk dengan tatapan kosong, seolah terjebak dalam pikirannya sendiri, sementara Veronica sibuk menatap layar laptop Doni, yang sedang mengedit vlog mereka. Tiba-tiba, Veronica berhenti sejenak dan mengamati Kai yang melamun. Wajahnya menunjukkan rasa penasaran, lalu dengan suara manja ia bertanya, "Sayang, kamu kenapa?" Kai menoleh dengan ekspresi datar, tak ada senyum di wajahnya. "Gausah panggil kaya gitu di luar konten," jawabnya dengan nada sinis yang sedikit menusuk. Veronica mendengus, namun tetap mempertahankan sikap ceria. "Tapi kan, biar mendalami peran, biar gak ketahuan orang-orang di sini," katanya sambil melirik mahasiswa lain yang ada di kantin. Beberapa dari mereka terlihat mengamati kelompok mereka dengan tatapan penasaran, seolah ingin tahu apa yang sedang

  • Cantik Yang Disembunyikan   Hari Pertama, Orang Asing

    Pagi pertama orientasi mahasiswa membuat kamar kos terasa lebih sempit dari biasanya. Bukan karena ukurannya berubah, tapi karena isi kepala Sera yang penuh. Ia berdiri di depan cermin kecil yang menempel miring di dinding, menatap pantulan dirinya sendiri sambil merapikan kemeja putih yang sudah ia setrika sejak malam. Celana hitamnya terasa kaku di kaki. Di dadanya tergantung name tag besar—terlalu besar, bahkan—hasil kreativitas yang diwajibkan panitia. Name tag itu hampir menutupi setengah dadanya, membuatnya merasa kikuk setiap kali bergerak. Name tag tersebut terbuat dari karton tebal yang dibungkus kertas cokelat. Di sekelilingnya, Sera menempelkan potongan daun kering yang ia susun melingkar, sebagian warnanya sudah menguning, sebagian lagi kecokelatan. Di sudut kanan bawah, ada pita rafia yang diikat asal-asalan, dan di tengahnya tertulis namanya dengan spidol hitam—hurufnya sedikit miring, tidak simetris, tapi jelas terbaca. Tidak rapi. Namun dibuat dengan sungguh-sunggu

  • Cantik Yang Disembunyikan   Kota Berisik

    Jakarta menyambut Sera dengan suara yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.Bukan suara serangga atau angin sawah, tapi klakson yang saling bersahutan, mesin kendaraan, dan orang-orang yang bergerak cepat tanpa saling menoleh. Dari dalam mobil, Sera menatap keluar jendela, mencoba mencerna kenyataan bahwa mulai hari ini, hidupnya benar-benar berpindah tempat.Mobil berhenti di depan sebuah bangunan kos bertingkat tiga. Catnya masih terlihat baru. Di depan gerbang ada pos satpam, lengkap dengan palang dan kamera CCTV yang menghadap ke jalan.“Ini kosnya,” kata Ayah singkat.Sera turun dari mobil, menatap bangunan itu pelan. Tidak seperti bayangannya tentang kos mahasiswa yang sempit dan berisik, tempat ini terasa… rapi. Terlalu rapi, bahkan. Gerbangnya terkunci otomatis. Ada papan kecil bertuliskan Kosan Putri — Tamu Wajib Lapor.Satpam menyapa mereka sopan. Ayah langsung menjelaskan keperluan mereka, menyebut nama Sera, kamar, dan lantai. Semua terdengar teratur, resmi, dan—aman.“Iya,

  • Cantik Yang Disembunyikan   Pintu yang setengah terbuka

    Kabar itu datang begitu saja, seperti sesuatu yang tidak pernah dipersiapkan siapa pun untuk menerimanya.“Hamil?” Nenek mengulang pelan, seolah kata itu butuh waktu untuk sampai ke kepalanya.Sera berdiri di dekat pintu kamar, tubuhnya kaku. “Ibu… hamil?”Ayah masih memegang ponsel di tangannya, wajahnya seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami dalam sekali dengar. Ia mengangguk pelan, napasnya terdengar lebih berat dari biasanya.“Iya,” katanya singkat. “Dia pingsan di pasar. Warga yang bawa ke rumah sakit. Dokter baru nelepon.”Tidak ada yang berkata apa-apa lagi. Keheningan di rumah itu terasa berbeda dari biasanya—bukan tenang, tapi penuh kebingungan yang tidak terucap.Mereka berangkat ke rumah sakit tanpa banyak bicara.Di perjalanan, Sera menatap keluar jendela mobil. Pikirannya kosong, tapi juga penuh. Delapan belas tahun. Selama itu, ia tumbuh sebagai anak tunggal. Ibunya tidak pernah hamil lagi, atau setidaknya tidak pernah ada kabar

  • Cantik Yang Disembunyikan   Antara Jarak Dan Waktu

    Dua hari setelah percakapan di balkon itu, semuanya berjalan lebih tenang dari yang Sera kira.Tidak ada kejadian besar. Tidak ada percakapan berat. Mereka hanya sering duduk bersama di villa—kadang di ruang tamu, kadang di teras belakang. Ngobrol hal-hal ringan. Tentang kampus impian Kai. Tentang lukisan-lukisan Sera. Tentang hal-hal kecil yang biasanya tidak pernah Sera ceritakan ke siapa pun.Nenek jadi semacam “jembatan”. Dengan alasan membantu atau sekadar menemani, nenek selalu punya cara supaya Sera bisa datang lagi ke villa tanpa menarik perhatian ayah maupun ibu.Waktu berjalan lebih cepat dari yang mereka sadari.Hari kepulangan keluarga Kai datang begitu saja. Pagi itu villa lebih ramai dari biasanya. Koper-koper disusun. Suara orang berlalu-lalang terdengar dari berbagai sudut rumah.Sera tidak datang hari itu. Ayahnya sedang di rumah, dan ia tidak bisa mencari alasan untuk pergi.Kai sempat berdiri di balkon yang sama, menatap ke arah rumah sera, berharap bisa melihat ser

  • Cantik Yang Disembunyikan   Teman Pertama

    Kai dan Sera sudah berdiri di balkon lantai atas villa. Anginnya sejuk, cukup kencang sampai ujung rambut Sera sedikit bergerak. Dari sana, sawah kelihatan jelas, hijau dan luas, dengan suara serangga yang samar.Awalnya mereka sama-sama diam.Bukan karena suasananya canggung berlebihan, tapi lebih ke… belum tahu mau mulai dari mana. Kai bersandar di pagar balkon, sementara Sera berdiri agak ke samping, tangannya saling menggenggam di depan perut.Kai sebenarnya memang ingin mengajak Sera ke sini buat ngobrol. Tidak ada maksud aneh. Ia cuma ingin suasananya lebih tenang dibanding ruang tamu. Tapi begitu mereka sampai, Kai malah kehilangan fokusnya sendiri.Tanpa sadar, matanya beberapa kali melirik ke arah Sera.Dan entah kenapa, omongan ibunya semalam langsung terlintas di kepalanya. Tentang bagaimana ibunya bilang Sera itu cantik. Tentang matanya yang kelihatan tenang. Tentang kulitnya yang bersih. Waktu itu Kai tidak menanggapi apa-apa, cuma menganggapnya komentar biasa.Sekarang,

  • Cantik Yang Disembunyikan   Langkah yang Tertinggal

    Lapangan tujuhbelasan mulai lengang. Sorak-sorai masih terdengar, tapi satu per satu orang sudah beralih ke lomba berikutnya. Di pinggir lapangan, hanya Leo yang tersisa—berdiri sendirian, matanya sesekali mencari ke arah kerumunan, seolah berharap dua sosok yang tadi bersamanya muncul kembali.Tak

  • Cantik Yang Disembunyikan   Saat Dunia Mentertawakan

    Lomba balap karung menjadi pembuka acara tujuhbelasan sore itu. Nama Sera sudah terdaftar di papan peserta—tulisan tangannya sendiri yang sedikit miring, seolah ragu dengan keputusan yang baru saja ia ambil. Di bawah namanya, tertera beberapa nama lain yang ia kenal: Zahra, Nisa, Chika, Olive. Nama

  • Cantik Yang Disembunyikan   17 Agustusan

    Sesampainya di rumah, Kai dan Leo langsung disambut aroma nasi hangat yang memenuhi udara. Dari ruang makan terdengar bunyi piring beradu pelan, sendok yang diketuk ringan ke tepi mangkuk. Ayah dan ibu mereka ternyata sudah lebih dulu makan, tinggal menunggu dua anaknya yang pulang belakangan.Bu M

  • Cantik Yang Disembunyikan   Diantara Piring Dan Pelukan

    Di sisi lain, Sera melangkah cepat masuk ke rumahnya. Pintu kayu itu menutup dengan bunyi pelan di belakangnya, seolah ikut menjaga rahasia kegugupan yang masih tertinggal di dadanya. Ruang tengah tampak lengang. Hanya suara televisi yang menyala, menyiarkan berita pagi dengan suara datar yang tida

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status