Home / Romansa / Cantik Yang Disembunyikan / Langkah yang Tertinggal

Share

Langkah yang Tertinggal

last update Last Updated: 2026-01-22 12:36:03

Lapangan tujuhbelasan mulai lengang. Sorak-sorai masih terdengar, tapi satu per satu orang sudah beralih ke lomba berikutnya. Di pinggir lapangan, hanya Leo yang tersisa—berdiri sendirian, matanya sesekali mencari ke arah kerumunan, seolah berharap dua sosok yang tadi bersamanya muncul kembali.

Tak lama kemudian, seorang nenek berjalan pelan mendekat. Rambutnya disanggul sederhana, wajahnya penuh garis usia yang lembut. Itu nenek Sera.

“Leo,” panggilnya pelan. “Kamu lihat Sera?”

Leo menoleh cepat. “Tadi ikut lomba balap karung, Nek.”

Nenek itu tertegun. Alisnya terangkat, jelas terkejut. “Sera… ikut lomba?” ulangnya, seolah tak yakin dengan apa yang ia dengar. Selama ini, cucunya itu bahkan jarang mau berdiri di tengah keramaian, apalagi ikut perlombaan.

“Iya,” jawab Leo jujur. “Terus… habis itu dia pergi. Sama Kak Kai.”

“Kai?” Nenek itu menoleh ke sekeliling. “Sekarang di mana mereka?”

Leo menggeleng. “Aku juga nggak tahu. Kak Kai tadi jalan ke arah sana, terus nggak kelihatan lagi.”

Wajah nenek Sera langsung berubah. Ada kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan. Ia menatap lapangan sekali lagi, lalu menghela napas pendek.

“Ya sudah,” katanya akhirnya. “Kamu pulang dulu sama nenek.”

Leo mengangguk. Nenek menggandeng tangannya, menuntunnya menuju villa tempat Kai dan keluarganya menginap.

Di sana, nenek Sera bertemu dengan Bu Maya yang baru keluar dari dapur. Senyum kecil terbit di wajah sang nenek.

“Terima kasih ya, Bu,” ucapnya. “Rendangnya kemarin enak sekali.”

Bu Maya tersenyum hangat. “Ah, sama-sama. Kalau suka, nanti saya bikinin lagi.”” Kemudian, Bu Maya menatap nenek itu dengan rasa penasaran. “Oh, nenek pemilik rumah di depan ya?” tanyanya, baru menyadari siapa tetangga mereka yang sebenarnya.

Nenek Sera mengangguk. “Iya, saya tinggal di sana, bisa panggil aya nenek Anya. Anak saya, Bimo, menantu saya Sari dan cucu saya, Sera, tinggal di rumah itu.”

Bu Maya masih tersenyum, tetapi ada sedikit kebingungannya. “Wah, saya baru tahu kalau kita tetanggaan.” Lalu, dia menyambung, “Kemarin Kai dan Leo mampir ke rumah saya nganterin rendang, tapi saya belum sempat kenal lebih dekat.”

Tiba-tiba, wajah nenek Sera menjadi sedikit serius. “Nah, saya mau tanya, Bu. Kai sudah pulang atau belum? Saya tadi cari Sera, dia pergi sama Kai,” kata nenek itu dengan nada penuh perhatian.

Bu Maya tampak bingung, matanya berkerut sejenak. “Kai? Hmm, seharusnya belum pulang. Karna Kai terakhir saya lihat pergi sama Leo" jawab bu Maya

Setelah mengetahui Kai juga belum kembali, kegelisahan di wajah nenek Sera makin jelas. Langit sudah mulai meredup, warna jingga perlahan turun di ufuk barat—tanda magrib tak lama lagi tiba. Biasanya, pada jam seperti ini, Sera sudah ada di rumah. Duduk diam di kamarnya, atau membantu hal-hal kecil tanpa banyak bicara.

Bu Maya ikut merasakan hal yang sama. Mereka baru datang ke desa itu, belum mengenal lingkungan sekitar, belum tahu betul jalan-jalan kecil yang menghubungkan sawah, rumah warga. Kai dan Sera pergi bersama, dan tak satu pun dari mereka tahu ke mana arahnya.

Kekhawatiran itu menggantung di udara.

Namun belum sempat benar-benar berubah menjadi panik, sekitar lima menit kemudian, dua sosok muncul dari ujung jalan tanah. Dari kejauhan, langkah mereka terlihat pelan—satu lebih tinggi, satu lagi berjalan sedikit menunduk sambil memeluk sesuatu di dadanya.

“Sera…” gumam nenek itu pelan.

Begitu mereka semakin dekat, nenek Sera langsung melangkah cepat menyambut cucunya. Tangannya meraih lengan Sera, matanya menelusuri wajah itu dengan cemas.

“Kamu dari mana saja?” tanyanya, suaranya antara lega dan khawatir. “Nenek cari ke lapangan, kamu sudah nggak ada.”

Leo ikut mendekat, matanya berbinar. “Kata aku bener, kan, Nek. Sera tadi ikut lomba balap karung.”

Nenek Sera menoleh cepat. “Kamu ikut lomba?” tanyanya lagi, masih terdengar tak percaya.

Sera hanya menunduk sedikit. “Nanti… nanti aku ceritain di rumah, Nek,” katanya pelan. Suaranya masih terdengar gugup, seolah hari ini terlalu penuh untuk dijelaskan di tempat terbuka.

Bu Maya yang sejak tadi memperhatikan, akhirnya mendekat dengan senyum hangat. “Oh… ini Sera, ya? Tetangga depan,” katanya ramah. “Entah kenapa wajah kamu rasanya nggak asing.”

Sera mengangkat pandangannya sekilas, lalu mengangguk kecil. “Iya, Bu.”

Kai yang berdiri di sampingnya ikut menimpali, “Bu, ini Sera. Yang kemarin ada pas ban mobil kita bocor. Yang alat lukisnya sempat jatuh gara-gara aku.”

Bu Maya langsung teringat. Wajahnya berubah sedikit kaget, lalu tersenyum penuh rasa bersalah. “Oh iya… kamu, ya. Maaf banget kemarin, ya. Kami sampai ngerepotin kamu, alat-alat lukis kamu jadi berantakan.”

“Enggak apa-apa, Bu,” jawab Sera cepat, suaranya halus dan sopan. Meski singkat, senyumnya kecil tapi tulus.

Setelah itu, nenek Sera menggandeng tangan cucunya. “Yuk, kita pulang.”

Sera mengangguk. Sebelum benar-benar berbalik, ia menoleh sebentar ke arah Kai. Tatapannya ragu, seperti sedang menimbang sesuatu, lalu ia berkata pelan, hampir berbisik, “Makasih, ya.”

Kai hanya tersenyum tipis. Tidak mengatakan apa-apa. Tapi dari caranya berdiri dan menatap punggung Sera yang menjauh, jelas ada sesuatu yang tertinggal di sore itu.

***

Sera dan nenek baru saja sampai di depan rumah. Sore yang semula tenang kini terasa semakin berat. Ayah Sera, Pak Bimo, berdiri di depan pintu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Matanya tajam, dan raut wajahnya mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang mengganggunya.

"Kok pulangnya magrib gini?" tanya Pak Bimo, suaranya datar, tapi tajam. "Bukannya lomba tadi udah selesai dari jam 4 sore?"

Sera menunduk, bibirnya terkatup rapat. Tubuhnya sedikit merosot ke bawah, seolah mencoba menghindari tatapan ayahnya. Rasa takut itu muncul begitu saja. Meskipun tidak ada suara keras, nada Pak Bimo cukup untuk membuatnya merasa cemas.

Nenek Sera yang berjalan di samping cucunya tampak tenang, meskipun Pak Bimo mengajukan pertanyaan itu dengan nada yang agak menekan. Nenek menghela napas kecil, lalu berbicara dengan santai, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Aduh, Bimo, kamu ini kenapa sih? Hal seperti ini aja harus dipermasalahin?" jawab nenek, masih dengan nada yang tenang dan tidak terburu-buru. "Tadi ibu sama Sera ke tetangga depan dulu. Kamu nggak tau ya kalau rendang kemarin itu dari mereka? Ibu cuma mau terima kasih aja sama mereka, ngobrol sebentar, kelamaan dikit."

Pak Bimo mengerutkan kening, tidak begitu yakin dengan penjelasan nenek. Namun, rasa khawatir yang ia rasakan untuk Sera tetap terlihat jelas di wajahnya. "Ya tetep aja, Bu," katanya, suaranya sedikit lebih tinggi. "Sera jangan dibiasain pulang kesorean, apalagi kemaleman. Ibu nggak ngerti, kan, gimana susahnya buat aku sebagai orang tua kalau anakku sering pulang terlambat? Itu nggak baik."

Nenek itu terdiam sesaat, lalu melangkah mendekat. “Bimo,” katanya lebih pelan, tapi justru terasa lebih berat. “Nasib orang itu nggak akan sama. Ibu tahu. Ibu tahu kamu masih trauma sama apa yang terjadi sama adik kamu dulu. Tapi kamu nggak bisa menghukum anakmu sendiri karena ketakutan itu.”

Pak Bimo menoleh, rahangnya mengeras.

“Kamu ngikat Sera di rumah,” lanjut sang nenek. “Kamu bikin dia tumbuh tanpa tahu dunia luar seperti apa. Tanpa teman, tanpa ruang bernapas. Itu bukan melindungi—itu menyiksa. Kamu tahu itu.”

“Aku lebih baik dia tetap di rumah,” potong Pak Bimo cepat. “Nggak punya teman juga nggak apa-apa. Semua hobinya aku fasilitasi. Menggambar, alat lukis, semuanya ada, apapun yang dia inginkan aku penuhi. Yang penting dia selamat. Orang-orang di luar itu—” ia berhenti, seolah tak sanggup menyebutkan ketakutannya sendiri.

Hening jatuh di antara mereka.

Nenek Sera memejamkan mata sebentar. Bukan karena kalah, tapi karena lelah. Perdebatan ini bukan yang pertama, dan ia tahu—malam ini pun tidak akan ada yang benar-benar berubah.

Ia menoleh ke arah Sera. Tatapannya melembut.

“Sudah,” katanya singkat. “Naik ke kamar kamu.”

Sera mengangguk pelan. Tidak membantah. Tidak menjelaskan. Ia melangkah menaiki tangga dengan langkah ringan, hampir tanpa suara. Seperti biasa.

Di kamarnya, Sera duduk di tepi ranjang. Tangannya terlipat di pangkuan. Di luar jendela, suara jangkrik bersahutan, membawa bau tanah dan rumput basah dari sawah.

Ia menatap ke arah dinding kosong, lalu ke tas kecil berisi alat lukis yang diletakkannya di sudut kamar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cantik Yang Disembunyikan   Langkah yang Tertinggal

    Lapangan tujuhbelasan mulai lengang. Sorak-sorai masih terdengar, tapi satu per satu orang sudah beralih ke lomba berikutnya. Di pinggir lapangan, hanya Leo yang tersisa—berdiri sendirian, matanya sesekali mencari ke arah kerumunan, seolah berharap dua sosok yang tadi bersamanya muncul kembali.Tak lama kemudian, seorang nenek berjalan pelan mendekat. Rambutnya disanggul sederhana, wajahnya penuh garis usia yang lembut. Itu nenek Sera.“Leo,” panggilnya pelan. “Kamu lihat Sera?”Leo menoleh cepat. “Tadi ikut lomba balap karung, Nek.”Nenek itu tertegun. Alisnya terangkat, jelas terkejut. “Sera… ikut lomba?” ulangnya, seolah tak yakin dengan apa yang ia dengar. Selama ini, cucunya itu bahkan jarang mau berdiri di tengah keramaian, apalagi ikut perlombaan.“Iya,” jawab Leo jujur. “Terus… habis itu dia pergi. Sama Kak Kai.”“Kai?” Nenek itu menoleh ke sekeliling. “Sekarang di mana mereka?”Leo menggeleng. “Aku juga nggak tahu. Kak Kai tadi jalan ke arah sana, terus nggak kelihatan lagi.”

  • Cantik Yang Disembunyikan   Saat Dunia Mentertawakan

    Lomba balap karung menjadi pembuka acara tujuhbelasan sore itu. Nama Sera sudah terdaftar di papan peserta—tulisan tangannya sendiri yang sedikit miring, seolah ragu dengan keputusan yang baru saja ia ambil. Di bawah namanya, tertera beberapa nama lain yang ia kenal: Zahra, Nisa, Chika, Olive. Nama-nama yang selama ini ada di sekelilingnya, tapi jarang benar-benar bersamanya.Di sisi lapangan, Kai dan Leo berdiri memberi semangat. Leo melompat-lompat kegirangan sambil meneriakkan nama Sera, seolah yang akan berlomba itu adalah kakaknya sendiri. Kai hanya berdiri agak kaku, menepuk tangan pelan. Mereka memang belum benar-benar akrab—baru sehari saling mengenal—tapi entah kenapa, Kai merasa tak tega membiarkan Sera sendirian di tengah tatapan orang-orang yang terasa berat.Peluit ditiup.Para peserta mulai melompat bersamaan. Tawa pecah di mana-mana. Karung-karung bergoyang, tubuh-tubuh terhuyung. Ada yang langsung jatuh, ada yang tertawa sambil bangkit lagi. Sera melompat dengan susah

  • Cantik Yang Disembunyikan   17 Agustusan

    Sesampainya di rumah, Kai dan Leo langsung disambut aroma nasi hangat yang memenuhi udara. Dari ruang makan terdengar bunyi piring beradu pelan, sendok yang diketuk ringan ke tepi mangkuk. Ayah dan ibu mereka ternyata sudah lebih dulu makan, tinggal menunggu dua anaknya yang pulang belakangan.Bu Maya menoleh begitu melihat mereka masuk. Wajahnya langsung melunak.“Akhirnya pulang juga. Cuci tangan dulu, jangan langsung duduk.”Leo tanpa menunggu dua kali langsung berlari ke kamar mandi. Langkahnya kecil tapi cepat, seperti selalu takut ketinggalan sesuatu. Kai menyusul lebih pelan, sambil melepas jaket dan menggantungkannya di belakang kursi.Beberapa menit kemudian mereka duduk di meja makan. Nasi masih mengepul, lauk masih hangat.Bu Maya membuka suara. “Tadi Pak RT sempat ke sini.”Kai mengangkat kepala. “Ada apa, Ma?”“Besok ada acara tujuh belasan di kampung. Katanya pendatang juga boleh ikut. Mau ikut lomba atau cuma nonton aja juga nggak apa-apa.”Mata Leo langsung berbinar, s

  • Cantik Yang Disembunyikan   Perkenalan Tetangga

    Aroma rendang memenuhi villa itu sejak siang. Dari dapur, bau santan dan rempah yang dimasak lama-lama naik ke seluruh ruangan, hangat, pekat, dan seperti menempel di dinding-dinding rumah.Bu Maya berdiri di depan kompor, mengaduk rendang dengan sabar. Sendok kayu bergerak pelan, memutar daging yang mulai menghitam dan berminyak. Keringat tipis muncul di pelipisnya, tapi wajahnya terlihat puas, seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu yang sangat dia kenal sejak lama.“Namanya juga orang Padang,” gumamnya sambil tersenyum kecil. “Kalau soal rendang, nggak bisa asal.”Kai lewat di depan dapur lalu berhenti. Dia mengendus pelan. “Wangi banget, Ma.”Leo muncul di belakangnya, mengucek mata. “Aku laper…”Bu Maya tertawa kecil. “Sabar. Ini bukan cuma buat kita.”Dia mematikan kompor, lalu memindahkan rendang ke wadah sederhana. Tutupnya ditutup rapat, tapi aroma masih tetap keluar, seolah tidak mau dikurung.“Kalian sudah dua hari di sini, tapi belum nyapa tetangga depan,” katanya sa

  • Cantik Yang Disembunyikan   Diantara Piring Dan Pelukan

    Di sisi lain, Sera melangkah cepat masuk ke rumahnya. Pintu kayu itu menutup dengan bunyi pelan di belakangnya, seolah ikut menjaga rahasia kegugupan yang masih tertinggal di dadanya. Ruang tengah tampak lengang. Hanya suara televisi yang menyala, menyiarkan berita pagi dengan suara datar yang tidak benar-benar didengarkan siapa pun.Ayahnya duduk di sofa, tubuhnya tegak, tangan bertumpu di paha. Matanya mengarah ke layar, tapi Sera tahu—tatapan itu kosong. Seperti orang yang sedang berpikir terlalu jauh.“Ada apa, Yah?” tanya Sera pelan.Ayah menoleh. Tatapannya tajam, menelusuri wajah Sera seakan sedang menimbang sesuatu yang tidak terucap.“Siapa pria tadi yang ngobrol sama kamu di luar?” tanyanya tanpa basa-basi.Sera terdiam sejenak. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia menarik napas pendek sebelum menjawab.“Mereka tamu dari kota, Yah. Pemilik villa di depan rumah kita. Tadi anak kecilnya masuk ke halaman tanpa izin, mau lihat sapi. Kakaknya nyari adiknya… terus kam

  • Cantik Yang Disembunyikan   Lampu disebrang

    Magrib hampir lewat ketika Sera akhirnya sampai di depan rumah. Langit di atas desa mulai berubah warna—jingga memudar menjadi biru keabu-abuan. Bahunya terasa pegal karena tas dan easel yang digendong sejak sore. Tali tas menekan bahunya, membuat kulitnya terasa perih. Kakinya sedikit gemetar, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena ia sudah bisa menebak wajah siapa yang akan menyambutnya di ruang tamu.Ia mendorong pintu perlahan.Benar saja.Ayahnya, Pak Bimo, duduk di sofa sambil menonton televisi. Suara berita terdengar pelan, tapi sorot mata ayahnya langsung terangkat ketika mendengar pintu dibuka. Tatapan itu tajam, seperti selalu tahu kapan Sera pulang lebih lambat dari biasanya.“Kok baru pulang?” tanya Pak Bimo. Suaranya datar, tapi ada nada tidak senang yang jelas terasa.Sera menunduk. Jari-jarinya masih menggenggam tali tas. “Maaf, Yah… lukisannya baru selesai.”Ia menunggu. Biasanya, setelah itu akan ada ceramah panjang—tentang anak perempuan, tentang waktu, tentang o

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status