เข้าสู่ระบบSesampainya di rumah, Kai dan Leo langsung disambut aroma nasi hangat yang memenuhi udara. Dari ruang makan terdengar bunyi piring beradu pelan, sendok yang diketuk ringan ke tepi mangkuk. Ayah dan ibu mereka ternyata sudah lebih dulu makan, tinggal menunggu dua anaknya yang pulang belakangan.
Bu Maya menoleh begitu melihat mereka masuk. Wajahnya langsung melunak. “Akhirnya pulang juga. Cuci tangan dulu, jangan langsung duduk.” Leo tanpa menunggu dua kali langsung berlari ke kamar mandi. Langkahnya kecil tapi cepat, seperti selalu takut ketinggalan sesuatu. Kai menyusul lebih pelan, sambil melepas jaket dan menggantungkannya di belakang kursi. Beberapa menit kemudian mereka duduk di meja makan. Nasi masih mengepul, lauk masih hangat. Bu Maya membuka suara. “Tadi Pak RT sempat ke sini.” Kai mengangkat kepala. “Ada apa, Ma?” “Besok ada acara tujuh belasan di kampung. Katanya pendatang juga boleh ikut. Mau ikut lomba atau cuma nonton aja juga nggak apa-apa.” Mata Leo langsung berbinar, seperti baru saja dapat hadiah. “Lomba? Aku mau ikut! Mau ikut semuanya!” Bu Maya terkekeh kecil. “Nanti pilih satu atau dua aja, bocil. Jangan serakah.” Leo mengangguk cepat, tapi dari wajahnya jelas dia sudah membayangkan menang di semua lomba. Kai tersenyum melihat tingkah adiknya, lalu kembali menyendok nasi. Di rumah seberang, suasananya tidak sehangat itu. Di ruang kerja yang lampunya temaram, nenek duduk lebih dulu di kursi kayu tua. Punggungnya sedikit bungkuk, tapi sorot matanya masih tajam. Ayah Sera berdiri di dekat meja, tangannya menyilang di dada, seperti anak kecil yang sedang menunggu keputusan orang tuanya. “Besok itu tujuh belasan,” kata nenek pelan. Nadanya bukan bertanya. “Ibu mau ajak Sera keluar sebentar.” Ayah Sera langsung menoleh. “Bu, nggak usah. Biar dia di rumah aja.” Nenek menghela napas panjang. “Kamu ini… sejak kapan jadi orang tua yang lupa kalau anak juga butuh lihat luar pagar?” “Di luar ramai, Bu. Dia nggak biasa.” “Justru karena nggak biasa, makanya perlu dibiasakan,” potong nenek, suaranya lembut tapi menekan. “Sera itu bukan boneka yang disimpan di lemari. Dia hidup.” Ayah Sera menunduk sedikit. “Aku cuma takut kenapa-kenapa.” Nenek mengangguk pelan. “Takut itu wajar. Tapi kalau semua karena takut, anakmu nggak akan pernah belajar berdiri.” Ruangan kembali sunyi. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan. Nenek melanjutkan, lebih pelan, “Ini cuma nonton lomba. Siang hari. Sama Ibu. Masa itu pun kamu larang?” Ayah Sera mengusap wajahnya. Nada suaranya melemah. “Ya… kalau sama ibu.” “Nah,” kata nenek singkat. “Berarti sudah selesai.” Pagi itu, lapangan desa sudah ramai sejak matahari belum terlalu tinggi. Umbul-umbul merah putih bergoyang pelan tertiup angin. Tawa anak-anak bercampur dengan suara panitia yang memanggil peserta lomba lewat pengeras suara. Sera datang bersama neneknya. Langkahnya pelan, sedikit ragu. Tangannya digenggam erat oleh nenek, seolah berkata tanpa suara: kamu aman di sini. Begitu mereka masuk ke area lapangan, bisik-bisik mulai terdengar. “Itu, kan… anak yang rumahnya gede itu?” “Iya. Tumben banget dia keluar.” “Biasanya kelihatan cuma di sekolah doang.” “Kayak putri yang dikurung, ya…” Sera mendengar semuanya, meski pura-pura tidak. Bahunya sedikit menegang, langkahnya makin pendek. Tak lama kemudian, beberapa anak seumuran lewat di dekat mereka. Salah satunya berbisik, tapi cukup keras untuk didengar. “Badannya makin gede aja, ya. Pantes, di rumah terus sih.” Yang lain terkikik. “Iya, jarang gerak. Kayak boneka disimpen di lemari.” Sera menunduk lebih dalam. Tangannya menggenggam ujung bajunya, jari-jarinya dingin. Nenek menoleh tajam ke arah suara itu, tapi memilih tidak menegur. Ia hanya meremas tangan Sera sedikit lebih kuat. “Jangan dengerin. Jalan aja,” katanya pelan. Dari arah jalan masuk, Kai dan Leo datang. Leo sudah melompat-lompat kegirangan melihat bendera dan balon di mana-mana. “Wah, rame banget!” seru Leo. Beberapa orang melirik mereka. Pendatang memang selalu mudah dikenali. Nenek melihat ke arah mereka, matanya menyipit sebentar, lalu tersenyum kecil. Ia melambaikan tangan. “Kai! Leo!” Kai kaget, lalu tersenyum sopan. “Nek.” Leo langsung berlari kecil mendekat. “Halo, Nek!” Nenek tertawa pelan. “Kemarin belum kapok main ke rumah nenek?” Leo menggeleng cepat. “Belum!” Sera berdiri sedikit di belakang nenek, ragu mau menyapa atau tidak. Kai menangkap keberadaannya dan mengangguk kecil ke arahnya. “Sera,” katanya pelan. Sera mengangguk balik, singkat. Mereka baru beberapa menit berdiri bersama ketika wajah nenek berubah. Tangannya memegang perut. “Aduh… perut nenek kayaknya nggak enak.” Sera langsung menoleh panik. “Nek?” “Nenek pulang sebentar, ya,” katanya sambil menarik napas. “Kayaknya salah makan tadi pagi.” Kai cepat menimpali, “Biar saya temani pulang, Nek.” Nenek menggeleng. “Nggak usah. Rumah dekat.” Lalu ia menoleh ke Sera. “Kamu tunggu di sini. Sama Kai dan Leo. Nonton lomba dulu.” Sera ragu. “Tapi, Nek—” “Nenek cuma sebentar,” potongnya lembut. “Jangan pulang dulu.” Nenek lalu menoleh ke Kai. “Tolong jaga dia sebentar, ya.” Kai mengangguk. “Iya, Nek.” Leo ikut mengangguk serius, seperti dapat tugas penting. Nenek melangkah pergi. Di belakang mereka, tawa kecil dari sekelompok anak terdengar lagi. “Paling juga dia cuma berdiri doang. Badannya mana kuat lari,” bisik seseorang. Sera pura-pura tidak dengar. Tapi dadanya terasa sempit, seperti napasnya jadi lebih pendek. Suara pembawa acara menggema dari pengeras suara. “Perhatian, perhatian! Pendaftaran lomba balap karung putri masih dibuka! Satu jam lagi lomba dimulai!” Beberapa anak perempuan langsung berlarian ke meja panitia. Sera hanya berdiri. Tangannya saling menggenggam di depan perut. Tiba-tiba seseorang mendekat. “Sera?” Ia menoleh pelan. Itu Zahra, teman sekelasnya. Zahra melirik ke arah Kai sebentar, lalu menyeringai kecil. “Itu siapa? Saudaramu? Kok… lumayan ya.” Sera menggeleng pelan. “Tetangga.” Di belakang Zahra, tiga anak lain ikut mendekat: Chika, Nisa, dan Olive. Mereka berdiri seperti satu barisan, rapi tapi terasa menekan. Nisa maju setengah langkah. Suaranya paling jelas, paling percaya diri. “Ser, ikut lomba balap karung, yuk. Kamu kan tinggi. Langkahmu pasti jauh. Cocok banget.” Chika terkikik kecil. “Iya, balap karung mah santai. Nggak ribet. Lagian semua orang juga bakal jatuh-jatuh kok.” Olive mengangguk cepat. “Iya, cuma lompat-lompat dikit.” Kata-kata mereka terdengar seperti ajakan, tapi nadanya seperti mengukur, bukan menyemangati. Sera menelan ludah. “Aku… nggak biasa ikut lomba.” Nisa mendekat sedikit lagi. “Sekali-sekali, dong. Masa cuma nonton. Kamu kan warga sini juga.” Sera diam. Matanya turun ke tanah. Di sampingnya, Leo tiba-tiba maju satu langkah. Wajahnya berbinar. “Iya, Kak Sera! Ikut aja! Pasti Kakak menang! Kakak kan tinggi!” Kai langsung menoleh. “Leo,” katanya pelan tapi tegas. “Jangan maksa.” Leo kaget sedikit, lalu mengerucutkan bibir. “Aku cuma nyemangatin…” Kai tidak membalas lagi. Matanya kembali ke arah Sera, lebih waspada dari tadi. Ada sesuatu yang tidak beres dari cara anak-anak itu menatap Sera—seperti menunggu sesuatu terjadi. Sera mengangkat wajahnya perlahan. Matanya bertemu dengan mata Kai. Kai tidak berkata apa-apa. Hanya menatapnya dengan satu pertanyaan yang jelas di wajahnya: kamu yakin? Sera ragu. Detik itu terasa panjang. Suara orang-orang di sekitar seperti menjauh, tinggal detak jantungnya sendiri yang terdengar. Lalu ia mengangguk kecil. “Aku… mau coba.” Nisa tersenyum lebih lebar. “Nah, gitu dong.” Chika dan Olive saling pandang, lalu terkikik pelan. Leo langsung melonjak senang. “Yeay! Kak Sera ikut lomba!” Kai tidak ikut tersenyum. Ia hanya mengangguk pelan ke arah SeraDi kantin kampus yang luas, sekelompok mahasiswa duduk bersama di salah satu meja panjang. Kai, Veronica, Adam, dan Doni—mereka bagian dari satu lingkaran pertemanan yang sudah cukup dikenal di kampus. Kai duduk dengan tatapan kosong, seolah terjebak dalam pikirannya sendiri, sementara Veronica sibuk menatap layar laptop Doni, yang sedang mengedit vlog mereka. Tiba-tiba, Veronica berhenti sejenak dan mengamati Kai yang melamun. Wajahnya menunjukkan rasa penasaran, lalu dengan suara manja ia bertanya, "Sayang, kamu kenapa?" Kai menoleh dengan ekspresi datar, tak ada senyum di wajahnya. "Gausah panggil kaya gitu di luar konten," jawabnya dengan nada sinis yang sedikit menusuk. Veronica mendengus, namun tetap mempertahankan sikap ceria. "Tapi kan, biar mendalami peran, biar gak ketahuan orang-orang di sini," katanya sambil melirik mahasiswa lain yang ada di kantin. Beberapa dari mereka terlihat mengamati kelompok mereka dengan tatapan penasaran, seolah ingin tahu apa yang sedang
Pagi pertama orientasi mahasiswa membuat kamar kos terasa lebih sempit dari biasanya. Bukan karena ukurannya berubah, tapi karena isi kepala Sera yang penuh. Ia berdiri di depan cermin kecil yang menempel miring di dinding, menatap pantulan dirinya sendiri sambil merapikan kemeja putih yang sudah ia setrika sejak malam. Celana hitamnya terasa kaku di kaki. Di dadanya tergantung name tag besar—terlalu besar, bahkan—hasil kreativitas yang diwajibkan panitia. Name tag itu hampir menutupi setengah dadanya, membuatnya merasa kikuk setiap kali bergerak. Name tag tersebut terbuat dari karton tebal yang dibungkus kertas cokelat. Di sekelilingnya, Sera menempelkan potongan daun kering yang ia susun melingkar, sebagian warnanya sudah menguning, sebagian lagi kecokelatan. Di sudut kanan bawah, ada pita rafia yang diikat asal-asalan, dan di tengahnya tertulis namanya dengan spidol hitam—hurufnya sedikit miring, tidak simetris, tapi jelas terbaca. Tidak rapi. Namun dibuat dengan sungguh-sunggu
Jakarta menyambut Sera dengan suara yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.Bukan suara serangga atau angin sawah, tapi klakson yang saling bersahutan, mesin kendaraan, dan orang-orang yang bergerak cepat tanpa saling menoleh. Dari dalam mobil, Sera menatap keluar jendela, mencoba mencerna kenyataan bahwa mulai hari ini, hidupnya benar-benar berpindah tempat.Mobil berhenti di depan sebuah bangunan kos bertingkat tiga. Catnya masih terlihat baru. Di depan gerbang ada pos satpam, lengkap dengan palang dan kamera CCTV yang menghadap ke jalan.“Ini kosnya,” kata Ayah singkat.Sera turun dari mobil, menatap bangunan itu pelan. Tidak seperti bayangannya tentang kos mahasiswa yang sempit dan berisik, tempat ini terasa… rapi. Terlalu rapi, bahkan. Gerbangnya terkunci otomatis. Ada papan kecil bertuliskan Kosan Putri — Tamu Wajib Lapor.Satpam menyapa mereka sopan. Ayah langsung menjelaskan keperluan mereka, menyebut nama Sera, kamar, dan lantai. Semua terdengar teratur, resmi, dan—aman.“Iya,
Kabar itu datang begitu saja, seperti sesuatu yang tidak pernah dipersiapkan siapa pun untuk menerimanya.“Hamil?” Nenek mengulang pelan, seolah kata itu butuh waktu untuk sampai ke kepalanya.Sera berdiri di dekat pintu kamar, tubuhnya kaku. “Ibu… hamil?”Ayah masih memegang ponsel di tangannya, wajahnya seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami dalam sekali dengar. Ia mengangguk pelan, napasnya terdengar lebih berat dari biasanya.“Iya,” katanya singkat. “Dia pingsan di pasar. Warga yang bawa ke rumah sakit. Dokter baru nelepon.”Tidak ada yang berkata apa-apa lagi. Keheningan di rumah itu terasa berbeda dari biasanya—bukan tenang, tapi penuh kebingungan yang tidak terucap.Mereka berangkat ke rumah sakit tanpa banyak bicara.Di perjalanan, Sera menatap keluar jendela mobil. Pikirannya kosong, tapi juga penuh. Delapan belas tahun. Selama itu, ia tumbuh sebagai anak tunggal. Ibunya tidak pernah hamil lagi, atau setidaknya tidak pernah ada kabar
Dua hari setelah percakapan di balkon itu, semuanya berjalan lebih tenang dari yang Sera kira.Tidak ada kejadian besar. Tidak ada percakapan berat. Mereka hanya sering duduk bersama di villa—kadang di ruang tamu, kadang di teras belakang. Ngobrol hal-hal ringan. Tentang kampus impian Kai. Tentang lukisan-lukisan Sera. Tentang hal-hal kecil yang biasanya tidak pernah Sera ceritakan ke siapa pun.Nenek jadi semacam “jembatan”. Dengan alasan membantu atau sekadar menemani, nenek selalu punya cara supaya Sera bisa datang lagi ke villa tanpa menarik perhatian ayah maupun ibu.Waktu berjalan lebih cepat dari yang mereka sadari.Hari kepulangan keluarga Kai datang begitu saja. Pagi itu villa lebih ramai dari biasanya. Koper-koper disusun. Suara orang berlalu-lalang terdengar dari berbagai sudut rumah.Sera tidak datang hari itu. Ayahnya sedang di rumah, dan ia tidak bisa mencari alasan untuk pergi.Kai sempat berdiri di balkon yang sama, menatap ke arah rumah sera, berharap bisa melihat ser
Kai dan Sera sudah berdiri di balkon lantai atas villa. Anginnya sejuk, cukup kencang sampai ujung rambut Sera sedikit bergerak. Dari sana, sawah kelihatan jelas, hijau dan luas, dengan suara serangga yang samar.Awalnya mereka sama-sama diam.Bukan karena suasananya canggung berlebihan, tapi lebih ke… belum tahu mau mulai dari mana. Kai bersandar di pagar balkon, sementara Sera berdiri agak ke samping, tangannya saling menggenggam di depan perut.Kai sebenarnya memang ingin mengajak Sera ke sini buat ngobrol. Tidak ada maksud aneh. Ia cuma ingin suasananya lebih tenang dibanding ruang tamu. Tapi begitu mereka sampai, Kai malah kehilangan fokusnya sendiri.Tanpa sadar, matanya beberapa kali melirik ke arah Sera.Dan entah kenapa, omongan ibunya semalam langsung terlintas di kepalanya. Tentang bagaimana ibunya bilang Sera itu cantik. Tentang matanya yang kelihatan tenang. Tentang kulitnya yang bersih. Waktu itu Kai tidak menanggapi apa-apa, cuma menganggapnya komentar biasa.Sekarang,
Lapangan tujuhbelasan mulai lengang. Sorak-sorai masih terdengar, tapi satu per satu orang sudah beralih ke lomba berikutnya. Di pinggir lapangan, hanya Leo yang tersisa—berdiri sendirian, matanya sesekali mencari ke arah kerumunan, seolah berharap dua sosok yang tadi bersamanya muncul kembali.Tak
Lomba balap karung menjadi pembuka acara tujuhbelasan sore itu. Nama Sera sudah terdaftar di papan peserta—tulisan tangannya sendiri yang sedikit miring, seolah ragu dengan keputusan yang baru saja ia ambil. Di bawah namanya, tertera beberapa nama lain yang ia kenal: Zahra, Nisa, Chika, Olive. Nama
Aroma rendang memenuhi villa itu sejak siang. Dari dapur, bau santan dan rempah yang dimasak lama-lama naik ke seluruh ruangan, hangat, pekat, dan seperti menempel di dinding-dinding rumah.Bu Maya berdiri di depan kompor, mengaduk rendang dengan sabar. Sendok kayu bergerak pelan, memutar daging ya
Di sisi lain, Sera melangkah cepat masuk ke rumahnya. Pintu kayu itu menutup dengan bunyi pelan di belakangnya, seolah ikut menjaga rahasia kegugupan yang masih tertinggal di dadanya. Ruang tengah tampak lengang. Hanya suara televisi yang menyala, menyiarkan berita pagi dengan suara datar yang tida







