Share

17 Agustusan

last update Last Updated: 2026-01-18 11:46:01

Sesampainya di rumah, Kai dan Leo langsung disambut aroma nasi hangat yang memenuhi udara. Dari ruang makan terdengar bunyi piring beradu pelan, sendok yang diketuk ringan ke tepi mangkuk. Ayah dan ibu mereka ternyata sudah lebih dulu makan, tinggal menunggu dua anaknya yang pulang belakangan.

Bu Maya menoleh begitu melihat mereka masuk. Wajahnya langsung melunak.

“Akhirnya pulang juga. Cuci tangan dulu, jangan langsung duduk.”

Leo tanpa menunggu dua kali langsung berlari ke kamar mandi. Langkahnya kecil tapi cepat, seperti selalu takut ketinggalan sesuatu. Kai menyusul lebih pelan, sambil melepas jaket dan menggantungkannya di belakang kursi.

Beberapa menit kemudian mereka duduk di meja makan. Nasi masih mengepul, lauk masih hangat.

Bu Maya membuka suara. “Tadi Pak RT sempat ke sini.”

Kai mengangkat kepala. “Ada apa, Ma?”

“Besok ada acara tujuh belasan di kampung. Katanya pendatang juga boleh ikut. Mau ikut lomba atau cuma nonton aja juga nggak apa-apa.”

Mata Leo langsung berbinar, seperti baru saja dapat hadiah. “Lomba? Aku mau ikut! Mau ikut semuanya!”

Bu Maya terkekeh kecil. “Nanti pilih satu atau dua aja, bocil. Jangan serakah.”

Leo mengangguk cepat, tapi dari wajahnya jelas dia sudah membayangkan menang di semua lomba. Kai tersenyum melihat tingkah adiknya, lalu kembali menyendok nasi.

Di rumah seberang, suasananya tidak sehangat itu.

Di ruang kerja yang lampunya temaram, nenek duduk lebih dulu di kursi kayu tua. Punggungnya sedikit bungkuk, tapi sorot matanya masih tajam. Ayah Sera berdiri di dekat meja, tangannya menyilang di dada, seperti anak kecil yang sedang menunggu keputusan orang tuanya.

“Besok itu tujuh belasan,” kata nenek pelan. Nadanya bukan bertanya. “Ibu mau ajak Sera keluar sebentar.”

Ayah Sera langsung menoleh. “Bu, nggak usah. Biar dia di rumah aja.”

Nenek menghela napas panjang. “Kamu ini… sejak kapan jadi orang tua yang lupa kalau anak juga butuh lihat luar pagar?”

“Di luar ramai, Bu. Dia nggak biasa.”

“Justru karena nggak biasa, makanya perlu dibiasakan,” potong nenek, suaranya lembut tapi menekan. “Sera itu bukan boneka yang disimpan di lemari. Dia hidup.”

Ayah Sera menunduk sedikit. “Aku cuma takut kenapa-kenapa.”

Nenek mengangguk pelan. “Takut itu wajar. Tapi kalau semua karena takut, anakmu nggak akan pernah belajar berdiri.”

Ruangan kembali sunyi. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan.

Nenek melanjutkan, lebih pelan, “Ini cuma nonton lomba. Siang hari. Sama Ibu. Masa itu pun kamu larang?”

Ayah Sera mengusap wajahnya. Nada suaranya melemah. “Ya… kalau sama ibu.”

“Nah,” kata nenek singkat. “Berarti sudah selesai.”

Pagi itu, lapangan desa sudah ramai sejak matahari belum terlalu tinggi. Umbul-umbul merah putih bergoyang pelan tertiup angin. Tawa anak-anak bercampur dengan suara panitia yang memanggil peserta lomba lewat pengeras suara.

Sera datang bersama neneknya. Langkahnya pelan, sedikit ragu. Tangannya digenggam erat oleh nenek, seolah berkata tanpa suara: kamu aman di sini.

Begitu mereka masuk ke area lapangan, bisik-bisik mulai terdengar.

“Itu, kan… anak yang rumahnya gede itu?”

“Iya. Tumben banget dia keluar.”

“Biasanya kelihatan cuma di sekolah doang.”

“Kayak putri yang dikurung, ya…”

Sera mendengar semuanya, meski pura-pura tidak. Bahunya sedikit menegang, langkahnya makin pendek.

Tak lama kemudian, beberapa anak seumuran lewat di dekat mereka. Salah satunya berbisik, tapi cukup keras untuk didengar.

“Badannya makin gede aja, ya. Pantes, di rumah terus sih.”

Yang lain terkikik. “Iya, jarang gerak. Kayak boneka disimpen di lemari.”

Sera menunduk lebih dalam. Tangannya menggenggam ujung bajunya, jari-jarinya dingin.

Nenek menoleh tajam ke arah suara itu, tapi memilih tidak menegur. Ia hanya meremas tangan Sera sedikit lebih kuat. “Jangan dengerin. Jalan aja,” katanya pelan.

Dari arah jalan masuk, Kai dan Leo datang. Leo sudah melompat-lompat kegirangan melihat bendera dan balon di mana-mana.

“Wah, rame banget!” seru Leo.

Beberapa orang melirik mereka. Pendatang memang selalu mudah dikenali.

Nenek melihat ke arah mereka, matanya menyipit sebentar, lalu tersenyum kecil. Ia melambaikan tangan.

“Kai! Leo!”

Kai kaget, lalu tersenyum sopan. “Nek.”

Leo langsung berlari kecil mendekat. “Halo, Nek!”

Nenek tertawa pelan. “Kemarin belum kapok main ke rumah nenek?”

Leo menggeleng cepat. “Belum!”

Sera berdiri sedikit di belakang nenek, ragu mau menyapa atau tidak. Kai menangkap keberadaannya dan mengangguk kecil ke arahnya.

“Sera,” katanya pelan.

Sera mengangguk balik, singkat.

Mereka baru beberapa menit berdiri bersama ketika wajah nenek berubah. Tangannya memegang perut.

“Aduh… perut nenek kayaknya nggak enak.”

Sera langsung menoleh panik. “Nek?”

“Nenek pulang sebentar, ya,” katanya sambil menarik napas. “Kayaknya salah makan tadi pagi.”

Kai cepat menimpali, “Biar saya temani pulang, Nek.”

Nenek menggeleng. “Nggak usah. Rumah dekat.”

Lalu ia menoleh ke Sera. “Kamu tunggu di sini. Sama Kai dan Leo. Nonton lomba dulu.”

Sera ragu. “Tapi, Nek—”

“Nenek cuma sebentar,” potongnya lembut. “Jangan pulang dulu.”

Nenek lalu menoleh ke Kai. “Tolong jaga dia sebentar, ya.”

Kai mengangguk. “Iya, Nek.”

Leo ikut mengangguk serius, seperti dapat tugas penting.

Nenek melangkah pergi. Di belakang mereka, tawa kecil dari sekelompok anak terdengar lagi.

“Paling juga dia cuma berdiri doang. Badannya mana kuat lari,” bisik seseorang.

Sera pura-pura tidak dengar. Tapi dadanya terasa sempit, seperti napasnya jadi lebih pendek.

Suara pembawa acara menggema dari pengeras suara.

“Perhatian, perhatian! Pendaftaran lomba balap karung putri masih dibuka! Satu jam lagi lomba dimulai!”

Beberapa anak perempuan langsung berlarian ke meja panitia.

Sera hanya berdiri. Tangannya saling menggenggam di depan perut.

Tiba-tiba seseorang mendekat.

“Sera?”

Ia menoleh pelan. Itu Zahra, teman sekelasnya.

Zahra melirik ke arah Kai sebentar, lalu menyeringai kecil. “Itu siapa? Saudaramu? Kok… lumayan ya.”

Sera menggeleng pelan. “Tetangga.”

Di belakang Zahra, tiga anak lain ikut mendekat: Chika, Nisa, dan Olive. Mereka berdiri seperti satu barisan, rapi tapi terasa menekan.

Nisa maju setengah langkah. Suaranya paling jelas, paling percaya diri.

“Ser, ikut lomba balap karung, yuk. Kamu kan tinggi. Langkahmu pasti jauh. Cocok banget.”

Chika terkikik kecil. “Iya, balap karung mah santai. Nggak ribet. Lagian semua orang juga bakal jatuh-jatuh kok.”

Olive mengangguk cepat. “Iya, cuma lompat-lompat dikit.”

Kata-kata mereka terdengar seperti ajakan, tapi nadanya seperti mengukur, bukan menyemangati.

Sera menelan ludah. “Aku… nggak biasa ikut lomba.”

Nisa mendekat sedikit lagi. “Sekali-sekali, dong. Masa cuma nonton. Kamu kan warga sini juga.”

Sera diam. Matanya turun ke tanah.

Di sampingnya, Leo tiba-tiba maju satu langkah. Wajahnya berbinar.

“Iya, Kak Sera! Ikut aja! Pasti Kakak menang! Kakak kan tinggi!”

Kai langsung menoleh. “Leo,” katanya pelan tapi tegas. “Jangan maksa.”

Leo kaget sedikit, lalu mengerucutkan bibir. “Aku cuma nyemangatin…”

Kai tidak membalas lagi. Matanya kembali ke arah Sera, lebih waspada dari tadi. Ada sesuatu yang tidak beres dari cara anak-anak itu menatap Sera—seperti menunggu sesuatu terjadi.

Sera mengangkat wajahnya perlahan. Matanya bertemu dengan mata Kai.

Kai tidak berkata apa-apa. Hanya menatapnya dengan satu pertanyaan yang jelas di wajahnya: kamu yakin?

Sera ragu. Detik itu terasa panjang. Suara orang-orang di sekitar seperti menjauh, tinggal detak jantungnya sendiri yang terdengar.

Lalu ia mengangguk kecil. “Aku… mau coba.”

Nisa tersenyum lebih lebar. “Nah, gitu dong.”

Chika dan Olive saling pandang, lalu terkikik pelan.

Leo langsung melonjak senang. “Yeay! Kak Sera ikut lomba!”

Kai tidak ikut tersenyum. Ia hanya mengangguk pelan ke arah Sera

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cantik Yang Disembunyikan   Langkah yang Tertinggal

    Lapangan tujuhbelasan mulai lengang. Sorak-sorai masih terdengar, tapi satu per satu orang sudah beralih ke lomba berikutnya. Di pinggir lapangan, hanya Leo yang tersisa—berdiri sendirian, matanya sesekali mencari ke arah kerumunan, seolah berharap dua sosok yang tadi bersamanya muncul kembali.Tak lama kemudian, seorang nenek berjalan pelan mendekat. Rambutnya disanggul sederhana, wajahnya penuh garis usia yang lembut. Itu nenek Sera.“Leo,” panggilnya pelan. “Kamu lihat Sera?”Leo menoleh cepat. “Tadi ikut lomba balap karung, Nek.”Nenek itu tertegun. Alisnya terangkat, jelas terkejut. “Sera… ikut lomba?” ulangnya, seolah tak yakin dengan apa yang ia dengar. Selama ini, cucunya itu bahkan jarang mau berdiri di tengah keramaian, apalagi ikut perlombaan.“Iya,” jawab Leo jujur. “Terus… habis itu dia pergi. Sama Kak Kai.”“Kai?” Nenek itu menoleh ke sekeliling. “Sekarang di mana mereka?”Leo menggeleng. “Aku juga nggak tahu. Kak Kai tadi jalan ke arah sana, terus nggak kelihatan lagi.”

  • Cantik Yang Disembunyikan   Saat Dunia Mentertawakan

    Lomba balap karung menjadi pembuka acara tujuhbelasan sore itu. Nama Sera sudah terdaftar di papan peserta—tulisan tangannya sendiri yang sedikit miring, seolah ragu dengan keputusan yang baru saja ia ambil. Di bawah namanya, tertera beberapa nama lain yang ia kenal: Zahra, Nisa, Chika, Olive. Nama-nama yang selama ini ada di sekelilingnya, tapi jarang benar-benar bersamanya.Di sisi lapangan, Kai dan Leo berdiri memberi semangat. Leo melompat-lompat kegirangan sambil meneriakkan nama Sera, seolah yang akan berlomba itu adalah kakaknya sendiri. Kai hanya berdiri agak kaku, menepuk tangan pelan. Mereka memang belum benar-benar akrab—baru sehari saling mengenal—tapi entah kenapa, Kai merasa tak tega membiarkan Sera sendirian di tengah tatapan orang-orang yang terasa berat.Peluit ditiup.Para peserta mulai melompat bersamaan. Tawa pecah di mana-mana. Karung-karung bergoyang, tubuh-tubuh terhuyung. Ada yang langsung jatuh, ada yang tertawa sambil bangkit lagi. Sera melompat dengan susah

  • Cantik Yang Disembunyikan   17 Agustusan

    Sesampainya di rumah, Kai dan Leo langsung disambut aroma nasi hangat yang memenuhi udara. Dari ruang makan terdengar bunyi piring beradu pelan, sendok yang diketuk ringan ke tepi mangkuk. Ayah dan ibu mereka ternyata sudah lebih dulu makan, tinggal menunggu dua anaknya yang pulang belakangan.Bu Maya menoleh begitu melihat mereka masuk. Wajahnya langsung melunak.“Akhirnya pulang juga. Cuci tangan dulu, jangan langsung duduk.”Leo tanpa menunggu dua kali langsung berlari ke kamar mandi. Langkahnya kecil tapi cepat, seperti selalu takut ketinggalan sesuatu. Kai menyusul lebih pelan, sambil melepas jaket dan menggantungkannya di belakang kursi.Beberapa menit kemudian mereka duduk di meja makan. Nasi masih mengepul, lauk masih hangat.Bu Maya membuka suara. “Tadi Pak RT sempat ke sini.”Kai mengangkat kepala. “Ada apa, Ma?”“Besok ada acara tujuh belasan di kampung. Katanya pendatang juga boleh ikut. Mau ikut lomba atau cuma nonton aja juga nggak apa-apa.”Mata Leo langsung berbinar, s

  • Cantik Yang Disembunyikan   Perkenalan Tetangga

    Aroma rendang memenuhi villa itu sejak siang. Dari dapur, bau santan dan rempah yang dimasak lama-lama naik ke seluruh ruangan, hangat, pekat, dan seperti menempel di dinding-dinding rumah.Bu Maya berdiri di depan kompor, mengaduk rendang dengan sabar. Sendok kayu bergerak pelan, memutar daging yang mulai menghitam dan berminyak. Keringat tipis muncul di pelipisnya, tapi wajahnya terlihat puas, seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu yang sangat dia kenal sejak lama.“Namanya juga orang Padang,” gumamnya sambil tersenyum kecil. “Kalau soal rendang, nggak bisa asal.”Kai lewat di depan dapur lalu berhenti. Dia mengendus pelan. “Wangi banget, Ma.”Leo muncul di belakangnya, mengucek mata. “Aku laper…”Bu Maya tertawa kecil. “Sabar. Ini bukan cuma buat kita.”Dia mematikan kompor, lalu memindahkan rendang ke wadah sederhana. Tutupnya ditutup rapat, tapi aroma masih tetap keluar, seolah tidak mau dikurung.“Kalian sudah dua hari di sini, tapi belum nyapa tetangga depan,” katanya sa

  • Cantik Yang Disembunyikan   Diantara Piring Dan Pelukan

    Di sisi lain, Sera melangkah cepat masuk ke rumahnya. Pintu kayu itu menutup dengan bunyi pelan di belakangnya, seolah ikut menjaga rahasia kegugupan yang masih tertinggal di dadanya. Ruang tengah tampak lengang. Hanya suara televisi yang menyala, menyiarkan berita pagi dengan suara datar yang tidak benar-benar didengarkan siapa pun.Ayahnya duduk di sofa, tubuhnya tegak, tangan bertumpu di paha. Matanya mengarah ke layar, tapi Sera tahu—tatapan itu kosong. Seperti orang yang sedang berpikir terlalu jauh.“Ada apa, Yah?” tanya Sera pelan.Ayah menoleh. Tatapannya tajam, menelusuri wajah Sera seakan sedang menimbang sesuatu yang tidak terucap.“Siapa pria tadi yang ngobrol sama kamu di luar?” tanyanya tanpa basa-basi.Sera terdiam sejenak. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia menarik napas pendek sebelum menjawab.“Mereka tamu dari kota, Yah. Pemilik villa di depan rumah kita. Tadi anak kecilnya masuk ke halaman tanpa izin, mau lihat sapi. Kakaknya nyari adiknya… terus kam

  • Cantik Yang Disembunyikan   Lampu disebrang

    Magrib hampir lewat ketika Sera akhirnya sampai di depan rumah. Langit di atas desa mulai berubah warna—jingga memudar menjadi biru keabu-abuan. Bahunya terasa pegal karena tas dan easel yang digendong sejak sore. Tali tas menekan bahunya, membuat kulitnya terasa perih. Kakinya sedikit gemetar, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena ia sudah bisa menebak wajah siapa yang akan menyambutnya di ruang tamu.Ia mendorong pintu perlahan.Benar saja.Ayahnya, Pak Bimo, duduk di sofa sambil menonton televisi. Suara berita terdengar pelan, tapi sorot mata ayahnya langsung terangkat ketika mendengar pintu dibuka. Tatapan itu tajam, seperti selalu tahu kapan Sera pulang lebih lambat dari biasanya.“Kok baru pulang?” tanya Pak Bimo. Suaranya datar, tapi ada nada tidak senang yang jelas terasa.Sera menunduk. Jari-jarinya masih menggenggam tali tas. “Maaf, Yah… lukisannya baru selesai.”Ia menunggu. Biasanya, setelah itu akan ada ceramah panjang—tentang anak perempuan, tentang waktu, tentang o

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status