LOGINDi sisi lain, Sera melangkah cepat masuk ke rumahnya. Pintu kayu itu menutup dengan bunyi pelan di belakangnya, seolah ikut menjaga rahasia kegugupan yang masih tertinggal di dadanya. Ruang tengah tampak lengang. Hanya suara televisi yang menyala, menyiarkan berita pagi dengan suara datar yang tidak benar-benar didengarkan siapa pun.
Ayahnya duduk di sofa, tubuhnya tegak, tangan bertumpu di paha. Matanya mengarah ke layar, tapi Sera tahu—tatapan itu kosong. Seperti orang yang sedang berpikir terlalu jauh. “Ada apa, Yah?” tanya Sera pelan. Ayah menoleh. Tatapannya tajam, menelusuri wajah Sera seakan sedang menimbang sesuatu yang tidak terucap. “Siapa pria tadi yang ngobrol sama kamu di luar?” tanyanya tanpa basa-basi. Sera terdiam sejenak. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia menarik napas pendek sebelum menjawab. “Mereka tamu dari kota, Yah. Pemilik villa di depan rumah kita. Tadi anak kecilnya masuk ke halaman tanpa izin, mau lihat sapi. Kakaknya nyari adiknya… terus kami ketemu di luar.” Kata-katanya keluar terbata. Nada suaranya hati-hati, seperti orang yang sedang meniti jembatan rapuh. Ia tidak berani menatap mata ayahnya terlalu lama. Ayah mengangguk kecil. Lalu suaranya berubah lebih keras, lebih tegas. “Ayah mau ngingetin kamu sekali lagi. Kamu masih muda, masih sekolah. Jangan dekat-dekat sama lawan jenis. Fokus sekolahmu. Nggak usah terlalu sering berkeliaran, apalagi berinteraksi berlebihan sama laki-laki.” Sera menunduk. Jemarinya saling menggenggam tanpa sadar. “Iya, Yah,” jawabnya lirih. Ia naik ke lantai dua dengan langkah pelan. Tangga kayu itu berderit halus di setiap pijakan, seolah ikut mengeluh bersamanya. Kamar itu satu-satunya tempat di rumah yang selalu terasa aman. Begitu masuk, ia langsung mendekat ke jendela dan mendorongnya sedikit terbuka. Udara pagi yang dingin menyelinap masuk, membawa bau rumput dan tanah basah. Dari balik tirai tipis, matanya tertuju ke rumah di seberang. Di halaman villa itu, keluarga yang datang dari kota sedang berolahraga. Ayah dan ibu mereka berjalan santai, sementara dua anak laki-laki itu—yang kecil berlari-lari tanpa arah, yang lebih besar menjaga jarak sambil sesekali menegur adiknya. Sera mengenali sosok itu. Pria muda yang tadi berdiri di dekat mobil. Ia tidak tahu kenapa, tapi dadanya terasa sedikit lebih sempit. Sera berjalan ke dapur saat mendengar ibunya memanggil. Aroma sayur tumis memenuhi udara, bercampur dengan bunyi sendok dan panci yang saling beradu. “Sera,” kata ibunya sambil mengaduk masakan, “nenek kamu mau datang hari ini.” Langkah Sera terhenti. Matanya langsung berbinar. “Nenek?” suaranya naik sedikit, tidak bisa menyembunyikan senangnya. “Iya. Katanya mau nengok kamu.” Sera tersenyum lebar. Di antara semua orang di rumah itu, nenek adalah satu-satunya yang selalu melihatnya bukan dari tubuhnya, tapi dari hatinya. “Nenek bakal berapa hari tinggal di sini, Ma?” Ibunya mengangkat bahu. “Mama kurang tahu. Biasanya nenek nggak lama-lama. Paling dua atau tiga hari.” “Oh…” Sera mengangguk kecil. Dalam hatinya, dia sudah mulai menghitung hari. Dua atau tiga hari pun cukup, asal ada nenek. Dalam hati ia membatin, Kalau ada nenek, aku bisa keluar rumah. Ayah pasti lebih lunak kalau ada nenek. Kebetulan sekali, pikirnya lagi, sebentar lagi 17 Agustus. Desa pasti ramai. Ada lomba, ada musik, ada tawa. Hal-hal yang jarang sekali bisa dia lihat dari dekat. “Kamu mandi dulu,” kata ibunya lagi. “Sebentar lagi makan siang. Kayaknya nenek datang sore ini.” “Iya, Ma.” Selesai mandi, Sera berdiri di depan lemari dan memilih baju yang paling longgar menurutnya. Ia menarik kaus itu ke tubuhnya, lalu mencoba mengancingkan celana. Kancing terakhir terasa berat. Jarinya harus menekan kuat-kuat sampai akhirnya terkunci. Ia berdiri di depan cermin. Bajunya tidak lagi jatuh longgar seperti dulu. Kainnya menempel di perut, di lengan, di pinggang. Napasnya terasa sedikit sempit. Ia memiringkan badan, mencoba melihat dari samping. “Besar…” gumamnya pelan. Bukan wajah yang pertama kali ia lihat. Tapi tubuhnya. Selalu tubuhnya. Belum sempat ia berpaling dari cermin, suara ibunya memanggil dari luar kamar. “Sera, makan siang!” Ia menghela napas kecil, lalu keluar kamar. Di ruang makan, ayah dan ibunya sudah duduk rapi. Meja penuh dengan piring: nasi hangat, lauk, sayur, dan sup. Sera duduk di kursinya, menunduk sebentar sebelum menyentuh sendok. “Tambah lagi porsinya,” kata ayah tanpa menoleh. Ibunya langsung mengambil centong dan menambahkan nasi ke piring Sera. “Ayo, kamu harus makan ini semua. Jangan sampai ada yang tersisa.” Sera menatap piringnya lama. Uap nasi naik perlahan, seperti napas yang tidak pernah selesai. “Iya, Yah.” Ia makan bukan karena lapar—tapi karena harus. Suasana makan siang sunyi, hanya suara sendok dan piring. Tidak ada yang benar-benar bicara. Tiba-tiba suara dari pintu depan memecah sunyi itu. “Cucuku sayang… Serafina! Di mana kamu, Nak?” Sendok Sera berhenti di udara. “Itu suara nenek…” bisiknya. Ia berdiri dan berlari kecil ke pintu. Begitu melihat sosok nenek dengan senyum lebar dan tangan terbuka, Sera langsung memeluknya erat. “Ya ampun, sayang,” kata nenek sambil mengusap punggung Sera. “Nenek kangen banget.” Nenek menjauh sedikit dan menatap tubuh cucunya dari ujung kepala sampai kaki. “Aduh… kok badan kamu makin gede, sih?” katanya tanpa sadar. Sera hanya menunduk. Saat nenek melihat piring Sera yang penuh, napasnya tertahan. “Sudah kuduga,” gumamnya. Tatapannya beralih ke ayah Sera. “Apa yang kau lakukan pada anakmu?” katanya tegas. Suasana ruang makan berubah tegang. Kata-kata saling berbalas, nada suara meninggi lalu turun lagi. Sera hanya berdiri di samping neneknya, tidak berani bicara. Ayah akhirnya berkata dengan suara berat, “Ibu tahu sendiri kenapa aku bersikap seperti ini.” Nenek menatapnya tajam. “Kau memperlakukan anakmu seperti boneka.” Ayah terdiam sejenak, lalu berkata lirih, “Aku cuma ingin menjaga Sera. Supaya tidak mengalami hal yang sama seperti… seseorang di masa lalu.” Nama itu tidak disebut. Tapi udara terasa lebih berat dari sebelumnya. Makan siang berakhir tanpa damai. Sera kembali ke kamarnya dengan langkah pelan. Ia menutup pintu perlahan dan bersandar di baliknya. Dadanya terasa sesak. Ia meluncur turun ke lantai dan memeluk lutut. Kenapa semua orang ribut… tapi nggak ada yang nanya aku? Tak lama kemudian, pintu diketuk pelan. “Sera,” suara nenek terdengar lembut. “Boleh nenek masuk?” Nenek duduk di sampingnya dan mengelus punggungnya. “Kamu capek, ya, Nak?” Sera mengangguk. “Capeknya di badan, atau di hati?” “Dua-duanya, Nek.” Nenek menghela napas. “Ayahmu takut.” “Aku juga takut,” bisik Sera. “Tapi aku lebih takut hidup begini terus.” Nenek menatap wajah cucunya lama. Mata Sera sembap, tapi di dalamnya masih ada sesuatu yang ingin hidup—ingin bebas, ingin dilihat, ingin dimengerti.Lapangan tujuhbelasan mulai lengang. Sorak-sorai masih terdengar, tapi satu per satu orang sudah beralih ke lomba berikutnya. Di pinggir lapangan, hanya Leo yang tersisa—berdiri sendirian, matanya sesekali mencari ke arah kerumunan, seolah berharap dua sosok yang tadi bersamanya muncul kembali.Tak lama kemudian, seorang nenek berjalan pelan mendekat. Rambutnya disanggul sederhana, wajahnya penuh garis usia yang lembut. Itu nenek Sera.“Leo,” panggilnya pelan. “Kamu lihat Sera?”Leo menoleh cepat. “Tadi ikut lomba balap karung, Nek.”Nenek itu tertegun. Alisnya terangkat, jelas terkejut. “Sera… ikut lomba?” ulangnya, seolah tak yakin dengan apa yang ia dengar. Selama ini, cucunya itu bahkan jarang mau berdiri di tengah keramaian, apalagi ikut perlombaan.“Iya,” jawab Leo jujur. “Terus… habis itu dia pergi. Sama Kak Kai.”“Kai?” Nenek itu menoleh ke sekeliling. “Sekarang di mana mereka?”Leo menggeleng. “Aku juga nggak tahu. Kak Kai tadi jalan ke arah sana, terus nggak kelihatan lagi.”
Lomba balap karung menjadi pembuka acara tujuhbelasan sore itu. Nama Sera sudah terdaftar di papan peserta—tulisan tangannya sendiri yang sedikit miring, seolah ragu dengan keputusan yang baru saja ia ambil. Di bawah namanya, tertera beberapa nama lain yang ia kenal: Zahra, Nisa, Chika, Olive. Nama-nama yang selama ini ada di sekelilingnya, tapi jarang benar-benar bersamanya.Di sisi lapangan, Kai dan Leo berdiri memberi semangat. Leo melompat-lompat kegirangan sambil meneriakkan nama Sera, seolah yang akan berlomba itu adalah kakaknya sendiri. Kai hanya berdiri agak kaku, menepuk tangan pelan. Mereka memang belum benar-benar akrab—baru sehari saling mengenal—tapi entah kenapa, Kai merasa tak tega membiarkan Sera sendirian di tengah tatapan orang-orang yang terasa berat.Peluit ditiup.Para peserta mulai melompat bersamaan. Tawa pecah di mana-mana. Karung-karung bergoyang, tubuh-tubuh terhuyung. Ada yang langsung jatuh, ada yang tertawa sambil bangkit lagi. Sera melompat dengan susah
Sesampainya di rumah, Kai dan Leo langsung disambut aroma nasi hangat yang memenuhi udara. Dari ruang makan terdengar bunyi piring beradu pelan, sendok yang diketuk ringan ke tepi mangkuk. Ayah dan ibu mereka ternyata sudah lebih dulu makan, tinggal menunggu dua anaknya yang pulang belakangan.Bu Maya menoleh begitu melihat mereka masuk. Wajahnya langsung melunak.“Akhirnya pulang juga. Cuci tangan dulu, jangan langsung duduk.”Leo tanpa menunggu dua kali langsung berlari ke kamar mandi. Langkahnya kecil tapi cepat, seperti selalu takut ketinggalan sesuatu. Kai menyusul lebih pelan, sambil melepas jaket dan menggantungkannya di belakang kursi.Beberapa menit kemudian mereka duduk di meja makan. Nasi masih mengepul, lauk masih hangat.Bu Maya membuka suara. “Tadi Pak RT sempat ke sini.”Kai mengangkat kepala. “Ada apa, Ma?”“Besok ada acara tujuh belasan di kampung. Katanya pendatang juga boleh ikut. Mau ikut lomba atau cuma nonton aja juga nggak apa-apa.”Mata Leo langsung berbinar, s
Aroma rendang memenuhi villa itu sejak siang. Dari dapur, bau santan dan rempah yang dimasak lama-lama naik ke seluruh ruangan, hangat, pekat, dan seperti menempel di dinding-dinding rumah.Bu Maya berdiri di depan kompor, mengaduk rendang dengan sabar. Sendok kayu bergerak pelan, memutar daging yang mulai menghitam dan berminyak. Keringat tipis muncul di pelipisnya, tapi wajahnya terlihat puas, seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu yang sangat dia kenal sejak lama.“Namanya juga orang Padang,” gumamnya sambil tersenyum kecil. “Kalau soal rendang, nggak bisa asal.”Kai lewat di depan dapur lalu berhenti. Dia mengendus pelan. “Wangi banget, Ma.”Leo muncul di belakangnya, mengucek mata. “Aku laper…”Bu Maya tertawa kecil. “Sabar. Ini bukan cuma buat kita.”Dia mematikan kompor, lalu memindahkan rendang ke wadah sederhana. Tutupnya ditutup rapat, tapi aroma masih tetap keluar, seolah tidak mau dikurung.“Kalian sudah dua hari di sini, tapi belum nyapa tetangga depan,” katanya sa
Di sisi lain, Sera melangkah cepat masuk ke rumahnya. Pintu kayu itu menutup dengan bunyi pelan di belakangnya, seolah ikut menjaga rahasia kegugupan yang masih tertinggal di dadanya. Ruang tengah tampak lengang. Hanya suara televisi yang menyala, menyiarkan berita pagi dengan suara datar yang tidak benar-benar didengarkan siapa pun.Ayahnya duduk di sofa, tubuhnya tegak, tangan bertumpu di paha. Matanya mengarah ke layar, tapi Sera tahu—tatapan itu kosong. Seperti orang yang sedang berpikir terlalu jauh.“Ada apa, Yah?” tanya Sera pelan.Ayah menoleh. Tatapannya tajam, menelusuri wajah Sera seakan sedang menimbang sesuatu yang tidak terucap.“Siapa pria tadi yang ngobrol sama kamu di luar?” tanyanya tanpa basa-basi.Sera terdiam sejenak. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia menarik napas pendek sebelum menjawab.“Mereka tamu dari kota, Yah. Pemilik villa di depan rumah kita. Tadi anak kecilnya masuk ke halaman tanpa izin, mau lihat sapi. Kakaknya nyari adiknya… terus kam
Magrib hampir lewat ketika Sera akhirnya sampai di depan rumah. Langit di atas desa mulai berubah warna—jingga memudar menjadi biru keabu-abuan. Bahunya terasa pegal karena tas dan easel yang digendong sejak sore. Tali tas menekan bahunya, membuat kulitnya terasa perih. Kakinya sedikit gemetar, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena ia sudah bisa menebak wajah siapa yang akan menyambutnya di ruang tamu.Ia mendorong pintu perlahan.Benar saja.Ayahnya, Pak Bimo, duduk di sofa sambil menonton televisi. Suara berita terdengar pelan, tapi sorot mata ayahnya langsung terangkat ketika mendengar pintu dibuka. Tatapan itu tajam, seperti selalu tahu kapan Sera pulang lebih lambat dari biasanya.“Kok baru pulang?” tanya Pak Bimo. Suaranya datar, tapi ada nada tidak senang yang jelas terasa.Sera menunduk. Jari-jarinya masih menggenggam tali tas. “Maaf, Yah… lukisannya baru selesai.”Ia menunggu. Biasanya, setelah itu akan ada ceramah panjang—tentang anak perempuan, tentang waktu, tentang o







