LOGINMalam itu, di dalam kesunyian kamarnya, Indra terduduk di tepi ranjang. Jemarinya memegang sepucuk surat dari Catlin yang pagi tadi sempat diantarkan oleh Bi Ratih.Dengan seksama, ia membaca untaian kalimat yang ditulis oleh anak perempuan Nabilla tersebut."Mama ku tersayang,Ma, gimana kabar mama dan kak Indra? Terima kasih atas kiriman kuenya, aku suka semuanya. Semua sudah aku habiskan juga hehe.Btw, aku sudah bilang kan waktu itu kalau aku merestui hubungan mama dengan kak Indra, jadi kapan mama akan menjemputku? Aku sudah tidak mau tinggal di sini. Pengawas di sini sangat menyeramkan, Ma. Aku prefer mama yang marahin aku ketimbang para pengawas itu.Sampaikan salamku juga untuk kak Indra.Love you, Ma.Catlin"Indra menyunggingkan senyum sinis yang tipis. 'Rupanya gadis itu sudah belajar mengendalikan dirinya,' batin Indra di dalam hati.Ia kembali melipat surat itu dengan perasaan lega. Indra merasa bersyukur karena gadis remaja itu tidak menuliskan hal buruk tentangnya, atau
Pagi itu, begitu mengetahui Nabilla pulang lebih awal dari B-city, Indra tidak buang waktu. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan.Rasa rindu yang memuncak selama beberapa hari terpisah membuat Indra tidak tahan lagi untuk segera menemui kekasihnya.Satu jam kemudian, Indra sampai di kediaman Nabilla. Langkah kakinya lebar dan tergesa menuju kamar wanita itu.Begitu daun pintu didorong terbuka, tampak Nabilla sedang duduk di balik meja kerja dengan tumpukan dokumen di tangannya.Nabilla langsung mendongak begitu mendengar derit pintu. Senyum manis seketika tersungging di bibirnya saat mendapati sosok Indra di ambang pintu.Tanpa berkata-kata, Indra langsung menghambur berlutut, memeluk Nabilla erat-erat sembari menenggelamkan kepalanya di perut wanita itu.Gerakan tiba-tiba yang penuh damba itu sempat membuat Nabilla tersentak kaget. Namun, sedetik kemudian ia membalas dekapan hangat tersebut dan mengelus lembut punggung tegap Indra."Aku sangat merindukanmu,"
Sore itu, setelah rapat dadakan yang cukup menguras energi antara Andien dan Jovian selesai, Andien segera berpamitan.Langkah kakinya gontai menuju kamar yang sudah dipersiapkan oleh Indra untuk beristirahat karena kelelahan pasca-penerbangan panjang.Kini, tinggal Jovian dan Indra yang duduk bersebelahan di sofa ruang tamu. Keheningan sempat merayap sebelum akhirnya Indra menoleh dengan sebaris senyuman penuh arti."Siapa ya yang beberapa hari lalu berkata kalau hubungan antar manusia itu merepotkan? Sepertinya, orang itu sedang menelan ludahnya sendiri sekarang," sindir Indra tajam, nadanya sarat akan cemoohan yang disengaja.Indra menyadari betul perubahan drastis pada sikap Jovian. Pria itu jelas-jelas menyukai Andien.Buktinya sangat nyata; sepasang mata Jovian sama sekali tidak pernah lepas dari sosok Andien sepanjang mereka membicarakan proyek gedung apartemen dan musik metal tadi.Jovian berdeham pelan, berusaha mempertahankan ekspresi datarnya meski sudut bibirnya berkedut.
Siang itu, jarum jam tepat menunjuk pukul 12.00. Di sudut area kedatangan bandara yang cukup sepi, Indra berdiri bersandar pada pilar dengan pose yang tampak keren.Wajahnya tertutup rapat oleh masker hitam dan sepasang kacamata hitam besar demi menghindari sorotan publik.Beberapa menit berlalu sebelum pintu pembatas akhirnya terbuka. Indra menurunkan sedikit bingkai kacamatanya, mengintip ke arah kerumunan penumpang yang keluar.Ia memeriksa ponsel; pesan yang dikirimnya belum menunjukkan tanda-tanda terbaca. Andien tampaknya masih belum mengaktifkan ponselnya.Tap!Sebuah tepukan tiba-tiba mendarat di bahunya. Manik mata biru Indra seketika melotot kaget.Jantungnya berpacu cepat, mengira seorang penggemar fanatik berhasil mengenali identitasnya di tempat sepi ini.Namun, saat membalikkan tubuh secara perlahan, ketegangannya mencair. Andien sudah berdiri di sana, menyunggingkan senyum cerah yang familier.Tanpa aba-aba, Andien merengkuh tubuh adiknya dalam pelukan erat."Syukurlah
Pagi hari di kediaman Jovian. Indra membuka ponselnya dan melirik penunjuk waktu digital yang telah menunjukkan pukul 08.00 pagi.Itu artinya, waktu sudah bergulir ke pukul 11.00 siang di Melbourne, Australia, tempat di mana Andien menetap dan bekerja sebagai seorang desainer interior profesional.Indra segera mencari kontak Andien, lalu memencet tanda panggilan. Ia menempelkan ponsel ke telinga, mendengarkan nada dering yang bergaung.Ada jeda yang cukup lama sampai beberapa detik kemudian terdengar bunyi klik, dan panggilan pun diangkat."Halo... Ada apa, Adik?" jawab Andien di seberang sana."Kamu sedang sibuk? Kalau iya, aku akan menelepon lagi nanti," ucap Indra pelan, merasa agak sungkan."Tidak terlalu. Katakan saja, ada apa?" balas Andien lagi.Indra terdiam sejenak. Sejujurnya, ia belum pernah membujuk siapa pun dalam hidupnya, sehingga lidahnya mendadak terasa kaku."Bagaimana kabarmu? Maaf aku tidak sering menghubungimu karena jadwalku yang agak padat," cecar Indra memulai
Sore itu, di salah satu sudut kediaman mewahnya yang megah, Jovian menyaksikan Indra sedang duduk di atas sofa sembari menatap layar ponsel di depan wajahnya.Pria muda itu tengah melakukan panggilan video dengan seseorang yang sangat penting baginya."Tumben Noona meneleponku jam segini. Apa ada sesuatu yang terjadi di sana?" tanya Indra dengan raut wajah yang dipenuhi rasa penasaran.Di seberang sana, Nabilla mengembuskan napas panjang."Aku hanya merindukanmu. Selain itu, pekerjaanku di sini membuatku pusing," ucap Nabilla dengan raut wajah lelah sembari menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesarannya.Sepasang mata Nabilla tiba-tiba menyipit, memperhatikan latar belakang tempat Indra duduk yang terasa sangat asing."Indra... Kamu sedang di mana?" tanya Nabilla menyelidik.Indra seketika menyunggingkan senyuman canggung. "Aku di rumah Kak Jovian, hehe," ucapnya dibarengi tawa kecil yang kaku.Nabilla memiringkan kepalanya, sedikit terkejut. "Kenapa kau di rumah Jovian? Tunggu... Kau su
Malam di apartemen Adrian merayap begitu sunyi. Di dalam kamar tidur yang temaram, Adrian telah terlelap akibat efek samping dari obat pereda nyeri dosis tinggi yang diminumnya.Saifanny berdiri mematung di sisi ranjang, menatap lurus ke arah punggung tegap kekasihnya yang masih dibalut handuk komp
Pagi itu, di dalam kamar apartemen pribadinya, Adrian terbangun dengan sentakan ekstrem.Ia terduduk seketika dengan sepasang mata yang melotot sempurna dan napas yang berderu memburu.Mimpi buruk yang sama tentang kehilangan Saifanny untuk selamanya kembali datang menghantui sisa-sisa alam bawah s
Bima melangkah masuk ke dalam apartemen pribadinya dengan rasa pegal yang mendera sekujur tubuh. Hari ini Adrian mendadak mangkir dari kantor, memaksa Bima untuk pontang-panting merampungkan seluruh tumpukan pekerjaan sahabatnya itu seorang diri. Bima meregangkan kedua tangannya ke atas demi mel
Siang itu, di dalam kediamannya yang sunyi, Saifanny sedang menempelkan ponsel di telinga, terlibat dalam obrolan serius bersama Bima mengenai langkah taktis mereka selanjutnya."Itulah yang kemarin kami bicarakan. Aku tidak menyangka Arkana pada akhirnya akan tetap melindungi Adnan. Aku terlalu na







