FAZER LOGINSaifanny melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang cukup lengang. Di kursi penumpang depan, Syahdan duduk membisu seraya mengerucutkan bibirnya tebal—sebuah gestur nonverbal yang mengomunikasikan kekesalan mendalam.Saifanny menghembuskan napas lelah, berusaha menata emosinya yang mulai terkikis."Syahie... Harusnya kamu tidak bicara kasar begitu pada Mabelle," buka Saifanny dengan intonasi selembut mungkin.Syahdan bergeming, memalingkan parasnya rapat-rapat menatap kosong keluar jendela mobil."Mabelle itu tidak punya ibu, Syahie. Itu sebabnya tadi dia memanggil Mama dengan sebutan begitu," lanjut Saifanny, berupaya menyuntikkan empati ke dalam benak putranya.Namun, Syahdan tetap memilih membisu. Di balik keputusasaannya, bocah sembilan tahun itu tak memedulikan sedikit pun latar belakang Mabelle.Bagi logika polosnya yang terluka, fakta bahwasanya sang ibu justru menegurnya di hadapan orang lain adalah bukti nyata bahwa Saifanny tidak lagi berdiri
Suara derit roda ranjang dorong yang dipacu kencang menyusuri koridor steril UGD Rumah Sakit Daerah memecah keheningan pascapercobaan penculikan Bima.Yudi melangkah lebar di samping ranjang, matanya tak lepas dari sosok Bima yang terbaring kaku dengan paras pucat pasi bagaikan mayat."Dokter! Cepat periksa dia! Sejak tadi dia tidak bisa dibangunkan, sepertinya dia disuntik cairan bius!" Teriak Yudi pada tim medis gawat darurat yang berhamburan menyambut mereka.Dua orang dokter jaga dan tiga perawat segera mendorong ranjang Bima menerobos pintu ganda transparan bertuliskan Resusitasi Red Zone. Lampu sorot putih yang menyilaukan seketika menyambar tubuh Bima yang tak sadarkan diri."Pasang monitor tanda vital sekarang! Ambil sampel darah untuk cek toksikologi!" Titah dokter senior berpakaian hijau medis dengan nada suara penuh desakan.BEEP... BEEP... BEEP...Suara lengkingan ritmis dari layar monitor jantung seketika memenuhi ruangan. Grafik di layar berpendar hijau menunjukkan
Celah di bawah pintu kayu ruang 403 itu mendadak menjelma menjadi jurang ketakutan yang teramat pekat bagi Bima. Belum sempat logikanya menimbang apakah keberadaan dua pasang tungkai kaki asing di luar sana murni ancaman nyata atau sekadar halusinasi trauma, Bima memaksa otaknya bekerja kilat. Insting bertahan hidup yang terasah dalam bertahun-tahun marabahaya berteriak nyaring bahwasanya bahaya nyata tengah mengintip di balik kayu tebal itu. Secara refleks, Bima memutar tubuhnya, menempelkan dada dan kedua telapak tangannya sekuat tenaga ke permukaan pintu, berupaya keras menahan engsel tua tersebut dari ancaman pendorongan luar. "Dokter Aris! Bantu saya menahan pintu ini! Cepat!" Teriak Bima dengan intonasi memburu, dadanya kembang kempis dirayapi kepanikan yang teramat hebat. Dokter Aris terperanjat dari kursi kerjanya, raut wajahnya menyuarakan kebingungan mendalam atas aksi mendadak pasiennya. "Pak Bima, tenanglah! Apa yang Anda—" DUG! DUG! DUG! Ucapan sang ps
Pagi menjelang, tatkala sang surya mulai menampakkan dirinya secara perlahan di balik cakrawala kota.Saifanny duduk membisu di tepi ranjang dengan tatapan mata yang kosong. Jemarinya mencengkeram ponsel pintar yang meredup.Benaknya masih dipenuhi oleh kecemburuan dan rasa takut yang bersinggungan—sebuah pergolakan batin bahwasanya posisinya sebagai seorang ibu akan terabaikan.Grep!Secara mendadak, sebuah lengan kekar berotot terulur melingkari pinggang Saifanny dari belakang, menarik tubuh wanita itu dalam dekapan yang erat.Sentuhan hangat itu membuat Saifanny terperanjat kecil, mendapati Adrian telah memeluknya secara intim dari arah belakang."Selamat pagi, Fanny," sapa Adrian dengan intonasi suara yang serak dan berat khas seorang pria yang baru terbangun dari tidurnya."Selamat pagi," sahut Saifanny datar, tanpa menoleh sedikit pun.Saifanny sanggup merasakan bibir Adrian yang mulai mendaratkan ciuman-ciuman ringan menyusuri kulit pinggangnya.Sentuhan itu memicu sensa
Begitu Syahdan menghilang di balik pintu kamarnya, Adrian melepas jas mewahnya, menyandarkannya di sandaran kursi meja makan, lalu menggulung kedua lengan kemejanya hingga sebatas siku. Pria itu dengan sigap membereskan semua peralatan makan yang telah mereka gunakan, lalu membawanya untuk dicuci bersih di wastafel. Sementara itu, Saifanny masih terduduk membisu di sandaran kursinya, dirayapi oleh pusaran pemikiran yang kian menggelap. Ia tentu sama sekali tidak keberatan jikalau Syahdan tumbuh akrab dengan Adrian, sebab bagaimanapun juga, pria itu adalah ayah kandung yang memiliki ikatan darah utuh dengan putranya. Namun, ketakutan di dalam dadanya tetap bergejolak. Saifanny berjanji pada batinnya sendiri bahwa ia tidak akan pernah membiarkan posisinya sebagai seorang ibu tergeser oleh Adrian—sosok yang baru dikenal oleh putranya selama kurun waktu satu tahun belakangan ini. Saifanny menghembuskan napas panjang. Ia perlahan bangkit dari duduknya, meraih jas milik Adrian de
Sore hari yang tenang membingkai sebuah ruang VIP di kafe bernuansa klasik kawasan J-City. Ornamen kayu hangat dan pencahayaan redup menciptakan suasana privat yang begitu kental.Adrian duduk tenang di kursinya, memancarkan aura kendali penuh saat menunggu kedatangan Tyas Astaguna—sosok penguasa Astaguna Pharmacy yang sebelumnya telah ia hubungi secara pribadi.Ckrekkk...Pintu geser kayu berornamen klasik itu terbuka perlahan, menampilkan sosok Tyas Astaguna yang melangkah masuk ke dalam ruang VIP."Selamat sore, Pak Adrian," sapa Tyas anggun seraya memburu jarak dan mendudukkan dirinya di kursi tepat di seberang Adrian.Adrian mengangguk pelan, membalas sapaan formal tersebut tanpa banyak mengumbar basa-basi.Tanpa mengulur waktu, Adrian meraih ponsel pintar miliknya dari atas meja, lantas dengan gerakan jemari yang gesit mengirimkan deretan berkas foto dan rekaman video makam Dewi Astaguna yang kosong melompong langsung ke nomor pribadi Tyas.Ting! Ting! Ting!Ponsel di dal
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te







