Se connecterPagi itu, mentari bersinar cerah menyiram gerbang taman hiburan megah yang dipenuhi hiruk-pikuk pengunjung. Sudah sangat lama sejak Syahdan terakhir kali menginjakkan kaki di tempat dengan wahana-wahana tinggi menjulang yang menantang adrenalin. Bocah itu tampak begitu antusias, matanya berbinar-binar menatap deretan permainan di depannya. Syahdan menarik ujung baju ibunya dengan penuh harap. "Ma, aku sekarang sudah bisa naik wahana itu, kan?" tanya Syahdan sembari menunjuk sebuah roller coaster raksasa yang meliuk-liuk di angkasa. Saifanny menatap putranya yang kini tampak semakin tinggi. "Coba Mama lihat..." gumam Saifanny. Ia menyentuh bahu Syahdan, meminta anak itu berdiri tegak. Saifanny mengukur tinggi badan Syahdan dengan tangannya, membandingkannya dengan tinggi badannya sendiri secara manual. Adrian mendekati mereka dengan senyum tipis. "Syahdan sudah bisa naik wahana itu. Jika kubandingkan dengan tinggi badanku, tinggi Syahdan tidak kurang dari 130 cm. Itu s
Dingin yang menggigit dan bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman seolah menjadi penghuni tetap di kamar perawatan intensif itu.Di tengah keheningan yang hanya dipecahkan oleh desis mesin oksigen, Zain masih terbaring kaku, tak menunjukkan tanda-tanda akan terjaga dari tidur panjangnya.Laila masih setia duduk di samping putranya, jemarinya yang gemetar menggenggam tangan Zain yang dingin, berharap ada sedikit saja respons atau gerakan dari jemari sang putra.Penampilan Laila tampak berantakan. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas, diperparah dengan sisa-sisa maskara yang luntur akibat tangisan yang tak kunjung reda sejak semalam.Hatinya hancur berkeping-keping; melihat putra kebanggaannya yang biasanya gagah kini tampak rapuh di balik lilitan perban adalah penderitaan yang tak terlukiskan baginya.Tiba-tiba, keheningan itu terpecah oleh suara langkah kaki yang teratur. Suara heels yang beradu dengan lantai keramik rumah sakit yang dingin bergema di lorong, sema
Tik... tik... tik...Suara ritmis dari patient monitor memecah keheningan di dalam kamar rumah sakit yang serba putih itu.Suara itu terasa dingin dan monoton, seakan menghitung setiap detik kehidupan yang masih tersisa di dalam ruangan beraroma antiseptik yang menyengat.Pagi itu terasa suram di sebuah rumah sakit swasta. Cahaya matahari yang mencoba masuk melalui celah gorden tampak enggan menerangi penderitaan yang ada di dalamnya.Di dalam salah satu ruang perawatan intensif, Zain terbaring tak berdaya. Sosoknya yang biasanya tegap, angkuh, dan penuh kesombongan kini tampak begitu menyedihkan.Zain seperti rongsokan manusia yang dipaksa kembali menyatu oleh bantuan medis. Sisi kiri tubuhnya menjadi saksi bisu betapa kerasnya hantaman mobil semalam.Perban putih melilit kepalanya dengan rapat, menutupi luka robek di pelipis kiri yang membutuhkan belasan jahitan untuk menutup aliran darah.Lengan kirinya dibalut gips tebal yang berat akibat patah tulang, sementara kaki kirinya digan
Malam itu, udara terasa menusuk tulang, membawa kedinginan yang selaras dengan ketegangan yang membeku di hati Saifanny.Di dalam kabin mobil yang sunyi, Syahdan telah menyerah pada rasa lelah; bocah itu tertidur lelap setelah menempuh perjalanan jauh yang penuh drama pelarian.Adrian, dengan ketenangan seorang pria yang terbiasa mengendalikan situasi darurat, berhasil menemukan hotel lain di pinggiran kota yang letaknya cukup tersembunyi dari radar siapa pun yang mungkin membuntuti mereka.Adrian memarkirkan mobilnya di sudut parkiran yang remang-remang, jauh dari jangkauan lampu sorot utama.Mereka keluar dari mobil dengan gerakan minimalis agar tidak memancing perhatian.Adrian menggendong Syahdan yang terkulai pulas di bahunya, sementara Saifanny berjalan di sampingnya dengan langkah yang berat oleh beban pikiran.Ting!Sebuah getaran dari saku jaket Adrian memecah kesunyian. Ia merogoh ponselnya, membaca pesan singkat dari Bima."Kabari aku di mana kalian menginap."Adrian hanya
Suasana di dalam kamar suite mewah milik Adrian terasa begitu mencekam, seolah oksigen di ruangan itu tersedot habis oleh ketegangan yang menggantung di udara.Jarum jam dinding berdetak dengan ritme yang menyiksa, seakan berpacu dengan deru napas Saifanny yang masih memburu tidak stabil. Di balik pintu hotel yang kokoh itu, ancaman nyata sedang mengintai.Ckrek!Pintu kamar terbuka dengan sentakan pelan. Sosok Indra muncul dengan raut wajah yang sulit diartikan. Saifanny langsung berdiri dari duduknya, matanya membelalak penuh keresahan."Gimana, Dra? Zain masih di hotel ini?" tanya Saifanny dengan suara yang bergetar.Indra mengangguk perlahan, sorot matanya memancarkan rasa iba sekaligus amarah yang tertahan.Di luar sana, di lorong-lorong sunyi berkarpet tebal, Zain masih berkeliaran layaknya serigala lapar yang baru saja kehilangan jejak mangsanya.Pria itu tampaknya tidak akan sudi beranjak sebelum berhasil menyeret Saifanny kembali ke dalam cengkeramannya."Dia tidak akan menye
Pagi hari di kantor Utama Group biasanya diwarnai dengan efisiensi yang dingin, namun hari ini suasana terasa lebih mencekam.Persiapan acara amal besar yang akan diadakan beberapa hari lagi membuat semua orang bergerak dalam ritme yang cepat.Di tengah hiruk-pikuk itu, Zain duduk di ruangannya sembari mencengkeram kepalanya yang terasa ingin pecah. Ponselnya tidak berhenti berdering. Ibunya terus-menerus meneror dengan pertanyaan tentang keberadaan Saifanny.Mertuanya, Sania, mulai menaruh curiga karena cucunya tak kunjung datang berkunjung.Dan yang paling menguras emosi adalah pesan-pesan dari Ranaya yang terus menagih uang 'nafkah' dengan pesan panjang yang kini terdengar seperti tuntutan lintah darat.Zain mencoba menghubungi nomor Saifanny untuk ke sekian kalinya, namun hasilnya tetap sama: nihil. Ia sadar ia telah diblokir secara permanen. "Apa kulacak saja posisi ponselnya?" batin Zain gusar.Di sudut lain, Nina, Manajer Operasional, tampak melongok ke arah ruangan Adrian ya







