LOGINSiang itu, Saifanny duduk bersandar di dalam taksi biru yang melau menuju gedung Holy Entertainment.Labirin pikirannya masih tertinggal pada hantaman rasa ketidakpercayaan yang mendalam tentang Adrian—pria yang tega melayangkan tuduhan keji bahwa dirinyalah yang telah meracuni sang kakek.Saifanny mengembuskan napas pendek, merasai bahwa mungkin dirinya dan Adrian memang ditakdirkan untuk tidak akan pernah bisa kembali bersama.Di masa lalu, ia sempat memiliki pemikiran bahwa setelah melewati rentetan badai yang meremukkan jiwa, keluarga kecil mereka akhirnya akan dapat hidup bersatu di bawah satu atap yang hangat.Namun, sebaris senyuman sinis yang dingin perlahan terukir di bibir Saifanny saat menyadari bahwa seluruh harapan itu tak lebih dari sekadar khayalan semu.Logikanya berputar; jika Adrian memang memercayai integritasnya sejak awal, maka pria itu pasti akan langsung bergerak mencarinya bahkan setelah ia terpaksa menikah dengan Zain sembilan tahun lalu.Realitasnya tidak dem
Saifanny mendobrak pintu apartemen Adrian dengan luapan emosi yang telah memuncak hingga ke ubun-ubun.Jantungnya berdegup brutal dipicu oleh rasa sakit hati yang teramat pekat.Sembilan tahun berlalu, dan dari semua manusia yang bernapas di atas bumi ini, ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Adrian akan kembali melayangkan tuduhan sekeji itu, menstigmanya sebagai pembunuh berdarah dingin yang meracuni kakeknya sendiri.Saifanny melangkah lebar dengan entakan kaki yang sarat akan amarah menuju ke arah lemari pakaian.Tempat di mana ia menyimpan seluruh helai pakaian miliknya sejak sembilan tahun silam. Dulu, ia sengaja meninggalkan beberapa potong pakaian di dalam lemari ini dengan sebaris harapan puitis; bahwa suatu hari nanti takdir akan membawa mereka kembali bersatu di tempat ini.Namun, seluruh harapan itu telah menjelma menjadi lelucon yang tak berarti sekarang.Bagaimana mungkin ia bisa mempertahankan hubungan dengan seorang pria naif yang dengan mudah meragukan integrit
Pagi itu, atmosfer di dalam kediaman keluarga Utama mendadak dilingkupi hawa dingin yang mencekam.Seorang asisten rumah tangga melangkah menyusuri koridor sunyi sembari membawa nampan berisi hidangan sarapan untuk sang penguasa tertinggi, Arkana Jaya Utama.Tok! Tok! Tok!Asisten rumah tangga itu mengetuk pintu jati ruang kerja Arkana secara teratur."Tuan Besar, saya mau membawakan sarapan Anda," ucapnya singkat, menanti sahutan dari dalam.Namun, tidak ada satu pun gelombang suara yang membalas. Wanita itu didera rasa heran yang teramat sangat; Arkana dikenal sebagai sosok disiplin yang selalu terbangun jauh lebih pagi.Namun, hingga detik ini, kakek tua itu belum juga keluar dari ruang kerjanya sejak semalam suntuk.Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia kembali mengetuk pintu tersebut."Tuan... saya buka pintunya, ya?"Begitu daun pintu terayun terbuka, pemandangan di dalam ruangan seketika meremukkan seluruh kesadaran sang asisten.Di atas lantai semen yang dingin, tubuh renta
Di dalam ruang kerja pribadinya yang beralaskan keheningan, Bima segera mengetikkan rentetan pesan teks darurat untuk dikirimkan kepada Saifanny.Ia mengabarkan perihal draf rencana terselubung Arkana yang sedang berupaya keras melonggarkan jerat hukum demi membebaskan Adnan."Saifanny, Pak Arkana ingin membebaskan Adnan dengan alasan kesehatan. Sepertinya kakek tua itu tidak tahu kata menyerah," ketik Bima pada layar ponselnya, dengan jemari yang bergerak tegang.Hanya butuh waktu beberapa detik bagi Saifanny untuk mengirimkan balasan balasan."Alasan yang sangat klasik, dia masih menyayangi putranya ternyata. Tolong cari tahu lagi lebih lanjut, Bim. Mungkin kita bisa mencari celah hukum yang tepat untuk menggagalakan draf rencananya."Di sisi lain ruangan, Andien yang sedari tadi duduk di sofa memperhatikan raut wajah serius Bima didera rasa penasaran yang mendalam.Ia bangkit berdiri, lalu melangkah perlahan mendekati meja kerja demi mengintip apa yang sedang dieksekusi oleh kekasi
Malam kian larut di kediaman Utama Group. Di dalam ruang kerja pribadinya yang megah namun terasa dingin, Arkana Jaya Utama duduk di balik meja jati besar.Di hadapannya, berdiri dua orang pria paruh baya dengan setelan jas hitam formal yang rapi—Profesor Hendri, seorang dokter spesialis jantung senior dari rumah sakit swasta terbesar di J-City, dan Gavin, kepala tim pengacara hukum Utama Group.Atmosfer di dalam ruangan itu begitu menekan. Kasus Black Moon yang menjerat Adnan telah menjadi konsumsi publik nasional, membuat posisi keluarga Utama terpojok di ujung tanduk.Ketegangan merayapi setiap sudut ruangan saat sang singa tua menuntut jawaban."Jadi, bagaimana perkembangannya, Gavin? Apakah berkasnya sudah siap?" tanya Arkana, suaranya berat dan serak, namun mengintimidasi saraf siapa pun yang mendengar.Gavin menundukkan kepalanya takzim sebelum menyerahkan sebuah map kulit cokelat tebal ke atas meja."Semua draf administrasi sudah siap, Tuan Besar. Mengingat kasus ini sudah
Indra melangkahkan kedua kakinya menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang rawat inap ibunya, Sarah, dengan sebaris perasaan bahagia yang membuncah di dalam dada. Hari itu, penampilannya tampak begitu segar; ia mengenakan kaus putih polos yang dipadukan dengan jaket baseball biru tua bergaris putih. Di tangan kanannya, sebuket bunga lili putih segar menguarkan aroma wangi yang semerbak dan indah—sebuah perpaduan visual yang teramat cocok untuk menemani hari cerahnya yang penuh kemenangan. Namun, kali ini Indra terpaksa melangkah dengan masker kain hitam dan kacamata hitam yang melekat erat menutupi sebagian besar wajahnya. Efek dari popularitasnya yang kian melejit pasca-perilisan karya terbarunya membuat pemuda bermata biru itu harus selalu memperketat penyamarannya ke mana pun ia melangkah di area publik. Indra memperlambat ritme langkahnya saat telapak tangannya menyentuh knop pintu kayu ruang rawat sang ibu. Ia didera rasa takut akan mengganggu waktu istirahat ibuny







