MasukSuara derum sirine ambulans meraung-raung membelah pagi yang kian terik di T-City. Di dalam kabin medis yang melaju kencang menerobos kemacetan menuju Rumah Sakit Pusat T-City, suasana berubah mencekam.Petugas medis bergerak cepat membebat bahu kanan Saifanny yang tak henti-hentinya menumpahkan darah segar.Di samping tandu, Bima—dengan tubuh lemas, memar di parasnya, serta bekas jeratan rantai besi yang menghitam di pergelangan kakinya—terduduk bersandar dengan napas memburu.Manik matanya yang membendung air mata tak sanggup berpaling sedikit pun dari paras Saifanny yang kian pucat pasi. Jiwanya dihantam kecemasan hebat, merasa bersalah karena ketidakmampuannya telah mengorbankan keselamatan wanita itu.Kepolisian bergerak cepat menyergap vila pesisir pantai bukanlah tanpa alasan. Bara—yang posisinya bersama tim keamanan Utama Group masih terhadang jarak berjam-jam akibat jebakan mobil umpan di B-City—mengambil langkah paling rasional.Begitu menyadari posisi Ririn berada di pesisi
Di dalam kamar yang riuh oleh pecahan kaca, Saifanny berbalik menatap Bima dengan cemas. Selagi pengawal tadi belum kembali, rasa tidak aman menggelayuti batinnya.Naluri pertahanan dirinya bergejolak. Saifanny memungut kembali batu besar yang sempat ia jatuhkan, lalu menghantamkannya sekuat tenaga ke arah rantai besi yang menjerat pergelangan kaki Bima.Brak! Brak!"Tidak ada gunanya, Saifanny. Rantainya terlalu tebal," kata Bima lemas, suaranya parau dan tanpa daya melihat usaha sia-sia wanita di hadapannya.DOR!Suara gema tembakan mendadak memecah udara dari arah luar ruangan. Saifanny dan Bima tersentak kaget.Jantung Saifanny berdegup kencang; pertanyaan liar menyeruak di benaknya tentang siapa yang baru saja melepaskan tembakan tersebut."Saifanny, Ririn gak akan nyerah... Dia pasti bakal ngelawan," ucap Bima penuh kekhawatiran yang membakar dadanya.DOR! DOR!Dua tembakan beruntun kembali bergema tajam, memutus hening pagi. Keresahan di hati mereka berdua kian memuncak, meneba
Pagi yang diliputi oleh kabut keresahan menyelimuti batin Saifanny. Ia duduk kaku di kursi penumpang dengan jemari yang meremas kencang sabuk pengaman, sementara kendaraan yang ditumpanginya melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.Waktu berlalu tanpa kompromi, hingga roda-roda mobil akhirnya berhenti tepat di depan sebuah bangunan di area pesisir pantai pukul 9 pagi.Pengawal yang mengemudikan kendaraan melongokkan kepalanya ke luar jendela, dahinya berkerut dalam."Sepertinya ada acara, Bu..." Ucap pria itu dengan nada keheranan saat matanya menangkap untaian dekorasi bunga yang terpasang di depan pintu gerbang utama."Ibu yakin ini villanya? Mungkin ada villa lain di sekitar sini," lanjut pengawal meminta konfirmasi.Saifanny menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada villa lain di daerah ini. Semua bangunan yang ada di sekitar sini hanya pemukiman kecil milik para nelayan," kata Saifanny dengan suara rendah namun mantap.Klik!Saifanny menekan tombol dan melepaskan sabuk pe
Bara melirik jarum pergelangan tangannya; waktu telah menunjukkan pukul 08.00 WIB.Seluruh pria yang menghuni kendaraan umpan telah berhasil dilumpuhkan, diringkus, dan diikat rapat secara bersamaan, siap untuk diserahkan ke penanganan aparat kepolisian setempat.Sementara itu, pria yang bertindak sebagai penyamar Bima masih berdiri tegak di dekat badan mobil.Parasnya melukiskan seringai mengejek, merasa telah berhasil mengelabui dan mengecoh sekawanan serigala pelacak.Bara yang geram atas gestur ejekan tersebut melangkah maju secara agresif. Satu tangannya dengan kilat menyambar cengkeraman pada leher pria itu, lalu mendorongnya paksa hingga tubuh penyamar itu terbentur keras ke lambung mobil."Ugh...!" Pria penyamar itu meringis kesakitan, tercekik oleh tekanan jemari Bara."Lu pikir semua ini lucu, hah?!" Teriak Bara dengan nada emosi yang meledak."Lu gak akan nganggap ini lucu lagi kalau lu sendiri yang jadi korban penculikan!" Lanjut Bara dengan rahang mengeras kencang.Bebera
Malam yang masih tenang menyelimuti vila di pesisir pantai. Di dalam kamar yang hening, Ririn dan Bima duduk berhadapan dalam jarak yang teramat dekat di atas ranjang empuk.Kini, hanya pergelangan kaki kiri Bima yang dipasangi borgol besi dengan sambungan rantai panjang yang mengikatnya pada rangka ranjang.Tatapan Bima begitu datar, hampa, dan diliputi keletihan jiwa yang mendalam. Ia hanya sanggup mengedipkan kelopak matanya perlahan di hadapan Ririn yang tampak begitu ceria."Aku udah menuliskan teks ijab kabulnya, Mas hafalin, ya," kata Ririn dengan binar mata antusias sembari menyodorkan secarik kertas ke hadapan Bima.Namun Bima hanya membisu kaku. Gemas atas kepasifan itu, Ririn menyusupkan dan menyelipkan kertas tersebut ke dalam genggaman Bima secara paksa."Cepat baca!" Perintah Ririn, mengangkat pergelangan tangan Bima yang terkulai lemas agar terangkat sejajar dengan pandangannya.Bima mengalihkan pandangannya yang redup pada kertas di tangannya yang tak berdaya."Saya te
Marcus duduk ditopang kursi kulit di ruang kerjanya yang luas, menyapu lembaran dokumen di atas meja kayu mahoni dengan ketelitian dingin.Sandiwara mengenai penculikan MaBelle memang telah usai di panggung publik, namun dalam benaknya yang penuh kalkulasi, sebuah skenario baru telah tersusun rapi.Tok! Tok!Ketukan pintu memotong keheningan ruangan."Masuk," instruksi Marcus singkat, tanpa mengalihkan pandangan.Seorang pria bersetelan serba hitam melangkah masuk, menundukkan kepalanya memberi hormat sebelum melangkah mendekati meja utama.Marcus memiringkan posisi duduknya, menyandarkan punggung sembari meletakkan pena di tangannya. Telinganya siap mendengarkan setiap laporan."Saya mau melapor, Tuan," ujar pengawal itu dengan intonasi rendah."Saya menemukan kalau tim keamanan Utama Group sudah memulai pencarian Bima, Tuan. Selain itu, beberapa orang suruhan Bu Saifanny juga bergabung dengan mereka."Marcus menghembuskan napas pelan. Dalam kalk
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri







