MasukPagi itu, mentari desa menyambut kedatangan Adrian dengan kehangatan yang tak biasa. Setelah menempuh perjalanan panjang dari hiruk-pikuk kota yang menyesakkan, pemandangan alam yang terhampar di depan matanya seolah menjadi oase bagi jiwanya yang lelah.Sejauh mata memandang, permadani hijau dari hamparan sawah dan perkebunan yang luas memanjakan penglihatan.Udara segar yang bersih masuk ke paru-parunya, membuatnya sempat terpikir bahwa suatu saat nanti, ia harus memboyong Saifanny dan Syahdan ke tempat yang damai ini, jauh dari intrik Utama Group.Adrian turun dari mobilnya, menyipitkan mata sembari menghalangi silau matahari dengan telapak tangan. Meski sudah beberapa kali berkunjung di masa lalu, ingatan Adrian sedikit memudar mengenai arah jalan setapak yang benar. Ia berdiri di bahu jalan, menatap pertigaan dengan ragu.Tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat seorang wanita sedang berjongkok di pinggiran sawah, mengenakan topi jerami lebar yang menutupi wajahnya. Adrian mengh
Hari itu, suasana di kamar rawat Indra terasa berbeda. Setelah beberapa hari terkurung di antara dinding putih rumah sakit, ia akhirnya memutuskan untuk pulang.Meskipun rasa nyeri di punggungnya masih kerap berdenyut dan luka memar itu masih meninggalkan warna keunguan yang kontras, ia merasa sudah cukup kuat untuk menjalani rawat jalan.Dengan gerakan perlahan dan hati-hati, Indra memakai atasannya. Ia sedikit meringis; menekuk punggung masih menjadi tantangan fisik yang perih baginya.Telinga Indra menangkap suara pintu yang terbuka perlahan. Seketika, wajahnya yang tadi menahan sakit berubah menjadi sumringah.Ia sudah membayangkan sosok Nabilla yang akan datang menjemputnya dengan senyum wibawa yang menenangkan.Namun, binar di matanya meredup seketika saat sosok yang muncul di ambang pintu adalah Andien."Ada apa dengan ekspresimu itu? Kau tidak suka aku yang datang menjemput?" goda Andien sembari melangkah masuk, menyadari perubahan drastis pada raut wajah adiknya.Indra mengge
Siang itu, kafe eksklusif di pusat kota menjadi saksi dari sebuah pertemuan yang akan merombak seluruh tatanan hidup dua orang yang telah lama terpisah.Bagi Saifanny, tidak ada alasan yang cukup kuat untuk terus meringkuk di dalam kamar perawatan rumah sakit saat fisiknya sama sekali tidak sedang menderita sakit.Ia hanya butuh ruang untuk berpikir, dan kafe ini, dengan ruang VIP-nya yang kedap suara dan beraroma kopi arabika pekat, adalah tempat yang paling tepat.Saifanny duduk dengan anggun, mengenakan terusan hitam simpel namun elegan. Wajahnya tampak jauh lebih tenang, meski guratan kelelahan di matanya tetap tersisa, menyimpan sisa-sisa badai emosional yang ia lalui.Pikirannya terus melayang pada konfrontasi tajam dengan Bima tempo hari. Ia mulai menyadari bahwa permintaannya agar Adrian melepaskan Utama Group adalah sebuah egoisme yang berlebihan.Pintu geser kayu ek terbuka perlahan, menampakkan sosok Adrian yang masuk dengan langkah terburu-buru.Wajah kaku sang CEO Utama G
Langkah kaki Zain terasa berat saat ia mengejar Laila keluar dari gedung apartemen. Napasnya tersengal, bukan karena lelah fisik, melainkan karena beban di dadanya yang terasa menghimpit.Di bawah lampu jalan yang mulai menyala remang, ia berhasil menahan lengan ibunya."Ibu! Tunggu!" teriak Zain putus asa.Laila berbalik dengan sentakan kasar. Wajah wanita tua itu tampak kaku, guratan amarah masih membekas jelas di sana.Matanya menatap Zain seolah pria itu adalah orang asing yang baru saja menghina martabat keluarga mereka."Apa lagi, Zain? Apa kamu ingin membela wanita murahan itu lagi di depan Ibu?" desis Laila dengan nada yang melukai.Zain tertunduk, bahunya merosot. "Ibu... aku sudah pergi ke rumah sakit. Aku sudah berlutut di kakinya, aku memohon sampai suaraku habis, tapi Saifanny... dia benar-benar sudah tidak menginginkanku lagi. Dia akan menceraikanku, Bu."Laila mendengus sinis, tawa getir keluar dari bibirnya. "Tentu saja dia tidak menginginkanmu! Kamu pikir wanita mana
Sore itu, cahaya matahari yang menyelinap masuk ke balik tirai kamar perawatan VIP kediaman medis tersebut terasa begitu hangat bagi Saifanny.Di atas ranjangnya, ia tersenyum lebar menatap layar ponsel. Sebuah foto baru saja dikirimkan oleh ibunya, Sania.Di dalam foto itu, Syahdan terlihat jauh lebih hidup; wajahnya merona ceria saat ia menyuapkan sesendok bubur ke mulutnya.Saifanny mengembuskan napas lega. Satu sesi terapi bersama Dr. Eliza ternyata telah memberikan perubahan signifikan pada kondisi mental putranya. Rencana untuk sesi terapi lanjutan sudah tersusun rapi di kepalanya."Mama janji, Syahie, ini terakhir kalinya Mama bersikap kejam. Setelah semua ini selesai, kita akan hidup bebas tanpa gangguan Zain lagi," gumam Saifanny lirih sembari mengelus permukaan layar ponselnya, seolah sedang menyentuh pipi putranya.Dengan jemari yang lincah, Saifanny segera mencari kontak Laila, ibu mertuanya. Ia mengetikkan pesan yang telah dirancang untuk menjadi pemicu ledakan besar."Bu
Langkah kaki Nabilla bergema cepat di lorong rumah sakit yang sepi saat ia melarikan diri menuju toilet.Di balik pintu yang tertutup, ia segera menghampiri wastafel dan memutar keran air sekuat tenaga.Air dingin itu membasahi wajahnya yang terasa membara, mencoba memadamkan gejolak aneh yang dipicu oleh melodi merdu yang baru saja dilantunkan Indra.Ia menatap bayangannya di cermin; wajahnya merah padam, matanya menyiratkan kebingungan yang mendalam.Sembari memperbaiki riasan yang sedikit luntur, pikiran Nabilla melayang liar.Jika wanita matang berusia 35 tahun sepertinya saja bisa terseret emosi hingga hampir menangis hanya karena mendengar suaranya, bagaimana dengan jutaan wanita di luar sana nanti? Indra bukan sekadar artis; ia adalah magnet yang berbahaya."Tenangkan dirimu, Nabilla. Tetaplah profesional. Dia adalah artismu, investasimu, bukan target cintamu," gumamnya tegas pada pantulan dirinya di cermin, mencoba memanggil kembali sosok penguasa industri yang dingin.Setelah







