LOGINJarum jam dinding menunjukkan tepat pukul tiga pagi. Di tengah keheningan pemukiman kumuh J-City yang gulita, Ririn dan Doni melangkah mengendap-endap menyusuri lorong sempit.Langkah kaki mereka mengayun pelan menuju sebuah mobil milik Doni yang terparkir kaku di sudut lorong, tertutup sempurna oleh helaian terpal kusam.Napas Ririn memburu samar. Manik matanya bergulir resah melirik ke kanan dan kiri, menyisir jalanan pemukiman kumuh yang kini lengang tanpa lalu lalang manusia maupun pijar lampu rumah yang menyala.Paranoia di dalam dadanya baru berangsur mereda tatkala melihat Doni melangkah mendekati kendaraan tersebut.Srettt!Dengan satu tarikan mantap, Doni menyibak terpal yang menyelimuti mobilnya.Tanpa membuang waktu, mereka berdua bergerak cepat melangkah masuk ke dalam kabin mobil.Ririn menghembuskan napas panjang yang sarat akan rasa lega usai mendudukan tubuhnya di kursi penumpang.Sebuah kepuasan dingin merayapi jiwanya—akhirnya ia tak perlu lagi mengubur diri di t
Jovian memundurkan dirinya satu langkah, merenggangkan jarak di antara tubuh mereka.Namun, sepasang matanya tak lepas mengunci wajah cantik nan dingin milik Tyas. Rasa muak dan kaget bergulat hebat di dalam dadanya."Hanya karena uang?" Ucap Jovian dengan intonasi nada yang terdengar teramat miris, memandang wanita di hadapannya seolah-olah Tyas adalah sosok asing yang mengerikan.Tyas memutar bola matanya malas, menyingkap rasa bosan atas keheningan moral yang ditunjukkan Jovian."Kupikir kau sudah berubah menjadi lebih pintar setelah putus dari Andien Utama, tapi ternyata kau masih naif dan bodoh," Kata Tyas sembari melangkah santai dan mendaratkan dirinya kembali di atas sofa tunggal."Kau sendiri menjadi aktor untuk menghasilkan uang, kan? Agar kau tidak perlu kembali lagi pada keluarga Manggala yang kau benci itu," Lanjut Tyas dengan intonasi suara dingin yang menusuk tepat di titik rentan Jovian.Jovian mengusap wajahnya dengan gerakan kasar, mencoba mengusir sensasi peni
Ririn cepat-cepat mematikan panggilan yang belum sempat tersambung itu. Kepanikan mendadak menyergap dadanya hingga napasnya memburu kencang.Di dalam batinnya, gejolak pertanyakan berkecamuk hebat—apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya sampai ia harus merendahkan derajatnya untuk meminta pertolongan pada wanita seperti Saifanny?"Sialan! Apa yang kupikirkan?! Meminta tolong pada wanita munafik sepertinya hanya akan membawa sial!" Umpat Ririn parau seraya menggenggam erat ponsel burner di tangannya, merutuki kelemahan mentalnya sendiri.Cklek!Tiba-tiba engsel pintu berderit terbuka. Doni, berdiri di ambang pintu seraya membawa sebuah mangkuk berisi bubur hangat yang asapnya masih mengepul tipis."Non, makan dulu," Kata Doni dengan intonasi suara berat yang menyembunyikan kelelahan luar biasa.Semenjak pelarian dramatis mereka berhari-hari lalu, Doni terus memasang mode siaga penuh tanpa henti untuk memastikan keselamatan Ririn.Kelelahan fisik dan mental itu terpatri nyata
Hujan gerimis membilas atap seng sebuah kontrakan sempit di kawasan pemukiman kumuh pinggiran J-City. Bau lembap tanah bercampur aroma sampah menyengat muatan udara ruangan yang temaram dan pengap. Di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter itu, Ririn duduk bersila di atas kasur lipat tipis yang kusam. Wajahnya yang biasa dipoles riasan mahal kini tampak pucat, kusam, dengan lingkaran hitam pekat mengurung sepasang matanya. Napasnya memburu samar. Sudah berhari-hari ia terkurung di tempat busuk ini, hidup bagai tikus got yang bersembunyi ketakutan dari cerlang cahaya matahari. Ririn melirik ke arah meja kayu ringkih di sudut ruangan. Di sana tergeletak sebungkus nasi rames yang sudah dingin dan sebuah ponsel tanpa kartu SIM—burner phone murah yang ia beli menggunakan uang tunai dari pedagang kaki lima di pinggir jalan. Rasa takut, panik, dan amarah yang meluap-luap bergulat hebat di dalam dadanya, menciptakan paranoia pekat yang menyiksa jiwa dan merusak akal sehatny
Sore hari perlahan berganti menuju malam di J-City. Di dalam ruang rawat inap Ghina yang tenang, Bima mendudukkan dirinya di atas kursi kayu persis di samping ranjang.Sebuah laptop milik Ghina terpangku di atas pahanya, namun pendar layar kaca itu hanya memantulkan garis-garis wajah Bima yang murung.Sorot matanya redup, seolah-olah segala deretan data dan informasi pencarian di hadapannya tak lagi memiliki arti apa pun.Ghina yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi menangkap ekspresi frustrasi dan beban berat yang terpancar dari figur pria itu."Pak Bima..." panggil Ghina pelan sembari melangkah mendekati sisi ranjangnya.Bima segera mendongakkan kepala, menatap Ghina dengan pandangan bertanya yang menyimpan kelelahan fisik dan mental."Kenapa, Ghina? Kamu butuh sesuatu?" tanya Bima dengan intonasi suara yang terasa lemah.Ghina menggelengkan kepalanya pelan. Ia mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang, alisnya berkerut rapat.Dari intonasi nada suara Bima yang kehilangan
Keluarnya Marcus dari area pekarangan panti jompo meninggalkan atmosfer yang menyesakkan. Adrian berdiri bergeming di samping mobil mewahnya, mengawasi jalanan hingga figur Marcus benar-benar menghilang melangkah masuk ke dalam gedung laboratorium di sebelah panti jompo milik Saifanny. Jemari tangan Adrian yang semula mengepal kaku perlahan-lahan meregang, memperlihatkan permukaan telapak tangan yang memutih akibat tekanan emosi dan amarah yang ditahannya setengah mati. Tringgg! Tringgg! Dering nyaring dari ponsel di saku jasnya memecah hembusan angin siang yang kering. Adrian merogoh saku selulernya, menatap nama Gavin—pengacara kepercayaan keluarga Utama—yang tertera jelas di layar kaca. Pria itu menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel tersebut ke telinganya. "Halo," Jawab Adrian singkat, menekan getaran dalam suaranya. "Tuan Adrian," Suara Gavin dari balik telepon terdengar sarat akan kecemasan profesional yang pekat. "Pihak kepolisian baru saja melayangkan surat p
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah







