تسجيل الدخول“Tidak! Itu tidak mungkin!” Mama Rosa melotot sebesar biji jengkol ketika mendengar apa yang Dirga katakan.“Tidak mungkin bagaimana? Nyonya tidak sadar, bahwa selama ini Tuan Dirga selalu turuti apa maunya Tuan Felix? Dalam setiap proyek, Beliau masuk dan menjadi investor terbesar itu karena Tuan Felix. Memangnya apa?” tanya Marta padanya.Mama Rosa mundur darurat dengan tenggorokan yang tercekat.Mungkin ia fikir, semua yang ada selama ini adalah usaha dan kerja keras dari putranya yang tercinta itu.“Yang jelas, kami tidak perlu tunjukan surat kepemilikan perusahaan. Tapi untuk hak cipta, dan royalti, tetap akan kami tuntut setelah Tuan kami keluar dari Perusahaan ini!”Dika maju dengan semua hitungan yang sudah ia lakukan, dan Dirga memberikan tempatnya agar Dika mengumumkan semua itu di hadapan mereka semua.“Jadi, kira kira total royalti yang harus diberikan adalah Dua trilyun. Itu selama enam tahun setelah Tuan Felix ambil posisi di Lesmana Grup, dan semua proyek yang ditangan
Kabar sudah beredar di mana-mana, tentang lepasnya Felix dari Grup Lesmana.Saat itu, Ibu Aida tengah duduk menatap beritanya dengan secangkir teh camomile dan tatapan yang begitu tenang. Ia juga menarik napas panjang, seoalh ia telah melepaskan sebuah beban.“Ibu,” panggil Julia yang kemudian menghampirinya di kursi ruang keluarga.Ibu langsung menoleh dan tersenyum pada Julia, bahkan ia ulurkan tangan untuk genggam erat tangan menantunya.“Ibu tidak sedih, Sayang. Ibu sedang lega, dan rasanya ibu sudah lepas dari semua beban yang sangat berat selama ini.”“Lia tahu, Bu. Pasti rasanya lega sekali, kan? Itu juga Lia rasakan waktu itu, meski belum seberat Ibu,” balas Julia padanya.“Ya, kita sudah lepaskan semuanya. Setelah ini, kita harus fokus pada masa depan, terutama untuk kebahagiaan keluarga kita.”Pelukan hangat Julia dapatkan dari sang ibu mertua, meski ia masih penasaran dengan apa yang terjadi setelahnya di kantor sana.“Pasti suasana sedang sangat panas, Bu.”“Ya, sangat pan
“Apa yang kamu katakan, Felix? Kamu mau tantang Nando? Untuk apa?” Mama Rosa tiba tiba datang bersama para pengacara dan tim dari Perusahaan yang mendukungnya.Felix menatap mereka dengan wajah datar, dan tahu apa maksud kali ini. Pasti mau menjatuhkannya sesuai janji.“Dia duluan,” jawab Felix dengan begitu santai.“Haaah! Kamu fikir, kamu bisa lakukan itu dengan mudah? Langkahi dulu mayatku!” sergah mama Rosa.“Ya, aku juga ingin melakukan itu sejak lama.” Felix kembali menjawabnya.Wajah mama Rosa langsung merah padam mendengar itu, dan helaan napasnya menjadi sangat kasar.Tapi wanita itu berusaha tenang, dan ia kode pengacara yang ia bawa untuk segera berikan semua berkas pada Felix untuk ia baca.Saat itu juga, Marta dan Dika datang ke ruangannya dengan tergesa gesa serta wajah yang cemas.“Tuan!” Dika memasang tatapan waspada.“Tak apa. Baca ini dengan keras, agar aku tahu apa isinya.” Felix memberi perintah dengan suara yang pelan.Dika mengikuti apa yang Felix katakan saat it
Hari pertama Felix masuk kerja setelah tiga hari libur.Julia semangat sekali, bangun pagi pagi dan persiapkan semua keperluan sang suami. Ia tak mau melewatkan satu momentpun saat ini.“Bangun jam berapa?” tanya Felix pada istrinya itu.“Bangun subuh,” jawab Julia.Felix tak mau mematahkan semangat sang istri, dan ia hanya tersenyum mengusap rambut Julia seperti biasanya dengan penuh cinta.“Lia masih mau menikmati masa masa ini, sebelum nanti waktu kita sudah terbagi dengan baby.”“Ya, aku paham. Tapi kamu juga harus ingat, kamu harus banyak istirahat.”“Iya, sudah. Kan, tadi malam Lia tidurnya cepat dan vitaminnya diminum terus.” Selalu saja ada pembelaan dirinya. Felix sudah rapi, dan sudah tampan sekali seperti biasanya. Julia selalu gemas jika seperti ini. Rasanya ingin ia ikuti kemana saja suaminya pergi.“Ayo sarapan. Ibu pasti sudah memasak makanan istimewa untukku.” Felix gandeng istrinya untuk keluar dari kamar.Memang masakan istimewa itu untuk Felix, karena ia yang m
“Kenapa sih, kamu itu ada aja caranya habisin duitku? Segala harus sakit, bedrest dan harus nambah nambah vitamnin kayak beginian. Mahal!”Nando menaruh semua tambahan vitamin milik istrinya di atas meja dengan kasar.“Kamu, semakin kesini semakin sering sakitin aku, Mas. Gimana aku ngga jadi stres kalau kamu giniin?” balas Maya.Siang itu mereka pulang dari Rumah sakit, tapi Maya harus benar benar bedrest dan harus dilayani dalam setiap kegiatan. Itu pasti akan sangat merepotkan untuk Nando.“Harus stresnya ngabisin duit?”“Mas!”“Hey! Kalian ini apaan lagi, ya ampun!” Mama Rosa akhirnya datang dan menengahi mereka berdua yang nyaris berkelahi lagi.“Nando, Ma. Dia jahat banget ke Maya.”“Kamu!”“Nando!” sergah mama Rosa pada putra kandung kesayangannya yang semakin lama semakin tidak beres saja.“Kamu bisa ngga, hargai Maya yang sedang hamil? Kamu stres gara gara Julia nikah, Julia saja ngga pernah mikir kamu lagi.”“Julia seperti itu karena dia dipengaruhi oleh Felix, Ma. Dia puja
Julia bangun dari tidur dan tak ada Felix disisinya.Biasanya setelah mereka menghabiskan malam yang begitu panas bersama, Felix akan tidur memeluk Julia sampai tiba.“Kak? Kake Felix di mana?” panggil Julia pada pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu.Hueek! Hueeek!Terdengar suara yang begitu menyakitkan dari kamar mandi, dan itu pasti Felix.Julia yang sedikit kaget itu segera pergi untuk menemui sang suami dan pastikan keadaannya. Atau bahkan membantu untuk redakan mual itu.“Kak Felix kenapa?” tanya Julia yang masuk dan langsung memijat bagian tengkuk Felix itu.“Hey, kamu sudah bangun?” tanya Felix.“Iya, sudah. Kakak kenapa?” tanya Julia sekali lagi.“Ini yang aku rasakan setiap pagi, terutama setelah tahu jika kamu mengandung anak kita.” Felix menghela napas dan tenggorokannya mulai terasa lega.“Jadi, Kakak selalu muntah tiap pagi separah ini?”“Hmm. Separah ini, kadang sampai tenggorokanku perih. Itu membuatku malas berdebat dengan Nando dan mamanya, tapi harus. Segera b
Jantung Julia rasanya mau copot ketika mendengar suara dari Nando di depan ruangan Felix. Dentumannya bukan lagi seperti ketika dengan Felix tadi, karena ini jelas beda rasaa. Tadi keenakan, sekarang ketakutan. Julia menatap Felix yang tampak sangat tenang itu, dan ia merasa kali ini Felix terlalu
Suara puas itu terdengar nyaring memenuhi ruangan itu. Maya duduk di pangkuan Nando, tubuhnya bergerak dengan begitu lincah mengobrak abrik milik Nando yang tengah memenuhi dirinya. Nando juga tak kalah puas, ia cengkram pinggang ramping itu dan ia tahan sejenak ketika Gerakan naik turun Maya s
“Hiks!” Julia sangat syok dengan apa yang ia lihat saat itu. Yang bersama suaminya adalah Maya. Wanita yang selama ini ia sudah anggap seperti adik sendiri, dari seorang pembantu di rumah keluarga Lesmana dan ia kuliahkan hingga mendapat posisi bagus di Perusahaan saat ini. Mereka justru main g
“Kenapa? Nangis lagi kamu?”Mama Rosa mengomel lagi pada menantunya yang baru saja cek kehamilan dengan testpack. Bahkan hasil itu masih di tangan dan mereka tak ada yang mau melihat sama sekali karena tahu hasilnya pasti negatif lagi.Julia terdiam dengan tubuh membatu saat ini. Rasanya sakit, kar







