مشاركة

179 - Koma

مؤلف: Siez
last update تاريخ النشر: 2026-08-19 12:00:16

Ambulans yang membawa Azalea melaju membelah kabut dan hujan Puncak dengan kecepatan 100 km/jam, sirinenya meraung memecah kesunyian kebun teh yang gelap.

Di dalam ambulans yang sempit dan berguncang itu, suasana tidak seperti di cerita sebelumnya. Tidak ada pelukan lega. Tidak ada lamaran romantis.

Yang ada hanya kepanikan.

Azalea terbaring di atas brankar, selang oksigen menempel di hidungnya, infus menetes sangat cepat.

“Tekanan darah 80/50! Nadi 120! Pasi

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Ceraikan Aku, Mas!   181 - Pada Hari Ke 3

    Garis lurus itu, berkedut sedikit.Monitor yang tadi garis lurus, kembali naik turun. Pelan. Sangat pelan. Tapi naik turun.TIT... TIT... TIT...Tangis perawat pecah, “Kembali! Nadi kembali!”Tirai dibuka.Dokter jaga keluar dengan wajah penuh keringat, menatap Arsen yang masih terduduk di lantai seperti orang hilang.“Dok...” katanya pelan, “Jantungnya kembali... Azalea kembali... dia... dia selamat dari henti jantung... tapi dia kembali koma... kondisinya sangat kritis... kita harus tunggu lagi...”Arsen merangkak masuk ke dalam, melihat Azalea yang kembali terbaring pucat, dengan bekas alat kejut jantung yang merah di dada kirinya, di dekat perban luka tusuknya.Ia menggenggam tangan Azalea lagi, yang dingin lagi, menempelkan keningnya, menangis sejadi-jadinya tanpa suara.“Zel... jangan pergi... jangan tinggalin Mas... Mas mohon, Zel... jangan...”*

  • Ceraikan Aku, Mas!   180 - Kritis

    “Ya. Karena kehilangan banyak darah, otaknya kekurangan oksigen beberapa menit di villa dan di ambulans. Dan karena trauma berat di kepala saat ia terjatuh tadi. Otaknya butuh istirahat. Kami sudah beri obat terbaik. Sekarang kita hanya bisa menunggu. Azalea dalam keadaan kritis dan koma. 24 sampai 48 jam ke depan adalah masa penentuan.”Arsen tidak menjawab. Ia hanya berjalan masuk ke ruang ICU, melihat Azalea.Azalea terbaring di ranjang ICU. Wajahnya pucat seperti lilin. Selang oksigen besar terpasang, selang dari hidung, infus di dua tangan, selang darah masih menetes, dan di samping kirinya, ada selang besar dari dada kirinya yang mengalirkan darah sisa ke dalam botol.Monitor jantung berbunyi pelan,tit... tit... tit...Perban tebal membalut dada kiri dan pergelangan tangan kanannya.Ia terlihat sangat kecil, sangat rapuh, sangat jauh.Arsen duduk di sampingnya, menggenggam tangan kiri Azalea yang dingin, yang

  • Ceraikan Aku, Mas!   179 - Koma

    Ambulans yang membawa Azalea melaju membelah kabut dan hujan Puncak dengan kecepatan 100 km/jam, sirinenya meraung memecah kesunyian kebun teh yang gelap.Di dalam ambulans yang sempit dan berguncang itu, suasana tidak seperti di cerita sebelumnya. Tidak ada pelukan lega. Tidak ada lamaran romantis.Yang ada hanya kepanikan.Azalea terbaring di atas brankar, selang oksigen menempel di hidungnya, infus menetes sangat cepat.“Tekanan darah 80/50! Nadi 120! Pasien syok hipovolemik!” teriak perawat di dalam ambulans.Arsen yang duduk di samping brankar, dengan baju penuh darah Azalea, tidak lagi menjadi calon suami yang romantis. Ia kembali menjadi Dokter Arsen.Tangannya yang tadi gemetar memeluk Azalea, sekarang bekerja sangat cepat dan profesional, menekan luka di pergelangan tangan Azalea dengan kasa steril.“Zel! Azalea! Buka matanya! Jangan tidur! Lihat Mas! Lihat Mas!”Tapi Azalea tidak menjawab. Mata

  • Ceraikan Aku, Mas!   178 - Jangan Tinggalkan Mas!

    Suara Arsen. Tapi bukan Arsen yang Azalea kenal. Bukan suara Dokter Arsen yang tenang, yang biasanya bilang "tarik napas, Zel, pelan-pelan" waktu Azalea panik. Bukan suara Mas Arsen yang jahil sambil nyuapin Azalea bubur karena Azalea malas makan.Ini suara yang pecah menjadi seribu keping. Serak, parau karena tiga hari tidak tidur, karena berteriak memanggil nama Azalea di setiap sudut kebun teh. Marah. Ketakutan. Putus asa. Semua jadi satu.DOR! BRAK!Pintu itu jebol untuk kedua kalinya, engselnya patah. Kayu-kayu lapuknya beterbangan.Arsen berlari masuk pertama.Polisi di belakangnya bahkan belum sempat teriak "jangan masuk dulu, Dok!"Di lantai, yang mereka lihat membuat seluruh dunia Arsen berhenti berputar.Azalea.Perempuan yang sebentar lagi akan ia nikahi dengan kebaya putih sederhana itu, tergeletak di lantai kayu yang dingin. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat pasi seperti kertas, bibirnya pecah-pecah. Pergelangan

  • Ceraikan Aku, Mas!   177 - BARA GILA!

    Darah itu menetes.Satu tetes jatuh ke lantai kayu villa yang sudah lapuk. Tetes kedua menyusul, lebih cepat. Tetes ketiga meleleh di pergelangan tangan Azalea sendiri yang pucat dan gemetar.Pisau lipat kecil itu - pisau yang ia curi dari dapur villa sore tadi - terasa licin di genggamannya.Itu satu-satunya rencana yang ia punya.Azalea mengangkat pergelangan tangannya yang berdarah itu tinggi-tinggi, menunjukkan pada satu-satunya orang lain di dalam villa terkunci ini."Bara... lihat... lihat ini! Aku beneran bakal lakuin! Buka pintunya! BUKA PINTUNYA, BARA! BIARIN AKU PERGI!"Suaranya parau. Tenggorokannya sudah kering karena berjam-jam menangis dan berteriak di tengah kebun teh yang sepi itu. Tidak ada yang mendengar. Tidak ada apa-apa selain kabut dan pohon teh sejauh mata memandang.Ia menatap Bara dengan sisa harapan paling naif. Ia pikir, Bara yang dulu - Bara yang panik kalau Azalea sakit flu, Bara yang pucat kalau Azalea mi

  • Ceraikan Aku, Mas!   176 - Mencoba Bund*r

    Jam 17.30. Langit Puncak sudah hampir gelap, kabut turun begitu tebal sampai jarak 5 meter pun tidak terlihat.Sekarang Arsen dan para polisi sudah ketemu petunjuk. Seorang petani kebun teh yang pulang dari ladang melihat Avanza hitam masuk ke jalur Villa Bukit Teh Asri siang tadi. Ia ingat karena mobil itu hampir menabrak gerobak tehnya.Tanpa menunggu, Arsen dan 6 anggota polisi dengan 2 mobil patroli tanpa sirine langsung menggerebek villa tempat Bara berada.Arsen yang pertama kali turun, berlari dengan napas terengah-engah, sepatunya penuh lumpur.“AZALEA! ZEL! KAMU DI DALAM?” teriaknya sambil menggedor pintu kayu villa yang pertama.DOR! DOR!Polisi mendobrak pintu.Kosong. Hanya ada kasur berdebu dan sarang laba-laba.Villa kedua, didobrak lagi. Kosong.Villa ketiga, keempat, kelima. Semua kosong.Sampai di villa keenam, villa kayu yang paling ujung, yang paling terisolir, yang pintunya digembok da

  • Ceraikan Aku, Mas!   3 - Bukan Rumahku Lagi

    Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot

  • Ceraikan Aku, Mas!   2 - Talak Pertama

    Bara tidak menjawab. Ia membuang muka, menatap ke arah lain. Rahangnya mengeras.Yang menjawab justru suara lain dari belakang rombongan. Suara yang lebih melengking, lebih tua, dan lebih menyakitkan dari apa pun."Ngapain kamu ke sini, Azalea? Mau bikin malu keluarga kami, ya?"Bu Ratna. Ibu mertu

  • Ceraikan Aku, Mas!   1 - Ijab Kabul

    Jam pada telepon genggam Azalea Maharani menunjukkan pukul 14.27 WIB ketika pesan itu masuk. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal, tanpa nama kontak, hanya deretan angka asing yang tiba-tiba mengusik ketenangannya.*Mbak Azalea, maaf mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini suami Mb

  • Ceraikan Aku, Mas!   6 - Fitnah Bu Ratna

    "Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status