LOGINArsen berdiri di depan ruang tunggu ICU. Kantong kertas berisi kopi dan roti masih di tangan kanannya. Matanya menatap Azalea lekat.
“Zel, pulang sekarang. Tim kamu sudah standby. Live jam tujuh,” kata Arsen, suaranya tenang tetapi tegas. “Biar aku yang di sini. Kamu pasti sudah lelah banget dari pagi.”
Bara mendongak. Napasnya memburu. “Nggak usah! Azalea temani saya! Ibuku belum sadar!”
Azalea menatap Bara, lalu menatap Arsen. Ia mena
Bu Lily duduk tegak. Gamis abu-abu, kerudung instan krem, tas kainPanti Asuhan Kasih Ibu di pangkuan. Tangannya sedikit gemetar. Sudah 1 tahun ia tidak melihat Keyna. Anak panti yang dulu selalu memanggilnya “Mama Lily”.Pintu besi berderit. Petugas membawa Keyna masuk untuk menemui Bu Lily.Bu Lily langsung berdiri. Napasnya tercekat.Keyna kurus. Sangat kurus. Tulang pipinya menonjol, mata cekung, kulit pucat. Rambutnya dipotong pendek sebahu, kusut.Dress tahanan biru muda kebesaran di tubuhnya. Dan perutnya… sudah besar. 6 bulan, mungkin 7. Lebih mirip wanita yang sedang busung lapar dibandingkan dengan wanita hamil.“Keyna…” bisik Bu Lily.Keyna menunduk. Langkahnya pelan, diseret. Begitu jaraknya tinggal dua meter, Bu Lily maju, merentangkan tangan, memeluk Keyna erat.Tubuh Keyna kaku sesaat. Lalu pecah. Ia meraung, memeluk Bu Lily balik. Bahunya berguncang. &ldq
Rahang Arsen mengeras. “Kenapa, Bu?”Sebenarnya Arsen malas membahas masalah Vanessa yang dianggapnya tak penting itu. Masa lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam. Buat apa juga dibicarakan dengan ibunya?“Tadi siang dia ketemu ibu lagi sewaktu ibu mau rapat,” cerita Bu Lily. “Dia minta maaf ke Ibu. Katanya khilaf dengan semua ucapannya di lobi rumah sakit.”Arsen diam.“Terus dia cerita,” lanjut Bu Lily, “Dia itu mantan kamu.""Iya. Memang dia mantan aku. 9 tahun lalu lah, Bu.""Hmm ... ibu ingat koq. 9 tahun lalu kamu agak depresi. Cuma ibu belum dikenalkan dengan siapa kamu sedang berhubungan.""Namanya juga cinta monyet. Kalau sudah dibawa ke ibu, artinya aku sudah mau menikah dengan dia dong, Bu.""Benar juga sih." Bu Lily menganggukkan kepalanya."Memangnya dia cerita apa, Bu?""Katanya dia mau balikan sama kamu dan kamu juga mau. Cinta lama bersemi k
Arsen pun diundang makan oleh Bu Lily ke rumah. Rasanya sudah lama mereka tak makan bersama. Apalagi alasannya kalau bukan Arsen yang super sibuk. Setelah selesai makan, Bu Lily mengelap bibir dengan serbet. “Temani Ibu di teras ya. Anget-anget minum teh.”Arsen mengangguk. Ia bawa dua cangkir teh ke teras belakang. Lampunya temaram. Kursi rotan, bantalvintage. Tempat favorit Bu Lily kalau mau bicara dari hati ke hati.Mereka duduk. Hening sebentar.Bu Lily yang buka suara. “Sen.”“Iya, Bu?”“Ibu mau tanya langsung. Gimana perasaan kamu ke Azalea?”Arsen terdiam. Tangan yang memegang cangkir berhenti di udara. Pertanyaan itu to the point. Khas ibunya.Ia menaruh cangkir. Menatap ibunya lurus. “Aku cinta sama dia, Bu. Cinta banget.”Tidak ada ragu. Tidak adatapi.Bu Lily mengangguk pelan. Tidak kaget. Seperti sudah duga. “Sejak
Ruang Direktur rumah sakit.Pintu tertutup rapat. Di dalam, Dokter Vanessa duduk tegak di kursi tamu. Blazer putihnya masih rapi, tapi jarinya mengetuk-ngetuk meja pelan. Gelisah karena perbuatannya sendiri dan tidak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya nantinya.Di seberangnya, Direktur Medis, Dr. Hendra, membukamap biru. “Vanessa, saya panggil kamu terkait penghinaan yang kamu lakukan terhadap Bu Lily.”Vanessa terdiam."Sebagai dokter, seharusnya kamu tidak boleh berkata kasar kepada siapa pun. Apalagi yang berada di sekitaran rumah sakit." tegas dokter Hendra."Maaf, Dok. Sa-saya ...""Hal ini juga berlaku untuk semua orang. Mau pakaian seperti apapun, penampilan sesederhana apapun, kamu tidak berhak menghina orang dan berakhir dengan mempermalukan rumah sakit."Vanessa tertunduk. Ia tahu kalau dirinya salah dan apalagi kesalahanny
“Kaum bawah?” ulang Azalea. Ia melangkah maju, berdiri di depan Bu Lily, menghalangi. “Saya memang jualan sambal, Dok. Tapi saya nggak pernah hina orang tua. Ibu ini yang bayarin sekolah banyak anak yatim piatu. Ibu ini yang gratiskan biaya RS buat pasien nggak mampu. Sementara kamu ... ”Suara Azalea bergetar di akhir kalimat. Bu Lily memegang lengan Azalea, menenangkan. “Sudah, Nak. Nggak apa-apa.”Vanessa melipat tangan. “Drama. Terus? Mau bilang ibu ini malaikat? Lihat bajunya. Ketua yayasan nggak mungkin miskin, Mbak Sambel. Jangan dibodohi.”“Saya nggak dibodohi,” balas Azalea. Suaranya naik. “Justru Dokter yang bodoh. Dokter pikir orang kaya harus hedon? Ibu Lily ini sengaja hidup sederhana. Uangnya buat panti. Buat beasiswa. Buat ambulans gratis. Dokter tahu nggak ambulans yang antar pasien kecelakaan kemarin itu punya yayasan? Yang Dokter pakai buat rujuk pasien?”Vanessa ter
Azalea hanya bisa tersenyum tipis dengan pertanyaan dari Arsen. Dia bahkan tidak tahu hatinya sekarang bagaimana. Yang pasti, wanita itu sudah sangat berusaha untuk tak memikirkan masa lalunya dengan Bara yang sangat kelam.Mencoba move on? Terdengar mudah, tapi dilakukannya sulit."Doakan saja yang terbaik untuk aku, Mas. Semoga aku bisa selesai dengan masa lalu aku." tukas Azalea pelan."Tentu saja. Aku tunggu sampai kamu selesai ... dan jangan jadikan aku urutan terakhir ya untuk mengantri kalau kamu sudah buka hati.""Haha ..." Azalea hanya bisa tertawa terbahak-bahak mendengar gurauan dari Arsen.Gurauan yang sebenarnya adalah permintaan jujur dari Arsen untuk Azalea. Sayangnya, Azalea belum bisa membuka hatinya untuk Arsen. Ya, mungkin celah kecil sudah ada, tapi belum dibuka lebar saja.*Rumah sakit.Azalea baru selesai menurunkan 5 dus Sambal Bunda ke kantin rumah sakit. Pesanan rutin mingguan. Rambut sebah
"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur
Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi
Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante
Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot







