Saat Kavaya berkedip sekali, orang yang ada di bawah itu sudah hilang, tak ada lagi di tempatnya tadi. Kavaya keluar dari kamarnya ke balkon dan celingukan mencari orang yang tengah mengawasinya tadi. Tapi meskipun Kavaya mencarinya, dia tak menemukan orang itu di mana-mana.
"Dia pergi ke mana?"
Kavaya segera kembali masuk ke dalam kamarnya dan menutup jendela kamarnya. Dia juga langsung mengunci jendela kamarnya dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Nggak mungkin, kan, dia ngikutin aku dari gudang tadi? Dia jahat apa, ya? Apa ada hubungannya dengan orang yang aku temuin tadi di gudang itu?" batin Kavaya.
Kavaya menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir semua pikiran buruk dari otaknya. Dia memutuskan untuk segera membersihkan dirinya karena bajunya sudah semakin bau. Berhubung dua siluman betina itu pergi, Kavaya bisa mengambil makanan sepuasnya saat ini tanpa takut dimaki dan dimarahi.
Kavaya bukan tak ingin melawan, hanya saja dia terkadang sudah tak ingin ada keributan di rumah ini karena dia sudah lelah dengan kuliahnya dan semua tugas akhirnya.
Ya, tak ada yang tahu jika Kavaya saat ini sedang menyelesaikan kuliahnya dan menyiapkan hari kelulusannya. Bahkan sang mama yang telah tiada pun tak tahu jika dia kuliah karena yang mereka tahu, Kavaya adalah gadis tengil dan bar-bar yang tak bisa diatur.
Sementara itu, di kantor King, nampak suasana sangat tak bersahabat karena ternyata sang papa malah tak nampak ada di kantor itu.
"Leo, apa kamu yakin jika Papa memintaku kemari?" tanya King datar.
Leo mengangguk gagap. Dia mencoba menghubungi papanya yang menjadi asisten papanya King, tapi tak kunjung mendapat jawaban. Dan bertepatan saat kesabaran King sudah menipis, pintu ruangan kantor King terbuka dari luar.
Ceklek...
Mata King menajam saat melihat siapa yang datang, tapi pada saat King mengeluarkan makiannya, ada seorang lagi yang menyembulkan kepalanya dari balik pundak orang yang pertama masuk tadi. Sedangkan King menelan kembali kata-kata yang akan dikeluarkannya. Orang yang tadi pertama masuk tersenyum penuh kemenangan pada King.
"Ayolah, King, jangan marah seperti ini. Papa hanya terlambat sebentar karena mamamu ingin pergi ke suatu tempat."
Kata-kata Axel membuat King menaikkan sebelah alisnya, karena tak biasanya papanya itu akan langsung mengajak Moa, mamanya, pergi ke kantor jika mereka habis bepergian. Dia akan mengurung mamanya kembali di kamar dan mansion agar King tak bisa menemui mamanya sendiri. Dan memang seperti itulah posesifnya seorang Axel Xafiero pada pasangannya sekaligus anak mereka.
"Mama sama Papa dari mana?"
Akhirnya hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulut King karena tak mungkin dia memaki papanya di depan mamanya.
Axel memberi kode pada Pedro dan Leo agar meninggalkan mereka bertiga di ruangan itu. Pedro serta Leo yang mengerti kode itu langsung pamit pergi dari sana.
King yang melihat gerak-gerik papanya menaikkan sebelah alisnya curiga.
"Kenapa Papa nyuruh mereka keluar?"
Axel masih melihat keadaan di sekeliling mereka dan memastikan jika tak ada orang yang menguping pembicaraan mereka.
"Mama dan Papa sudah menemukan jodoh yang tepat buat kamu dan kami sudah memastikan jika dia orang yang cocok untuk kamu. Kami tidak menerima penolakan yang ini karena jelas jika kamu menolaknya, kamu akan berurusan dengan wanita berkedok hantu itu."
King dan Axel melongo mendengar perkataan Moa yang berada di akhir kalimatnya itu. King dan Axel saling pandang dan setelahnya mereka tertawa terbahak-bahak yang membuat Moa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Apa yang kalian tertawakan?" tanya Moa lagi.
"Mama tadi nggak salah, kan, ya, nyebut cewek tadi hantu?"
Moa mengedikkan bahunya acuh, tapi setelahnya dia menatap King dengan wajah serius. Sedangkan King juga melihat mamanya dengan tak kalah datarnya.
"Tapi, Ma, kenapa tiba-tiba mencarikan aku jodoh, sedangkan Mama tahu aku tak mau dijodohkan. Apalagi saudara tiri Papa itu terlalu lancang ikut mengurusi kehidupan King selama ini. Apa selama ini karena King terlalu berdiam diri sampai mereka ngelunjak dan tak tahu batasan?"
Axel mengembuskan napasnya panjang dan menengadahkan kepalanya ke atas karena dia tak menyangka jika anak yang dulu dibawa ayahnya masuk ke dalam keluarganya malah akan jadi bumerang setelah ayahnya tiada. Dia menikah dengan wanita yang gila harta tanpa tahu sejatinya siapa keluarga Xafiero yang sebenarnya.
Axel sendiri yang meminta sang ayah untuk tetap merahasiakan jati diri mereka dari orang luar dan yang mereka tahu jika Xafiero hanya pemimpin seluruh perusahaan yang ada di negara itu.
Mereka tak pernah tahu pekerjaan lain yang ada di dunia bawah yang jelas akan membuat mereka tak akan bisa berkutik jika tahu itu.
"Mama nggak mau jika kamu terus di pojokkan dan kamu lepas kendali karena sudah jelas kamu akan meledakkan semua mansion nantinya. Jadi sebelum kamu melakukan itu, Mama akan mencegahnya terlebih dahulu. Biar Mama nggak tiap hari migrain karena ulah kamu dan papamu!"
Axel dan King meringis mendengar omelan Moa yang menyangkut mereka berdua. Dan King sendiri langsung memijat keningnya kasar karena baru tadi pagi dia berjanji pada seorang wanita, tapi sekarang mamanya mencarikannya wanita untuk menjadi pendampingnya. Apa yang akan dia lakukan untuk ini, King bahkan tak bisa menemukan jalan penyelesaiannya.
"Biarkan King bertemu dengannya dan jika King cocok, King akan ikuti kata Mama dan Papa tanpa bantahan, tapi jika King tak cocok, King akan mencarinya sendiri. Atau kalau saudara Papa masih kurang ajar, jangan salahkan King jika King langsung melubangi kepalanya dengan peluru milik King!" putus King.
Prok!
"Wahhh, Mama suka jawaban kamu dan Mama pastikan kalau kamu nggak akan menolak pilihan Mama dan Papa. Ingat, King, nggak ada orang tua yang akan menjerumuskan putranya."
Moa sedikit memberi nasihat pada putra semata wayangnya itu dan King mengangguk karena dia tahu apa yang dikatakan sang mama itu benar.
Kingstone Xafier, seorang pengusaha muda terkenal dan sukses, tapi juga pemimpin dunia bawah yang banyak ditakuti. Tapi banyak juga yang mengincar nyawanya karena ingin menggeser kedudukan King yang tak tergoyahkan. King sendiri mendapatkan kursi penguasa itu juga tak mudah karena awalnya dia yang dipilih untuk mewarisi takhta papanya, tapi banyak yang tak terima sampai Axel harus membuat sayembara dengan acara berduel hidup dan mati.
Moa awalnya juga menolak keras hal itu, tapi King sendiri yang memilih untuk menyanggupi apa yang menjadi syarat oleh semua orang agar King bisa menjadi pengganti papanya. Axel hanya tersenyum melihat kemampuan King yang diremehkan karena dia percaya jika putranya bisa melakukan itu semua.
Dan benar saja, saat sayembara hidup dan mati itu dimulai, banyak sekali yang tumbang dan dalam satu hari semua orang yang menentang King bisa dihabisi semua oleh King.
King membuktikannya jika dia mampu jadi bukan karena nama besar yang disandangnya, meskipun dia harus menerima banyak luka dan koma selama seminggu setelah dia dinobatkan menjadi penguasa selanjutnya. Meskipun begitu, masih banyak bermunculan orang-orang yang tak suka dengan King karena dia memutuskan jika identitasnya sebagai penguasa dunia bawah harus disembunyikan.
Setelah banyak berbincang dengan kedua orang tuanya, akhirnya Moa serta Axel pamit pulang karena Axel dan Moa akan pergi ke luar negeri untuk menghadiri jamuan makan dari sahabatnya yang ada di sana.
Leo masuk membawa sebuah flashdisk yang membuat King penasaran dengan apa yang ada di dalam flashdisk itu.
"Apa yang kamu bawa?"
Leo bahkan belum sempat melapor, tapi King sudah bertanya lebih dahulu kepadanya.
"Apa yang tadi pagi kamu minta, Bos, dan aku mendapatkan informasi jika tadi pagi setelah gadis itu kembali ke rumahnya, dia mendapat tamparan dari ibu tirinya," lapor Leo.
Rahang King langsung mengeras, bahkan tatapan milik King semakin tajam. Leo yang melihat itu langsung meneguk ludahnya kasar.
"Semoga tak akan ada puting beliung atau angin ribut setelah ini!" batin Leo.
King langsung melihat isi flashdisk itu yang berisi semua informasi tentang gadis yang menyelamatkannya tadi pagi. Di sana dia melihat ada saudara tirinya yang ternyata baru saja dinobatkan menjadi model terbaik sebuah agensi yang berada di bawah naungan anak perusahaannya.
"KAVAYA ATHENA LAVENDER, nama yang cantik, secantik orangnya," gumam King.
Leo yang mendengar bosnya barusan memuji gadis itu mengorek telinganya kalau-kalau dia salah mendengar atau telinganya yang bermasalah. Tapi ternyata tak ada yang bermasalah, apalagi dia melihat mata berbinar milik King yang melihat semua foto Kavaya yang tadi Leo dapat.
King nampak mengagumi siapa Kavaya yang diam-diam mampu menyelesaikan kuliahnya meskipun keluarganya sudah berantakan.
"Leo, berikan saudara tiri Kavaya pekerjaan yang akan membuatnya naik, begitu juga ibu tirinya yang sialan itu. Biarkan mereka bersenang-senang dulu menikmati indahnya dunia, baru setelahnya aku yang akan membalas apa yang sudah mereka lakukan pada gadisku!"
Leo merinding mendengar itu. Ditambah jika King sudah mengklaim Kavaya menjadi gadisnya, sudah bisa dipastikan tak akan ada yang lolos untuk mereka yang berani menyentuh Kavaya, meskipun sehelai rambut gadis itu.
"Dan satu lagi, buat kelulusan gadisku lebih mudah, jangan dipersulit agar dia lebih bahagia," ucap King lagi.
Tapi kali ini Leo tak setuju dengan apa yang diperintahkan oleh King kepadanya.
"King..." panggil Leo yang membuat King mendongakkan kepalanya.
King mengerutkan keningnya karena Leo berani memanggilnya dengan langsung namanya. Tapi Leo yang ditatap tajam pun tak gentar karena saat ini dia bertindak sebagai sahabat King, bukan sebagai bawahan King.
"Jangan lakukan apa yang kamu katakan di akhir itu atau kamu akan kehilangan perempuan itu selamanya."
King mengerutkan keningnya bingung. "Apa maksudmu?"
King sungguh tak mengerti apa yang dikatakan oleh Leo kali ini.
"Aku lihat Kavaya adalah gadis yang mandiri dan juga tangguh. Jika kamu melakukannya, kamu akan merusak harga dirinya dan dia jelas akan membencimu. Daripada kamu melakukan itu, cukup jaga dia dari kejauhan dan bantu dia kalau memang dia kesusahan karena dengan begitu dia tak akan terluka harga dirinya sebagai seorang gadis mandiri. Ingat, King, umurnya juga masih muda, pikiran dia masih akan dibalut dengan ego. Ini hanya saran seorang sahabat, bukan saran dari bawahan ke atasan," ucap Leo santai.
King nampak terdiam mendengar perkataan Leo dan pada akhirnya, setelah dia memikirkan matang-matang apa yang dikatakan oleh Leo itu, akhirnya dia mengangguk setuju dengan apa yang menjadi masukan dari Leo.
"King, ada satu hal lagi yang harus kamu tahu."
King kembali menaikkan satu alisnya, menunggu Leo melanjutkan kalimatnya itu.
"Ibu tiri dan saudara tirinya itu merencanakan pembunuhan pada Kavaya dan aku mendapatkan info itu sesaat setelah info yang ada di flashdisk itu masuk," terang Leo.
Mata King membola sempurna seperti terlihat akan keluar dari tempatnya.
Brakkkkk...
"Apa katamu? Apa yang mereka rencanakan?" teriak King keras.
Bahkan Leo harus menarik napas panjang untuk menetralkan rasa terkejutnya meskipun tadi dia sudah bersiap. Tapi mendengar suara King yang menggelegar itu tetap saja dia terkejut.
"Aku belum mengetahui semuanya. Setelah ini aku akan mencari tahunya lebih dalam lagi. Di dalam flashdisk itu ada data tambahan, King, yang jelas akan membuat kamu lebih terkejut nantinya."
King menjambak rambutnya kesal karena ternyata banyak hal yang mengejutkan dari Kavaya yang sudah diklaim menjadi gadisnya itu.
"Aku akan menyelesaikannya sekarang agar aku bisa mengambil keputusan apa yang akan aku gunakan untuk melindunginya nanti!"
Leo menggeleng. "Sayangnya nggak bisa, Bos. Kita harus segera pergi karena ada transaksi senjata yang kamu pesan dan mereka memintamu untuk datang sendiri ke sana memeriksa semua senjatanya. Mereka tidak ingin membuat kamu kecewa jika ada senjata mereka yang bermasalah setelah masuk ke gudang nantinya."
King sudah mendesis kesal, tapi tak urung dia juga beranjak dari kursi kerjanya dan menyimpan flashdisk itu di brankas miliknya. Dia tak ingin ada yang lancang melihatnya, meskipun akan ada yang berani atau mereka akan kehilangan tangannya saat itu juga.
"Kita berangkat sekarang, tapi selalu pantau gadisku dan berikan aku semua informasi soal dia setiap detiknya. Jika perlu, tambah orang untuk mengawasinya!!!"
Kali ini perintah yang ini mutlak dan tak bisa diganggu gugat. Meskipun Leo ragu jika ini keputusan yang benar atau salah karena mereka juga belum tahu keadaan terbaru Kavaya saat ini.
To be continued...