Share

BAB 4

last update publish date: 2026-04-24 03:14:07

“Brian belum bayar SPP tiga bulan.”

Suara bendahara kelas itu nggak keras.

Tapi cukup bikin satu kelas mendadak sunyi beberapa detik.

Brian yang baru masuk kelas langsung berhenti di dekat pintu.

Tangannya masih memegang helm lusuh.

Beberapa kepala mulai menoleh.

“Siapa aja emang?” tanya seseorang pelan.

Bendahara kelas membuka buku catatan.

“Brian. Sama dua anak kelas sebelah.”

Hendra langsung melirik ke belakang.

“Woi, Bri… lu diburu negara ternyata.”

Beberapa anak ketawa kecil.

Nggak jahat.

Tapi tetap aja bikin tengkuk Brian terasa panas.

Cowok itu berjalan ke bangkunya tanpa bicara apa-apa.

Tasnya diletakkan pelan.

Kursi berdecit kecil saat ia duduk di pojok belakang dekat jendela.

Tempat paling aman buat nggak dilihat orang.

Atau setidaknya…

itu yang selalu Brian pikirkan.

“Brian.”

Wali kelas masuk sambil membawa map.

“Nanti ke ruang administrasi ya.”

Brian mengangguk kecil.

“Iya, Bu.”

Nggak ada alasan.

Nggak ada pembelaan.

Karena memang belum bayar.

Dan itu fakta.

Di depan kelas, Fanya diam-diam melirik ke belakang.

Tatapannya berhenti sesaat pada Brian yang sedang menunduk membuka buku.

Entah kenapa…

cowok itu selalu terlihat seperti sedang menanggung sesuatu sendirian.

Pelajaran matematika dimulai.

Suara kapur menulis di papan memenuhi kelas.

Sebagian siswa mulai bosan.

Ada yang main game diam-diam di bawah meja. Ada yang tidur setengah sadar.

Dan seperti biasa

Brian duduk tenang di bangku belakang.

Tapi fokusnya bukan ke papan tulis.

Melainkan ke satu orang di depan sana.

Fanya.

Cewek itu sedang menopang dagu sambil menulis sesuatu di bukunya. Sesekali rambutnya jatuh menutupi pipi lalu disibakkan perlahan.

Sinar matahari pagi mengenai sisi wajahnya dari jendela.

Brian diam memandang beberapa detik terlalu lama.

Sampai…

“Brian!”

Suara guru matematika menggelegar.

Satu kelas langsung menoleh.

Brian refleks berdiri.

“I-iya, Pak?”

“Kalau saya jelasin jangan bengong!”

Beberapa anak langsung cekikikan.

Dodit sampai nepuk meja sambil ketawa.

“Kena lu.”

Guru matematika menyilangkan tangan.

“Coba kerjakan nomor tiga di papan.”

Beberapa siswa langsung berbisik kecil.

“Wah mampus.”

“Dia kan sering tidur.”

Brian berjalan maju dengan langkah tenang meski sebenarnya malu setengah mati.

Spidol hitam diambil pelan.

Lalu…

baru beberapa menit

kelas mulai sunyi.

Satu per satu siswa memperhatikan papan tulis.

Guru matematika yang tadi galak pun ikut diam.

Brian menyelesaikan soal panjang itu tanpa melihat buku sama sekali.

Tulisan tangannya rapi.

Cara menghitungnya cepat.

Dan jawabannya benar.

“…”

Suasana kelas mendadak aneh.

Hendra melongo.

“Anjir…”

Bahkan Clinton yang duduk dekat jendela ikut mengangkat alis.

Guru matematika berdeham kecil.

“Ya… benar.”

Brian langsung mengembalikan spidol lalu kembali ke bangkunya tanpa ekspresi.

Seolah itu bukan hal besar.

Padahal setengah kelas baru sadar

cowok pendiam di bangku belakang itu ternyata nggak sebiasa yang mereka kira.

Fanya masih melihat ke arah Brian cukup lama.

Dan untuk pertama kalinya…

ia merasa penasaran.

Jam istirahat kedua.

Kelas mulai ramai lagi.

Marni sibuk makan ciki sambil cerita drama TikTok.

Hani mendekat ke meja Fanya.

“Fan.”

“Hm?”

“Lu sadar nggak sih?”

“Sadar apa?”

“Itu Brian kayak sering ngeliatin lu.”

Fanya spontan menoleh ke belakang.

Tapi Brian kebetulan sedang tidur di meja.

Hani nyengir.

“Nah tuh.”

“Ngaco.”

“Serius.”

Marni ikut nimbrung, “Gue juga pernah lihat.”

Fanya mengernyit kecil.

“Perasaan kalian aja kali.”

Tapi beberapa detik kemudian…

ia kembali melirik ke belakang tanpa sadar.

Brian masih tidur dengan kepala bertumpu di lengan.

Wajahnya keliatan capek banget.

Ada bekas tinta hitam di jarinya.

Dan entah kenapa…

cowok itu terlihat lebih menyedihkan daripada malas.

“Dia kerja ya?” tanya Fanya tiba-tiba.

Hani mengangguk.

“Katanya tiap malam.”

“Pantes tidur terus.”

Marni menurunkan nada suaranya.

“Denger-denger ibunya sakit.”

Fanya diam.

Matanya kembali tertuju ke Brian.

Ada sesuatu di cowok itu yang sulit dijelaskan.

Dia nggak berusaha cari perhatian.

Nggak ikut nongkrong.

Nggak sok keren seperti kebanyakan cowok lain.

Tapi justru karena itu…

Brian terasa berbeda.

Sore hari.

Hujan turun deras saat sekolah bubar.

Siswa-siswa ramai berteduh di depan lobby.

“Yahh hujan.”

“Mana gue nggak bawa jaket.”

Di depan gerbang, mobil jemputan Fanya sudah datang.

Sopir membuka payung besar.

“Non, mari.”

Fanya baru mau melangkah saat matanya menangkap sesuatu di parkiran.

Brian.

Cowok itu sedang jongkok di dekat motor tuanya sambil mencoba menyalakan mesin.

Breng…

Breng…

Breng…

Motor itu nggak mau hidup.

Hujan makin deras.

Seragam Brian mulai basah.

Beberapa siswa melewatinya begitu saja.

Ada yang bahkan ketawa kecil melihat motor tuanya mogok.

“Kasihan amat.”

“Rongsokan dibawa sekolah.”

Brian tetap diam sambil terus mencoba menyalakan motornya.

Tangannya sampai kotor kena oli.

Fanya memperhatikan dari jauh.

Entah kenapa dadanya terasa nggak nyaman.

“Non?” panggil sopir bingung.

Fanya masih diam.

Matanya nggak lepas dari Brian.

Lalu tiba-tiba

suara petir besar menggelegar.

Dan di saat bersamaan…

Brian mendadak jatuh terduduk ke aspal parkiran sambil memegangi dadanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Abu-Abu   BAB 9

    “Fanya suka cowok kayak gimana sih?” Pertanyaan itu langsung bikin satu meja kantin heboh. “NAH TUH!” Hani menunjuk Marni. “Gue juga penasaran!” Fanya yang lagi minum es teh hampir tersedak. “Kalian nggak ada kerjaan lain?” “Nggak.” Jawaban Hani terlalu cepat sampai Marni ngakak. Jam istirahat siang itu kantin lagi penuh banget. Suara sendok beradu, teriakan abang bakso, sampai suara siswa yang saling panggil bercampur jadi satu. Di meja dekat jendela, Fanya duduk diapit Hani dan Marni yang lagi mode kepo akut. “Ayo jawab,” paksa Marni sambil menopang dagu. “Biar kita bisa nilai cowok-cowok sekolah ini punya harapan apa nggak.” Fanya memutar sedotan pelan. “Kenapa jadi serius begini…” “Soalnya sejak lu masuk sekolah,” kata Hani sambil mencondongkan badan, “anak-anak cowok jadi makin rajin.” Marni langsung nimbrung. “Bahkan Aldi yang biasanya bau ketek sekarang pake parfum.” Mereka bertiga langsung ketawa. Fanya menggeleng geli. “Kalian parah.” “Tapi serius, Fan,” la

  • Cinta Abu-Abu   BAB 8

    “Lu suka sama Fanya?” Pertanyaan itu keluar begitu aja dari mulut Dodit. Dan sukses bikin suasana kantin mendadak hening di meja basket. Hendra langsung ngakak keras. “Anjir, frontal banget.” Clinton yang sedang minum cola cuma menaikkan alis santai. “Kalau iya kenapa?” “WOOOO!” Satu meja langsung ribut. Dodit sampai nepuk-nepuk meja. “Fix! Kapten kita kena juga akhirnya!” Clinton tertawa kecil sambil menyender di kursi. Tatapannya mengarah ke luar kantin. Tepat ke arah Fanya yang sedang berjalan bersama Hani dan Marni. Rambut panjang cewek itu bergerak pelan tertiup angin. Tangannya sibuk memegang es kopi sambil tertawa kecil mendengar cerita Hani. Clinton memperhatikan beberapa detik. Lalu sudut bibirnya naik tipis. “Menarik aja,” gumamnya. Hendra langsung menyikut bahunya. “Wah bahaya.” “Fan.” “Hm?” Marni mendekat sambil menahan senyum aneh. “Jujur.” “Apa lagi?” “Lu sama Clinton ada sesuatu ya?” Fanya hampir tersedak minum. “A

  • Cinta Abu-Abu   BAB 7

    “CLINTOOOON!” Teriakan siswi-siswi menggema dari lapangan basket sampai koridor sekolah. Suara sepatu berdecit keras di lantai lapangan. Bugh! Bola basket masuk sempurna ke ring. Sorakan langsung pecah. “GILA MASUK LAGI!” “KEREN BANGET!” Di tengah riuh tepuk tangan, Clinton menangkap bola dengan satu tangan sambil menyeringai santai. Kaos basket hitamnya basah oleh keringat. Napasnya sedikit berat, tapi wajahnya masih terlihat percaya diri seperti biasa. “Lagi! Lagi!” teriak seseorang dari tribun. Hendra tertawa sambil melempar bola ke arah Clinton. “Pamer mulu lu.” Clinton melompat tanpa aba-aba. Dan… Brak! Satu tangan menghantam bola masuk ke ring lewat dunk keras yang bikin satu lapangan heboh. Siswi-siswi langsung menjerit histeris. “YA AMPUN!” “Gue nikah aja sekarang!” Dodit sampai ngakak lihat tribun cewek. “Gila. Fans club lu makin barbar.” Clinton cuma mengambil handuk lalu mengusap wajahnya santai. Memang begitu tiap hari. Ham

  • Cinta Abu-Abu   BAB 6

    Brak! Meja paling belakang dipukul keras sampai satu kelas tersentak. “Kalau mau tidur, nggak usah sekolah sekalian!” Suara Pak Ardi menggema memenuhi kelas XI-A. Beberapa siswa langsung menoleh ke belakang dengan wajah tegang. Brian tersentak bangun. Napasnya berat. Pandangannya masih kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada sosok guru fisika di depannya. “Kamu pikir saya nggak lihat dari tadi?” suara Pak Ardi tajam. Kelas mendadak sunyi. Hani sampai berhenti makan permen. Marni berbisik kecil, “Waduh…” Brian mengusap wajah pelan lalu berdiri. “Maaf, Pak.” “Maaf?” Pak Ardi tertawa sinis kecil. “Setiap pelajaran saya, kamu selalu tidur.” Beberapa siswa mulai saling lirik. Karena memang benar. Brian hampir selalu tertidur di kelas. Kadang di jam pertama. Kadang di tengah pelajaran. Kadang bahkan saat guru sedang menjelaskan di depan mukanya langsung. “Kalau nggak niat sekolah, silakan keluar.” Brian diam. Tangannya mengepal kecil di samping tubuh. Di dep

  • Cinta Abu-Abu   BAB 5

    “Brian!” Suara Fanya nyaris kalah oleh deras hujan. Beberapa siswa langsung menoleh ke parkiran saat melihat Brian jatuh terduduk di samping motornya. Cowok itu masih memegangi dada sambil menunduk. Napasnya berat. “Eh, dia kenapa?” “Masuk angin kali.” “Jangan-jangan pingsan lagi…” Orang-orang cuma melihat. Nggak ada yang benar-benar mendekat. Sampai akhirnya Fanya berlari menerobos hujan tanpa pikir panjang. “Fan!” Hani kaget. “Payung!” Fanya nggak peduli. Sepatunya langsung basah kena genangan air. Ia jongkok di depan Brian dengan napas sedikit ngos-ngosan. “Kamu nggak apa-apa?” Brian mengangkat wajah pelan. Mata mereka bertemu lagi. Dan sialnya… di kondisi seacak itu pun, Brian tetap sadar satu hal Fanya cantik banget. “Brian?” Fanya mengernyit khawatir. “Kamu denger aku nggak?” “Iya…” jawab Brian pelan. “Aku nggak apa-apa.” “Boong.” Suara itu datang dari belakang. Hani dan Marni akhirnya ikut mendekat sambil membawa payung. Marni langsung melotot melihat

  • Cinta Abu-Abu   BAB 4

    “Brian belum bayar SPP tiga bulan.” Suara bendahara kelas itu nggak keras. Tapi cukup bikin satu kelas mendadak sunyi beberapa detik. Brian yang baru masuk kelas langsung berhenti di dekat pintu. Tangannya masih memegang helm lusuh. Beberapa kepala mulai menoleh. “Siapa aja emang?” tanya seseorang pelan. Bendahara kelas membuka buku catatan. “Brian. Sama dua anak kelas sebelah.” Hendra langsung melirik ke belakang. “Woi, Bri… lu diburu negara ternyata.” Beberapa anak ketawa kecil. Nggak jahat. Tapi tetap aja bikin tengkuk Brian terasa panas. Cowok itu berjalan ke bangkunya tanpa bicara apa-apa. Tasnya diletakkan pelan. Kursi berdecit kecil saat ia duduk di pojok belakang dekat jendela. Tempat paling aman buat nggak dilihat orang. Atau setidaknya… itu yang selalu Brian pikirkan. “Brian.” Wali kelas masuk sambil membawa map. “Nanti ke ruang administrasi ya.” Brian mengangguk kecil. “Iya, Bu.” Nggak ada alasan. Nggak ada pembelaan. Karena memang belum bayar.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status