ANMELDEN“Lu suka sama Fanya?”
Pertanyaan itu keluar begitu aja dari mulut Dodit. Dan sukses bikin suasana kantin mendadak hening di meja basket. Hendra langsung ngakak keras. “Anjir, frontal banget.” Clinton yang sedang minum cola cuma menaikkan alis santai. “Kalau iya kenapa?” “WOOOO!” Satu meja langsung ribut. Dodit sampai nepuk-nepuk meja. “Fix! Kapten kita kena juga akhirnya!” Clinton tertawa kecil sambil menyender di kursi. Tatapannya mengarah ke luar kantin. Tepat ke arah Fanya yang sedang berjalan bersama Hani dan Marni. Rambut panjang cewek itu bergerak pelan tertiup angin. Tangannya sibuk memegang es kopi sambil tertawa kecil mendengar cerita Hani. Clinton memperhatikan beberapa detik. Lalu sudut bibirnya naik tipis. “Menarik aja,” gumamnya. Hendra langsung menyikut bahunya. “Wah bahaya.” “Fan.” “Hm?” Marni mendekat sambil menahan senyum aneh. “Jujur.” “Apa lagi?” “Lu sama Clinton ada sesuatu ya?” Fanya hampir tersedak minum. “Apaan sih?” “Lah dari kemarin tuh cowok nyariin lu terus.” Hani ikut nimbrung cepat. “Dan dia nggak pernah begitu sama cewek lain.” Fanya memutar mata malas. “Lebay.” Padahal dalam hati… ia sadar Clinton memang berbeda. Cowok itu terlalu percaya diri. Kadang ngeselin. Tapi anehnya nggak bikin ilfeel. Justru bikin penasaran. “Fan…” suara Hani mengecil penuh drama. “Jangan bilang lu mulai suka.” “Nggak.” Jawabannya terlalu cepat. Dan itu justru bikin Marni ketawa. “Nah tuh. Panik dia.” Fanya langsung mencubit lengan Marni pelan. “Berisik.” Tapi pipinya sedikit hangat. Dan itu cukup jadi jawaban. Jam olahraga siang itu berlangsung di lapangan basket. Cuaca panas banget sampai beberapa siswa memilih duduk di tribun daripada ikut main. Pak Reno meniup peluit keras. “Oke! Basket tiga lawan tiga!” Suara keluhan langsung terdengar di mana-mana. “Panas, Pak…” “Mati aja saya…” Sementara Clinton terlihat paling semangat. Cowok itu memantulkan bola santai sambil berjalan mundur. “Pak, saya lawan siapa aja bebas?” “Songong lu,” sahut Pak Reno. Anak-anak ketawa. Dan beberapa menit kemudian pertandingan dimulai. Brak! Sepatu berdecit di lapangan. Sorakan siswa makin ramai saat Clinton berhasil merebut bola lalu bergerak cepat melewati lawan. Gerakannya luwes banget. Seolah lapangan itu memang miliknya. Fanya yang duduk di tribun tanpa sadar ikut memperhatikan terus. “Ganteng ya,” celetuk Marni tiba-tiba. Fanya refleks menjawab, “Lumayan.” Hani langsung menoleh cepat. “LUMAYAN KATANYA.” “Ya emang.” “Fan, standar ‘lumayan’ lu serem banget sumpah.” Mereka bertiga ketawa kecil. Di lapangan Clinton baru saja mencetak angka lagi. Sorakan pecah. Dan di tengah keramaian itu… Clinton menoleh ke tribun. Tatapannya langsung menemukan Fanya. Cowok itu menyeringai kecil. Lalu ia sengaja melempar bola ke arah tribun. “WOY!” Fanya reflek menangkap bola itu tepat sebelum mengenai wajah Hani. “Anjir!” Hani kaget. Anak-anak langsung ribut. Clinton menunjuk Fanya dari lapangan. “Oper sini.” Fanya mengangkat alis. “Suruh siapa?” “Lu.” “Kalau nggak mau?” “Berarti takut.” Marni langsung heboh sendiri. “Dih dipancing.” Fanya mendecakkan lidah kecil. Lalu tanpa aba-aba ia melempar bola itu kembali. Dan… Bugh! Masuk tepat ke tangan Clinton. Sorakan makin pecah. “WOOOO!” “Cocok banget!” Clinton tertawa puas. Sementara Fanya pura-pura biasa aja meski jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Di sudut lapangan lain Brian sedang duduk sendiri dekat gudang olahraga. Bukan karena malas ikut. Sepatu olahraganya rusak. Sol bawahnya bahkan hampir lepas. Jadi ia memilih duduk sambil pura-pura memperbaiki tali sepatu. Dari tempat itu, ia bisa melihat tribun dengan jelas. Termasuk… Fanya yang sedang tertawa bersama Clinton. Tangan Brian berhenti bergerak. Matanya diam cukup lama ke arah mereka. Ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya. Nggak nyaman. Tapi juga nggak punya hak buat marah. Karena memang dari awal Clinton dan Fanya terlihat cocok. Sedangkan dirinya? Brian menunduk melihat sepatu lusuh di tangannya sendiri. Kotor. Tua. Dan hampir rusak total. “Brian.” Cowok itu tersentak kecil. Pak Reno berdiri di depannya sambil melipat tangan. “Kamu kenapa nggak main?” Brian buru-buru berdiri. “Sepatu saya rusak, Pak.” Pak Reno melihat kondisi sepatu itu beberapa detik. Diam. Lalu menghela napas pelan. “Nanti ikut saya ke ruang guru.” Brian langsung tegang. “Buat apa, Pak?” “Nggak usah banyak tanya.” Pak Reno pergi begitu aja. Brian mematung. Sementara di tengah lapangan Clinton kembali mencetak skor dan seluruh siswa bersorak memanggil namanya. Dan tanpa sadar… Brian kembali melihat ke arah Fanya. Cewek itu sedang tersenyum. Tapi bukan untuknya. Dan untuk pertama kalinya Brian mulai sadar satu hal yang paling ia hindari. Mungkin… dia benar-benar menyukai Fanya terlalu dalam Brian Sampai di Ruang guru,, dengan pikiran yang campur aduk "masuk sini Brian" kata pak Reno sambil mengambil box sepatu di bawah meja, ambil sepatu ini dan pakailah kebetulan kemarin saya beli sepatu ini tapi ukurannya kecil mudah-mudahan pas buat kamu. Brian pun sedih dan detik itu juga dia hampir menangis namun di tahannya. Terima Kasih Pak atas pemberiannya dengan suara yang terbata-bata iya sama-sama.. kalau begitu saya permisi dulu Pak,, Brian... Brian pun berbalik.. ingat tidak ada alasan lagi untuk tidak hadir.. Baik Pak... siap,, Brian pun Berlalu pergi sambil membawa sepatu yang di berikan Pak Reno...“Fanya suka cowok kayak gimana sih?” Pertanyaan itu langsung bikin satu meja kantin heboh. “NAH TUH!” Hani menunjuk Marni. “Gue juga penasaran!” Fanya yang lagi minum es teh hampir tersedak. “Kalian nggak ada kerjaan lain?” “Nggak.” Jawaban Hani terlalu cepat sampai Marni ngakak. Jam istirahat siang itu kantin lagi penuh banget. Suara sendok beradu, teriakan abang bakso, sampai suara siswa yang saling panggil bercampur jadi satu. Di meja dekat jendela, Fanya duduk diapit Hani dan Marni yang lagi mode kepo akut. “Ayo jawab,” paksa Marni sambil menopang dagu. “Biar kita bisa nilai cowok-cowok sekolah ini punya harapan apa nggak.” Fanya memutar sedotan pelan. “Kenapa jadi serius begini…” “Soalnya sejak lu masuk sekolah,” kata Hani sambil mencondongkan badan, “anak-anak cowok jadi makin rajin.” Marni langsung nimbrung. “Bahkan Aldi yang biasanya bau ketek sekarang pake parfum.” Mereka bertiga langsung ketawa. Fanya menggeleng geli. “Kalian parah.” “Tapi serius, Fan,” la
“Lu suka sama Fanya?” Pertanyaan itu keluar begitu aja dari mulut Dodit. Dan sukses bikin suasana kantin mendadak hening di meja basket. Hendra langsung ngakak keras. “Anjir, frontal banget.” Clinton yang sedang minum cola cuma menaikkan alis santai. “Kalau iya kenapa?” “WOOOO!” Satu meja langsung ribut. Dodit sampai nepuk-nepuk meja. “Fix! Kapten kita kena juga akhirnya!” Clinton tertawa kecil sambil menyender di kursi. Tatapannya mengarah ke luar kantin. Tepat ke arah Fanya yang sedang berjalan bersama Hani dan Marni. Rambut panjang cewek itu bergerak pelan tertiup angin. Tangannya sibuk memegang es kopi sambil tertawa kecil mendengar cerita Hani. Clinton memperhatikan beberapa detik. Lalu sudut bibirnya naik tipis. “Menarik aja,” gumamnya. Hendra langsung menyikut bahunya. “Wah bahaya.” “Fan.” “Hm?” Marni mendekat sambil menahan senyum aneh. “Jujur.” “Apa lagi?” “Lu sama Clinton ada sesuatu ya?” Fanya hampir tersedak minum. “A
“CLINTOOOON!” Teriakan siswi-siswi menggema dari lapangan basket sampai koridor sekolah. Suara sepatu berdecit keras di lantai lapangan. Bugh! Bola basket masuk sempurna ke ring. Sorakan langsung pecah. “GILA MASUK LAGI!” “KEREN BANGET!” Di tengah riuh tepuk tangan, Clinton menangkap bola dengan satu tangan sambil menyeringai santai. Kaos basket hitamnya basah oleh keringat. Napasnya sedikit berat, tapi wajahnya masih terlihat percaya diri seperti biasa. “Lagi! Lagi!” teriak seseorang dari tribun. Hendra tertawa sambil melempar bola ke arah Clinton. “Pamer mulu lu.” Clinton melompat tanpa aba-aba. Dan… Brak! Satu tangan menghantam bola masuk ke ring lewat dunk keras yang bikin satu lapangan heboh. Siswi-siswi langsung menjerit histeris. “YA AMPUN!” “Gue nikah aja sekarang!” Dodit sampai ngakak lihat tribun cewek. “Gila. Fans club lu makin barbar.” Clinton cuma mengambil handuk lalu mengusap wajahnya santai. Memang begitu tiap hari. Ham
Brak! Meja paling belakang dipukul keras sampai satu kelas tersentak. “Kalau mau tidur, nggak usah sekolah sekalian!” Suara Pak Ardi menggema memenuhi kelas XI-A. Beberapa siswa langsung menoleh ke belakang dengan wajah tegang. Brian tersentak bangun. Napasnya berat. Pandangannya masih kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada sosok guru fisika di depannya. “Kamu pikir saya nggak lihat dari tadi?” suara Pak Ardi tajam. Kelas mendadak sunyi. Hani sampai berhenti makan permen. Marni berbisik kecil, “Waduh…” Brian mengusap wajah pelan lalu berdiri. “Maaf, Pak.” “Maaf?” Pak Ardi tertawa sinis kecil. “Setiap pelajaran saya, kamu selalu tidur.” Beberapa siswa mulai saling lirik. Karena memang benar. Brian hampir selalu tertidur di kelas. Kadang di jam pertama. Kadang di tengah pelajaran. Kadang bahkan saat guru sedang menjelaskan di depan mukanya langsung. “Kalau nggak niat sekolah, silakan keluar.” Brian diam. Tangannya mengepal kecil di samping tubuh. Di dep
“Brian!” Suara Fanya nyaris kalah oleh deras hujan. Beberapa siswa langsung menoleh ke parkiran saat melihat Brian jatuh terduduk di samping motornya. Cowok itu masih memegangi dada sambil menunduk. Napasnya berat. “Eh, dia kenapa?” “Masuk angin kali.” “Jangan-jangan pingsan lagi…” Orang-orang cuma melihat. Nggak ada yang benar-benar mendekat. Sampai akhirnya Fanya berlari menerobos hujan tanpa pikir panjang. “Fan!” Hani kaget. “Payung!” Fanya nggak peduli. Sepatunya langsung basah kena genangan air. Ia jongkok di depan Brian dengan napas sedikit ngos-ngosan. “Kamu nggak apa-apa?” Brian mengangkat wajah pelan. Mata mereka bertemu lagi. Dan sialnya… di kondisi seacak itu pun, Brian tetap sadar satu hal Fanya cantik banget. “Brian?” Fanya mengernyit khawatir. “Kamu denger aku nggak?” “Iya…” jawab Brian pelan. “Aku nggak apa-apa.” “Boong.” Suara itu datang dari belakang. Hani dan Marni akhirnya ikut mendekat sambil membawa payung. Marni langsung melotot melihat
“Brian belum bayar SPP tiga bulan.” Suara bendahara kelas itu nggak keras. Tapi cukup bikin satu kelas mendadak sunyi beberapa detik. Brian yang baru masuk kelas langsung berhenti di dekat pintu. Tangannya masih memegang helm lusuh. Beberapa kepala mulai menoleh. “Siapa aja emang?” tanya seseorang pelan. Bendahara kelas membuka buku catatan. “Brian. Sama dua anak kelas sebelah.” Hendra langsung melirik ke belakang. “Woi, Bri… lu diburu negara ternyata.” Beberapa anak ketawa kecil. Nggak jahat. Tapi tetap aja bikin tengkuk Brian terasa panas. Cowok itu berjalan ke bangkunya tanpa bicara apa-apa. Tasnya diletakkan pelan. Kursi berdecit kecil saat ia duduk di pojok belakang dekat jendela. Tempat paling aman buat nggak dilihat orang. Atau setidaknya… itu yang selalu Brian pikirkan. “Brian.” Wali kelas masuk sambil membawa map. “Nanti ke ruang administrasi ya.” Brian mengangguk kecil. “Iya, Bu.” Nggak ada alasan. Nggak ada pembelaan. Karena memang belum bayar.







